Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 30


__ADS_3

"Den, sekarang Kak Ayu ada di rumah sakit. Tolong kamu ke sini, ya! Ibu tak mau makan, sekarang perutnya sakit. Aku di IGD bersamanya."


Aku terkejut mendengar kabar dari Kak Ayu.


"Baiklah, Kak. Tunggu, ya!"


Aku segera menemui Niar untuk mengatakan kalau aku akan ke rumah sakit.


"Dek, aku mau ke rumah sakit sekarang, ya! Barusan Kak Ayu telepon katanya Ibu nggak mau makan, sekarang ada di IGD," kata suamiku.


"Baiklah, Mas. Kamu pergi saja sana!"


"Baik, Dek. Aku berangkat, ya!"


Tak lupa kuminta Niar untuk mengunci semua pintu karena kemungkinan aku nggak pulang malam ini.


"Baik, Bang. Abang juga hati-hati, ya!" kata Niar.


"Iya, Dek. Terima kasih."


Aku pun berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ke IGD tempat Ibu dirawat. Ternyata Ibu sudah dipindah ke ruang perawatan.


"Den, kamu sudah datang?" tanya Ibu lemas.


"Sudah, Bu. Ibu kenapa sih?" tanyaku.


Ibu tak mau makan saja, kemudian perut ibu sakit. Menurut hasil lab, maag Ibu sudah kronis. Selain itu demam juga, katanya ibu kena tipes." Kak Ayu menjelaskan.


Ibu terdiam memandangku.


"Memangnya Ibu kenapa sih, sampai tak mau makan, dan akhirnya demam?"


"Kepikiran Ayu mau pindah, nanti Ibu tinggal sendiri. Lalu, Ibu kan nggak dapat uang dari kamu lagi, mau beli apa-apa susah!"


Aku langsung beristighfar dalam hati. Ternyata Ibu masih belum berubah, dan mau mengakui kesalahannya.


"Bu, Deni akan memberikan uang kepada Ibu lagi, kalau ibu mau minta maaf pada Niar. Bagaimana, Bu?" tanyaku.


"Kalau Ibu minta maaf pada Niar, berapa uang yang akan kamu berikan pada ibu setiap bulan? Ditambah nggak?" Ibu bertanya dengan perasaan tak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Ya Allah Bu, yang penting Ibu tulus minta maaf kepada Niar. Dari situ, aku bisa melihat ketulusan Ibu, lalu aku bisa tentukan berapa yang akan kuberikan kepada ibu."


"Itu berarti kalau Ibu pura-pura tulus, bakal ketahuan sama kamu. Kamu enggak bakal ngasih uang pada ibu, begitu?" Ibu beranalogi.


Aku menghela napas kasar. Lalu berpikir jawaban apa yang kuberikan pada Ibu saat ini. Pada akhirnya aku hanya diam.


"Den, Deni. Jawablah pertanyaan Ibu!"


"Yah, bisa dikatakan seperti itu, Bu."


"Kamu kalau masih ada di pihak Niar, lebih baik pulang saja sana! Ibu tak mau kamu lebih mementingkan perempuan kampung itu, Den! Ibu yang melahirkanmu!"


"Semua sudah kita bahas, Bu sebelumnya. Aku minta saat ini, Ibu buka hati Ibu, istighfar, jangan sampai hati kita keras, Bu sehingga Allah nggak kasih hidayah nanti ke kita." Sedikit demi sedikit aku ingin membuka hati Ibu.


"Kamu sok ngajarin Ibu."


"Deni tau dari Ayah, Bu. Ibu dulu disia-siakan oleh Ibu Mertua kan sehingga kita pergi dari Ayah? Masa Ibu tega melimpahkan semua pada Niar. Dia nggak salah apa-apa, Bu. Harusnya Ibu tak usah berbuat yang sama dengan Mertua Ibu. Terima semuanya, maafkan masa lalu Ibu. Insya Allah hidup Ibu lebih tenang."


Kedua mata Ibu langsung membulat. Lalu ibu menghela napas kasar.


"Den, kalau kamu di sini hanya untuk ngajarin Ibu, silakan keluar dari sini!" Ibu mengusirku lalu memanggil Kak Ayu untuk menghampirinya.


Aku mencari Kak Ayu, karena tadi dia menunggu di depan.


"Ada apa, Bu?" Kak Ayu mendatangi Ibu.


"Aku enggak mau ditemani Deni. Kamu yang menemani Ibu ya!"

__ADS_1


"Memangnya kenapa Bu? Ayu kan harus pulang malam ini. Besok pagi Ayu kesini lagi," kata Kak Ayu.


"Nggak, Ibu nggak mau Mau ditemani oleh Deni. Titik!" Ibu marah kepada Kak Ayu.


Aku mencoba merayu Ibu.


"Bu, jangan seperti itu, Kak Ayu juga banyak kerjaan di rumah."


Ibu terdiam. Aku juga bingung harus membujuknya seperti apa.


"Baiklah Bu, kalau Ibu memang belum bisa meminta maaf kepada Niar, aku tidak memaksa. Tetapi, jika suatu saat Ibu akan melakukannya,aku akan sangat senang. Saat ini juga, aku akan mentransfer Ibu sebanyak tiga juta rupiah."


Wajah Ibu yang tadinya mencebik, berubah semringah. Itu berarti bujukanku berhasil.


"Gitu dong, Den. Itu baru anak Ibu!" Ibu mengacungkan jempolnya padaku.


"Jadi, bagaimana? Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Kak Ayu.


"Boleh, Yu. Jangan lupa besok ke sini lagi pagi-pagi."


"Iya, Bu."


Kak Ayu pulang. Aku menjaga Ibu malam ini.


"Deni tiduran di sofa aja ya, Bu. Kalau butuh apa-apa, panggil Deni aja!"


"Iya, Den. Mana bukti transfernya, Den?"


Aku mengerutkan dahiku.


"Oh iya lupa, belum. Oke sekarang ku kirim, Bu," ucapku sembari menghempaskan bokongku di atas sofa.


Ku kirim uang melalui aplikasi m-bankingku ke rekening Ibu. Lalu, bukti transfernya langsung di screenshot dan di kirim melalui pesan di aplikasi hijau.


"Terima kasih, Deni. Udah sampai uangnya!"


Tak lama aku terpejam di atas sofa.


***


"Bang, aku mau ikut jagain Ibu boleh?" Tiba-tiba pertanyaan Niar membuatku terbatuk-batuk.


"Nggak usah, Dek. Aku sama Kak Ayu aja, gantian."


"Tapi, Bang. Aku sudah berusaha melapangkan hatiku, menerima semuanya. Mudah-mudahan dengan aku menjaga Ibu, rasa sayangku padanya bisa semakin besar," kata Niar.


"Dek, Maaf ya, sepertinya untuk sekarang kamu nggak usah menemui Ibu dulu."


"Kenapa memangnya, Bang?"


"Kondisi rumah sakit tidak cocok untukmu, kamu lebih baik di rumah saja biar cepat sehat."


Aku nggak mau Dania tahu mengenai sikap ibu yang belum mau meminta maaf padanya. Nanti yang ada dia malah semakin terluka.


"Oh gitu! Baiklah Bang, kalau begitu."


Akhirnya Niar mengerti dan ia tidak meminta lagi untuk menjenguk Ibu di rumah sakit.


***


"Assalamualaikum. Den, Ayah udah transfer ya untuk rumah Ibumu."


Ayah meneleponku sesaat aku mau ke rumah sakit. Ia pasti belum tau kabar ibu saat ini.


"Iya, Yah. Makasih. Aku belum sempat mencari rumah untuk Ibu, Yah. Mau diisi kapan rumahnya?"


"Kapan aja boleh, Den. Sesukanya Ibumu keluar dari rumah itu kapan."


"Tapi, Yah. Ibu sedang sakit saat ini."

__ADS_1


"Sakit apa?"


"Sakit tipes dan maag. Saat ini sedang dirawat di rumah sakit."


"Ya Allah. Bolehkah Ayah menjenguknya?"


"Boleh, Yah. Kebetulan sore ini aku yang akan menjaganya sampai besok pagi."


"Baiklah, kita ketemu di sana saja ya! Kamu share loc nanti alamat rumah sakitnya."


"Oke."


Aku pamit pada Niar untuk kembali ke rumah sakit.


"Pa, Papa mau ke rumah sakit lagi?" Icha bertanya padaku sesaat aku telah menemui Niar.


"Iya, Cha. Icha tunggu di rumah sama Mama dan Farhan, ya!" kataku sembari memangkunya.


"Memangnya Nenek sakit apa sih?"


"Sakit perut, Cha!"


"Nenek sih, hobinya makan pedes. Jadi aja sakit perut!"


"Oh, emang Icha tau?"


"Tau, Pa. Dulu kan Icha suka dikasih makanan pedes sama Nenek," katanya.


"Makanan pedes kayak gimana, Cha?"


"Yang banyak cabenya, Pa," kata Icha.


"Oh gitu, ya?"


"Iya, biasanya kalo Nenek marah."


"Iya, deh. Papa berangkat dulu, ya!"


"Iya, Pa. Icha hati-hati di rumah. Jangan tidur terlalu malam, ya!"


"Iya, Pa." Icha mencium kedua pipiku, lalu aku menurunkannya dari pangkuanku.


"Dadah, Icha!"


"Daaah, Papa!"


Perjalanan ke rumah sakit sekitar dua puluh menit. Setelah sampai, aku langsung menuju ruang perawatan Ibu.


Ketika masuk, aku melihat Ibu sedang memakan makanan pedas. Bakso dengan sambal yang cukup banyak.


"Bu, kok makannya seperti ini? Memangnya Kak Ayu nggak ngelarang?" Aku terkejut melihat Ibu yang sedang memakan makanan pedas di hadapanku.


"Nggak, Ayu udah pulang kok dari tadi."


Aku segera mengirimkan pesan pada Kak Ayu. Sebelumnya aku foto dulu bakso yang dimakan oleh Ibu.


"Bagaimana Ibu bisa sembuh, jika makan makanan seperti ini sekarang. Nanti lah, Bu. Setelah sembuh, Ibu bisa memakannya!"


"Ibu lagi pengen, Den."


"Memangnya Suster nggak ngelarang Ibu?"


"Nggak, Den. Tadi sangkanya punya Ayu," jawab Ibu santai.


Aku tak habis pikir, Ibu malah cari penyakit dengan memakannya. Ku ambil mangkok berisi bakso pedas itu. Ibu langsung berteriak, meminta mangkoknya.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Ayah muncul di belakangku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2