Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 24


__ADS_3

[Niar, cepat kirimkan lagi uangmu 6.5 juta. Cepat! Ibu harus membayar arisan.]


Ternyata ini yang membuat Niar tertekan.


"Dek, sabar ya. Tarik napas, hembuskan, biar agak tenang. Setelah tenang, boleh cerita sama aku. Tapi kalau masih belum mau, nggak apa-apa. Yang penting kamu tenang." Aku menghiburnya seraya mengusap pundaknya.


Niar mengangguk pelan. Sekarang Niar terlihat lebih baik.


"Aku tau, penyebabnya pasti ini kan?" Aku memberikan gawai Niar dan memperlihatkan isi pesan Ibuku.


Niar diam, dia ketakutan.


"Tenang, Sayang. Kamu tak boleh kalah dengan hal macam ini."


Lalu aku mengambil kembali gawainya, ku buka aplikasi M-banking, ku transfer semua dana di rekening Niar.


"Ku amankan dulu uangmu ya. Agar kamu tak terdorong untuk mentransfer uang ke Ibuku. Nanti ke depan ku buatkan lagi rekening baru untukmu."


"Iya, Bang." Niar setuju.


"Satu lagi. Nomormu yang ini sudah tidak aman. Aku akan membelikanmu nomor baru. Untuk sementara aku akan memblokir nomor Ibu dan Kak Ayu agar tidak bisa menghubungimu." Aku memeluk istriku.


Niar menganggukkan kepalanya. Lalu aku bertanya lagi.


"Kamu udah makan? Kita makan sama-sama, yuk. Aku juga belum makan siang nih," kataku.


"Belum, Bang."


Aku mengajaknya ke ruang makan, mumpung Farhan sedang tidur. Tapi Icha belum kelihatan.


"Icha, kita makan bareng-bareng, yuk!"


"Iya, Pa. Eh, Papa udah pulang?" tanya Icha.


"Sebentar aja. Nanti balik lagi ke kantor. Makanya Papa nggak punya waktu lama, ini."


"Oh gitu!"


Icha mengikuti kami duduk di meja makan.


"Yuk, kita makan bareng sekarang! Jangan lupa berdoa dulu ya, Cha!"


Kami pun mulai makan. Seperti biasa, jika ada pikiran, Niar sedikit sekali makannya. Aku menyuapinya, agar manaknan ini masuk beberapa suap ke mulutnya.


"Sudah, Bang!" Niar menolak sendok nasi yang kudekatkan ke mulutnya.


"Ini terakhir, tuh lihat sudah habis." Akhirnya dia membuka mulutnya.


Icha melihat kami. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku.


Setelah itu, aku pamit untuk kembali ke kantor.


"Ma, Icha, Papa harus ke kantor lagi sekarang," kataku sembari menciumi keduanya.


"Iya, Pa. Hati-hati, ya!" kata Icha sembari mengikutiku ke depan.


"Iya Cha. Makasih, ya! Kamu masuk lagi sana!" Aku menyuruh Icha masuk. Sementara aku masuk ke mobil.


Gadis kecil itu kemudian melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam rumah.


Tak lama aku tiba di kantor. Aku masih memikirkan permintaan Ibu ke Niar. Seenaknya saja udah minta jatah pada Niar. Padahal gajian tinggal semingguan lagi.

__ADS_1


Mulai bulan ini, tak ada jatah untuk Ibu dan kak Ayu dari gajiku. Biar mereka tau bagaimana rasanya tak pegang uang.


***


Sepekan lebih sudah berlalu dari kejadian pesan tertulis dari Ibu untuk Niar. Sekarang Niar sudah punya nomor baru, ibu tidak boleh tau itu.


Aku tak mentransfer uang gajiku ke rekening siapapun. Masih tak aman jika memberikan pada rekening Niar.


Karena hari ini kebetulan libur, aku mengajak Niar dan anak-anak untuk belanja bulanan.


Niar dan Icha memilih sayuran dan makanan untuk dibeli. Lalu Icha ingin makanan dan minuman ringan. Aku mengambilkannya.


Setelah selesai semua, kami membayarnya. Lalu membawanya ke luar.


Kami pun pulang, tak lupa mampir ke toko mainan sebentar untuk membeli permintaan Icha. Aku kan mengabulkannya jika pada mainan itu ada nilai pembelajarannya. Icha memilih lego kali ini.


Setelah sampai rumah, ibu sudah datang dengan Kak Ayu. Mereka langsung menyambut kami ketika kami datang.


"Eh, Icha udah pulang. Dari mana, Cha?" tanya Ibu.


"Habis belanja, Nek! Nenek sedang apa di sini?" Pertanyaan Icha sangat menohok.


Ibu tiba-tiba mendelik. Aku sengaja melihatnya setelah Icha bertanya pada Neneknya.


"Nenek mau main ke sini. Masa Nenek di rumah terus? Bosan dong!" sahut Ibuku.


"Oh, gitu!" Icha memanyunkan bibirnya.


"Icha, main di kamar dulu, ya!" pintaku pada Icha.


"Iya, Pa."


Lalu aku juga meminta istriku di kamar saja. Karena firasatku tak bagus.


"Ada apa, Bu?"


"Ibu mau minta hak ibu." katanya.


"Apa hak ibu?"


"Uang bulanan darimu, Den. Untuk ibu dan kakakmu."


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Ibu sadar selama ini sudah menyakiti istriku?"


Ibu menggeleng, lalu mendongakkan wajahnya ke arahku.


"Ibu mohon. Ibu sangat butuh uang itu," kata Ibu.


"Ibu harusnya malu. Sudah tidak mengakui kalau Ibu salah, tapi tetap minta uangku. Belum lagi minta jatah bulanan juga."


Ibu diam.


"Kamu harus memberikan jatah kami, Den!" Ibu melebarkan matanya ke arahku.


"Seminggu yang lalu, Ibu sudah meneror Niar untuk meminta uangnya. Apa ibu nggak malu? Apa ibu mau gini-gini aja?"


"Itu karena ibu sudah kehabisan uang. Ibu harus bayar arisan, Den!"


"Ibu sendiri yang salah. Ikut arisan delapan juta sebulan. Padahal uang dari mana sebanyak itu kalau bukan dari malak uang Istriku. Sudah cukup ibu menyakitinya. Jika Ibu mencoba lagi menyakiti, mengancam ataupun meneror istriku, aku tak segan melaporkan ke polisi."

__ADS_1


Ibu terkesiap mendengar ancamanku. Dia langsung menatapku nyalang.


"Jadi, kamu berani melawan Ibu?"


"Bukan melawan, tapi aku mencoba membela keluargaku dari ancaman. Aku tau syurgaku ada di kakimu, tapi itu akan kudapatkan jika Ibu mengajariku kebaikan. Ini malah sebaliknya yang ku dapatkan."


"Deni, kamu berani sekali sama Ibu!" Kak Ayu mulai membuka suaranya.


"Apa kak? Aku hanya membela yang lemah. Kalian terlalu licik! Kalau tak ada perlu lagi, silahkan keluar. Mulai hari ini, tak ada jatah bulanan untuk Ibu dan Kak Ayu!" Aku menegaskan lagi pada Ibu dan kakakku.


"Oh kamu berani mengusir kami?"


"Ya. Ini rumahku."


"Baiklah, Deni. Kamu akan rasakan balasan atas kedurhakaanmu!"


"Terbalik, kalian yang akan merasakan rugi karena semua tindakan jahat Ibu dan kak Ayu selama ini!"


"Kamu sangat pintar, Deni!" kak Ayu berucap.


Aku berjalan ke pintu, lalu membukanya.


"Silahkan keluar!"


Mereka keluar dengan rasa marah, kesal, dongkol padaku. Biar saja, biar mereka rasakan apa yang istriku rasakan selama ini.


Setelah Ibu pergi, Niar menghampiriku. Dia bertanya padaku bagaimana reaksi Ibu. Aku menjawab kalau Ibu lumayan kesal dan marah.


"Beri saja uang jatahnya, Bang!"


"Tidak! Itu tidak mungkin!"


"Aku takut nanti ada ancaman lain." Kekhawatiran terlihat di mata Niar.


"Tidak. Aku kan menghalaunya. Sudah ku ancam Ibu dan kakakku, Dek!"


Niar menangis dan membenamkan wajahnya di bahuku.


"Tenang, jangan khawatir. Kamu pasti bisa melewati keadaan ini!" ucapku sembari mengacak rambutnya.


"Iya, Bang."


***


Malam saat akan memejamkan mata, tiba-tiba ada telepon dari orang tak di kenal.


"Halo, dengan Pak Deni?"


"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya!"


"Saya yang pegang arisan di komplek ibu anda. Kebetulan mau menagih uang arisan Bu Ratih," katanya.


"Apa? Kenapa harus ke saya? Minta saja pada Ibu," jawabku.


"Ibumu tak mau bayar. Katanya uangnya ada di anaknya yang bernama Deni. Ibumu sendiri yang memberikan nomormu," katanya.


Aku terkejut. Bisa-bisanya ibu berkata seperti itu. Menyuruh orang menagih utangnya padaku. Astaghfirullah!


"Mohon maaf, saya tidak bisa membayarkan. Karena saya sudah menyetop memberikan uang saya sama pada Ibu dan Kakak saya," jelasku.


"Mengapa?"

__ADS_1


"Mereka tak pantas mendapatkannya, Bu!"


Bersambung


__ADS_2