Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 13


__ADS_3

"Uuuuhhh ... Nggak enak!"


Mata kami sama-sama ke arah Icha. Lalu, aku menoleh ke arah kak Ayu. Aku menggelengkan kepalaku padanya. Wajahnya memerah, kak Ayu grogi saat aku perhatikan.


Sebelumnya aku katakan pada Icha agar jangan berbicara tak baik pada makanan.


"Tapi kan ini nggak enak. Enak masakan Mama," katanya.


"Papa coba, ya!" Aku mencoba makanan itu.


Rasanya memang tak karuan. Udang saos tiram keasinan, capcaynya tak berasa.


'Kok bisa kak Ayu yang sudah punya jadwal masak memasak yang seperti ini,' ucapku dalam hati.


Aku menatap lagi pada kak Ayu. Dia semakin gusar, keringat mengucur di wajahnya.


"Baiklah, kak Ayu ikut aku dulu!" perintahku pada kakak perempuanku ini. "Icha tunggu sama mama ya! Nanti papa pesankan makanan buat makan kita," kataku.


"Iya, Pa."


Kak Ayu mengikutiku, tapi ibu mengekor di belakangnya. Ketika ku berbalik, aku menatap ibu.


"Kenapa ibu ikut? Mau bela kak Ayu?"


"Ibu mau dengar aja. Memangnya nggak boleh?" Mata ibu membulat.


"Nggak, Bu. Yang masak kan kak Ayu. Jadi aku mau bicara dengan kak Ayu saja. Silahkan ibu tidak di ruangan ini!"


Tapi, Den. Aduuuh ... kepala ibu sakit!" Ibu berjongkok memegangi kepalanya.


Aku jadi panik melihat ibu sakit. Kak Ayu ikut panik juga. Aku ikut berjongkok, lalu memapah ibu pindah ke kursi.


"Sakit yang mana, Bu?" tanyaku sambil memegangi kepala ibu.


"Yang ini, Den. Mungkin karena ibu kebanyakan mikir. Ibu mikirin kalian berdua bertengkar seperti itu. Ibu nggak mau gara-gara masakan, kamu malah memusuhi Ayu," kata ibu panjang lebar.


Aku menghela napas pendek.


"Bukan itu maksudku. Aku mau minta penjelasan saja pada kak Ayu."


"Kamu jangan memarahi Ayu. Kalian berdua anak-anak ibu. Huhuhu." Tiba-tiba saja ibu menangis, ia memelukku. Aku menenangkannya.


"Baiklah, Bu. Aku nggak akan marah sama kak Ayu. Tapi, aku minta penjelasan kakak kenapa kakak seperti tak bisa masak. Aku tau dulu kakak memang tak bisa masak. Tapi sekarang kakak punya jadwal masak tersendiri, ibu kok yang buat!"


kak Ayu masih diam. Ibu mengambil tanganku.


"Sudah, Den. Jangan kau hakimi Ayu. Sepertinya dia sedang ada masalah."


"Masalah apa? Kan kalian habis dari arisan tadi," kataku.


"Aku lagi nggak mood!" Kak Ayu menjawab, lalu ia beranjak pergi ke kamarnya.


"Dasar tidak sopan!"


"Udah, Den. Kamu nggak usah seperti itu. Nanti juga Ayu mood lagi, pasti enak lagi masakannya. Sekarang anter ibu ke kamar ya!"


"Iya, Bu."


Aku memapah ibu ke kamar. Setelah merebahkannya di ranjang, aku kembali ke ruang makan. Mau tanya pada Icha, dia mau pesan apa.

__ADS_1


Ketika aku sampai ruang makan, Icha dan Niar sedang asyik makan.


"Waah, kayanya papa nggak usah beliin makan di luar, ya?"


"Udah, pa. Mama masak," jawab Icha.


Ku lihat makanan tadi juga yang dimakan. Apa mungkin Niar yang memperbaiki rasany?


"Kamu yang masakin lagi jadi enak, ya, Sayang?" tanyaku saat duduk di sebelahnya.


Niar mengangguk.


"Alhamdulillah," kataku.


Aku pun ikut makan. Rasanya jauh lebih enak dari sebelumnya. Memang Niar sangat pintar memasak.


Ku lihat Icha makan dengan lahap, berbeda dengan mamanya yang makan sedikit.


"Yang banyak makanny, Sayang!" Aku berbisik padanya.


Niar menoleh, lalu tersenyum tipis. Dia menambah nasi sedikit dan lauknya.


"Nah, gitu dong, Sayang!"


"Papa pinter, mama makan banyak!" kata Icha sambil bertepuk tangan.


Aku jadi malu pada Icha yang menyorakiku.


***


Setiap malam, aku selalu tidur belakangan. Ku lihat Niar tidur sangat nyenyak malam ini. Biasanya sedikit-sedikit dia bangun, entah bermimpi apa. Dia tak mau menceritakannya.


Farhan tidur di tengah ranjang. Aku di sebelah Farhan. Anak kami sudah setahun, tapi aku jarang di sampingnya.


Lalu aku menghampiri istriku, tak lupa membelai rambut istriku, lalu mengecup keningnya.


"Aku akan menunggumu, Sayang. Aku tau kamu butuh waktu untuk kembali seperti dulu," ucapku pada telinganya. "Semoga kamu mendengarnya ya, Sayang!"


Ku dekap dia dari samping, rasanya tak ingin meninggalkannya lagi. Tapi esok aku harus kembali bekerja.


"Baik-baik ya, Sayang!" Bisikku lagi.


***


Pagi ini aku melihat aplikasi CCTV lagi, tak ada yang perlu dicurigai. Semua aman. Aku lebih lega sekarang untuk meninggalkan istri dan anakku.


Di dapur, Niar sedang sibuk menyiapkan sarapan. Aku mendatanginya.


"Sarapan apa nih hari ini, Sayang?"


"Nasi goreng," jawabnya datar.


"Wah, asyik. Aku suka. Boleh ku bekal untuk di kantor nanti?"


Niar sibuk mencari tempat nasi goreng. Lalu memindahkan nasi goreng itu dalam sangku nasi.


Lalu dia menghidangkan di atas meja. Di sana sudah ada kerupuk dan acar untuk teman nasi goreng.


Lalu ku perhatikan dia membawa ompreng nasi, ia memindahkan nasi goreng itu dalam ompreng.

__ADS_1


"Wah, sepertinya itu buatku, ya?"


Aku bertanya sembari memeluknya di belakang. Dia melepaskan pelukanku, lalu berbalik dan memberikan ompreng itu padaku.


"Terima kasih, Sayang!" Aku mengecup dahinya. Ia salah tingkah.


Aku memasukkan nasi goreng buatan Niar dalam tasku. Lalu menyimpannya di dalam mobil karena takut lupa dibawa.


Seperti biasa kalau pagi menjelang keberangkatanku, yang lain masih di alam mimpi. Hanya Niar yang menemani keberangkatanku. Sesekali mereka bangun pagi.


Aku makan sebentar, karena waktu juga, aku harus berangkat. Lalu ke kamar untuk mencium anak-anakku. Farhan di kamar kami, sedangkan Icha ada di kamarnya. Mereka sama-sama masih tertidur.


"Sayang, hati-hati di rumah. Kamu jagain anak-anak, ya! Pakai gawaimu jika kamu mau menghubungiku. Belakangan ini kamu tak pernah menghubungiku, dan susah jika aku mau menghubungimu. Tolong ya, Sayang," kataku sebelum berangkat.


Niar hanya mengangguk. Dia irit sekali bicara.


"Kapan kamu kayak dulu lagi, Sayang? Bicaralah padaku!"


Aku mengajaknya ke depan untuk mengantarku. Saat aku pergi, dia menatapku dengan tatapan kosongnya. Oh, Niar, aku masih jadi suami yang kurang baik untukmu.


***


Sesampainya di kantor, aku langsung berjibaku dengan pekerjaanku. Hari Senin adalah waktu tersibuk untukku. Aku hanya bisa istirahat sebentar di siang hari, lalu melanjutkan pekerjaan.


Siang ini aku masih harus menyusun beberapa berkas. Aku ingat belum makan, lalu ku buka nasi goreng buatan istriku.


Saat aku memakannya, sahabatku -- Rio datang.


"Den, kamu makan lahap sekali. Kayak yang nggak pernah nemu nasi goreng aja," katanya.


Aku terkekeh. Lalu minum air putih untuk meredam tersedak


"Ini dibawain istriku, loh. Enak banget rasanya. Mau coba?"


Karena penasaran, Rio mencobanya. Ia menyendok sedikit, lalu dimasukkan ke mulutnya.


"Waah, beneran enak ini. Istrimu pasti koki yang baik di rumah!" katanya.


"Iya, beruntung aku menikahinya. Dia perempuan yang nggak neko-neko. Tapi, akhir-akhir ini dia sering diam. Aku nggak tau penyebabnya apa," ceritaku pada Rio.


"Diamnya seperti apa, Den?"


"Kalau aku bicara, jarang ditanggepin. Wajahnya datar aja," kataku.


"Terakhir dia banyak bicara kapan?"


"Kayaknya setelah dia suka curhat, tapi aku menganggapnya tak mungkin."


"Wah, Den. Kamu tau nggak kalau perempuan perlu mengeluarkan 20.000 kata sehari. Kalau laki-laki kaya kita 7.000 kata sehari. Kalau jarang ngomong pasti ada apa-apa sama dia," jelas Rio.


"Iya ya?"


"Kamu harus balikin dia kayak dulu, Den. Sepertinya dia ada masalah dengan orang, atau masalah denganmu tadi. Ketika curhat, malah nggak dipercaya. Gimana coba rasanya, sakit! Itu sih kata istriku. Dia bawelnya minta ampun. Kalau lagi ada masalah dia diam juga. Berarti istri kita setipe, Den!"


"Iya ya, Rio. Makasih ya! Aku juga lagi cari tau yang terjadi sebenernya sama dia," kataku.


"Iya, semoga aja istrimu nggak depresi, Den!"


Mendengar perkataan Rio membuatku teringat dengan obat penenang yang pernah Niar minum.

__ADS_1


'Ya Allah, apa Niar benar-benar depresi?' batinku.


Bersambung


__ADS_2