
"Kakak tahu, apa perbedaan gerhana bulan dengan Kakak?"
"Hmmm ... kalau gerhana bulan berada di langit, kalau aku berada di bumi!" ucap Viona lirih.
"Cukup benar, tapi ada sedikit yang masih kurang ... ."
"Apa?"
"Kalau gerhana bulan, terjadi ketika seluruh bayangan umbra bumi jatuh menutupi bulan, sehingga matahari, bumi dan bulan berada di satu garis yang sama. Tapi kalau Kakak, walaupun aku terjatuh dan gagal, berkali-kali mencoba untuk mendapatkan hati Kakak, dengan pikiran, semangat dan waktu akan aku perjuangkan untuk mendapatkan hati Kakak, agar mimpiku untuk membuat garis keturunan bersama Kakak bukan lah hanya sebuah mimpi ... ."
"Prok ... prok ... prok ..." Bang Risky menepuk tangan.
Sedangkan Kak Viona tampak tertawa kecil, mendengar gombalan ku.
"Gila, keren banget Rik!" kata Bang Risky memujiku.
"Terimakasih Bang ..." kataku sembari menyeringai kecil.
"Gimana Kak, jago, kan!" kembali Kak Viona memujiku.
"Ini lebih dari jago, itu menyatukan gombalan dengan sains, pemikiran yang brilian itu Rik, mantap deh pokoknya ... ."
"Nggak Bang biasa aja, hanya sedikit keahlian diri aja!"
"Hahaha … udah ya Viona pamit ya nggak sanggup Viona lama-lama disini kalau ada Ari Kak ... ."
"Iya, hati-hati ya Vi salam sama ayah dan ibu ya." ucap Bang Risky
"Baik Kak, Assalamualaikum ..." Kak Viona pamit. Namun sebelum Kak Viona melangkah, kan kakinya, Kak Viona sempat memberikan senyuman kecilnya ke padaku, aku pun membalas senyumannya, saat itu aku merasa waktu seperti melambat, aku kembali merasakan perasaan saat pertama kali melihat Kak Viona memasuki ruangan kelas, kami saling bertatapan dan saling melemparkan senyuman dan tanpa kusadari saat itu Bang Risky berada di sebelahku.
"Rik ..." ucap Bang Risky sembari menepuk pundakku.
"Eh, iya Bang ..." aku terkejut, anehnya setelah Kak Viona pergi aku kembali menjadi seperti diriku kembali, aku menjadi kaku dan grogi berada di hadapan Bang Risky.
"Ada yang mau di sampaikan nggak?"
"Sampaikan apa Bang?" tanyaku heran
__ADS_1
"Lah, katanya mau ketemu ibuk Siti Asiyah!"
‘Oh iya Bang, ada Ibunya Bang!"
"Kan lagi nggak ada, barangkali ada yang mau di sampaikan nggk atau mau nunggu di dalam?" ajak Bang Risky
"boleh Bang ... ."
"Ya udah, yuk ..." ajak Bang Risky, kami berdua pun memasuki rumah, sesampainya di ruang tamu Bang Risky menyambut ku dengan menyuruh ku duduk di sofa ruangan tamunya.
"Mau minum apa Rik?"
"Nggak usah repot-repot Bang!" ucapku lirih
"Udah nggak apa-apa, santai aja, teh es mau, Abang buatin bentar ya ... ."
"Baik Bang, terimakasih ..." balasku.
Bang Risky pun segera pergi meninggalkan ku di ruangan tamunya, menuju dapur membuat, kan aku segelas teh es.
Selama Bang Risky sedang membuat, kan aku teh es, satu persatu photo yang berada di dinding ruangan tamu itu. Aku perhatikan secara seksama setiap foto yang ada dan ternyata kusadari wajah mereka berdua sedikit mirip, jadi wajar saja mereka berdua berpacaran, ya karena seperti pepatah yang pernah aku dengar
Di asiknya aku memandang setiap foto yang ada, tak lama Bang Risky pun membawakan segelas teh es yang Ia sajikan untuk ku.
"Gila Rik, abng masih terkesima dengan cara kau menggombal Viona tadi, bisa saja kau kepikiran ya!" kata Bang Risky kembali memujiku.
‘Nggak lah Bang, hanya spontan aja ..."
gumamku.
"Tapi serius keren dan Abang yakin, dengan cara kau menggombal wanita seperti itu, Abang tebak pasti sudah banyak mantan kau!"
"Hmmm … lumayan ..." kataku lirih. Yang sebenarnya aku tidak pernah memiliki mantan satu pun. Aku hanya berusaha menutupinya di depan Bang Risky, entah kenapa malu rasanya kalau aku mengatakan tidak. Aku pun mengambil minuman teh es itu untuk mendingin, kan pikiranku.
"Haha ... kan, tapi wajar sih cewek mana yang nggak klepek-klepek dengar gombalan mu itu, Abang yakin Viona saja pasti udah mulai klepek-klepek sama kamu!"
"Ufuk ... Ufuk ..." Aku tersedak.
__ADS_1
"Kenapa Rik, hahaha .... baru dibilang Viona suka sama kamu udah jadi kayak gini!"
"Nggak apa-apa Bang, kalau soal suka nggak mungkin Bang, selera Kak Viona pasti kayak Abang …" kata ku tertawa kecil sembari mengelap mulutku.
"Maksudnya Rik!" tanya Bang Risky yang kurang jelas mendengar perkataanku.
"Nggak Bang, maksudnya mana mungkin Kak Viona mau sama saya Bang ..." balasku mengalihkan.
"Hahaha ... kan kalau nggak di coba nggak tau Rik!" gumam Bang Risky.
Entah apa maksud dari kata Bang Risky, yang mengatakan 'kalau nggak di coba, nggak tau'. Apakah itu saran atau ancaman untukku, tapi aku berfikir kalau Bang Risky memberikan aku ancaman, karena jelas orang mana yang memberikan saran kepada orang yang baru Ia kenal untuk mendekati pacarnya. Kalau pun pasti ada, Bang risky bukan lah orangnya, namun aku pun mencoba sedikit menantang Bang Risky.
"Emang boleh Bang, Abang nggak marah?"
"Ya nggak lah, emang mau marah kenapa?" gumam Bang Risky.
Saat Bang Risky mengatakan kalimat itu ada kalimat yang rasanya akan langsung spontan mengatakan 'bukannya Kak Viona pacar Abang'. Tapi entah kenapa saat itu tertahan dan aku sangat takut untuk mengatakannya. Padahal entah ketakutan apa yang aku takuti, entah lah tapi saat itu aku hanya takut.
"Hahaha ... nggak Bang, cuman nanya aja!"
"Oh ... kalau hanya sekedar suka aja, Abang nggak marah. Tapi kalau mau macarin harus hadapin Abang dulu!" jelas Bang Risky.
Mendengar perkataan Bang Risky seperti itu ketakutan ku pun semakin bertambah, memikirkan perkataan Bang Risky saat itu tentang menghadapi Bang Risky pasti Dia akan memukulku jika Dia tahu kalau niat ku datang kemari untuk mengatakan kalau aku jatuh cinta ke pada pacarnya dan saat itu aku pun hanya diam dan kembali menyeduh minuman ku.
Dalam diam kami saat itu aku hanya melirik kembali foto-foto yang terpampang di ruangan tamu, sesekali aku menyempatkan menyeduh minuman teh es yang telah di sajikan Bang Risky, aku berusaha untuk tidak menampakan ketakutan ku saat ini, ada sekitar satu menit kami tidak berbicara, saling diam satu sam lain. Jujur aku pun bertambah ragu dengan tujuan ku untuk memberitahukan kalau aku suka pada pacarnya. Tapi pada saat itu entah keberanian dari mana tiba-tiba dengan terus terang aku langsung mengatakan kebenaran maksud ke datangan ku ke sana. Aku yang awalnya sempat ragu, dengan keberanian yang terakhir menanyakan kebenaran statusnya bersama Kak Viona, walaupun resikonya Bang Risky akan memukul wajahku, sungguh aku tidak peduli.
"Bang, aku boleh nanya sesuatu?"
"Iya, mau nanya apa, mau nanya pelajaran, jangan sama Abang tunggu Ibu Asiyah aja bentar lagi juga datang!"
"Bukan Bang, tapi sebelumnya aku harap abng bersikap dewasa dan jangan marah ya Bang!"
Mendengar perkataan ku yang sedikit serius Bang Risky pun sempat heran dan tampak wajahnya seperti bertanya-tanya.
"Iya, boleh sepertinya serius sekali Ri?"
kata Bang Risky heran.
__ADS_1
Jujur saat itu aku sungguh bimbang untuk mengatakan kebenaran bahwa aku suka sama Kak Viona di depan pacarnya yaitu Bang Risky, tapi karena hati ku yang sangat kuat ingin sekali memiliki Kak Viona dengan berani aku pun berterus terang ke pada Bang Risky.
"Aku suka sama Kak Viona Bang!"