Vionalia

Vionalia
Telepati


__ADS_3

"Terimakasih ya Kak untuk semangat nya..’ balas Dian sembari tersenyum.


"Sama-sama Dian ... " balas Kak Syahmi.


Tampak Dian pun beranjak pergi menuju ke mejanya dan saat Dian sedang berjalan menuju mejanya, Kak Syahmi pun kembali memberikan instruksi kepada kami untuk memberikan tepuk tangan kepada Dian, atas keberaniannya membacakan suratnya di depan Kak Syahmi.


"Prok ... prok ... prok …" suara tepukan tangan.


"Baiklah, selanjutnya dari Kakak ya!" ucap Kak Ira sembari melangkahkan kakinya selangkah ke depan.


Terlihat beberapa siswa laki-laki di kelas saat itu, seperti takut akan di panggil oleh Kak ira, mereka hanya berani mengungkapkan perasaan mereka melalui surat, tapi takut untuk mengungkapkan isi surat yang mereka tulis di hadapan orang yang mereka sukai, melihat ketakutan beberapa siswa aku pun berpikir, padahal menjadi salah satu orang terpilih untuk membacakan surat kita sendiri di depan orang yang kita sukai menjadi salah satu hal yang indah, karena berhasil terpilih untuk membacakan di hadapan orangnya secara langsung. Dan surat kita terpilih, bukan kah itu adalah surat yang menarik perhatian dari penerima surat, bahwa surat kita telah berhasil mencuri perhatian dari penerimanya, yang dimana saat ini penerimanya adalah para pembina yang kita idola, kan.


Mataku pun kembali melihat ke arah Iyan, tampak wajahnya sangat berharap untuk di panggil oleh Kak ira, Ia seperti tak sabar menunggu sebuah nama yang keluar dari mulut Kak Ira.


"Yan, tenang nama kau pasti akan di panggil Kak Ira!" kataku menyemangati Iyan sembari tanganku menepuk bahunya.


"Iya Yik, aku sungguh sangat berharap Kak Ira memanggil namaku ... ."


"Tenang, pasti nama kau yang di panggil!"


"Tapi, aku juga sedikit takut kalau Kak Ira tidak memanggil namaku Way!"

__ADS_1


"Iya tapi, kan bukan berarti kesempatan kau untuk mendekati Kak Ira menjadi satu halangan, walaupun kau tidak di panggil olehnya, kan!" kataku mencoba menguatkan Iyan.


"Iya, tapi aku gagal membacakan isi surat cintaku di hadapannya ... ."


"Apalah arti hanya sebuah surat cinta ini Yan, aku pun juga kalau nggak di panggil oleh Kak Viona, tekadku juga tidak akan pudar untuk terus mendapatkan hatinya!"


"Yik, surat cinta ini bukanlah hanya sebuah surat biasa, ini menuliskan pesan hati kita untuk kita sampaikan ke pada pembina idola kita langsung, untuk apa kita menulisnya tadi malam jika kita tidak bisa membacakan isi surat itu langsung di hadapan orangnya dan jika aku tidak berhasil membacakan surat cintaku di hadapan Kak Ira, aku akan menjadi orang yang paling menyesal Yik. Dan bukan kah itu berarti Kak Ira juga secara tidak langsung, memberikan ku pesan bahwa suratku tidak menarik untuk Dia dengar, yang secara tidak langsung bahwa Dia menolak ku!".


Mendengar penjelasan dari Iyan, aku pun sedikit mengerti perasaannya dan hal itu pun juga ikut membuat aku takut jika namaku tidak di sebutkan oleh Kak Viona.


"Febriansyah ..." ucap Kak Ira


Lalu, Iyan dan kedua siswa laki-laki yang berada di meja paling belakang barisan kami, serta seorang siswa di meja barisan ke tiga yang berada di tengah dan sekaligus Iyan berdiri secara bersamaan.


"Hahaha ..." tawa kami di kelas.


Kulihat, tatapan Iyan sangat sinis ke pada dua nama Febriansyah yang juga berdiri di kelas saat itu, yang tak di sangka bukan hanya nama mereka yang sama, bahkan mereka pun menuliskan surat kepada pembina yang sama. Tatapan Iyan seakan-akan Ia sedang berada di sebuah rumah makan padang, saat itu Ia sedang menatap sebuah rendang yang di mana rendang itu hanya tersisa satu dan ada dua orang yang juga sedang berdiri di kiri dan kanannya juga memandang rendang yang sama. Saat itu aku berpikir, pasti Iyan sangat berharap Kak Ira benar memiliki surat Iyan bukan surat Febriansyah yang lain.


"Pita warna biru ..." gumam Kak Ira lirih.


Iyan pun tersenyum, mendengar kata warna pita yang ada di surat Kak Ira pegang dan benar itu adalah surat Iyan. Lalu, kedua nama Febriansyah yang lain tampak kecewa karena surat mereka tidak terpilih oleh Kak Ira, Iyan pun berjalan dengan perlahan sembari menatap Kak Ira, senyuman Iyan yang kulihat seperti kesombongan seperti telah memenangkan hati Kak Ira serta balasan Kak Ira yang menatap lirih kepada Iyan, yang seperti membenarkan atas hal tersebut yang telah benar bersedia menunggu Iyan, kembali aku membayangkan seperti di suasana rumah makan padang lagi, dimana Iyan berhasil mendapatkan rendang yang hanya tersisa satu itu.

__ADS_1


Sesampainya Iyan di hadapan Kak Ira, Ia pun mengambil suratnya itu dari tangan Kak Ira, Ia pun mulai membuka ikatan pita birunya, membacakan isi surat yang ia tulis dihadapan Kak Ira.


"Mungkin, aku bukan lah orang yang bisa langsung membuat mu jatuh hati saat pandangan pertama dan juga bukan lah orang yang bisa langsung membuat mu Rahma Yuli, tunduk di hadapan ku untuk mengatakan kalau aku adalah orang yang kau cinta dan kau inginkan. Lalu, aku bukanlah orang yang mampu mewujudkan mimpi mu hanya dengan menepuk tangan ku.


Tapi, tahukah kamu bahwa aku telah jatuh cinta di saat pertama kali aku memandang diri mu dan aku juga siap tunduk di hadapan mu mengatakan kalau aku adalah orang yang sungguh-sungguh jatuh hati padamu, sungguh-sungguh menginginkan dirimu. Lalu apakah kau mau mewujudkan mimpiku itu wahai Rahma Yuli." isi surat Iyan.


Setelah Iyan membacakan suratnya kepada Kak Ira, aku melihat Kak ira tersenyum malu seta kagum mendengar isi surat dari iyan. Pesan yang begitu singkat namun terdengar jelas dari maksud Iyan sesungguhnya, senyuman tipis yang keluar dari wajah Kak Ira yang mengartikan bahwa Iyan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatinya.


“Terima, terima, terima!" Teriak para siswa dalam kelas.


"Maaf belum bisa ..." kata Kak ira sembari menunduk, kan kepala.


Mendengar perkataan Kak ira, kami seluruh siswa pun seketika diam mendengar jawaban dari Kak ira. Anehnya mendengar perkataan Kak Ira yang berkata 'Belum bisa' terlihat senyuman kecil yang keluar dari wajah Iyan, Ia tidak merasa sedih bahkan galau, kata kami anak-anak zaman itu. Iyan justru tersenyum mendengar perkataan Kak Ira sembari melangkah, kan Kaki beranjak berpaling meninggalkan Kak Ira. Dan tanpa kusadari Kak Ira juga tersenyum saat Iyan beranjak pergi berpaling dari hadapannya, aku melihat mereka seperti saling ber telepati seakan-akan mereka berbicara dalam senyuman dan sungguh hanya mereka berdua lah yang mengerti.


Saat Iyan kembali duduk di sebelah ku, tampak wajahnya masih terlihat bahagia, setelah membacakan suratnya kepada Kak Ira, aku merasa aneh mengapa bukan wajah kekecewaan yang Ia tunjukan, bahkan walaupun kami seisi kelas saat itu tau bahwa cintanya di tolak Kak Ira, Ia tampak tidak memperlihatkan kecewa akan hal itu.


"Sekarang, surat siapa lagi ya yang kita bacain?" ucap Kak Mia


"Kak Viona Kak!" teriak beberapa siswa di dalam kelas.


Lalu kulihat Kak Viona tampak memilih satu persatu surat yang ada di tangannya, satu persatu nama pengirim surat yang Ia baca, sampai akhirnya satu surat pun Ia pilih.

__ADS_1


"Ariansyah ..." kata Kak viona sambil menatapku.


__ADS_2