
Pagi ini keadaan Niar sudah lebih baik. Dahinya sudah tidak panas, demamnya sembuh.
Pagi ini aku belikan bubur ayam untuk kami sarapan. Ku belikan sekalian sepuluh bungkus. Takutnya ibu dan kak Ayu mau. Sedangkan aku tak mau ada keributan pagi ini gara-gara belum ada sarapan pagi.
"Sayang, makan dulu, yuk! Aku udah beli bubur ayam," kataku sembari membimbingnya ke dapur. "Duduk di sini, ya!" Ku dekatkan kursiku di sebelahnya.
Niar melihatku menuangkan bubur ayamnya. Lalu, aku mencoba menyuapinya. Tapi dia tak mau aku suapi. Diambilnya sendok dariku. Dia lebih baik makan sendiri.
Aku pun mengambil piringku. Satu bungkus lagi ku tuang di piring, lalu aku menyendoknya.
"Habiskan, Dek! Sayang kalau nggak habis. Soalnya aku rasa porsinya nggak terlalu banyak," kataku.
Niar terus memakannya. Ia menyukai bubur ayam itu, lalu berhenti setelah piringnya kosong.
Aku berikan segelas air putih untuk diminumnya.
"Silahkan minum yang banyak!"
Niar senang. Walau senyumnya tipis, tapi dia menanggapi perhatianku.
Lalu, ibu datang menghampiri kami.
"Den, kalian tak usah pindah dari sini. Ibu kan mengambil pembantu untuk bekerja di rumah ini. Bagaimana, Den? Tapi kamu harus sediakan uang buat gajinya," kata ibu.
"Ibu tau sendiri sisa gajiku hanya dua juta. Tak mungkin lah uang dariku. Paling nanti kuambil dari jatah belanja Niar, Bu," kataku.
Ibu langsung terkejut, lalu melarang kalau mengambil jatah belanja Niar.
"Trus dari mana dong, Bu?" ku tanya lagi ibu yang sok perhatian dengan menantunya. Sampai-sampai tak boleh memakai uang belanja Niar segala.
"Ibu juga nggak tau. Kan itu untuk membantu pekerjaan istrimu juga, Den. Biarlah dari ibu 500 ribu, darimu 500 ribu," saran ibu.
"Ya udah, boleh deh, Bu. Tapi ingat, jangan mengerjai Niar lagi. Biarkan dia mengurus anak-anakku saja. Akan kupasang kamera pengawasku lagi. Punya ibu, akan ku sita!"
"Kamu tau kami punya CCTV?"
"Iya, tau!"
Wajah ibu memerah, lalu menoleh ke arahku, lalu ke Niar.
"Baiklah. Biarkan Bibik saja nanti yang mengerjakan pekerjaan rumah," kata ibu. "Jadi, kalian nggak usah pindah, ya!"
"Iya, Bu. Aku coba dulu bertahan di sini. Kami akan bersiap ke psikiater pagi ini" kataku.
"Ya sudah jika itu maumu, ibu manut aja," jawab ibu.
"Titip Icha sama Farhan ya, Bu!"
"Tapi jangan lama-lama. Nanti kalau udah ada Bibik, bisa nitip sama Bibik," sambung ibu.
Akupun sambil mencari seseorang yang mau bekerja dengan kami.
***
Ternyata untuk ke psikiater jalur asuransi pemerintah harus ada rujukan dari faskes tingkat satu. Dari situ baru dirujuk ke salah satu psikiater di salah satu rumah sakit.
Hari ini baru dapat rujukan dari klinik faskes tingkat 1. Setelah dapat rujukan, bisa digunakan esok harinya.
"Dek, kita pulang sekarang ya! Kamu setuju nggak kalau kita tetep di rumah ibu, trus kita cari ART buat bantu kerjaan di rumah ibu,"kataku.
"Iya."
"Baiklah, aku sebenarnya ingin membawamu ke Jakarta. Tapi kamu tau sendiri kehidupan di sana bagaimana."
Ketika sampai rumah, Ibu sedang mengasuh cucu-cucunya bermain. Sementara Farhan katanya sedang tidur di kamar.
"Papa sama Mama udah pulang?" tanya Icha sambil menyalami kami.
__ADS_1
"Udah. Kamu main apa?"
"Main masak-masakan, Pa."
"Oya, udah dimakan kan bubur ayam yang papa sediakan?"
"Udah, Den. Kamu tenang aja, udah ibu kasih ke anak-anak," kata ibu.
"Oke, Bu. Aku percaya sama ibu.
Aku mengirimkan pesan pada Bram mengenai ART ini. Mudah-mudahan dia ada rekomendasi tetangga kami yang membutuhkan pekerjaan.
[Assalamualaikum. Bram, kalau tau ada yang mau kerja sebagai ART kasih tau aku ya! Kami sedang membutuhkan yang kerja di rumah.]
[Kayaknya ada, nanti ku antarkan ke rumahmu, ya!]
[Baik. Ditunggu kabarnya.]
[Oke, Den.]
[Oya, kamu ke sini juga ya. Untuk memasang CCTV di rumahku lagi. Kemarin ternyata copot, Bram.]
[Ya udah nanti aku ke sana.]
[Terima kasih, Bram.]
[Sama-sama.]
Aku lega sekarang semua semoga ke depan tak ada apa-apa. Dengan Niar tidak dibebankan pekerjaan rumah, semoga kesehatannya semakin baik.
***
"Assalamualaikum." Terdengar Bram mengucapkan salam di depan.
"Waalaikumsalam. Oh iya, siapa itu, Bram?"
"Iya, Mak. Kerja di sini ya. Semoga betah."
Ibu membawa Mak Elin ke dalam untuk menerangkan pekerjaannya. Sementara aku dengan Bram akan memasang kamera pengawas.
"Oya, Bram. Kalau yang ini bisa diakses pakai Android juga atau nggak?" Aku memperlihatkan kamera pengawas yang dipasang oleh ibu.
"Mmm ... Bisa sepertinya. Aku coba ya!"
"Okey."
Setelah itu kami coba di cek melalui gawaiku. Ternyata bisa juga. Sekarang terpasang tiga buah kamera pengawas di rumah ini.
"Terima kasih, Bram atas bantuannya. Ini sedikit buat beli cemilan, jangan buat rokok ya. Nggak sehat!" kataku.
Setelah Bram pergi, aku menemui ibu dan kak Ayu. Aku mengingatkan mereka.
"Ibu, kak Ayu ingat ya. Di rumah ini sudah Deni pasang lagi tiga kamera pengawas. Jangan dioprek-oprek. Jika ketahuan kalian yang mengopreknya, kami pergi dari sini, Bu! Dan ibu tak akan bisa menemukan kami kembali," ancamku pada ibu dan kakakku.
"Kamu kok gitu amat, Den!"
"Harus. Karena sikap ibu dan kak Ayu sangat keterlaluan menjadikan Niar seperti pembantu. Padahal niat awalku hanya ingin memberikan teman membantu ibu. Bukan dijadikan pembantu." Aku menjelaskan lebih lanjut.
"I-iya, Den," jawab ibu.
"Kak Ayu gimana? Oya jaga tuh suamimu kak, jangan sampai mengganggu istriku!"
"Aku sih oke aja. Maksudmu apa?"
"Niar pernah diganggu oleh Bang Aldo dua kali. Jadi sekarang tugas kak Ayu mengawasi suami kakak juga!"
"Nggak mungkin Bang Aldo seperti itu."
__ADS_1
"Bukannya nggak mungkin. Segala kemungkinan bisa terjadi. Aku juga tadinya tak percaya, tapi setelah ku lihat dari CCTV, Bang Aldo masuk ke rumah ini saat kalian pergi arisan. Lalu mengintip kamar istriku."
"Kamu jangan mengada-ada, Den!" Ibu setengah berteriak.
"Pokoknya aku minta ibu dan kak Ayu harus awasi tingkah Bang Aldo. Selidiki juga di luar, mungkin saja kelakuannya nggak baik," kataku.
"Cukup, kamu nggak boleh seperti itu pada iparmu!"
"Buktikan saja sendiri!"
Aku keluar dari kamar ibu. Lalu aku berdiam di ruang yang biasa kugunakan sebagai ruang kerja.
***
Mak Elin sudah selesai masak. Semua masakan sudah terhidang di meja dan mengudang selera.
Mak Elin sendiri sudah pulang tepat pukul empat sore. Karena jadwal kerjanya dari pukul tujuh pagi sampai empat sore.
Kami pun makan bersama. Niar lebih baik kondisinya. Dia sesekali bisa ngobrol denganku dan Icha.
Namun memang dia sepertinya ada yang masih dipendamnya sehingga dia kadang terlihat sedih, putus asa kadang juga tak bersemangat.
Aku harus sabar menghadapinya. Dia yang dulu selalu mendukungku, aku pun kan mendukungnya sekarang.
***
Saat aku masuk kamar, Niar sedang menangis. Ia memendamkan wajahnya ke bantal. Sementara Farhan ku lihat sudah ada di pinggir ranjang, hampir terjatuh karena dia mulai aktif.
Di ranjang penuh dengan air pipis Farhan. Sebenarnya ingin sekali marah, tapi kuurungkan. Kuganti celana dan baju Farhan yang penuh dengan air pipisnya. Sebelumnya ku bersihkan badannya yang bau ompol.
Setelah selesai, Farhan ku baringkan di tempat tidurnya karena di ranjang kami sudah penuh ompol, jadi harus segera diganti.
Lalu aku mendekati Niar. Mencoba membujuknya, untuk mengetahui masalahnya.
"Ada apa, Dek?"
Dia masih menangis. Sementara ruangan sudah bau pipis Farhan. Aku masih membujuk Niar untuk menghentikan tangisnya.
"Ayolah, Dek bicara!"
Dia pun bicara ke arahku.
"Tidak punya uang buat diapers," katanya.
Ya Allah ternyata hanya karena ini Niar menangis sesenggukan, sampai anaknya dibiarkan berlinang air pipis.
"Dek, uangmu sudah habis lagi?"
"Ada sedikit di ATM. ATM-ku hilang," katanya.
"Ya Allah, Dek. Bilang sama Abang kalau ada apa-apa. Biar pakai uang Abang dulu beli diapers. Jadinya begini. Memang sudah habis banget di dompet?"
Niar mengangguk.
"Ya sudah, kamu duduk dulu. Aku mau bereskan kasur ini. Nanti aku keluar beli diapers buat Farhan. Apalagi yang habis?"
"Udah, itu aja," katanya.
Niar duduk di kursi. Lalu aku membawa seprai dan selimut yang basah ke tempat cuci baju. Lalu ku semprot ranjang dan ruangan dengan pewangi. Lalu aku pasangkan kembali seprainya.
"Aku pergi dulu ya, kamu tunggu di sini. Jaga Farhan!" pintaku.
Dia mengangguk, aku keluar dari kamar menuju mini market terdekat.
Dalam perjalanan, aku berfikir kalau istriku benar-benar tak bisa mengekspresikan perasaannya. Bagiku itu sangat mudah, tinggal bilang kalau diapers Farhan habis. Tapi tidak mudah baginya, sehingga ia meluapkannya dalam menangis.
Bersambung
__ADS_1