
Pemeriksaan psikiater akan dilakukan hari ini. Aku dan Niar sudah berangkat pagi-pagi setelah menitipkan anak-anak pada Mak Elin.
Sesampainya di rumah sakit, kami haru daftar poli, yang dituju adalah poli kesehatan jiwa. Beruntungnya mendapatkan antrian nomor dua.
Sambil menunggu dokter datang, aku menggenggam tangan Niar. Aku harap dia bisa tenang dan menceritakan semua yang dirasakannya.
"Bagaimana, Sayang? Bisakah kamu nanti melakukannya?"
Niar mengangguk tanda setuju.
Tak lama, nama istriku dipanggil. Kami gegas masuk ke ruangan dokter. Dokter jiwa tersebut bernama Saptadji.
"Permisi, Pak Dokter, istri saya mau konsultasi dengan dokter," kataku.
"Baik, Pak. Silahkan masuk," katanya.
Dokter menyambut kami dengan ramah. Ia juga mengapresiasi kami yang berani datang ke psikiater. Walau banyak tanggapan miring mengenai konsultasi ke psikiater. Padahal ada saatnya pertolongan psikiater dibutuhkan oleh seseorang.
Setelah itu dokter meminta Niar mengisi data nama, pekerjaan, status perkawinan, riwayat pekerjaan, serta yang lainnya. Mungkin pak dokter ingin mengetahui data pasien terlebih dahulu.
Lalu dokter serta merta bertanya dari data yang sudah diisi tadi, Niar pun menanggapinya. Lama-lama Niar cerita sedikit demi sedikit mengenai dirinya.
Lalu Niar menceritakan yang dirasakannya saat ini. Dia katanya terkadang tak bisa tidur, sering sedih dalam waktu yang lama, tak ada semangat, lalu pernah terlintas ingin mencekik Farhan.
Aku terkejut mendengar penuturan istriku ini, tapi ku coba tak memberikan reaksi negatif. Aku yang duduk tak jauh darinya, mendengarkan dengan seksama.
"Dokter, saya hidup seperti di n*raka. Suami saya tak pernah peduli pada saya," itulah kata-kata terakhir yang Niar katakan. Setelah itu dia menangis, dan tak mau bercerita lagi.
Kemudian dokter menenangkan Niar, aku membantunya dengan memeluk, sambil mengacak kerudungnya.
"Sabar ya, Sayang. Ada aku di sini. Kamu harus kuat dan bertahan ya!"
Tak terasa bulir bening membasahi kedua sudut mata ini. Tak biasanya aku bisa menangis. Teringat kata-kata Niar barusan yang menganggapku tak peduli padanya.
'Sedalam itukah kesedihan dan kesulitannya selama ini?' aku membatin.
Dokter menyudahi konsultasi kali ini. Melihat kondisi psikis Niar yang tak memungkinkan untuk melanjutkan pertanyaan.
Lalu dokter sampai pada kesimpulan yang diceritakannya padaku. Sementara Niar berusaha ditenangkan oleh suster di meja lain yang tak jauh dariku.
"Istri bapak mengarah ke depresi. Saya belum bisa mengulik banyak. Bapak dengar sendiri kan kalau istri bapak menganggap bapak tak memperdulikannya."
"Benar, Dok. Tapi, Dok. Apakah depresi bisa sembuh?"
"Bisa. Makanya saya resepkan obat untuk istri Bapak. Konsul lagi setelah sepekan," kata Dokter sembari menuliskan resep untuk Niar nanti.
"Baiklah, Dok. Terima kasih. Oya, untuk obatnya apakah nanti tak apa-apa jika dikonsumsi terus?" tanyaku.
"Iya, harus, Pak. Nanti kita evaluasi tiap pekan."
"Istri saya pernah mengkonsumsi sejenis obat penenang, Dok."
"Jika mengkonsumsi dengan resep dokter insya Allah aman, Pak. Yang istri bapak minum sebelumnya harus dihentikan karena obat seperti itu harus atas resep dokter," jelas Dokter Saptadji.
"Oh begitu ya, Dok!"
__ADS_1
"Perlu bapak tau obat yang saya resepkan itu bisa dikatakan obat anti depresan. Obat ini tidak menyembuhkan depresi. Obat ini hanya mengendalikan atau mengurangi gejala depresi atau menurunkan tingkat keparahan penyakit depresi yang diderita istri bapak," jelas Dokter lagi.
"Tapi, Dok. Saya ingin istri saya bisa betul-betul sembuh dari depresi ini. Bisakah?"
"Bisa, Pak. Dari dalam diri berusaha untuk sembuh. Makanya setelah minum obat diharapkan emosinya stabil sehingga istri bapak termotivasi untuk sembuh dari depresi. Tapi ini tak sebentar, bisa membutuhkan waktu yang lama. Perlu kesabaran dari istri bapak maupun bapak sendiri."
'Deg.'
'Ya Allah, perjuangan sembuh istriku baru dimulai. Dan ini hanya sepersekian persen dari prosesnya,' batinku.
"Baik, Dok. Mohon bantuan dokter juga."
"Sus, bawa Bu Niar ke sini!"
Niar dan suster datang. Lalu dokter menyampaikan suatu hal.
"Nanti saya minta Bu Niar menuliskan berbagai perasaan yang muncul di seminggu ke depan. Nanti kita diskusikan saat bertemu."
"Baik, Dok," jawab istriku.
"Pak Dokter, kami permisi dulu, karena mungkin sesi kami sudah habis."
"Baik, sehat selalu ya bapak dan ibu!"
"Sama-sama, Dok!" jawabku.
Kami keluar ruangan. Lalu ke apotek untuk menebus obat yang diresepkan dokter.
Kami menunggu di kursi yang disediakan di depan Apotek.
"Dek, sehabis ini kita minta surat kehilangan ATM ke kepolisian, lalu kita ke Bank ya! Di bawa kan buku tabungan dan KTP-mu? Sekalian print out buku tabunganmu, karena aku penasaran kamu gunakan untuk apa uang yang ku berikan," kataku sembari memegangi kedua tangannya.
"Kenapa, Dek?"
"Nggak apa-apa, Bang," katanya.
"Tapi dibawa kan yang Abang tanya tadi?"
"Iya," katanya.
Ternyata menunggu obat tak semudah yang dibayangkan. Resepnya harus dibayar, karena tidak dicover BPJS.
Tak lama, nama istriku dipanggil. Lalu aku membayarkan sejumlah uang untuk obat tersebut.
"Pasti kamu laper, kita makan dulu aja ya, Dek! Baru kita ke kantor polisi," kataku.
"Iya, Bang."
Kami makan dulu di sebuah rumah makan, lalu menuju Polsek. Di sana dibuatkanlah surat kehilangan ATM untuk diberikan pada Bank dan diganti dengan ATM baru nantinya.
Kami menuju bank, ternyata sudah tutup. Ketika aku lihat jam, waktu menunjukkan pukul 15.10 WIB.
"Maaf, Pak. Sudah tutup. Besok lagi saja. Insya Allah kami buka pukul 08.00 pagi." Seorang satpam dengan ramah memberitahukan kami.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Kami pun pulang. Sementara besok hari Jum'at, kesempatan terakhir di pekan ini untuk ke bank.
"Dek, kita ke sini lagi besok pagi. Kamu bawa lagi kelengkapan untuk besok."
Niar mengangguk, lalu kami melanjutkan perjalanan pulang.
Tak lupa aku mampir membeli roti kesukaan anakku Icha, serta makanan bayi untuk Farhan.
Kami bicara dulu di sebuah taman, aku ingin mengorek keterangan lebih lanjut dari Niar.
"Dek, kamu beneran nggak ada uang sama sekali sekarang?" tanyaku setelah membayar semua yang ku beli.
"Enggak, Bang."
"Kemana uang-uang itu? Kamu sumbangkan?"
"Jawab yang jujur. Di sini nggak ada siapa-siapa. Kamu bebas bicara padaku, Dek!" Aku membuat wajah istriku bisa melihat ke arahku, mata kami saling bertatapan. "Bicara saja, Dek!"
"Mmm ... Aku takut!"
"Takut apa?"
"Nanti keluargaku taunya aku seorang mantu durhaka," katanya sembari menunduk.
"Siapa yang berkata seperti itu? Ibu?" tanyaku langsung.
Niar bergeming.
"Siapa? Benarkan dia ibuku?"
Lalu Niar mengangguk pelan.
Ya Allah, ternyata seperti ini yang dialami istriku. Pantas saja dia sampai depresi seperti ini.
Aku tak habis pikir, ibu tega melakukan ini. Padahal ibu sudah kuberi jatah tiap bulan.
"Dek, semua diambil ibu?"
"Sisa 500 ribu, tiap bulan."
Ibu ... Seharusnya jadi pengayom kami anak-anaknya. Justru ibuku yang menjerumuskan menantunya menjadi seperti ini.
"Maafkan aku, Dek. Aku selama ini tidak peka akan hal ini. Abang janji, akan selesaikan semua. Kamu harus sehat ya, biar aku bisa menebus kesalahanku selama ini," kataku.
Aku memeluk istriku. Kubisikkan kata maaf berkali-kali padanya. Walau ku tau itu takkan bisa mengobati luka yang selama ini dia pendam.
Aku harus membuat perhitungan dengan ibu. Ibu yang telah menyakiti istriku selama ini.
"Ya sudah, kita pulang sekarang. Bang Deni harus bicara dengan ibu sekarang juga!"
"Jangan! Nanti ancaman ibu gimana?"
"Nggak usah dengarkan ancamannya!" kataku. "Ada aku yang akan melindungimu!"
"Aku takut!" Dia memelukku sambil menangis.
__ADS_1
"Jangan takut. Kita hadapi bersama ya, Dek!"
Bersambung