
Hari itu, tepat di tanggal 4 maret 2013.
Aku Ariansyah atau lebih di kenal dengan panggilan Ayik memulai MOS pertamaku.
Saat itu aku bersama dengan seorang sahabatku, bernama Febriansyah yang sering disapa Iyan. Antara rumahku dan rumah Iyan hanya berjarak 20 meter, karena posisi rumah kami yang cukup dekat mungkin itulah alasan kami menjadi sahabat.
Siang itu tepat pukul 13:45 WIB. Aku dan Iyan berjalan menuju ke sekolah kami, SMA Negri 01Tanah Merah, sekolah terakhirku setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama.
Jujur bersekolah di SMA ini awalnya bukanlah sekolah pilihanku, sekolah pilihanku ialah bersekolah di SMK Sekolah Menengah Kejuruan. Tempatnya di Tembilahan, namun karena bersekolah di SMK biayanya yang mahal, di tambah jarak sekolah yang juga jauh dari desa dan aku sadar ekonomi keluargaku saat itu sangat minim, sehingga keinginan itu pun hanya bisa aku mimpikan sampai mimpi itu hilang.
Dan akhirnya SMA ini pun menjadi sekolahku yang terakhir, SMA ini bukanlah satu-satunya sekolah tingkat menengah atas di desaku, masih ada sekolah menengah atas yang lain. Tapi karena sekolah SMA ini begitu dekat dari rumah ku. Yang hanya di tempuh waktu 5 menit sehingga aku pun memilih SMA ini.
Dengan memakai pakaian baju olahraga SMP kami, serta topi koran dan kalung nama yang terbuat dari box bekas, bertulisan nama-nama sayuran yang kami buat tadi malam di rumahku, kami pun berjalan sambil berbincang.
"Memang nggak kau ubah ya Yik, sudah kubilang Jengkol itu bukan sayuran," kata Iyan yang masih heran memandang kalung nama yang aku kenakan.
"Tapi, kata Ibuku sayuran, soalnya kalau buah nggak mungkin, kan nggak ada bijinya, lagian aku juga suka sama Jengkol," ucapku.
"Iya, tapi nggak Jengkol juga nama kau, kan masih banyak nama-nama sayuran, bisa sayur Kol, Kangkung, Terong, kan masih banyak kenapa Jengkol?"
"Kalau sayuran yang kau sebut, kan tadi nggak keren, aku tu maunya sayuran yang beda sama yang lain dan aku yakin hanya aku saja yang memakai nama ini, Jengkol sebuah sayuran yang punya cangkang untuk melindungi diri dari musuh, suatu Filosofi yang keren nggak, dari pada kau Bayam apaan tu Bayam, Popay makan Bayam," kataku meledek kalung nama yang Iyan kenakan.
"Kau pikir binatang, melindungi diri dari musuh, iya bagus Bayam lah sehat kuat seperti Popay," gumam Iyan.
"Iya siapa tau Jengkol itu punya musuh, kan kau nggak tau Bayam," kata ku kembali meledek.
"Iya Suka kau lah, Jengkol," balas Iyan singkat.
Karena jarak dari rumahku ke sekolah yang cukup dekat di tambah di sepanjang perjalanan kami mendebat kan antara Jengkol dan Bayam, tak terasa hampir tibalah kami di SMA sekolah tujuan kami.
Dari kejauhan tampak di depan pintu gerbang masuk sekolah, terlihat dua orang anggota osis. Serta murid-murid baru yang sama seperti kami di paksa untuk berjalan jongkok, oleh dua orang osis itu. Para murid baru di paksa untuk berjalan jongkok dari pintu gerbang masuk sampai ke aula lapangan sekolah, yang jaraknya sekitar
20 meter.
Dan dua orang osis itu bernama Kak angga dan Kak yoga, dua orang pembina yang berbeda dua tingkat dari kami.
"Eh, Jengkol, Bayam, jam berapa ini!" ucap Kak Angga tegas
Iyan menjawab, "Jam 13:50 Kak."
"Kenapa jam segini baru datang?"
"Bukannya jam 2 di mulai Kak, berarti kami masih punya waktu 10 menit lagi Kak," kata Iyan Kembali menjawab.
__ADS_1
Tampak Kak Angga mulai marah sembari berkata, "Anak baru udah berani ngelawan!"
"Nggak ngelawan Kak, Cuma ngasih tahu aja,’ jawab Iyan pelan.
"Ngejawab lagi, belum tahu siapa aku ya!. Kalian berdua push up," bentak Kak Angga kembali.
Dengan perlahan, aku dan Iyan pun mulai mengambil posisi push up.
"1, naik ..." teriak Kak Angga
Aku dan Iyan pun menaikan badan kami, namun saat kami akan menurunkan badan, Kak Angga pun malah membentak kami kembali.
Dengan posisi menundukkan setengah badannya Kak Angga berkata, "Siapa yang suruh turun, tetap naik.’
Dengan sigap, kami pun menaikan badan kami kembali.
"Baiklah sekarang turun ..." kata Kak Angga lirih sambil tersenyum.
Saat Kak Angga tersenyum yang seolah-olah mempermainkan kami, kulihat Iyan semakin emosi kepada Kak Angga, walaupun Iyan dalam keadaan push up tampak mata sinis nya masih terus memandangi Kak Angga. Iyan memang salah satu orang tempramental yang aku kenal, jadi wajar saja dengan sikap Kak Angga yang mempermainkan kami, Iyan sangat emosi kepada Kak Angga. Namun walaupun Iyan seorang tempramental, saat bercanda dengannya Ia tidak pernah merasa marah ke pada temannya, bahkan walaupun candaan temannya itu bisa membuat orang emosi tapi tidak untuk dirinya. Saat kami sedang push up dalam posisi turun, kali ini aku dan Iyan kompak tetap menahan badan kami dalam posisi turun, karena kami tahu jika kami naik, si Kak Angga pasti akan membentak kami.
"Bagus ... pintar.’
Akan tetapi kali ini juga, Kak Angga membiarkan posisi push up kami dalam waktu yang sedikit lebih lama, sampai-sampai Iyan terbaring ke lantai karena tak kuasa menahan posisi push upnya.
Dengan sigap, Iyan pun kembali melakukan posisi push up dengan tetap memandang Kak
Angga dengan tatapan sinis nya, saat kami berdua dalam posisi push up. Terlihat Kak Yoga menghampiri Kak Angga dan membisikan sesuatu.
Bisik Yoga. "Jangan terlalu keras Ngga, kasihan mereka, belum juga masuk sudah kamu kerasin."
"Udah, nggk apa-apa santai aja sekali-sekali balas dendam kayak kita dulu, biasa ini,"
"Ya sudah, terserah kamu aja Ngga," kata Kak Yoga yang tak ingin ambil pusing.
Lalu, Kak Angga pun kembali memberikan instruksi pada kami, "Ok berdiri."
Aku dan Iyan pun berdiri menghadap Kak Yoga dan Kak Angga dengan nafas yang terengah-engah.
"Sekarang, kalian berdua jalan jongkok sampai ke aula lapangan, Paham!" Kak Angga kembali memerintah kami.
Dan benar saja dugaanku, seketika Iyan pun langsung melawan ucapan Kak Angga, namun beruntung aku berhasil memotong ucapan Iyan dan sembari tanganku yang membekap mulut Iyan.
"Kan, kami udah p-"
__ADS_1
"Kami udah kuat Kak, kami sanggup, sampai aula ya Kak, keliling lapangan pun kami sanggup ini Kak," potongku dengan tangan yang masih membekap mulut Iyan.
"Bagus, lakukan sekarang ... .’
Aku pun langsung mengambil posisi jalan jongkok, namun tidak pada Iyan, Ia masih dalam posisi kokoh berdiri. Namun aku menarik-narik celana Iyan dan menggelengkan kepala seakan-akan, memberikan kode untuk tidak melawan Kak Angga pada saat ini. Dan akhirnya, aku dan Iyan pun berjalan jongkok dari pintu gerbang masuk, sampai ke aula lapangan. Di perjalanan saat kami jalan jongkok, tampak wajah Iyan masih kesal dengan sikap Kak Angga yang seperti mempermainkan kami, namun aku kembali mencoba menenangkan Iyan, "Udah Yan, jangan di lawan dulu kita masih anak baru, tahan emosi kau."
"Siapa yang nggak emosi, kita tadi habis di suruhnya push up, terus jalan jongkok, Dia pikir kita Robot kali!" kata Iyan masih tampak emosi.
"Iya aku paham Yan, tapi belum saat nya kita ngelawan, wajar ini semua osis ini ngerasa seperti balas dendam, karena mereka juga pernah di posisi seperti kita,’ kata ku lirih.
"Baiklah, aku ikutin permainan semua osis ini, tapi kalau aku udah terlalu emosi atas sikap mereka, aku bakalan ngelawan Yik, walaupun sampai kelahi aku nggak peduli," tegas Iyan yang seperti jagoan. Padahal aku tahu kalau mereka membentak Iyan lagi, Iyan pun tak akan mau ngelawan mereka, apalagi sampai berkelahi, mungkin saat itu karena Iyan terlalu emosi jadi kalimat itu tak sengaja terucap dari mulut nya.
"Iya, tapi sabar aja dulu sekarang, paling hanya tiga hari kita diginikan, habis itu mereka nggak akan pernah lagi, tenang tiga hari itu nggak lama ..." kataku kembali menenangkan Iyan.
Iyan pun hanya, berkata lirih, "Iya, semoga aja aku sanggup Yik."
Lalu tibalah kami di aula lapangan, yang dimana seluruh anak baru, terlihat berdiri berbaris di lapangan serta beberapa anggota osis yang berdiri di lapangan. Saat pertama kali aku menginjak kan Kaki ku, pada papan lapangan tempat kami para siswa berbaris, aku seperti merasakan ketegangan yang ada di lapangan, suara obrolan dari para pembina yang seperti berbisik ingin mengeksekusi mati kami, tiupan angin yang menghantam telingaku seperti mengisyaratkan untuk aku segera berbalik arah dan mengatakan pulang saja. Tapi syukurlah dari keringat yang bercucur dari dahiku hingga menyentuh hidungku sehingga menyamarkan bau dari ketegangan yang aku rasakan, perasaan itu tampak aneh, menginjak lapangan ini bukan lah hal baru yang aku lakukan. Lapangan ini juga menyimpan beberapa ingatan masa kecilku saat aku belum bersekolah SMA ini, tapi walaupun begitu ketegangan ini juga dapat aku rasakan, walaupun aku bukan lah orang yang baru pertama kali masuk ke sekolah SMA ini. Lalu aku dan Iyan pun memasuki area lapangan dan bergabung mengikuti barisan anak-anak baru. Saat aku dan Iyan telah ikut bergabung dengan barisan murid-murid baru yang lain.
Terlihat salah seorang anggota osis yang bernama Kak Andre selaku Ketua osis menyampaikan kata sambutan kepada kami murid-murid baru diatas podium yang telah di siapkan. Baru saja aku dan Iyan masuk ke dalam barisan, mengikuti murid-murid baru yang lain. Seorang pembina osis pun kembali memerintahkan seluruh murid baru untuk berdiri di dalam barisan.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ..." Kak Andre mengucap salam
"Walaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh ..." jawab seluruh murid dan para anggota osis.
"Selamat datang, untuk kalian siswa baru angkatan tahun 2013 di rumah kedua kita ini, SMA Negri 01 Tanah Merah ..." sambut Kak Andre. Seketika seluruh anggota osis pun
bertepuk tangan yang di ikuti oleh kami para siswa baru.
"Karena ini adalah pertemuan pertama, kita dan nggak lengkap rasanya kalau kita nggak berkenalan, mungkin sebagian dari kalian sudah mengenal saya dan sebagian belum. Perkenalkan nama saya Andre Pratama Yuska, saya selaku Ketua osis ajaran tahun 2013. Menyambut hangat kedatangan adik-adik semua, masa orientasi ini saya mohon untuk adik-adik semua, agar dapat mengikuti bimbingan serta arahan oleh Pembina kelas adik-adik masing-masing nantinya, dan untuk para pembina jangan kalian jadikan masa orientasi ini menjadi ajang balas dendam. Jika saya mendapat, kan laporan dari siswa atas tindakan kalian yang diluar batas wajar, maka saya akan bertindak keras kepada Pembina yang sampai memberikan hukuman-hukuman berat. Apalagi sampai mengancam siswa,untuk para pembina apa kalian mengerti!"
Para pembina osis pun dengan serentak berkata, "Siap, mengerti."
"Baiklah, mungkin sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan dan untuk mempersingkat waktu, sebelum kita memulai acara MOS pertama kita hari ini, marilah kita berdoa menurut Agama, kepercayaan kita masing-masing, berdoa di mulai ..." seluruh murid, serta para anggota osis pun menundukan kepala seraya berdoa.
"Berdoa selesai ... ."
"Pembukaan masa orientasi siswa tahun 2013 hari pertama, di mulai ...’ ucap Kak Andre mengakhiri sambutan nya dan kembali lagi seketika seluruh anggota osis pun bertepuk tangan yang di ikuti oleh kami para siswa baru.
Kak andre pun turun dari podium, saat Kak andre turun dari podium, tiba-tiba datang seorang anggota osis yang memberikan instruksi kepada kami.
"Siap … grak ... sikap siap semua, siap ... jangan ada yang noleh kanan kiri ..." teriak anggota osis tersebut. Serentak seluruh murid pun berdiri dengan sikap, siap, sempurna dalam barisan kami masing-masing.
Aku pun merasa penasaran dengan seorang anggota osis ini, badan yang kurus, rambut seperti boyband Korea, sombong sekali gayanya, kataku berkata lirih di dalam hati. Aku pun dengan rasa penasaran melirik kearah badan dari anggota osis ini dan tampak ada sebuah tulisan kecil, namun masih dapat kulihat, di bagian dada di sebelah kanan tertulis Muhammad Ari. Dan tepat di belakang osis bernama Muhammad Ari ini, terlihat juga ada Kak Andre dan seorang osis wanita yang mengenakan hijab, yang seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting.
__ADS_1