Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku

Uang Belanja Istriku Dirampas Ibuku
Bagian 14


__ADS_3

Bu Ratih


Siang ini, aku, Ayu dan anak-anaknya pergi keluar untuk makan-makan. Seperti biasa, aku nikmati uang hasil jerih payah anakku Deni.


Kepindahan kerja Deni menjadi berkah tersendiri buatku. Aku jadi lebih leluasa mengendalikan Niar.


Namun, aku harus sembunyi-sembunyi dari Icha, dia tak boleh melihat saat aku bicara dengan mamanya. Makanya ku minta Farrel dan Ayesa mengajak main Icha saat aku menemui Niar.


Ketika sampai rumah, aku terkejut Deni sudah sampai. Biasanya dia sampai larut malam, makanya aku dan Ayu makan-makan dulu, karena tau hal itu.


Deni malah bertepuk tangan saat kami datang.


"Luar biasa nih ibu sama kak Ayu, habis makan-makan di luar, nggak ajak-ajak kami," sindir Deni.


Langsung dijawab oleh Ayu kalau kami habis daftar sekolah Farrel.


"Benar itu, Bu?" Deni memastikan kebenaran jawaban Ayu padaku.


"Be-benar, Den!" Aku gugup saat menjawabnya.


Deni tak banyak bicara, ia meninggalkan kami. Lalu kami pun masuk ke dalam. Untungnya Farrel dan Ayesa tak ikut-ikutan menjawab. Ayu harus kasih tau anaknya untuk menyamakan jawaban tadi jika nanti Deni bertanya pada mereka.


Lalu aku masuk ke kamarku, tertarik melihat apa saja yang sudah dilakukan Deni selama kami pergi.


Kuperhatikan kamera pengawas yang sudah terpasang sebulan yang lalu dari sebuah layar yang ada di kamarku. Ternyata Deni dan Bram sedang memasang kamera pengawas juga.


Berarti Deni sudah mulai curiga padaku. Aku harus memberitahu Ayu kalau di rumah ini, diawasi Deni sekarang.


Untungnya Ayu menyarankanku untuk memasang kamera pengawas waktu itu, kalau tidak, aku nggak bakal tau kalau sekarang kami sedang diawasi Deni.


Kebetulan Ayu masuk ke dalam kamarku.


"Yu, gawat! Deni memasang CCTV juga. Ibu bingung nih, gerakan kita diawasi dia sekarang. Kamu ada usul?"


"Wah, gawat dong, Bu. Kita nggak bisa mengerjai Niar tiap hari kalau gini. Ya udah, untuk tugas besok di jadwal yang ibu buat itu, bagian siapa? Kita lakukan saja sesuai itu, agar Deni tidak curiga. Nanti kita pikirkan bagaimana cara agar CCTV Deni tak terpasang lagi."


"Oke, Ayu. Kamu benar-benar cerdas. Tak percuma kamu jadi anak perempuan ibu."


"Siapa dulu dong, ibunya?"


Kemudian kami tertawa bersama.


***


Pagi-pagi, Ayu sudah masak di dapur. Dia itu tak bisa masak, paling bisanya nasi goreng. Itu juga kadang-kadang keasinan. Semoga masakannya enak kali ini.


Saat aku datang ke meja makan, Deni dan Niar sedang sibuk sarapan. Ketika aku datang, Niar buru-buru menyelesaikan makannya. Emangnya aku apa, sampai dia ketakutan gitu? Pasti nanti Deni curiga padaku.


"Nah, gitu dong. Dihabiskan ya, Niar!" Aku mencoba menyemangati Niar makan agar Deni tak curiga.


Namun, dasar perempuan kampung. Dia malah menghentikan makannya. Kalau tidak ada Deni, ingin sekali kujejalkan makanan itu ke mulutnya.


Lalu Deni mengajaknya jalan pagi. Aku iri melihatnya lebih memperhatikan istrinya. Aku yang ibunya, tak diajaknya sama sekali. Padahal aku juga butuh olahraga, tapi Deni tidak peka.


***


Hari ini putaran arisan kedua akan dilaksanakan di rumah makan Padang. Sengaja kami membooking tempat itu sebelumnya.


Aku dan Ayu yang datang paling awal. Peserta arisan sekitar dua puluh orang. Itu pun hanya ibu-ibu komplek aja yang ikut.


"Wah, Bu Ratih dan Kak Ayu sudah datang!" Bu Kiki, Bu Endang dan Bu Retno datang setelah kami.


"Udah, Bu. Sambil nunggu yang lain, bisa langsung pesan makan, Bu ibu. Hari ini saya saja yang traktir ibu-ibu semua," kataku pada mereka.

__ADS_1


Mereka langsung semringah mendengar tawaranku. Lalu memesan makanan sesuai selera masing-masing.


Tak lama anggota grup arisan lengkap datang semua. Sebelum mulai, mereka makan terlebih dahulu.


"Agar pas ngocok arisan nggak oleng," ucapku pada semua.


Mereka semua tertawa menanggapinya.


Ketika kami semua setor, Bu Retno selaku pemegang arisan bertanya padaku, mau ikut yang berapa?


"Saya mau ikut delapan juta," kataku.


"Okey. Berarti nanti dapatnya delapan puluh juta ya, Bu Ratih!" kata Bu Retno.


Para peserta yang lain ada yang ikut sejuta sampai lima juta per bulan. Hanya aku yang ikut dengan nominal delapan juta per bulan.


Setelah di kocok, nama Bu Retno yang keluar.


"Wah, curang nih yang pegang yang duluan dapat," kataku.


"Nggak apa-apa dong, Bu. Lagian kebanyakan, saya biasanya nalangin yang belum bayar. Nah, itu bisa diambil dari ini," kata Bu Retno.


"Waah, kasihan juga ya. Saya nggak bakalan gitu, Bu. Pasti bakal selalu tepat waktu dan uangnya selalu ada," kataku.


"Hebat ih, Bu Ratih. Uangnya pasti dari anaknya, ya?"


"Iya, dari adikku Deni. Dia gajinya lumayan besar." Ayu tiba-tiba menyambung percakapan kami.


"Wah, jarang-jarang ya anak yang berbakti seperti itu! Selamat deh, Bu, semoga anak ibu selalu baik sama Bu Ratih," kata Bu Kiki.


"Iya Bu, terimakasih."


Setelah selesai, aku membayar semua yang dimakan teman-temanku. Tagihannya kecil, cuma 600 ribu saja.


***


"Lihat tuh cucian udah berjamur!"


Aku mendengar Deni memarahi Ayu. Setelah itu, Ayu disuruh masak makan siang. Aku segera mendatangi Ayu untuk memberikan dukunganku.


Setelah selesai, ternyata masakan Ayu benar-benar tak enak. Icha memuntahkannya. Aku tak habis pikir, Ayu bisa-bisanya berbuat kesalahan fatal itu.


Deni curiga kalau Ayu benar-benar tak pernah masak. Aku mengerahkan segala daya dan upaya untuk melindungi Ayu dari serangan Deni. Aku pun berhasil.


Walau Deni mengatai Ayu agar memasak dengan benar.


Entah mengapa saat aku memakan masakan Ayu lagi, rasanya jadi malah enak.


"Itu dibumbui lagi sama mama, Nek," kata Icha saat aku mencobanya.


Pantes aja rasanya enak dibandingkan masakan Ayu.


***


Ayu marah-marah di kamarnya. Aku menenangkan dia agar bersabar.


"Bu, kalau kayak gini terus, mending kita ambil pembantu deh! Ayu nggak mau mengerjakan semua pekerjaan itu." Ayu mendesakku untuk melakukan hal yang tak mungkin.


"Kamu ini gimana. Kalau ada pembantu, keenakan nanti si Niar. Udah deh, kamu kerjain aja pas jadwalmu. Ibu juga ngerjain pas jadwal ibu." Aku memelototi Ayu agar dia manut padaku.


"I-iya, Bu."


***

__ADS_1


Hari ini jadwal Deni balik ke Jakarta. Kebetulan jadwal Niar, aku mau terusin tidurku yang tak nyenyak semalam.


Setelah agak siang, aku baru bangun. Deni sudah berangkat. Aku bersyukur Deni sudah berangkat, jadi agak longgar, walau masih ada kamera yang mengawasi.


Aku memasuki kamar Niar. Mengendap-endap agar tak terdengar Icha.


"Niar kamu masak apa nanti siang?" tanyaku.


"Nggak tau. Terserah ibu."


"Ya udah, kamu yang belanja ya. Pakai uangmu. Selama ini pakai uang ibu terus."


"Tapi aku nggak ada uang," dia memperlihatkan dompetnya.


"Titip Ayu aja, tarik tunai ATM-mu, dia mau berangkat. Kamu berikan ATM-mu padanya," kataku.


"Kan ATM-ku hilang."


"Kamu ini gimana sih? Apa sengaja kamu hilangkan untuk menghindari ibu minta kamu belanja?"


"Nggak, Bu." Niar menangis sesenggukan.


Aku mencoba menenangkannya, takut Icha mendengar pertengkaran ini.


"Ya sudah. Ibu yang belanja saja." Aku meninggalkannya. "Awas, hentikan tangisanmu! Ibu nggak mau Icha tau kamu sedang menangis!"


Tak lama tangis Niar berhenti. Aku berbalik, mau belanja sayuran di warung dekat rumah.


Tiba-tiba Icha menyapaku.


"Nenek sedang apa?"


"Icha. Nenek sedang ngobrol sama mama kamu. Kamu dari tadi?" Aku memastikannya.


"Baru," jawab Icha.


Aku membawa Icha keluar untuk mengajaknya jajan.


"Yuk, jajan sama nenek. Kamu boleh pilih apa aja."


"Bener, Nek?" katanya.


"Iya, ayo!"


Aku dan Icha ke warung bersama. Ku harap anak ini tidak melihatku tadi.


***


"Bu, bantuin aku masak pokoknya hari ini. Aku nggak mau masakanku nggak enak lagi," kata Ayu yang nyelonong masuk kamarku pagi ini.


"Ya udah nanti ibu bantu kamu masak. Tapi kamu harus nyuci, ya!"


"Ya udah, Bu."


"Oya, untuk tempat yang nggak ada CCTV-nya, kita suruh Niar aja nyapu sama ngepel di sana. Kan nggak bakal ketauan," usulku pada Ayu.


"Boleh, Bu. Nanti aku yang kasih tau Niar mana-mana saja yang harus dia sapu dan pel."


"Oke. Ya udah sekarang ibu bantu kamu, ya!"


Kami bekerjasama mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Niar. Deni sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengerjai ibunya seperti ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2