
Aku menunggu Kak Aldo datang karena kami janjian akan melihat-lihat rumah. Rencana aku akan pindah ke sana bersama keluargaku.
Setelah aku memeriksa rekening koran tabungan Niar, aku menemui Kak Ayu menanyakan keberadaan Kak Aldo. Kak Ayu juga tidak begitu tau dimana suaminya berada.
"Coba saja kamu telepon, Den!"
"Sudah, tapi nggak diangkat."
"Ya sudah, kita tunggu saja."
"Baik, Kak."
Aku menunggu Kak Aldo sembari bermain dengan Icha. Dia sangat senang memiliki mainan baru. Sebuah topi bulu berkarakter kelinci dengan telinganya yang dapat digerakkan seperti menari dengan menekan cakarnya. Terdapat pula hiasan lampu kelap-kelip didalam topi tersebut.
"Makasih ya, Papa. Aku punya buni het," kata Icha.
"Sama-sama, Icha. Papa juga seneng kalau kamu seneng, Cha!"
Icha menyunggingkan senyumnya. Ia bermain masak-masakan sembari memakai topi karakter yang baru kubelikan tadi.
Tak lama Bang Aldo datang.
"Hi, Bro. Maaf ya aku telat," Bang Aldo langsung menyapaku.
"Iya, Bang. Nggak apa-apa. Ayo kita berangkat!"
"Sebentar ya, aku mau makan dulu. Laper banget, tadi di jalan nggak sempet makan," katanya.
"Oke deh. Aku tunggu di sini, ya, Bang!"
Setelah makan, Bang Aldo langsung mengajakku ke lokasi.
"Icha main sama Mama dulu, ya! Papa sama Om Aldo mau lihat-lihat rumah dulu," pesanku pada Icha.
Gadis berumur tiga tahun itu mengangguk pelan. Lalu dia berpindah ke kamar Mamanya, aku mengantarnya ke sana.
"Dek, aku mau lihat-lihat rumah sekarang ya! Bang Aldo sudah datang,"’ kataku sembari mengecup pucuk kepala istriku.
Niar meng-iyakan, ia mengangguk pelan.
Lalu kami menaiki mobil. Bang Aldo membimbingku ke arah rumah yang rencananya akan ku beli.
Sepanjang jalan Bang Aldo mengatakan kalau pemilik rumah juga datang. Kalau mau transaksi hari ini bisa. Tetapi, jika yang itu tak cocok, Bang Aldo punya banyak stok yang bisa didatangi.
Kami pun sampai di lokasi, disambut oleh suami istri paruh baya. Aku dan Bang Aldo turun dari mobil. Ketika bertemu suami istri itu, kami menyalaminya.
Bang Aldo memperkenalkan aku dengan mereka. Mereka mengajak kami masuk ke dalam rumahnya.
Rumah ini type 45, memiliki luas lahan 90 cm. Memiliki dua buah kamar dan satu kamar mandi. Bagian dapur sudah diperbaiki, tinggal membuat gerbang yang belum.
"Bagaimana, Pak? Sudah cocok?"
"Berapa, Pak harganya?"
"Seharusnya 450 juta, untuk anda saya diskon jadi 420 juta," katanya.
Aku menoleh ke arah Bang Aldo.
"Pak, ini tuh adik saya. Kalau bisa dipaskan harganya," kata Bang Aldo.
Laki-laki paruh baya itu terkejut mendengar penuturan bang Aldo. Lalu tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya kasih pas di angka 400 juta, bagaimana?"
"Alhamdulillah, saya setuju, Pak!"
Terjadi deal diantara kami. Aku berjanji akan menyelesaikan pembayaran besok. Hari ini aku berikan DP, sehingga besok rumah ini bisa kami tempati.
"Terima kasih, Pak. Senang bertransaksi dengan Bapak." Pak Surya menjabat tanganku.
"Sama-sama, Pak."
"Nanti saya minta pembayaran rekening listrik dan air terakhir ya. Agar memudahkan saya membayar di bulan berikutnya," kataku.
"Baik. Besok ya!"
Setelah itu, aku dan Bang Aldo beranjak pulang.
"Bang, minta nomor rekening ya. Akan kuberikan komisi untukmu," kataku.
"Oke, Den. Nanti setelah sampai rumah ya!"
"Oke. Oya, Bang. Jangan bilang Ibu dan Kak Ayu dulu kalau aku sudah punya rumah," ucapku.
"Kenapa memangnya?"
"Aku tak mau membebani mereka. Nanti Ibu pasti melarang kami pindah. Kalau bisa Abang ajak ibu jalan-jalan dulu. Biar kami berkemas dan pindah. Kalau bisa, Abang jangan bilang-bilang aku pindah kemana. Karena aku ingin menyembunyikan dari mereka. Gimana, Bang?"
"Tapi ..."
"Nanti aku tambah uangnya untukmu bawa mereka makan di luar."
Bang Aldo tersenyum, dia setuju dengan usulku.
Setibanya di rumah, aku meminta Niar berkemas. Semua dimasukkan dalam koper. Aku membantunya juga.
***
Semua sudah siap. Tinggal menunggu Bang Aldo menjalankan rencananya.
[Bang, mau berangkat jam berapa? Sudah ku transfer ya sebesar lima juta.]
[Baiklah, terima kasih ya, Deni. Sebentar lagi jam delapan-an kami berangkat.] jawab Bang Aldo.
[Ok ditunggu kabar selanjutnya.]
Kami sarapan bersama. Tak ada yang aneh dengan sarapan kali ini. Ibu hanya memperhatikan Niar sesekali.
"Den, bu dan Ayu mau diajak jalan-jalan sama Aldo ke Ragunan. Kamu mau ikut nggak?"
"Nggak, Bu. Deni di rumah aja. Karena lusa juga aku harus balik ke Jakarta, Bu."
"Oke, Den." kata ibu.
Setelah sarapan, mereka berangkat menggunakan kendaraan di aplikasi online. Farrel dan Ayesa senang karena akan jalan-jalan.
Kami pun menjalankan aksi kami. Kabur dari rumah ini. Urusan dengan Ibu nanti kuurus belakangan.
Kami pindahan menggunakan mobilku saja. Setelah semua masuk mobil, aku mengunci rumah, menyimpan kunci di tempat yang tersembunyi. Kuberitahukan pada Bang Aldo kalau kunci disimpan di dekat bunga.
Kami berangkat. Setelah 20 menit perjalanan, kami pun sampai. Icha bingung dengan semua ini. Aku belum sempat menjelaskan padanya.
"Icha sekarang, kita pindah rumah. Ini rumah kita yang baru."
__ADS_1
Kami turun dari mobil. Icha melihat-lihat lingkungan sekitar rumah. Kami masuk ke dalam. Di dalam, Icha masih mengamati semua bagian rumah. Sedangkan Mamanya santai saja saat memasuki rumah ini.
"Kita belum punya barang-barang. Bertahap saja ya! Aku akan membeli yang penting dulu hari ini," kataku pada Niar.
"Pa, rumahnya lebih kecil dari rumah Nenek ya, Pa?" tanya Icha.
"Iya. Tapi insya Allah lebih nyaman di sini," kataku. "Iya kan, Ma?" tanyaku pada Niar.
"Iya, mudah-mudahan," katanya.
"Aku beli perlengkapan dulu ya. Kalian tunggu di sini," kataku.
"Icha tunggu sama Mama ya!"
"Iya, Pa."
***
Setelah dua jam, aku kembali ke rumah. Aku membeli kompor, tabung gas, beberapa piring, mangkok, sendok, garpu, sofa, gayung, dua buah lemari pakaian serta dua buah spring bed yang ukuran nomor 1 dan nomor 3. Untuk seprai, aku kelupaan. Jadi paling nanti pakai kain yang ada.
Tak lupa membeli nasi dan lauknya untuk makan siang hari ini. Ku tau, Niar tak mungkin masak saat ini.
"Dek, kita perlu ART nggak?"
"Nggak usah, Bang."
"Kamu bisa ngerjain semua kerjaan rumah?"
"Iya," katanya.
"Tapi kita pakai ART saja ya. Aku takut kamu kenapa-napa. Karena sekarang aku kan masih di Jakarta. Setelah aku tinggal di sini lagi, baru nanti tak usah pakai ART lagi. Gimana?"
"Iya, Bang. Terserah."
Aku meminta ART lagi pada Bram. Alhamdulillah dia punya rekomendasi ART yang lainnya. Nanti sore mereka datang ke sini.
"Terima kasih, Bang," kata Niar.
"Sama-sama. Semoga tak ada masalah lagi ke depan. Kamu makan dulu, biar bisa minum obatnya!"
"Baik, Bang!"
***
[Den, Ibu marah-marah tiba-tiba kalian menghilang dari rumah.]
[Abang nggak bilang apa-apa kan?]
[Nggak, Den. Tapi takutnya lama-lama ketauan. Kamu siap-siap aja, Den.]
[Iya, Bang. Makasih. Insya Allah aku mengajukan mutasi balik ke kota ini.]
[Iya, Den. Semoga berhasil.]
[Aamiin. Makasih, Bang.]
Seusai berbalas pesan dengan Bang Aldo, tiba-tiba ibu telepon.
'Siap-siap disemprot oleh ibu,' gumamku.
Bersambung
__ADS_1
Alhamdulillah, terima kasih para pembaca. Semoga bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian di cerita ini.
Sehat selalu dan diberkahi rezekinya ya.