Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 22


__ADS_3

Sore ini jadwalku untuk pulang. Sambil menunggu sore, saat jam istirahat, aku melepon rumah. Entah kali ke berapa aku khawatir dengan keadaan mereka.


Saat suara panggilan, Niar biasanya tak langsung mengangkat, aku harus menunggu sampai nada ke sekian, lalu diangkatlah telepon itu.


"Assalamualaikum. Dek, gimana kabarnya? Nanti sore aku pulang ya!"


"Waalaikumsalam. Baik, Bang."


"Semua baik-baik saja?"


"Ya. Bram datang pasang kamera."


"Oh iya, kamera CCTV. Alhamdulillah kalau sudah terpasang. Bibik masuk hari ini?"


"Ada, Bang."


"Okey. Aku kangen sama kamu, Sayang. Kamu jangan lupa minum obatnya. Besok kita kembali ke dokter, ya!"


"Iya, Bang. Udah ya, Bang!


"Ok Niar. Sampai jumpa nanti malam ya!"


"Iya."


Setelah itu aku seperti biasa pergi makan siang bersama Rio. Kami saling bercerita mengenai keluarga. Dia orang yang sangat kurindukan, kalau aku jadi pindah nanti.


***


Keputusan mutasiku sudah ada. Aku kembali bekerja di kantor cabang.


"Alhamdulillah, selamat ya, Den. Akhirnya keinginanmu terwujud. Cepet banget loh langsung di ACC," kata Rio.


"Iya, Alhamdulillah. Pak Direktur mengerti masalahku."


"Ya sudah, kapan-kapan aku main ke sana boleh, kan?"


"Boleh, dong Rio. Jangan lupa bawa keluargamu!" kataku sembari meninju perutnya pelan.


"Oke, Den. Semoga istrimu kembali sehat, ya!"


"Iya, Rio. Makasih ya!"


Lalu Rio memberiku sesuatu.


"Den, karena kamu pindahannya cepet banget. Aku nggak bisa siapin apa-apa buat kamu. Ini kenang-kenangan dariku. Pulpen yang selalu menemani kemanapun."


"Wah, aku jadi terharu dapat kenang-kenangan. Aku ngasih apa ya?"


"Nggak usah, Den. Kalau nggak ada. Tenang aja, insya Allah aku nggak ngarep kamu ngasih juga," jawab Rio.


"Hehe, makasih, Bro. Sehat selalu, ya!"


"Iya, sama-sama!"


Kami pun kembali bekerja. Sebelum jam pulang, aku membereskan semua barangku. Lalu pamit ke teman-teman yang lain juga.


***


Bismillah, perjalanan pulang ke rumah dengan membawa berkas, barang-barang dari kost.


Seperti biasa, aku selalu menyempatkan membeli oleh-oleh makanan untuk di rumah. Aku dari kost-an tadi sudah lumayan sore banget, dan bakal sampai malam.


Aku pun tiba di rumah. Ada mobil terparkir di luar, tapi aku tak mengenali mobil itu. Tapi sopirnya masih di dalam mobil.


Setelah aku turun, aku mengetuk pintu supir.


"Nunggu siapa?"


"Nunggu penumpang, orangnya sedang di dalam," katanya.


Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam. Ketika semakin dekat, aku mendengar suara ibu sedang membujuk Niar.


"Niar, kamu kembali ke rumah, yuk!"

__ADS_1


Aku segera masuk.


"Assalamualaikum," ucapku sembari membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Tuh kan Deni sudah datang. Dikira ibu kamu udah dari tadi datangnya. Ibu mau minta kalian kembali ke rumah ibu, Den!"


"Maaf, Bu. Nggak bisa," jawabku.


"Kamu ini, kenapa sih. Apa alasanmu keluar dari rumah ibu?" Ibu menanyakan dengan nada tinggi.


Aku jadi terpacu untuk marah. Aku menghela napas pendek.


"Ibu, mau tau alasanku?"


"Apa alasanmu?"


Sebentar. Aku ke dalam untuk mengambil bukti rekening koran dari rekening tabungan istriku.


"Ini, Bu."


"Apa ini?"


"Baca saja oleh Ibu. Silahkan Ibu berpendapat setelah melihat itu," kataku.


Ibu mengamati lembaran kertas yang kuberikan padanya.


"Ibu nggak ngerti, Den."


"Di situ jelas. Setiap bulan ada pengambilan dari ATM sebesar 6.5 juta. Dan di transaksi terakhir, Niar mentransfer uang sejumlah 6.5 juta ke rekening ibu. Sekarang Ibu mau bicara apa?"


Aku menatap Niar, dia tertunduk. Aku takut dia drop lagi.


"Dek, katakan yang sebenarnya yang selama ini terjadi!" Aku memegang tangannya, lalu mengangkat dagunya agar ia tak tertunduk.


"I-itu." Niar terdiam.


"Cepat katakan!"


"Bu, jangan mengancam Istriku. Walau Niar tak mengatakannya, aku tau perbuatan Ibu selama ini pada Istriku," kataku yang tak sengaja melihat Ibu.


"Sudah, Bang. Sudah!" ucap Niar.


"Kamu sudah pintar sekarang, Den. Sejak kecil Ibu urus kamu, apa ibu urus kamu untuk mendapatkan bentakanmu sekarang?"


"Bukan begitu, Bu. Sekarang Ibu katakan yang jujur. Benar kan yang aku katakan tadi? Jawab, Bu!" Aku menaikkan volume suaraku di depan Ibu.


Niar bangkit, lalu memegangi mulutku.


"Biar, Niar. Biarkan aku mengungkap semua kejahatan Ibuku padamu selamat ini. Kamu sudah cukup menderita."


"Ibu tak mengerti maksudmu. Oke Deni, kalau kamu memilih jadi anak durhaka karena perempuan itu, semoga kamu mendapatkan balasannya."


"Haha ... Ibu nggak ngaca diri. Justru ibu yang dzolim dengan istriku. Malah mendoakan yang tak baik buat aku."


"Deni, kamu keterlaluan!"


Plak.


Ibu pergi dari rumah setelah menamparku. Biarlah, Ibu belum juga sadar kalau dia salah. Malah aku didoakan yang tidak-tidak.


Terdengar suara mobil meninggalkan rumah kami. Aku segera mendekati Niar. Icha juga keluar dari kamarnya dengan ketakutan.


"Maaf ya, Sayang. Aku selama ini telah lalai. Kamu tak usah memikirkan ini. Kamu harus bangkit, ya!"


"Icha, sini, Papa pangku."


Ia menghampiriku, lalu aku memangkunya. Ia membenamkan dirinya di dadaku.


"Papa ...," katanya sembari menangis.


"Udah, Cha. Nggak usah nangis. Papa ada di sini kok!"


"Icha takut, Pa!"

__ADS_1


"Takut apa?"


"Takut Nenek. Nenek galak sama Mama sama Icha!" katanya sambil terisak.


"Icha, tenang ya. Ada Papa." Aku berkata sembari memeluk juga Mamanya.


"Mama juga harus kuat!" kataku pada Niar.


Dia diam. Masih ada raut kesedihan di wajahnya. Tapi aku menghibur mereka dengan aneka macam oleh-oleh yang ku bawa.


"Icha mauuuu makan martabak, Pa!" kata Icha kemudian.


"Oke, ini papa bukain ya!"


Kami pun makan bersama malam ini. Aku yakin semua pasti akan baik-baik saja.


***


"Apa yang dirasakan oleh Ibu sekarang?" tanya Dokter Saptadji pada Istriku.


"Saya masih suka cemas, takut, Dok!" katanya.


"Apa kejadian yang dialami selama kemarin yang mengguncang anda?"


"Kemarin ada yang mengintip di rumah. Lalu kemarin Mertua saya datang."


"Siapa yang mengintip?"


"Saya tau, pasti dia."


"Anda cemas dan takut karena semua itu?"


"Iya, Dok. Saya sampai tak bisa tidur."


Aku mendengar perbincangan mereka dari ruang bersekat itu. Istriku mengungkapkannya juga akhirnya. Semoga ini jalan menuju kesembuhannya.


Selesai berkonsultasi dengan dokter, seperti biasa, kami harus menebus obat terlebih dahulu. Aku berbincang dengan Niar.


"Dek, gimana perasaanmu setelah berkonsultasi dengan dokter?"


"Lebih baik, Bang."


"Alhamdulillah. Abang yakin kamu cepat sembuh nanti."


Niar mengangguk dan tersenyum tipis.


"Dek, kamu kemarin kenapa nggak bilang aja kalau Ibu melakukan itu padamu selama ini," kataku.


"Aku takut, Bang. Aku bergetar kalau takut," katanya.


"Ya sudah, maafkan Abang ya. Karena Abang nggak merasakan yang kamu rasakan. Jadi yang menurut Abang sangat mudah, tapi menurutmu itu sulit. Karena Abang tak berada di posisimu. Tapi aku janji, akan selalu mendukungmu untuk sembuh, Dek!"


"Iya, makasih, Bang!"


Setelah itu kami pulang. Karena tak ingin lama-lama meninggalkan anak-anak. Mereka ditinggal bersama Bik Surti.


Sesampainya di rumah, Bik Surti memberikan sebuah amplop coklat pada Niar.


"Apa itu, Bik?" tanyaku.


"Ada yang mengirimkan ini. Dari kurir, Pak!" katanya.


Kami menyimpan dulu amplop itu karena sekarang waktunya makan siang. Kami makan bersama, setelah itu Niar menyuapi Farhan.


Anak-anak pun tidur siang. Ku lihat, Niar mengambil amplop itu. Lalu membukanya.


Setelah itu, raut wajahnya menjadi sedih. Ia menangis dan melemparkan amplop itu, yang isinya beberapa foto. Tak jelas foto apa.


"Kenapa, Dek?"


Dia tetap menangis. Aku memungutinya. Ternyata itu fotoku saat bertemu Cella di cafe dan di Jakarta kemarin. Siapa yang merencanakan ini?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2