
Kak Ayu dan keluarganya datang ke rumah kami. Rencananya ia mengantar Bang doa untuk meminta maaf kepada Niar.
Ketika datang anak-anak langsung bermain di kamar Icha. Sedangkan kami bicara bersama di ruang tamu.
Tadinya Niar tak mau diajak untuk menemui mereka. Akan tetapi, aku memintanya untuk mencoba ikut.
Kami membuat kesepakatan, jika Niar tidak memungkinkan mengatur emosinya, maka dia boleh meninggalkan kami nanti.
"Baiklah Bang, akan kucoba menghadapi Kak Ayu dan bang Aldo. Bismillah," ucapnya.
Setelah menghela napas berkali-kali, Niar mengekorku di belakang untuk menemui Kak Ayu dan Bang Aldo.
Aku melihat reaksi Bang Aldo yang merasa tidak enak ketika bertemu dengan Niar. Kak Ayu yang bersikap tenang, memulai percakapan diantara kami.
"Niar dan Deni, Kak Ayu dan Bang Aldo datang ke sini untuk mengantar Bang Aldo meminta maaf secara langsung kepada kalian berdua." Kak Ayu menengok ke arah Bang Aldo.
"Iya, aku mau minta maaf karena telah melakukan kesalahan. Aku mau mengakui kesalahan kepada kalian kalau aku lah yang mengikuti Niar ke kamarnya saat di rumah Ibu, lalu pernah mengintipnya di rumah ibu juga dan saat sudah pindah di rumah ini kemarin."
Aku menoleh ke arah Niar, ia tampak bergetar. Selain itu, ia menahan kemarahannya dengan cara nafas berkali-kali.
Aku langsung menepuk-nepuk pundaknya agar Ia tenang. Lalu ku beri istriku minum air putih yang sudah tersedia diatas meja.
"Bisa dilanjutkan?" tanya Bang Aldo.
"Silahkan, Bang! jawab Niar.
"Aku berharap Niar dan Deni bisa maafkan segala kesalahanku. Semua kulakukan atas perintah ibu dan istriku.
Aku mencoba tenang lalu memegangi tangan istriku.
"Baiklah bang Aldo, aku aku sangat berterima kasih atas kejujuran Bang Aldo dan Kak Ayu. Kalian berdua sudah memberanikan diri mengakui kesalahan yang sudah dilakukan selama ini." Aku menghela napas sejenak.
Bang Aldo dan Kak Ayu tetap memperhatikanku saat berbicara. Sementara Niar masih menunduk.
"Akan tetapi, aku menyerahkan semua kepada istriku. Seperti kemarin, saat Kak Ayu meminta maaf, Niar masih belum bisa sepenuhnya memaafkan. Ia masih harus mencerna semua yang terjadi padanya. Mudah-mudahan sekarang perasaan Niar jauh lebih baik, dan bisa memaafkan kalian berdua," ucapku mencoba bijak dalam mengatasi permasalah ini.
"Iya, Kak Ayu juga paham. Tak semudah itu memaafkan kesalahan yang telah kami lakukan kan selama ini. Akan tetapi, Kak Ayu dan Bang Aldo akan terus mengucapkan kata maaf ini, dan kalau perlu kami ingin menebus kesalahan kami kepada Niar dengan apapun yang kamu mau, Niar." Kak Ayu kuasa menahan air matanya, sehingga ia berderai saat ini.
Kak Aldo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar kata Ayu, aku merasa bersalah sekali terhadap kalian. Kami ingin memulai kehidupan yang baik. Semoga kalian memaafkan, agar Tuhan pun memaafkan kami."
Niar pun terisak dalam tangisnya. Lalu ia mencoba mengangkat wajahnya. Ia menyeka air mata menetes di pipinya dengan tisu.
"Katakanlah apa yang ingin kau katakan, Dek! Kami semua akan menerima keputusanmu. Apakah kamu akan memaafkan atau masih perlu waktu untuk memberikan kata maaf itu."
"Aku ingin memaafkan Kak Ayu dan Bang Aldo. Tapi ketika aku berusaha melakukannya, batinku berperang. Di satu sisi katanya kamu harus ikhlas, di sisi lain, aku tak boleh terlalu lemah karena kesalahan yang telah dilakukan sangat fatal."
"Baiklah kalau begitu. Aku manut saja, Niar. Masih menunggu kamu bisa memaafkan dan tersenyum padaku," timpal Kak Ayu.
Kami sama-sama diam. Kupersilahkan Kak Ayu dan Bang Aldo untuk meminum teh manisnya.
"Kak Ayu dan Bang Aldo pasti bisa bersabar!" ucapku.
"Oya, Den, Insya Allah nanti di rumah kami akan ada syukuran. Kalian datang ya! Acaranya pekan depan, di hari Sabtu juga.
"Insya Allah kami hadir."
__ADS_1
"Iya, aku juga insya Allah hadir, kak." Niar menimpali.
"Alhamdulillah." Kami bersyukur bersama.
Kak Ayu dan keluarganya pamit pulang. Katanya sesekali mereka masih harus beres-beres di rumah baru mereka sebelum dipindahi nanti.
***
"Dek, aku mau mengajakmu makan malam. Kamu mau?" tanyaku setelah Kak Ayu dan Bang Aldo pulang.
"Nanti anak-anak gimana, Bang?"
"Kita minta malam ini Bik Surti untuk menjaga anak-anak sampai kita pulang. Nanti aku antar dia pulang ke rumahnya. Gimana, Dek?"
"Iya. Aku setuju. Sudah lama kita nggak jalan berdua."
"Betul, Dek. Sejak punya anak, kita pergi selalu bersama mereka. Sesekali lah kita quality time. Menikmati waktu berdua," kataku sembari mengusap pipinya.
"Baiklah, Bang." Niar setuju.
Aku langsung menyampaikan pada Bik Surti. Dia setuju untuk menunggui anak-anak nanti malam.
Malam pun datang. Setelah berbicara dengan Icha, ia mengerti. Asal aku menjanjikan oleh-oleh untuknya.
"Terima kasih, kakak Icha. Papa belikan pesanannya nanti, ya!" ucapku.
"Iya, Pa. Jangan lama-lama, ya!" jawabnya.
"Iya, Cha."
Niar sudah siap untuk makan malam denganku. Dia menggunakan gamis berlapis tile berwarna peach. Kerudungnya berwarna senada.
Mobil kulajukan ke salah satu restoran besar. Aku sudah memesan tempat duduk kami. Di sana pemandangannya bagus.
Tak jauh dari restoran ini adalah pegunungan, kami bisa merasakan dinginnya udara di sekitar sini.
"Dek, kamu mau pesan apa?"
"Sama aja kayak kamu, Bang!"
"Oke, aku pesankan ya!"
Setelah memesan makanan, kami mengobrol ringan. Tentang saat kami awal-awal nikah, yang ingin liburan ke Bali. Tapi belum terlaksana, karena Niar langsung hamil.
"Bang, terima kasih, ya! Saat ini pikiranku lebih rileks. Jenuh juga setiap hari hanya di rumah. Aku senang bisa keluar seperti ini."
"Alhamdulillah kalau kamu bisa menikmati suasana ini. Aku akan rutin mengajakmu jalan-jalan seperti ini."
Niar semringah. Ia tersenyum saat menatapku.
"Benarkah, Bang? Aku mau!"
"Baiklah. Semoga Icha nggak protes nanti," jawabku.
"Hehe, iya juga ya, Bang."
Tak lama, pelayan datang. Ia membawakan bunga dan memberikan kepadaku.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapku padanya.
Lalu, aku memberikan bunga ini pada Niar. Dia terkejut dan tersipu malu.
"Coba kamu lihat di bagian tengah bunga itu!" perintahku padanya.
Niar mencari sesuatu yang kusampaikan itu. Ada kotak perhiasan kecil, tersempil diantara bunga.
"Wah, ini ya, Bang?"
Aku mengangguk.
"Bukalah!"
Niar membuka kotak itu. Isinya cincin emas. Lalu, kupasangkan di jari manisnya. Niar tersenyum semringah.
"Ya Allah, Bang. Terima kasih banyak!" ungkapnya senang.
"Sama-sama, Dek."
Niar terus memandangi cincinnya. Hal yang aku contek dari sinetron ini bisa membuat istriku meleleh.
"Bang, kamu kok bisa tau ukuran jariku yang sekarang?"
"Abang kan bisa ngira-ngira. Tadi Abang minta tolong Kak Ayu untuk membelikan cincinnya. Lalu di serahkan ke restoran ini, untuk kuberikan padamu malam ini.
"Ya Allah, Bang. Kak Ayu pintar juga memilih yang bagus. Aku suka," katanya.
"Iya, Dek. Asal kamu senang dan cepat sembuh. Aku sudah sangat bahagia."
Kami tak berlama-lama makan, karena harus membeli pesanan Icha, yaitu makanan ringan di minimarket dekat rumah.
Kubelikan susu kotak dan biskuit krim coklat kesukaannya.
Setelah sampai rumah, Icha menunggu kami. Ia langsung menagih pesanannya. Aku memberikannya.
"Benar nggak yang ini?"
Icha semringah, tapi dia sedikit kecewa dengan apa yang kubeli.
"Apa yang kurang, Cha?"
"Papa lupa belikan pesananku untuk Farhan. Biskuit bayi," katanya.
"Ya Allah, Papa lupa. Ya udah besok ya, Cha! Kita berdua aja yang beli nanti. Gimana?" Aku memberikan tawaran menggiurkan pada Icha.
"Mauuu, Pa. Icha mauu," teriaknya sembari melompat.
Tak lama gawaiku berdering. Kak Ayu meneleponku. Ada apa Kak Ayu menelepon malam-malam begini?
"Ya, Kak. Ada apa?"
"Den, sekarang Kak Ayu ada di rumah sakit. Tolong kamu ke sini, ya! Ibu tak mau makan, sekarang perutnya sakit. Aku di IGD bersamanya."
Aku terkejut mendengar kabar dari Kak Ayu.
"Baiklah, Kak. Tunggu ya!"
__ADS_1
Bersambung
***