Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 21


__ADS_3

Bab 21 (UBIDI)


Selama di jalan perasaanku tak enak, tapi kulapangkan hati ini agar tetap berpikiran positif. Sampai tiba di kantor, aku langsung menghubungi gawai istriku.


Panggilan awal, seperti biasa Niar jarang memegang gawainya. Lalu aku panggil lagi, kemudian dia angkat.


"Halo, Dek. Kenapa baru diangkat? Ini panggilan kedua loh, Dek!" Aku berbicara dengan oktaf lebih tinggi dari biasanya.


"Maaf, Bang. Aku lagi nyuapin Farhan."


"Eh ... Maaf, Dek. Aku hanya khawatir aja. Lain kali panggilan pertama harus diangkat ya!"


"Iya, Bang."


"Ya sudah, kalian baik-baik saja kan?" tanyaku.


"Iya, baik."


"Kamu minta Bibik nginep aja, Dek. Selama aku di sini," usulku.


"Mmm ... Iya."


"Kamu minta langsung saja sama Bik Surti untuk nginep juga. Nanti gajinya ditambah."


"Ya."


"Dek?"


"Iya, Bang."


"Oke, udah dulu ya. Aku mau kerja dulu."


"Baik, Bang. Udah ya, Bang!" Niar menutup teleponnya.


Sebenarnya aku masih agak khawatir, tapi segera ku tepis rasa khawatirku untuk diganti dengan penerimaan kalau saat ini kami memang harus berpisah sementara.


***


"Den, gimana kabar istrimu? Kamu kemarin cuti ngapain aja?" tanya Rio saat kami menyesap kopi ketika jam istirahat.


"Benar apa katamu. Aku sudah menemaninya berobat ke psikiater. Dia mengalami depresi. Aku ingin istriku kembali sembuh seperti dulu. Tapi, sekarang kondisinya lebih baik daripada sebelumnya sih," ceritaku pada Rio.


"Keputusanmu sudah tepat, Den. Kalau terlambat, dia bisa gil* loh, Den," kata Rio.


"Iya, Rio. Aku tak bisa membayangkan jika aku terlambat menangani istriku," jawabku.


"Semangat ya, Den. Dia hanya perlu dukunganmu agar cepat sembuh selain obatnya."


"Iya. Makanya aku telah mengajukan mutasi lagi ke kotaku."


"Serius kamu, Den? Kalo balik lagi kan naik jabatannya agak sulit nanti. Kamu udah siap?"


"Mau bagaimana lagi? Semua demi istri dan anakku,"ucapku sembari menyesap kopi kembali.


"Kenapa nggak istrimu yang pindah ke sini aja? Kan bisa, Den! Aku aja boyong anak dan istriku ke sini loh!"


"Jakarta nggak cocok buat mereka, panas. Dan ribet juga untuk pindah KTP. Belum harus ubah lagi data yang lainnya. Satu lagi, biaya hidup di sini mahal, Bro!"


"Tapi, Den. Ini Jakarta loh, untuk pengobatan aja pasti lebih canggih dokternya. Istrimu bisa cepet sembuh nantinya."


"Aku khawatir kalau di sini. Semua serba tak cocok dengan kami yang berasal dari kota kecil. Biarlah aku mengajukan mutasi saja. Semoga di ACC secepatnya," kataku mantap.


"Ya sudah, semoga itu yang terbaik, ya!"


"Iya, Rio. Makasih ya!"


***


Setelah beberapa hari ditinggal, Alhamdulillah tidak ada yang patut dikhawatirkan. Malam ini, aku mencoba menghubungi gawai Niar dengan video call.


"Assalamualaikum. Halo ini Icha," katanya.


"Iya, Icha sedang apa?"


"Lagi nonton, Pa. Papa kapan pulang?" tanyanya antusias.


"Paling lusa, Cha. Icha mau dibawain apalagi sekarang?"


"Apa aja, Pa."


"Jadi terserah Papa nih?"

__ADS_1


"Iya," jawab Icha sambil tersenyum.


"Cha, Mama mana?"


"Sama Farhan, Pa."


"Kasih hapenya ke Mama!"


"Sebentar, Pa."


Icha sedang berjalan menuju kamar Mamanya. Tapi Niar sedang ketakutan.


"Kenapa itu Mama, Cha?"


"Nggak tau."


"Panggil Bibik, minta Bibik menenangkan Mama," kataku yang makin khawatir.


Icha berjalan lagi ke Bibik, ia dengan bahasanya membawa Bibik ke kamar Mamanya.


Icha masih memegang gawainya dalam keadaan on video call denganku. Gambar tak terlihat ke arah Bibik, tapi aku bisa mendengar percakapan mereka.


"Ibu, kenapa?"


"Tolong ... tolong, Bik. Ada yang ngintip di situ!"


Ya Allah, ternyata masalah yang ngintip istriku lagi. Ia jadi ketakutan seperti itu lagi. Seandainya aku di sana, pasti aku sudah memeluknya.


"Icha, Cha ... Coba kasih hapenya ke Mama, Cha!"


Icha mengangguk ketika memperhatikanku bicara. Ia berjalan ke arah Niar. Lalu mencoba memberikan gawainya pada Niar.


"Dek, Sayang, tolong perhatikan aku," ketika gawai sudah ditangannya.


Terdengar Niar masih ketakutan dan mengatakan kalau ada yang mengintipnya.


"Mas ... Ada yang ngintip lagi!"


"Siapa?" tanyaku sembari menatap wajahnya di layar video call.


"Nggak tau. Huhuhu." Niar masih saja menangis.


Aku mencoba menenangkan dari sini. Kulihat dilayar, Bibik menutup jendelanya.


"Kamu harus percaya padaku! Kalau tidak, aku ... " Tiba-tiba sambungan video call kami terputus.


Ya Allah, apa yang akan dikatakan oleh Niar? Gawainya mati, sepertinya baterenya habis. Ya Allah lindungilah istriku.


Malam ini aku benar-benar tak bisa tidur, ketika ku coba telepon lagi, ia tak mengangkatnya.


Aku memberitahukan satpam komplek agar meningkatkan keamanan. Aku ceritakan pula kalau ada yang mengintip istriku.


"Baik, Pak. Akan kami cek ke sana segera. Bapak tak usah khawatir, ya!"


"Iya, segera ya!"


Setelah menutup telepon dengan pak Satpam, aku menelepon Bram.


"Halo, Bram, maaf ganggu."


"Ada apa, Den?"


"Aku mau minta kamu pasangkan CCTV yang kami bawa dari rumah ibu. Aku lupa minta pasangkan sama kamu kemarin. Kalau bisa besok ya, kan sudah terhubung dengan gawaiku. Tinggal diaktifkan lagi, bukan?"


"Oke, dicoba ya besok."


"Baik, Bram. Makasih ya. Pasang di depan dengan di ruang tamu ya, Bram!"


"Siap, Den."


Setelah itu, aku kembali mencoba menelepon istriku, tapi tetap tak diangkat. Hingga akhirnya satpam komplek kuhubungi lagi.


"Gimana, Pak? Sudah dilihat ke rumah saya?"


"Sudah, Pak. Orangnya tak tertangkap. Tapi memang ada bekas seseorang di depan kamar Bapak. Ada sisa puntung rokok baru di sana."


"Bisa diperiksa, Pak? Itu jenis rokok apa?" tanyaku.


" Sepertinya salah satu rokok mahal merk sempurna, Pak."


"Oh begitu, baiklah. Terima kasih, Pak."

__ADS_1


Niar selama ini tidak salah. Memang ada yang mengintipnya. Jangan-jangan benar itu adalah Bang Aldo. Karena aku selalu melihatnya menghisap rok*k sempurna.


'Ya Allah tolong pecahkan teka-teki ini!' gumamku.


***


Pagi-pagi sekali aku telepon gawai Niar. Beruntungnya langsung diangkat.


"Halo, Dek. Gimana kabarmu pagi ini?"


"Lumayan, Bang. Kapan Abang pulang?"


"Besok, insya Allah. Lebih hati-hati di rumah. Nanti Pak Satpam aku minta gantian berjaga nanti malam."


"Iya, Bang."


"Ya sudah, aku siap-siap mau kerja dulu. Doakan pengajuanku di ACC cepat ya. Lebih baik lagi pekan ini dah keluar kalau aku bisa dimutasi," kataku.


"Iya, Bang."


"Oya, Dek. Untuk jadwal ke psikiater tunggu aku pulang aja ya. Biar ku antar lagi pas mau konsultasi. Jangan hari ini," kataku.


"Iya, Bang."


Aku pun menutup telepon, karena harus segera berangkat.


Ketika masuk jam kerja, aku dipanggil oleh atasanku. Dia bertanya tentang alasanku ingin kembali ke kota sebelumnya.


Aku ceritakan kalau istri sedang sakit dan pengobatan. Sehingga perlu dukungan penuh suaminya.


Bosku hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar.


"Kalau bisa secepatnya keputusan itu keluar, Pak. Ada yang meneror rumah kami," ucapku.


"Ya Tuhan, baiklah. Saya usahakan bisa keluar besok. Sehingga Senin, kamu sudah bekerja di sana lagi," ucap Bos.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Aku keluar dari ruangan Pak Direktur dengan perasaan lega karena sudah mengungkapkan alasanku ingin kembali bekerja di kota asalku.


***.


Menjelang makan siang, aku bertemu lagi dengan Cella. Dia datang katanya mencariku di sini.


"Kamu tau dari mana aku kerja di sini?"


"Dari ibumu, Den."


"Jadi kalian sudah saling bertemu?"


"Iya."


"Kamu beritahu alamatku?"


"Iya, Den. Memangnya kenapa?"


"Aku tak mau ibu tau alamat kami yang baru. Kamu malah membocorkannya." Aku mengacak rambutku yang tak gatal.


"Baiklah, Den. Kita bicara sambil makan siang aja, yuk!"


Aku melihat jam, lalu meng-iyakan permintaannya.


"Baiklah, Cella. Ayo!"


Cella bercerita kalau dia sedang mencari pekerjaan di bidang multimedia. Siapa tau bisa bekerja di kantorku juga, katanya.


Kami mengobrol seperti biasa, sesekali bercanda. Cella sudah kuanggap adikku sendiri.


"Coba saja, Cel, kamu melamar di perusahaan ini. Tapi sebentar lagi aku akan dimutasi ke kota kita."


"Kenapa?"


"Aku mau dekat dengan istri dan anak-anakku, Cel," ungkapku.


"So sweet deh punya suami macam kamu. Sayang, dulu aku menolak dijodohkan denganmu oleh orangtua kita," ucap Cella.


"Sudahlah, Cel. Tak perlu kau sesali sesuatu yang takkan pernah kembali. Kamu harus menatap masa depanmu. Siapa tau ada laki-laki yang lebih baik dariku." Aku menasehati perempuan di hadapanku ini agar berpikiran luas.


Dia hanya bergeming, tak henti menatapku. Aku jadi tak enak hati dibuatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Cella!"


Bersambung


__ADS_2