
Aku bingung dengan semua ini. Pak Karso kenal dengan ibu ternyata.
"Ini anakmu? Ayu mana Ayu?" Tiba-tiba saja pak Karso mengenal kak Ayu.
"Sebentar ... Sebentar. Aku masih bingung dengan semua ini. Mengapa Bapak kenal dengan Ibu?" Aku bertanya pada Pak Karso.
Ibu kelimpungan, ia mencari tempat duduk terdekat. Lalu, aku menolongnya untuk duduk di kursi terdekat.
"Pak Karso, silahkan duduk!" ucapku.
"Baik, sebentar." Pak Karso berjalan ke arah kami.
Tak lama kak Ayu datang.
"Maaf, Den. Aku habis mengantar Farrel dan Ayesa sekolah dulu," kata kak Ayu.
Kak Ayu kemudian bersalaman dengan tamu kami -- Pak Karso.
"Saya, Ayu, Pak!" katanya.
Pak Karso terkejut melihat kak Ayu. Lalu, memegangi pundak kak Ayu berkali-kali.
"Kamu sudah besar, Nak!" Ada gurat kesedihan di wajahnya.
Pandangan ku alihkan pada Ibu. Ia tak berani menatap laki-laki itu. Ibu sedari tadi hanya menunduk setelah Pak Karso menyapanya.
"Duduk, kak! Kita bicara di sana," ajakku pada kak Ayu.
Kak Ayu duduk bersebelahan denganku. Sedangkan Pak Karso di kursi yang berhadapan dengan Ibu. Ia memandangi terus Ibuku yang masih menunduk.
Sebelumnya aku memanggil Mak Elin untuk mengambilkan minum untuk kami.
"Mak, siapkan minum empat gelas, ya!" perintahku padanya.
"Baik, Pak!" jawab Mak Elin.
Aku beralih pada ketiga orang yang masih saling diam. Aku beranikan diri untuk memulai percakapan.
"Pak, saya menemukan keanehan sejak Bapak datang tadi. Sebenarnya, Bapak siapa? Kenal denganku, Kak Ayu maupun Ibu?" tanyaku pada Pak Karso.
Pak Karso memandang lurus ke arah Ibu. Sesekali Ibu melihat ke arahku, lalu ke laki-laki paruh baya itu.
"Tidak! Tidak ada apa-apa antara Ibu dan laki-laki itu!" Tiba-tiba saja Ibu berteriak pada kami.
Ibu mengangkat bokongnya, lalu malah meninggalkan kami, berjalan ke arah kamarnya. Aku tak bisa mencegahnya.
Pak Karso terkesiap mendengar penuturan Ibu. Sama, akupun terkejut dibuatnya.
"Benarkah itu, Pak?" tanyaku. Kak Ayu antusias untuk mendengarkan jawaban Pak Karso.
Pak Karso menghela napas panjang. Bibirnya terangkat beberapa senti.
__ADS_1
"Aku sebenarnya ayah kalian," ucapnya pelan.
"Pantas saja mirip dengan foto ayah yang dipunyai Ibu. Ibu mengatakan kalau Ayah sudah meninggal," kata kak Ayu.
"Iya, yang aku tau Ayah sudah meninggal saat aku berumur dua tahun."
"Lalu? Tolong ceritakan, Pak!" pinta kak Ayu.
"Baiklah. Awalnya pernikahan kami bahagia. Lalu, ibu ikut bersama kami. Ibu tiba-tiba mengatur hidup kami." Pak Karso mengatur napas sejenak.
"Diminum dulu, Pak!" saranku pada seorang yang mengaku Ayahku ini.
Ia pun menyeruput teh manis hangat yang dibuatkan Mak Elin.
"Ibu memintaku menceraikan Ratih. Hingga akhirnya kami berpisah karena aku dijodohkan dengan wanita lain pilihan ibu. Aku kehilangan jejak kalian," ucapnya sambil terisak.
"Ya Allah, sampai seperti itu, Pak?" tanya ka Ayu.
"Tapi, selama ini ibu bilang ada gaji dari pensiunan Bapak sebesar dua juta tiap bulan," kataku menimpali.
"Nggak ada. Mungkin ibumu punya uang dari yang lain. Aku tak pernah bertemu ibu kalian lagi, mana bisa memberinya dua juta sebulan?"
"Kejadian ini membuatku percaya nggak percaya, Pak. Ternyata aku masih punya sosok Ayah."
"Aku pun demikian," timpal kak Ayu.
"Mungkin Ibu punya uang dari sumber yang lain." Kak Ayu menduga-duga.
'Aku tak perhatian, sampai tak tau penghasilan ibuku. Ternyata memang banyak luka, dari inner child, lalu luka dari mertua juga suami. Pantas saja Ibu memperlakukan Niar seperti itu,' batinku.
"Maafkan Ayah ya, Ayu, Deni! Ayah bukan Ayah yang baik bagi kalian. Ayah terlalu lembek, sehingga tidak bisa menjaga kalian," ucapnya penuh penyesalan.
"Aku bingung harus menjawab apa, Yah!" jawab kak Ayu.
"Dengan kamu menyebutku Ayah, aku sudah sangat bahagia. Terima kasih, Ayu!" Pak Karso tak kuasa menahan bulir bening dari kedua sudut matanya.
"Ayah yang ku kira benar sudah tak ada. Ternyata sekarang ada di hadapanku," ucapku.
Aku harus memanggilnya Ayah sekarang?
Ayah menoleh kepadaku.
"Maafkan Ayah, anak-anakku. Ayah sangat mencintai kalian. Tapi Ayah tak bisa lepas dari segala ancaman Nenek kalian."
Deg ... Ternyata Ayah mengalami hal yang sama dengan kehidupan keluargaku yang direcoki Ibu. Mengapa trauma ini harus diteruskan? Tak bisakah Ibu sadar, jika meneruskan pada kami, akan semakin banyak yang terluka?
"Sekarang ayah akan tinggal di kota ini. Makanya mencari rumah. Istri Ayah setelah ibumu, sudah meninggal dua bulan lalu. Kami tak memiliki anak. Makanya Nenek kalian menyesal setelah tau aku dan istriku tak mungkin memiliki keturunan, tapi kami sudah kehilangan kalian. Semua terlambat, karena kalian sudah menghilang." Ayah terisak dalam ceritanya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupku. Betapa kita jangan menyia-nyiakan orang-orang yang ada di samping kita. Tanpa mereka, apalah kita.
"Oya, Ayah. Nenek masih ada?"
__ADS_1
"Nenek kalian sudah meninggal dua tahun lalu. Ia berada dalam penyesalan yang panjang. Ayah pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena sudah dicari pun, jejak kalian tidak ditemukan. Dulu semua foto kalian dibakar oleh Nenek. Sehingga tak ada tersisa satupun foto untuk mencari kalian. Kami pun tak bisa mencari ke orangtua Ratih, karena mereka sudah sangat sakit hati dengan kami."
Mungkin Nenek menyesali perbuatannya, tapi ia tak bisa meminta maaf pada orang-orang yang ia sakiti sampai ia meninggal.
"Baiklah, Yah. Kalau Ayah mau membeli rumah ini, silahkan. Oya untuk Ibu, nanti kami yang akan bicara padanya. Mungkin Ibu juga masih kaget dengan kenyataan ini. Sehingga Ayah harus sabar jika mau mendapatkan maaf dari Ibu," jelasku.
"Baik, Deni. Kamu memang laki-laki yang bijak. Tidak seperti Ayah yang akhirnya menyesal hingga saat ini."
"Ayah, Ayu saat meninggalkan rumah Nenek masih kecil banget. Ayu lupa semuanya. Hanya ingat di sana sering dibelikan boneka oleh Ayah. Saat Ayu pergi dengan Ibu, Ayu hanya diperbolehkan membawa satu boneka saja. Karena repot katanya jika dibawa semua." Kak Ayu menceritakan kenangannya dulu.
Aku tak punya kenangan. Mungkin karena umurku masih sangat belia, sehingga tidak dapat mengingatnya.
"Iya, Ayah akan membelinya. Kamu berikan saja nomor rekeningnya. Nanti Ayah transfer."
"Baik, nanti Deni kirim melalui WhatsApp," jawabku.
"Deni, Ayu, sepertinya Ayah harus kembali. Tolong sampaikan permohonan maaf Ayah pada Ibu kalian. Semoga hubungan kita ke depan bisa lebih baik lagi."
"Baik, Yah."
Ayah pergi meninggalkan rumah kami. Aku mengantarnya ke depan. Ia mengangguk padaku sebelum melajukan mobilnya. Ku balas anggukannya.
Setelah itu, kami menemui Ibu yang masih marah di kamarnya. Untungnya tak dikunci, kami segera masuk.
"Bu, kami sudah tau semuanya. Aku tau ibu pasti marah pada Ayah. Aku juga tak ada hak meminta Ibu untuk memaafkannya. Tapi, Deni harap Ibu bisa bijaksana dalam masalah ini," kataku.
Ibu masih diam. Ia membenamkan wajahnya di bawah bantal. Kak Ayu berusaha membalikkan posisi Ibu agar berhadapan dengan kami.
"Iya, Bu. Aku melihat Ayah orang yang tulus. Jadi semoga Ibu bisa memaafkannya."
Aku beralih duduk di kursi dekat pinggir ranjang.
"Mungkin Ibu belum bisa menerima kondisi ini sekarang. Tapi ku harap Ibu bisa menerima permintaan maaf Ayah. Tapi, untuk ke depan, kami serahkan semua pada Ibu."
Ibu menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya, seakan menemukan dirinya di masa lalu.
"Ibu benar-benar terkejut. Luka ini sudah mengering, tapi terbuka lagi seiring dengan bertemunya Ibu dengan Ayah kalian. Ibu tau semua tak mungkin bisa kembali. Sesuatu yang telah lalu biasanya disebut kenangan. Dan ibu, tak ingin mengingat lagi kejadian itu." Air mata Ibu mengalir deras.
Kak Ayu duduk di sampingnya, berusaha menyeka air mata ibu dengan tisu.
"Iya, Bu. Kami paham," kataku.
"Jangan paksa Ibu untuk memaafkannya."
"Kami tak akan memaksa Ibu. Kami hanya menunggu sikap Ibu." Aku menimpali.
"Baiklah. Semoga ke depan Ibu bisa berubah pikiran, jadi memaafkannya."
Aku lega setelah mendengarnya. Semoga Allah berikan yang terbaik untuk keluarga kami.
"Tapi ... Ibu tak ingin melihat Ayah kalian lagi. Ibu muak ketika melihat wajahnya."
__ADS_1
Aku dan kak Ayu saling berpandangan. Untuk saat ini, lebih baik diam saja dulu.
Bersambung