Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 12


__ADS_3

"Dek, kenapa Farhan ada di bawah? Kamu apain dia?" Aku berlari mengambil Farhan yang tengkurap di atas lantai.


"Tidaaak, aku tidak melemparnya. Aku kaget lihat dia di bawah." Niar bicara dengan pandangan lurus ke depan.


"Jadi, Farhan jatuh sendiri?"


"Tadi, ada yang ngintip di pintu! Ku tutup pintu. Dia jatuh!"


Niar bicara dengan ketakutan. Aku mencoba menenangkannya, lalu mendudukkannya di bibir ranjang.


"Sebentar, aku ambilkan minum dulu ya, Dek!"


Farhan masih ku gendong, ia tak menangis sedikit pun, hanya bergumam sesekali.


"Dek, ini minum dulu!"


Niar mengambil air dari tanganku, lalu meminumnya. Setelah itu aku ambil, dan ku simpan di atas nakas.


"Bang, aku takut!" Niar berkata tanpa memandangku.


"Takut apa, Niar? Siapa yang ngintip? Di rumah ini hanya ada kita berempat."


"Ada yang ngintip." Niar masih ketakutan.


"Ya udah, nanti Abang cari siapa orangnya."


Aku mengambil gawai dari saku. Aku buka aplikasi CCTV, di dapur tak terlihat ada orang. Di ruang tamu, ada yang masuk, itu cuma Bang Aldo.


Apa mungkin Bang Aldo yang mengintip Niar? Ah, pikiranku jadi kacau begini.


"Dek, aku keluar dulu, ya! Kamu jaga Farhan baik-baik." Aku meninggalkan kamar untuk mencari tau keberadaan Bang Aldo.


Ku cari di kamarnya, tak ada. Di kamar ibu juga jelas tak ada, di semua ruangan juga tak ada. Jelas-jelas di CCTV bisa terlihat dia datang ke dalam rumah.


Mungkin setelah Niar berteriak, dia langsung kabur. Dan itu hal yang lumrah dilakukan seorang pencuri yang terpergok polisi.


***


"Ibu dan kak Ayu, lama sekali ke arisannya?" Aku menanyai mereka saat datang.


"Iya, kan ada makan-makan dulu. Ibu loh yang traktir semuanya!"


"Huss!" Ibu menyimpan telunjuknya di atas mulutnya.


"Kenapa, Bu. Deni nggak boleh tau kalau ibu royal sama temen-temen ibu?" Aku semakin penasaran.


"Enggak gitu, Den. Soalnya ibu nggak mau pamer." Ada aja jawaban ibu yang membuatku percaya.


"Bu, jangan boros sok nraktir temen-temen ibu. Padahal nggak punya uang. Boleh sih sesekali, dan itu jangan keseringan. Eh, kok perhiasan ibu jadi banyak gini? Kak Ayu juga punya banyak. Dapet dari mana uang membeli perhiasan ini, Bu?"


Ibu meradang, ia menunjukkan wajah tak sukanya padaku.

__ADS_1


"Apa sih kamu ikut campur dengan uang ibu. Ya ibu bisa nabung lah, Den. Dan ibu cuma sesekali bayarin temen-temen, nggak sering! Kamu itu curigaaa terus!"


"Bukan curiga, Bu. Hanya mengingatkan saja. Belum lagi tadi sebelum berangkat ibu bilang mau ikutan arisan yang delapan juta. Uang ibu kan paling barter lima juta. Gimana tuh nombok arisan delapan juta, trus beli perhiasan sebanyak yang ibu dan kak Ayu pake? Aku bener-bener nggak habis pikir, Bu!"


"Deni! Kamu itu selalu mencari-cari kesalahan ibu. Memangnya ibu salah cuma ingin bahagia?" Ibu semakin geram denganku.


Biarlah, agar dia sadar dengan tingkahnya seperti ini, terlalu berlebih-lebihan. Takutnya ibu malah pinjam uang ke rentenir atau pinjaman online.


"Maaf, Bu. Jika Deni terlalu rese buat ibu. Aku cuma takut ibu jadi terjerat rentenir online gara-gara berhutang," kataku.


Ibu menghela napas panjang. Aku menunggu jawaban ibu.


"Nggak mungkin! Ibu nggak bakal pinjam uang ke lintah darat macam itu! Udah, nggak usah ganggu ibu dulu. Sekarang masih capek!"


Kak Ayu ke belakang, entah dia mencari apa, tapi kucoba untuk memperhatikannya.


"Kak, jemuran tuh dah berjamur!" kataku pada kak Ayu.


"Eh ... Aku lupa, beneran ini!" katanya.


"Ya udah, kerjain aja sih, kak Ayu!"


Aku melihat tudung saji. Masih belum ada makan siang.


"Kak Ayu, hari ini kan jadwalmu? Kenapa belum ada makanan. Aku laper nih. Kasihan istri dan anakku juga!"


"Kamu ini cerewet banget sih jadi laki-laki. Nggak gitu juga keles, Den!" Kak Ayu malah mencebik, dia ngomel-ngomel juga di belakangku.


Aku pun menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda. Ku lihat dari gawaiku, kak Ayu memang sedang memasak.


'Asyiknya punya ini, aku bisa mengawasi mereka. Sejauh ini, masih aman, kecuali Bang Aldo yang harus kuselidiki.' Aku tersenyum sendiri.


Ibu menangkapku sedang senyum sendiri, mulutnya tak segan untuk menyapaku.


"Kenapa kamu, Den? Senyum-senyum sendiri. Duh ibu takut kamu yang seharusnya ke psikiater!"


"Apa sih, Bu. Ikut campur aja. Lagian ibu masuk nggak izin dulu. Ketuk pintu dan mengucap salam, itu lebih baik," kataku pada Ibu.


"Nggak apa-apa lah, aku kan ibumu."


"Memangnya mentang-mentang ibu itu ibuku bisa seenaknya pada anak? Nggak gitu, Bu. Seorang anak juga butuh dihargai oleh ibunya," kataku.


"Baiklah, Den. Ibu nggak mau banyak debat denganmu saat ini. Ibu mau bantu kakakmu masak dulu. Nanti ibu kabari kamu jika sudah siap," katanya.


"Oke, Bu."


Aku cek di gawaiku, ibu benar-benar ke dapur. Mereka menyiapkan makan siang yang terlewat ini bersama.


"Pa, aku laper. Ayo kita makan!"


"Oke Icha. Yuk panggil mama dulu, biar makan bareng-bareng nanti!" kataku pada Icha.

__ADS_1


Aku masuk kamar, Niar masih berbaring di samping Farhan.


Aku tak habis pikir, istriku saat ini sangat tertutup. Dia tak mau keluar dari kamar, selain ke kamar mandi, dapur untuk memasak. Sangat jarang dia mau duduk-duduk di ruang tamu, atau sekedar nonton televisi, dan memainkan gawainya.


Semua tak ia lakukan. Ketika ku buka kamar kami, ia sedang berbaring, atau duduk di bibir ranjang.


Sudah lama aku tak merasakan belaian istriku. Tapi, aku tetap kan menunggunya untuk kembali seperti dulu.


"Sayang, kita makan dulu, yuk! Kamu pasti belum makan!" Aku memastikannya.


"Udah. Aku udah makan."


"Kapan? Kan belum ada lauk dari tadi, Dek! Paling tadi ya, saat sarapan," kataku.


"Aku lupa," katanya.


Aku mengambil tangannya untuk ikut bersamaku dan Icha ke ruang makan. Ibu terkejut melihat kami datang.


"Den, ibu kan belum menyuruhmu datang," kata ibu.


"Nggak apa-apa dong, Bu. Icha udah laper," kataku. "Mana nih makanannya?" Aku bertanya pada ibu dan kak Ayu.


"Sebentar dong, ini dikit lagi."


"Eh, ibu cuma jadi mandor kan dari tadi? Kak Ayu yang masak sendirian," sindirku.


Mata ibu melebar, ia menatapku tajam.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh?" tanya ibu.


"Boleh dong, Bu. Oya, Bu. Mana piringnya? Aku laper nih!" Aku sengaja bertingkah seperti Icha, Icha malah terbahak-bahak melihatku.


"Kamu, ini! Ambil sendiri dong, Den!"


"Ah, ibu. Waktu Niar yang masak, dia menyiapkan segalanya di meja. Masa kak Ayu yang lebih tua nggak bisa?"


Kak Ayu menoleh padaku, dia menggelengkan kepalanya saat menatapku. Aku membalas dengan mengerlingkan sebelah mataku.


"Yuk, makan!" Aku mengajak Icha dan Niar makan setelah kak Ayu membawakan piring untuk kami.


Icha semringah ketika udang saos tiram dihidangkan di atas nasinya. Lalu ditambah sedikit capcay.


"Bismillahirrahmanirrahim," Icha membaca doa.


Lalu tak lama Icha memuntahkan nasinya.


"Uuuhhh ... Nggak enak!"


Mata kami sama-sama ke arah Icha. Aku menggelengkan kepala pada kak Ayu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2