
Ada apa ini?" Tiba-tiba Ayah muncul di belakangku.
"Eh, Ayah sudah datang?Ini Yah, Ibu sedang sakit maag dan tipes, tetapi saat ini malah makan makanan yang pedas."
Ibu menengok ke arah kami dengan perasaan tidak suka, wajahnya terlihat kesal dan ia mencebik.
"Iya Ratih, kamu seharusnya dengar kata anakmu. Ini demi kesembuhanmu juga," imbuh Ayah.
"Siapa kamu tiba-tiba berani melarang aku?"
"Dia mantan suami ibu, atau mungkin di atas kertas kalian belum bercerai. Namun karena tidak bertemu selama bertahun-tahun itulah yang menjadikan kalian bercerai," jawabku.
"Hahaha ... Aku sudah bercerai dengannya sejak aku pergi dari rumahnya. Itu berarti kami sudah berpisah."
"Ya, Ratih. Aku terima semuanya, kita memang sudah berpisah."
"Makanya jangan sok-sokan mengingatkanku tentang hal ini," kata Ibu.
"Ya, maaf, ini aku lakukan kan untuk kebaikanmu juga."
"Ya sudah, kamu pergi saja dari sini. Aku tidak mau melihatmu!"
Aku malu dengan ayah, lalu ayah memegangi pundakku. Ia memberika kode akan keluar.
"Baiklah kalau kamu terganggu, aku permisi dulu. Mudah-mudahan kamu cepat sehat ya, Ratih!"
Ibu malah melebarkan matanya, bibirnya terkatup, mengerucut, saat melihat mantan suaminya hendak pamit.
Aku mengikuti ayah dari belakang. Lalu di luar, kami berbincang sebentar.
"Maafkan ibu, ya, Yah. Sikapnya memang seperti itu akhir-akhir ini," kataku.
"Iya tidak apa-apa. Ayah paham dengan kondisi Ratih. Ayah permisi dulu. Kalau ada apa-apa, segera kabari Ayah, ya!"
"Baik, Yah. Nanti akan aku hubungi."
Aku kembali ke dalam ruang perawatan. Ku lihat Ibu pura-pura tidur saat melihatku.
"Ibu, lebih baik atau tidak bersikap seperti itu. Ibu itu harusnya lebih bijak. Sudah berapa tahun sih umur Ibu? Sudah punya bekal apa nanti kalau bertemu Allah?"
Ibu masih saja terpejam. Aku malas berdebat, akhirnya aku berjalan ke arah sofa dan menghempaskan diriku di sana, akhirnya aku tertidur.
Sebelum subuh, Kak Ayu sudah datang diantar Bang Aldo. Aku harus buru-buru pulang karena akan bekerja pagi ini.
Ketika akan pamit, Ibu masih tidur. Jadi aku langsung saja pulang.
***
Saat aku bekerja, kak Ayu yang menjaga Ibu. Saat ini masih di jam kerja, tiba-tiba Kak Ayu meneleponku.
"Bang, Ibu kritis," katanya.
"Apa? Tadi malam baik-baik saja, Kak. Memang tadi subuh juga saat aku pulang kan masih tidur ya?"
"Iya, Den. Kamu ke sini aja, ajak Niar, hubungi Ayah. Aku juga sedang hubungi Bang Aldo."
"Baiklah, Kak."
__ADS_1
Aku pun mengajukan izin untuk pulang lebih cepat. Alhamdulillah diizinkan oleh atasanku.
Sebelum ke rumah sakit, aku menjemput Niar dulu di rumah.
"Dek, kamu siap-siap ya. Akan kuajak ke rumah sakit. Anak-anak titipkan dulu pada Bik Surti," kataku di telepon saat perjalanan ke rumah.
"Baik, Bang. Memangnya ada apa?"
"Pokoknya kamu siap-siap saja dulu, ya!"
Aku menutup teleponnya. Tak lama aku sampai di rumah, Niar sudah siap jadi aku tak perlu turun. Kebetulan anak-anak tak melihatku, langsung saja aku tancap gas lagi menuju rumah sakit.
"Ibu kritis, Sayang. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada," kataku sembari menoleh sebentar ke arah Niar.
"Ya Allah." Niar menangis sembari menutup mulutnya.
"Sabar. Allah tau yang terbaik untuk kita."
"Iya, Bang. Aku tau."
Selanjutnya aku menghubungi Ayah.
"Yah, Ibu kritis. Kalau Ayah berkenan segera datang ke rumah sakit, ya!"
"Baik, nanti Ayah ke sana."
Perjalanan kami masih agak lama karena kondisi jalan yang macet. Ku lihat Niar masih mengeluarkan air matanya. Perempuan tuh gampang banget nangis, padahal dia sudah disakiti berkali-kali pun, tetap saja dia merasa sedih.
Kami tiba di rumah sakit, langsung menuju ke ICU seperti yang kak Ayu bilang.
"Gimana, Kak keadaan Ibu?" Aku langsung menanyai Kak Ayu.
"Ibu nggak sadar, Den. Kalau mau masuk ke ICU harus satu-satu, kata dokter."
"Iya, sekarang bolehkah aku masuk?"
"Tunggu sepuluh menit lagi," kata Kakakku.
Tadi Kak Ayu habis diminta masuk ke dalam, karena Ibu harus pakai diapers. Sebelumnya Kak Ayu sudah membeli diapersnya ke minimarket terdekat.
Kami menunggu sambil mengobrol di tempat yang telah disediakan untuk para penunggu ruang ICU.
"Den, sekarang kamu boleh masuk. Sudah jam sebelas kok," kata Kak Ayu.
"Iya, Kak. Oke." Aku memasuki ruangan ICU.
Saat aku masuk, Niar dan Kak Ayu menunggu di depan.
Mata Ibu terpejam seperti tadi malam saat Ibu pura-pura tidur. Tapi yang ini aku tau, Ibu tidak pura-pura. Beberapa selang terpasang di tubuhnya.
"Bu, maafkan Deni, ya!" Aku mengusap kepala ibu, lalu mendoakannya.
"Maafkan Deni jika kata-kata Deni selama ini menyinggung Ibu. Deni datang bersama Niar, Bu. Sekarang Niar ada di depan bersama Kak Ayu. Kami nggak boleh samaan ke sini. Nanti aku minta Niar ke sini, menemui Ibu."
Aku memegang tangannya. Tangan Ibu dingin.
Terlihat matanya terbuka pelan-pelan, tapi tak ada suara yang keluar sedikitpun. Ibu hanya mengangguk setelah aku berbicara tadi.
__ADS_1
Karena waktu untuk menjenguk sempit, selanjutnya bagian Istriku yang menemui Ibu.
"Bu, Deni keluar dulu, ya! Sekarang bagian Niar yang akan menemui Ibu. Aku panggil Niar dulu. Ibu juga sehat-sehat, Insya Allah," kataku sembari mengecup dahinya.
Air mata keluar lagi dari sudut matanya, kuseka dulu sebelum aku keluar.
Kemudian Niar masuk menemui Ibu. Tak lama ia pun keluar.
Saat keluar, Niar langsung memelukku.
"Bang, apa Ibu bisa sembuh? Aku sudah memaafkannya. Aku pun memaafkan Kak Ayu dan Bang Aldo juga. Aku sudah menerima segala yang terjadi padaku." Niar membenamkan dirinya dalam dadaku. Aku mengelus kerudungnya.
Kak Ayu pun merasa terharu mendengar semua percakapan kami.
Ayah datang, lalu aku persilahkan masuk ke dalam. Semoga Ibu ikhlas memaafkan Ayah.
Sementara Bang Aldo masih di perjalanan.
"Den, kalau umur Ibu nggak panjang, bagaimana?" tanya Kak Ayu.
"Kita harus menerima semua. Ikhlaskan saja, Kak, terima semua ketentuan. Seperti penerima Niar atas apa yang terjadi padanya selama ini. Kalau ikhlas, insya Allah semua akan baik-baik saja."
Kak Ayu menengok pada Niar, lalu mereka berbicara. Kak Ayu berterima kasih karena Niar mau memaafkannya.
"Sama-sama, Kak. Maafkan Niar nggak bisa langsung memberi maaf kemarin," kata Niar.
"Nggak apa-apa, Niar. Kak Ayu yang salah selama ini."
Ayah keluar, meminta kami semua masuk.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
"Dokter meminta kita kumpul semua."
Kami pun langsung berhamburan ke ruang ICU. Ku lihat Dokter ada di sana.
"Silahkan, Pak. Didampingi terus, jangan lupa untuk bisikkan syahadat di telinganya."
Aku langsung berdiri di sampingnya. Mengerjakan apa yang dinasehatkan oleh dokter.
Tak lama Bang Aldo juga datang, Kak Ayu membawanya masuk.
Semua sudah berkumpul. Aku pun membisikkan kata-kata di telinga Ibu.
"Bu, kami semua sudah berkumpul di sini. Insya Allah kami sudah ikhlas jika Ibu harus pergi. Ibu tak usah khawatir. Maafkan kesalahan kami juga."
Tak lama semua hening. Napas ibu sudah tak terasa. Aku menjauh dari tubuh Ibu, meminta Dokter tuk memastikannya.
Lalu dokter berkata.
"Ibu Ratih sudah meninggal dunia pukul 11.52."
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap kami serentak.
Kami semua saling menguatkan dan berpelukan.
Bersambung
__ADS_1