
Keesokan sorenya saat berada dikelas aku, Iyan, Reza dan Tomi kami kembali mengobrol sembari menunggu kedatangan para pembina kami di dalam kelas, Tampak seluruh siswa ingin saling tahu kepada siapa surat yang akan kami berikan kepada pembina nantinya. Tak terkecuali Reza dan Tomi yang tersenyum-senyum kecil memandangi aku dan Iyan, yang seperti nya mereka tahu, akan kepada siapa surat yang akan aku dan Iyan berikan kepada pembina nantinya.
"Yik, kau pasti ngasih surat untuk Kak Viona kan ..." gumam Reza sembari tersenyum kecil.
"Iya, kok kau tahu Za?" tanyaku heran.
"Dari perbuatan kau kemarin kepada Kak Viona, kuyakin hampir semua orang di kelas ini pasti akan tahu, kalau kau itu suka sama Kak Viona."
Aku pun dengan sedikit malu berkata. "Emang segitu kelihatan nya?"
"Iyalah dan kau Yan pasti ngasih surat itu untuk Kak Ira, kan." kata Tomi sembari menunjuk surat yang Iyan pegang.
"Gokil, keren kali kalian berdua, bisa tau kalian ya. Pembuat kalender cocok kalian ini ..."
"Kenapa pembuat kalender Yan?" tanyaku.
"Kan, pembuat kalender itu bisa tau masa depan, sama ini, persis yang di lakukan mereka berdua ..."
"Emang pembuat kalender, bisa lihat masa depan?" tanya Reza
"Bisa, buktinya aja mereka tau kapan lebaran ..." jelas Iyan.
"Hahaha ... betul juga ya Yan ..." gumam Reza sembari tertawa.
Sedangkan aku hanya tersenyum kecil mendengar candaan dari Iyan, jujur saat itu aku sungguh tak sabar menunggu kedatangan Kak Viona, sesekali mataku memandang kearah pintu berharap orang yang akan masuk adalah Kak Viona, namun beberapa kali aku melihat kearah pintu sosok Kak Viona masih enggan untuk hadir memasuki pintu kelas itu. Tanpaku sadari ternyata Reza memperhatikan gerak-gerik ku dan Ia pun kembali bertanya, apa yang sedang aku lakukan yang serius memandangi pintu kelas kami saat itu.
"Yik, ku perhatikan kau serius sekali memandang pintu itu, emangnya ada apa?" ucap Reza heran.
__ADS_1
"Ehh ... nggak ada apa-apa cuman memperhatikan orang-orang lewat aja, takutnya kita cerita gini, kan nggak sadar kalau nanti pembina kita masuk, ntar kalau ada pembina kita masuk aku bisa ngasih kalian kode ..." jawabku lirih.
"Hmm ... atau jangan-jangan kau sedang nunggu Kak Viona ya." kata Reza yang menggodaku.
"Hahaha ... nggak lah ngapain di tunggu, kan Dia bisa datang sendiri Za ... ."
"Udah, jangan bohong jujur aja, tenang nggak akan bocor kok Yik ..." sambung Tomi
"Nggaklah, masa aku nungguin Kak Viona ada-ada aja kalian!"
Entah kenapa, aku pun enggan untuk memberi tahu mereka tentang kebenaran bahwa aku memeng benar sedang menunggu Kak Viona, aku seperti merasa malu jika mereka sampai tahu, jika aku memang benar sedang tak sabar menunggu Kak Viona datang.
"Atau jangan-jangan kau ngelihat hantu Yik!" kata Iyan mengalihkan pembicaraan.
Aku pun kaget mendengar perkataan dari Iyan, ternyata Iyan mengedipkan matanya padaku, seakan Ia memberikan aku kode untuk mengalihkan pembicaraan kepada mereka tentang kebenaran bahwa aku sedang menunggu Kak Viona.
"Iya Za, aku bisa ngelihat hantu ..." kataku lirih.
"Sejak kapan Yik, kau bisa ngelihat hantu, disini hantunya baik-baik nggak ...’ tambah Tomi sembari menarik nafas panjang dengan tatapan ketakutan melihat ke arahku.
"Nggak apa-apa Tom, hantu di sini baik-baik kok, mereka nggak ganggu kita kalau kita itu nggak menggangu mereka ..." jelasku yang seperti para Indigo yang sering kulihat di TV.
"Kasih tau aku cara nya Yik, kalau aku itu nggak mengganggu mereka, agar mereka nggak mengganggu aku Yik" ucap Reza sembari mendekat padaku.
"Simple Za dan hanya kalian berdua yang akan aku kasih tau caranya, jangan sampai kalian kasih tau orang lain ya!"
"Baik Yik ..." ucap Mereka.
__ADS_1
"Di sekolah kita ini, rumah bagi mereka itu adalah pohon besar yang ada di depan sekolah kita itu. Saranku, kalau kalian setiap pulang sekolah, paling tidak harus permisi lewat situ dengan cara begitu kalian menghormati mereka dan tidak akan di ganggu oleh mereka ..." jelas ku.
"Terus Yik, hanya permisi aja atau aku harus membawa sesajen juga?" ucap Reza penasaran.
"Nggak perlu, cukup itu sih kata mereka, ini aku baru di bisikin!"
Mendengar penjelasanku, mereka pun semakin ke takutan karena menurut mereka para hantu memang benar sedang sedang berkomunikasi denganku. Lalu sosok yang aku tunggu-tunggu pun tiba, iya, Ialah Kak Viona saat Ia memasuki pintu kelas walaupun saat itu sinar matahari tidak mengenai tubuhnya, tapi aku melihat seberkas sinar yang terang menyinari tubuhnya. Sinar yang membius mataku untuk terus menatapnya. Walaupun saat itu Ia sedang berjalan bersama Kak Ira dan Kak Syahmi, tapi mataku tetap terfokus memandangi wajah Kak Viona. Mungkin di tambah karena aku sudah tahu bahwa, bang Risky bukanlah pacar Kak Viona, aku pun jadi lebih bersemangat untuk mendapatkan hati Kak Viona.
"Assalamualaikum ... " Kak Ira mengucap salam.
"Walaikum sallam Warahmatullahi Wabarakatuh ..." balas kami para murid di kelas.
"Gimana suratnya, pada bawa semua, kan?" gumam Kak Syahmi
"Bawa Kak ... ."
Dan aku pun kembali menatap Kak Viona sembari mengeluarkan senyuman termanis ku dan kali ini senyumku tak lagi bertepuk sebelah tangan, Kak Viona kala itu membalas senyumanku, seakan Ia telah tahu kalau aku akan memberikan surat cinta ini untuknya.
"Baiklah, untuk pengumpulan suratnya dari barisan meja belakang, silahkan berikan surat kalian ke teman kalian di meja depan kalian, begitu seterusnya, sampai suratnya terkumpul semua ke meja paling depan dekat Kakak, mengerti!" jelas Kak Ira memberikan Kami arahan.
"Mengerti Kak ..." teriak kami seluruh siswa di kelas.
Terlihat seluruh siswa di dalam kelas saat itu, tampak kompak menjalankan arahan tugas dari Kak Ira. Suasana kelas saat itu serasa seperti pertandingan estafet surat, siswa tampak saling berlomba estafet surat, setiap barisan meja saling beradu cepat untuk mengumpulkan surat dari meja paling belakang menuju ke meja paling depan.
Setelah surat terkumpul semua ke meja paling depan, terlihat para pembina kelas mengambil surat yang telah terkumpul di meja paling depan, dan mereka pun seperti memisahkan tumpukan surat itu. Satu demi satu, sesuai dengan nama-nama dari penerima surat, sampai akhirnya mereka selesai memisahkan semua surat dan di bagikan sesuai nama pembina yang ada di surat. Kulihat dengan teliti ada satu tumpukan surat terbanyak yang di pegang oleh Kak Viona. Seketika aku sangat yakin bahwa memang benar di kelas ini, hampir seluruh siswa laki-laki telah menulis nama Kak Viona sebagai penerima surat mereka. Kulihat kembali wajah Kak Viona saat memegang tumpukan surat itu, Ia mengeluarkan senyuman tipis sehingga mengeluarkan lesung pipit di pipi kirinya, yang mengartikan bahwa Ia senang karena memiliki surat terbanyak. Dan untuk pertama kalinya aku tidak senang dengan ke senangan Kak Viona pada saat itu, karena Ia memiliki surat terbanyak, yang berarti hampir seluruh siswa laki-laki di kelas ini adalah sainganku. Bahkan walaupun mereka telah tahu, kalau aku suka kepada Kak Viona, mereka juga tetap mengirimkan surat mereka ke pada Kak Viona, dan kusadari saat itu bahwa pesaing-pesaing itu adalah mereka, para laki-laki di kelasku.
"Baiklah, semua surat telah kami kumpulkan dan kami telah pisahkan satu persatu sesuai dengan nama penerima surat yang ingin kalian berikan. Masa MOS kali ini Kakak sedikit kaget hampir semua siswa laki-laki di kelas ini, membuat surat untuk Kak Viona.." jelas Kak Ira sembari tersenyum.
__ADS_1
Dan tampak para siswa laki-laki di kelas tersenyum setelah mendengar ucapan dari kak Ira.