
Aku dan Deni pun pergi menuju rumah pacar Kak Viona, jujur saat itu di sepanjang perjalanan menuju rumah pacar Kak Viona, aku merasa ragu untuk melakukan hal ini karena aku takut hal ini akan di ketahui oleh Kak Viona. Dan jika Kak Viona sampai tahu hal ini, aku takut dia justru jadi membenciku, karena aku telah memata-matai dirinya.
Dan bukan kesempatan untuk mendapatkan hati Kak Viona yang akan aku dapatkan, justru kehilangannya yang akan aku dapatkan.
"Den, sepertinya aku ragu lah Den, atas tindakan kita ini ..." gumamku pada Deni yang sedang membawa sepada motor.
"Apa yang kau ragukan, justru tindakan ini lah yang akan memberikan kau kesempatan untuk tahu status Kak Viona!"
"Iya sih, tapi apa Kak Viona nggak bakalan marah, jika tindakan ini sampai di ketahui olehnya ..."
"Mungkin Dia akan marah, tapi apa kau akan berhenti untuk mendapatkan hatinya?"
"Nggak Den, nggak berhenti ... ."
"Nah, jadi apalagi masalahnya!"
"Aku takut jika Ia sampai tahu Dia akan marah padaku dan jika Ia marah, lalu Ia akan kecewa, bukan kesempatan untuk mendapatkan hatinya yang akan aku dapatkan, melainkan Ia justru akan membenciku atas tindakanku ini, yang seperti pengecut memata-matai dirinya!"
Tiba-tiba Deni pun mengerem motornya dan berhenti, sampai-sampai badanku terpental ke depan mengenai Deni.
"Kalau tidak dengan cara ini, dengan cara apalagi kau akan tahu tentang kebenaran statusnya!"
"Tanya temannya gimana?" kataku lirih.
"Bukannya itu hal yang sama, jika kau tanya temannya, ujung-ujungnya kau bakalan nyari tahu lagi, kan tentang pacar Kak Viona. Way yakin lah kesempatan ini tidak akan datang kedua kalinya, ingat butuh waktu 5 detik saja untuk mengubah keraguan kau itu menjadi keberanian, kalau kau memang ingin mendapatkan hati Kak Viona, ini lah kesempatannya Way!"
Mendengar perkataan dari Deni aku pun terdiam sejenak untuk menanamkan keraguanku agar menjadi keberanian, namun sekeras apapun aku mencoba menghilangkan keraguanku, entah kenapa pikiranku tetap takut dan ragu untuk melakukan tindakan ini. Padahal kedua sahabatku Deni dan Iyan telah berada di belakangku, mendorong semangatku dan merubah keraguanku menjadi keberanian. Namun tetap ketakutanku lebih kuat dari pada keberanianku saat ini.
"Sudah kucoba Den, di sepanjang perjalanan dari rumah Iyan tadi sudah kupikirkan,tapi aku tetap takut!"
__ADS_1
"Ya Udah, berarti kau harus ikhlas, kan Kak Viona karena kau seorang pecundang Way, takut untuk menaklukan cinta kau sendiri, ya udah kita pulang!"
Entah kenapa saat Deni mengatakan kata pecundang padaku, tiba-tiba keberanian muncul dalam hatiku. Aku yang tadi merasa ragu dan takut tiba-tiba berubah menjadi berani untuk mendapatkan hati Kak Viona dan menambah keyakinanku akan hal ini adalah jalan terbaik untuk mendapatkan hati Kak Viona.
"Aku bukan pecundang Den, baiklah, ayo kita jalan sekarang aku sudah yakin, ini kesempatanku untuk memenangkan hati Kak Viona, ayo Den kita jalan ke rumah pacarnya, ayo!" ucap dengan bersemangat.
"Nah, gitu ... udah nyampe itu rumahnya ..." gumam Deni sembari menunjuk kearah rumah pacar Kak Viona.
"Oh, ok ... ."
Aku pun turun dari sepeda motor dan berdiri melihat kearah rumah pacar Kak Viona yang juga merupakan Adik kandung dari guru SMP ku, saat itu aku merasa seperti akan berperang mengahadapi ribuan orang bersenjatakan panah yang sedang siap menarik panahnya yang telah diarahkan padaku, namun walaupun panah itu siap akan di tembakan padaku, saat itu ketakutanku telah hilang, karena kekuatan cintaku telah lebih besar di bandingkan ketakutanku saat itu.
"Tenang Yik, aku akan menemani kau ...' kata Deni sambil menepuk pundakku.
"Den, untuk kali ini kau cukup tinggal disini, biarkan aku menyelesaikan masalah ini sendiri ... ." jawabku sembari tanganku menghadang Deni.
"Hey, nyari apa ya!" teriak Bang Risky
Aku pun masih dalam posisi kokoh berdiri, berpaling kearah mereka.
"Ada yang bisa di bantu?" gumam bg Risky kembali.
Karena telah dua kali bg risky bertanya padaku, dengan sedikit keberanian aku pun membalikan badan dan menghadap mereka berdua.
"Maaf Bang, mau nanya Bang, ini rumah ibu Siti Asiyah ya?" tanyaku lirih
"e eemm ... Ari!" kata Kak Viona mencoba mengenalku.
"Iya Kak, Ari ... ."
__ADS_1
"Kamu, kenal Vi?" tanya Bang Risky sedikit sinis.
‘Kenal Kak, namanya Ari, angkatan baru di SMA dan kebetulan Viona pembinanya, Oh iya Ari ini tadi sempat menggombal Vi Kak, saat di kelas!" kata Kak Viona meledekku.
Seketika aku pun bertambah gugup, mendengar Kak Viona yang mengadukan perbuatanku dihadapan pacarnya, kepalaku terasa kebas, kaki ku kaku, badanku mati rasa, saat itu aku bingung perasaanku bercampur aduk antara grogi dan takut, tapi aku tidak tahu apa yang aku takut, kan.
'Serius, wah pengen denger dong Rik gombalannya!" kata Bang Risky memujiku.
Entah pujian atau ejekan yang di katakan Bang Risky padaku, entahlah karena aku bingung, pikiranku sudah tidak Focus untuk menanyakan kebenaran hubungan mereka melainkan langsung buru-buru ingin pergi menjauh dari mereka.
"Kalau nggak ada yang di gombal nggak bisa Bang, butuh satu wa-wanita untuk di gombal Bang ..." ucapku terbata-bata.
"Nah, ini ada Viona gombal Dia aja. ayo dong Rik, penasaran gombalan Arik gimana" gumam Bang Risky.
Dalam posisi diam ku, yang masih kokoh berdiri di hadapan mereka berdua aku pun mulai memikirkan kata-kata untuk menggombal Kak Viona, yang sebenarnya aku bukanlah orang yang jago untuk menggombal wanita, tapi setiap gombalan yang pernah aku lontarkan kepada Kak Viona itu sebenarnya hanyalah keceplosan kuyang secara tiba-tiba, aku seperti memiliki dua kepribadian saat bertemu dengan Kak Viona kepribadian yang membuat aku bisa merayu wanita dan percaya diri untuk mendekati Kak Viona, namun untuk situasi kali ini walaupun Kak Viona berada di hadapanku, entah kenapa kepribadian itu enggan untuk muncul.
"Aaa ... belum kepikiran Bang, belum ada dapat kata-kata!" ucapku lirih.
"Mungkin terlalu jauh Ari nya, sinilah dekat! ucap Bang Risky yang memaksa.
Aku pun melangkahkan satu kakiku.
‘Aduh Rik, masih jauh!" kata Bang risky sembari mendekatiku dan mendorong Kak Viona berada di hadapanku.
"Nah begini, kan sudah dekat, mungkin Arik sudah bisa kepikiran!"
Saat itu adalah jarak terdekatku selama aku dekat dengan Kak Viona, saking dekatnya kami, aku bahkan tidak bisa menaikan pandanganku kepadanya karena jujur saat itu aku merasa tak akan kuasa menahan gejolak perasaan cinta kepada Kak Viona. Dan karena Bang Riski yang membuat Kak Viona berada di hadapanku,
Akan tetapi sampai kapan aku akan bersikap cupu seperti ini, dengan penuh tekat dan keberanian aku pun menatap wajah Kak Viona dengan tatapan tajam sembari menyeringai tipis.Tak butuh waktu lama, membuat kepribadian keduaku muncul, aku pun dengan sejuta kalimat cinta terpikir langsung di otakku dan siap untuk menggombal Kak Viona. Aku pun mulai menaikan, seringai kuberubah menjadi senyuman, jarak kami hanya sejengkal jari, dengan tersenyum yakin aku pun mulai menggombal nya.
__ADS_1