Vionalia

Vionalia
Hanya Kagum


__ADS_3

"Kenapa ngelihat saya terus!"


"Nggak apa-apa Kak, hanya kagum!" jawabku lirih.


"Cieee …" teriak beberapa siswa di kelas.


Dan tampak Kak Viona hanya tersenyum mendengar teriakan itu dari siswa di kelas.


"Kagum kenapa?" tanya Kak Viona kembali sembari tersenyum tipis.


"Kagum aja Kak, soalnya kalau udah pulang nggak bisa ngelihat Kakak lagi ..."


Entah apa yang terjadi padaku saat itu, aku seperti mendapatkan ke keberanian untuk merayu Kak Viona, padahal aku hanyalah seorang yang cupu yang takut untuk berbicara kepada wanita, apalagi sampai merayu, itu bukanlah sebuah hal yang menjadi kepribadianku. Tapi di hari itu entah kenapa aku bisa mengeluarkan kata-kata rayuan kepada Kak Viona.


"Cieee ... Ayi ..." kembali beberapa siswa menyorakiku. Sedangkan Kak Viona, tampak hanya tersenyum dan kembali ke arah para pembina lain tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi aku tidak mengetahui maksud dari senyuman Kak Viona itu apa, Dia menyukai perkataanku atau Dia justru benci dengan perkataanku tapi hatiku kuat merasakan kalau Kak Viona suka dengan rayuanku.


"Mantap Yik ..." kata Iyan sambil mengacungkan jempol.


Setelah Kak Viona berada di depan papan tulis, Kak Syahmi pun kembali memberikan pengumuman kepada kami para siswa baru tentang beberapa organisasi yang ada di sekolah antaranya Ialah PMR dan Pramukaorganisasi yang sangat di minati para siswa.


"Oh iya, Kakak sampai lupa setelah masa MOS ini selesai di SMA ini juga memiliki beberapa organisasi yaitu PMR dan Pramuka, bagi yang berminat untuk mengikuti PMR untuk pendaftaran itu di urus oleh Kak Andre Ketua osis dan Kak Viona. Dan untuk kalian yang berminat mengikuti Pramukauntuk Pendaftaran nya itu di urus oleh Kak Ira dan Kak Dayat, sekedar informasi Kak Dayat itu pembina osis di kelas sebelah orangnya tinggi, kalau kalian jumpa dengan pembina osis yang paling tinggi di SMA ini, nah itu lah namanya Kak Dayat. Pendaftaran ini di buka mulai besok, bagi kalian yang berminat bisa mendatangi para pengurus yang Kakak sebutin tadi, jelas ya ..." Kak Syahmi menjelaskan


"Jelas Kak ..." teriak seluruh siswa .


Mendengar arahan organisasi yang ada di SMA ini yaitu, Pramuka dan PMR tentu Iyan akan mengajakku untuk memasuki organisasi Pramuka, karena dari kami SD sampai SMP kami selalu bersama-sama mengikuti organisasi Pramuka. Dan untuk kali ini aku akan menolak ajakan Iyan untuk mengikuti organisasi Pramuka dan aku akan memilih PMR, bukan karena aku ingin belajar tentang ilmu PMR, melainkan hanya untuk lebih dekat dengan Kak Viona karena Iyan pernah mengatakan padaku 'Jika kau telah menemukan cintamu, kejar lah Ia sampai Dia menjadi milikmu' dan hal itu lah yang membuat aku bertekad untuk mengikuti organisasi PMR untuk mengejar cinta Kak Viona.


"Yik, ada Pramuka yuk gabung ... ."


"Maaf Yan, untuk kali ini aku akan masuk PMR!"


"Kau yakin kau, kan nggak ada basic PMR!"


"Tujuanku itu masuk PMR bukan untuk belajar ... ."


"Oh, aku paham biar lebih dekat sama Kak Viona ya!"


"Itu paham Way ..." kata ku sembari tersenyum.


"Kudukung Yik, semoga keinginan kau tercapai Amin … ."


"Amin ... ." doaku.


Tepat Pukul 17:00, Seluruh siswa baru pun di perkenankan untuk pulang. Satu persatu para siswa keluar dari pintu gerbang sekolah menuju rumah mereka masing-masing. Sore itu terasa sangat berbeda dengan hari sebelumnya tampak wajah-wajah anak baru hari ini terlihat riang gembira, ada yang sambil bersenda gurau, ada yang bergandengan, ada yang menuju parkiran sekolah karena mengenakan motor karena rumah mereka yang cukup jauh dari sekolah, bahkan ada yang telah di tunggu orang tua mereka untuk di jemput pulang. Apakah pengumuman tentang surat cinta itu pemicunya, jika ia percayalah cinta bisa membuat orang bahagia.


Sore itu aku dan Iyan menunggu Deni di pintu gerbang sekolah.


"Lama kali Deni Yik, pulang duluan aku ya!"

__ADS_1


"Sabar Yan, bentar lagilah tega kali kau ninggalin kawan ... ."


"Kau tau, kan jam segini aku itu harus bantuin Ibuku dulu!"


"Iya tau, bentar aja, tolonglah ..." ucapku sedikit memelas.


Lalu Deni pun datang.


"Lama kali kau Den, kemana kau?" tanya Iyan spontan.


"Maklum Toilet dulu tadi, apa rencana ... ."


"Lah, kata kau mau nemenin Ayik ke tempat pacarnya Kak Viona!"


"Oh iya-iya, yuk OTW ..." ajak Deni


Kami bertiga pun berjalan sambil menyusun rencana untuk memata-matai pacar Kak Viona.


"Den, kau memang betul tau, kan rumah pacar Kak Viona?" tanya Iyan memastikan.


"Tau, aku itu pernah ngelihat Kak Viona datang kerumah cowok itu, aku yakin Adik Ibu Siti Asiyah itu adalah cowoknya!"


"Tapi memang betul yakin kau, kan Den?" kataku kembali memastikan


"Betul, tenang aja Way!"


"Ok, sebelum kita mau memata-matai, kita itu harus punya rencana dulu …" usul Iyan.


"Apa ya Way, nggak ada rencana Way ..."


gumamku sembari menggaruk kepala.


"Nah gini aja, langsung samperin aja tu rumah cowoknya, langsung tanya To Do Point aja!" saran Deni


"Gila kau Den, ya nggak beranilah aku!"


"Kau ini cemen kalilah kawan, biar hati kau itu puas dapat jawabannya!"


"Iya, tapi nggak ada cara lain apa buat mendapatkan jawabannya ... ."


"Ada, tanya dukun gimana!" kembali Deni memberikan usulan.


"Tambah gila usulan kau Den, aku itu hanya mau tau kebenaran Kak Viona punya pacar atau belum, bukan kehilangan emas mau nanya-nanya dukun!"


"Tenang Yik, aku ada rencana!" ucap Iyan lirih.


Tanpa terasa kami bertiga pun sampai ke parkiran sekolah, pada saat itu hanya Deni yang membawa motor dan memutuskan-.

__ADS_1


"Apa Yan?" tanyaku penasaran


"Begini, menurutku saran Deni cukup bagus juga, tapi itu kau jadikan pilihan kedua untuk nanya langsung ke pacarnya Kak Viona ... ."


"Haa, nggak ada pilihan nanya ke siapa dulu gitu selain ke pacarnya langsung ..." ucapku.


"Ini pilihan pertama, bukannya Deni bilang pacar Kak Viona itu adalah Adik dari guru kita sewaktu SMP, Ibu Siti Aisyah nah saranku ntar kalau kau udah sampai di rumah Ibuk Siti Aisyah, kau pura-pura tanya aja tentang pelajaran bahasa Indonesia kepada beliau ... ."


"Iya tapi, kan beliau nggak pernah ngajar aku Way di SMP, beliau nggak bakalan kenal sama aku Way!"


"Iya kenalan aja, Dia pasti tau kau itu alumni SMP. Kau, kan satu SMP sama beliau!"


"Hahaha ... betul!" Deni tertawa.


"Hahaha ... terus habis kenalan aku ngapain?" tanyaku.


"Nah, kau tanya pelajaran sama beliau ... ."


"Kenapa nanya tentang pelajaran?" tanya ku heran.


"Kau tanya saja tentang pelajaran dulu, ntar baru kau tanya tentang adiknya itu kepada beliau, jangan langsung kau tanya tentang kedekatan adiknya itu sama Kak Viona takutnya itu akan menyinggung perasaan beliau kalau tujuan kau kesana hanya untuk menanyakan urusan kedekatan adiknya, bodoh!"


"Hahaha ... betul bodoh!" tawa Deni kembali


"Ok, aku paham ..." ucapku lirih.


"Sekarang tinggal satu masalah?"


gumam Iyan


"Apa!" kataku dan Deni serentak.


"Apa motor kau ini kuat Den, untuk kita bertiga Tartig?" ucap Iyan.


"Aman kalau itu, hantam saja bos ..." jawab Deni.


Kami bertiga pun menaiki motor Deni dengan berbonceng Tartig, di sepanjang perjalanan kami pun hanya diam karena merasa risih satu sama lain karena kurang kenyamanan saat menunggangi motor, terutama kuyakin Iyan yang berada di posisi tengah pasti selangkangannya terasa sakit di tambah terjepit beban berat badan dariku dan Deni, lalu tibalah kami di depan rumah Iyan.


"Serius kau nggak ikut ni?" tanya Deni sembari melirik Iyan.


"Iya, maaf ya Way nggak bisa ngebantuin kau untuk perang sore ini!" ucap Iyan sembari menepuk pundakku.


"Iya nggak apa-apa Yan, doain aku ya ... ."


"Aman dan satu lagi Yik kalau saran aku tadi nggk ke rencana, pakai saran Deni tadi ya!" tambah Iyan


"Yang mana, nanya dukun?"

__ADS_1


"Bukan lah bodoh, yang nanya langsung ke pacarnya Kak Viona!"


"Oh yang itu, baik Yan ..." kata ku.


__ADS_2