
Kesokan harinya, aku pun mengikuti kegiatan MOS di hari kedua. Saat ini aku sedang berada di dalam kelas bersama para murid-murid baru yang lain. Tampak seluruh murid di dalam kelas saling mengobrol satu sama lain sambil menunggu kedatangan para pembina kami.
Ada dua hal baru yang membosankan kutemukan di SMA ini, pertama bertemu dengan si buah Mangga alias Kak Angga, dan yang kedua menunggu kedatangan para pembina. Entah kenapa pembina di SMA ini sangat gemar untuk datang terlambat, mereka seperti senang membuat kami para siswa menunggu kedatangan mereka, namun dari kesenangan para pembina membuat kami menunggu, di kelas tampaknya beberapa siswa juga senang dengan lamanya para pembina datang. Dan untuk menghilangkan kebosanan menunggu para pembina. Aku dan Iyan pun berkenalan kembali dengan para murid yang lain, yang tidak kami lakukan di saat MOS hari pertama, dan tepat di belakang meja kami, ada murid yang kami tidak kenal dan kami pun berkenalan dengan mereka.
"Hai ... Ayik ..." sapaku kepada murid baru yang ada di belakangku sembari menadahkan tangan.
"Hai ... Tomi ..." jawab murid itu sambil menjabat tanganku.
Begitu juga dengan Iyan yang berkenalan dengan teman sebangku tomi yang bernama Reza yang sempat di rayu oleh Kak Mia pada MOS di hari pertama, kami berempat pun saling berkenalan satu sama lain sembari menjabat tangan masing-masing.
"Selingkuhan, Kak Mia ya" ucapku lirih
membahas rayuan Kak Mia pada Reza kemarin.
"Hahaha ... nggak kita satu RW aja" balas Reza singkat.
"Tapi mau, kan jadi selingkuhan Kak Mia ..." tambah Iyan.
"Iya jelas mau, hahaha ..." Kami pun tertawa mendengar jawaban dari nya.
"Lulusan SMP mana?" tanya Iyan
"Aku SMP 3, kalian berdua lulusan SMP mana?" tanya reza kembali.
"Kami berdua, lulusan SMP 1 dari SD, SMP, sampai sekarang pun sekolah kami sama!" Iyan menjelaskan
"Kalian saudara?" tanya Tomi heran.
"Iya, tapi beda bapak sama ibu aja!" tambah Iyan sambil tersenyum. Aku pun hanya tersenyum mendengar jawaban dari Iyan terdengar aneh tapi itu lah Iyan, Iyan seringkali mengeluarkan kalimat-kalimat aneh tapi memiliki makna yang berarti dan ini adalah salah satu kalimatnya, yang sering aku dengar saat kami berkenalan dengan orang baru.
"Kalau kau sendiri Tom, lulusan SMP mana?" tanya Iyan pada Tomi.
"Kalau aku dari pekan baru SMP 99 Pekan Baru."
"Waduh, jauh jugak ya sampai nyasar ke desa Tanah merah." kataku sedikit tercengang.
"Hahaha ... iya, tapi dulu waktu kelas 1 SD aku sempat sekolah disini juga, bentar aja 1 bulan sekolah langsung pindah ke pekan baru."
"Kalau gitu selamat datang kembali ke Tanah Merah ..." kata Iyan sambil memegang bahu Tomi.
"Iya terimakasih ... ."
Saat kami berempat sedang asik mengobrol, datanglah Kak Mia dan Kak Ira memasuki ruangan kelas, para murid pun yang tadinya menghampiri beberapa teman dekat mereka di kelas langsung kembali ketempat duduk mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kak Ira Yik ..." gumam Iyan pelan padaku.
"Iya, Yan ..." balasku.
"Selamat siang adek-adek!" sapa Kak Mia
"Selamat siang Kak ..." balas kami seluruh murid di kelas.
"Sehat semuanya ..."
"Sehat Kak ..." teriak seluruh murid.
"Syukurlah, langsung saja ya tanpa basa basi hari ini kita akan mengenal nama guru-guru pengajar serta tempat apa aja sih yang ada di sekolah SMA ini, jadi Kakak harap kalian catat ya!" tambah Kak Mia
"Baik Kak ..." teriak kami para murid kembali.
"Keluarkan alat tulisnya ya ..." tambah Kak Ira.
Kami seluruh murid pun mengeluarkan alat tulis kami dari dalam tas masing-masing, dan Kak Ira pun memulai mencatat ke papan tulis. Satu persatu Kak Ira menuliskan nama-nama serta mata pelajaran serta guru pengajar di SMA ini, sedangkan Kak Mia tampak hanya berjalan mengitari kami para siswa yang sedang fokus duduk di bangku meja kami mencatat apa yang di catat Kak Ira di papan tulis.
Setelah Kak Ira selesai menuliskan, Kak Ira pun menghampiri meja guru dan duduk untuk melepaskan kelelahannya sesaat, karena selesai menulis. Sedangkan kami para siswa masih tampak terlihat mencatat yang telah di tuliskan Kak Ira di papan tulis. Suasana pun hening karena ke seriusan dari para siswa yang fokus mencatat, bahkan suara detakan jarum jam dinding pun nyaring terdengar, saat kami para siswa sedang serius mencatat.
Tiba-tiba datanglah Kak Syahmi bersama dengan seorang pembina wanita, yang belum pernah kulihat saat MOS di hari pertama.
"Assalamu'alaikum ..." salam Kak Syahmi memasuki ruangan kelas.
Setelah Kak Syahmi dan pembina baru itu menghampiri Kak Ira. Seluruh murid laki-laki pun berteriak.
"Sudah selesai Kak!" kata para murid laki-laki, lalu kulihat saat itu Iyan seperti biasa saja melihat pembina baru itu, seperti tak merasakan apa yang di rasakan kami semua para murid laki-laki di kelas ini, kami merasa di sihir oleh pembina baru ini yang membuat kami telah jatuh cinta pada pembina baru itu.
"Yan, cantik Yan ...’ kataku lirih
"Biasa aja Yik, cantik, kan juga Kak Ira ..." kata Iyan sembari tetap menulis.
Kak Mia pun yang tadinya berada di belakang para siswa berjalan kearah Kak Syahmi.
"Baiklah, sekarang Kakak mau kenalin satu lagi pembina kalian yang kemarin nggak bisa hadir dan sekarang orangnya udah disini dan mau berkenalan dengan kalian, silahkan Kak Vi ..." ucap kak Ira mempersilahkan pembina baru itu.
Seluruh murid pun terdiam dan memperhatikan pembina baru itu.
"Selamat siang semua ..." sapa Pembina baru itu.
"Siang Kakak ..." seru kami para murid di kelas
__ADS_1
"Sebelumnya saya mau minta maaf, karena kemarin nggk bisa hadir dan menyambut kalian di MOS hari pertama, mungkin kalian udah pernah dengar kalimat ini Tak kenal maka tak sayang, maka dari itu izinkan saya untuk memperkenalkan diri ya, perkenalkan nama saya Vionalia Ayu Dictrine, saya lahir di Pekan baru 11 september 1996. Alamat jalan Adidas nomor 44, saya kelas 11 IPA 2 dan Alhamdulillah kemarin saya naik kelas jadi tahun ini saya kelas 12. saya sering di sapa Viona atau Vi dan kalian boleh memanggil saya dengan panggilan Viona saja atau Kak Vi ..." Kak Viona memperkenalkan diri.
Tak kenal maka tak sayang sepertinya kalimat itu bohong, aku sudah sayang walupun aku belum mengenal Kak Viona.
Tapi aku sedikit sedih walupun aku sudah sayang sama Kak Viona, mendengar wanita yang aku sayangi itu beda dua tingkat dariku, yang aku sedih, kan bahwa dirinya tak akan lama lagi akan tamat di sekolah SMA ini, walaupun aku bisa mendapatkan hatinya, tapi aku tak akan bisa untuk berlama-lama menghabiskan masa-masa di SMA bersama wanita yang aku sayangi itu.
"Ada yang mau di tanyakan lagi?" tambah Kak Viona.
Sontak, aku pun langsung mengangkat tangan, tanpa aku sadari, aku menanyakan pertanyaan yang sama yang ditanyakan Iyan kepada Kak Ira saat pertama kali Kak Ira memperkenalkan diri.
"Kakak udah punya pasangan...’ teriak ku keras.
‘Hmmm ... pasangan apa ya?" tanya Kak Viona sembari tersenyum.
Walaupun saat itu aku hanya melakukan tanya jawab bersama Kak Viona, entah kenapa aku merasakan bahagia dan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan, seperti mendapatkan sebuah Vitamin yang membuat pikiran dan tubuhku menjadi segar dan begitu sehat.
"Kakak sudah punya pacar!" jelasku kembali.
"Oh ... pacar, hmm ... sudah!" ucap Kak Viona singkat.
Mendengar jawaban dari Kak Viona seluruh siswa laki-laki di dalam kelas tampak sangat kecewa, mendengar Kak Viona sudah memiliki pacar. Terlihat beberapa murid menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepala merasa kecewa, sedangkan aku tetap yakin bahwa perkataan Kak Viona itu hanya lah kebohongan darinya, yang Ia lakukan agar dia tidak di ganggu oleh laki-laki yang hanya mencintai fisiknya, karena menurutku Dia sadar, Dia itu cantik dan ingin mencari seorang laki-laki yang benar-benar tulus dan cinta padanya, bukan hanya memandang fisiknya, sehingga Ia pun berpura-pura mengaku bahwa dirinya sudah memiliki seorang pacar agar tidak jatuh di laki-laki yang salah.
Dan saat itu, aku merasakan kalau Kak Viona lah cinta sejatiku dan perkataan Iyan pun sudah melekat dalam pikiranku.
'kalau kau sudah mendapatkan seorang wanita yang kau cintai, apapun rintangannya kau harus memilikinya' kalimat Iyan yang telah merasuk kedalam pikiranku, di tambah lagi aku dan Kak Viona seiman, sebuah hal yang tak akan bisa lagi menghalangiku untuk mendapatkan hati Kak Viona.
Jikalau pun memang benar Ia telah memiliki seorang pacar, apalah arti sebuah pacar, selama jalur kuning belum melengkung, yang berarti hati Kak Viona masih terbuka untuk orang lain.
"Pada kecewa, mereka mendengar kamu udah punya pacar Vi ..." bisik Syahmi
Viona pun hanya tersenyum mendengar ucapan Syahmi.
"Ada lagi?" tanya Kak Viona kembali.
"Nggak ada Kak ..." kata beberapa murid yang telah merasa kecewa.
"Baiklah kita lanjut, kan lagi ya yang tadi, tolong buka bukunya lagi ya ..." Kak Ira memberikan instruksi kepada kami.
Kami para murid baru pun kembali membuka buku kami. Tak terkecuali aku yang masih tersenyum memandangi Kak Viona.
"Benar kata kau Yan, nama Viona itu orang nya cantik …" kataku yang masih melihat Kak Viona.
"Kau jatuh cinta!"
__ADS_1
"Aku nggak tau apa itu perasaan cinta atau bukan, tapi aku merasa seperti yang kau rasakan ke pada Kak Ira Way, semua yang kau rasakan kemarin kepada Kak Ira, hari ini aku juga merasakannya Yan ..."
"Itu lah cinta Yik, indahkan, tapi ingat rintangan kau sedikit sulit, karena Kak Viona sudah memiliki pacar kau harus pandai memikat hati Kak Viona …" kata Iyan memberiku saran. Begitulah Iyan, walaupun Ia tahu Kak Viona sudah memiliki pacar, tapi Ia justru tetap meyakinkanku kalau aku bisa mendapatkan hati Kak Viona, Iyan memang bagaikan cahaya dalam kehidupan percintaanku, Dia selalu menyemangati ku, selalu berada di belakangku untuk terus memberikan saran-saran percintaan kepadaku.