
Di malam harinya Aku, Iyan dan Sugeng sedang berada di rumah ku, malam itu kami menulis surat cinta, Aku sudah pasti akan memberikan surat cinta itu kepada kak Viona dan Iyan juga sudah pasti memberikan nya ke pada kak Ira, namun satu lagi teman kami Sugeng yang orang nya sangat Absurd, yang sungguh membuat Aku dan Iyan penasaran kepada siapa surat cinta itu akan di berikannya.
"Kau buat surat cinta, atau buat apa sih Geng, kok ada gambar," tanya Iyan yang sedikit mengintip gambar yang Sugeng buat di balik kertas nya.
"Kau mau nyontek, buat masing-masing lah Yan, aneh kau ni!" kata sugeng sembari menutup gambar nya.
"Kau yang aneh, surat cinta pakai gambar, mana ada surat cinta pakai gambar ..." ucap Iyan
"Way, kreasi orang itu berbeda-beda terserah aku mau pakai gambar atau nggak, kan punya aku sendiri."
"Iya tapi jangan gambar juga kau buat, nggak ada gambar dalam surat cinta wahai Sugeng Rahwono."
Dengan lirih Sugeng pun, berkata. "Perangko."
"Ha ... kau mau kirim surat ini lewat pos."
Aku pun hanya tersenyum-senyum melihat sikap kedua teman ku ini, memang si Sugeng yang orang nya keras kepala tidak akan mau mendengar nasehat dari orang lain dan lawan nya Iyan yang juga keras kepala yang berkomitmen untuk selalu memenangkan jawaban nya.
"Iyalah biar lebih romantis ...’ gumam Sugeng
"Ah ... terserah kau lah Sugeng.’ kata Iyan yang tak mau ambil pusing.
"Kalau kau Yik, mau buat surat untuk siapa Yik?" tanya sugeng pada ku.
"Adalah, kau siapa dulu?" tanya ku kembali.
"Emang ada pembina, namanya adalah?" ucap Sugeng
"Hahaha ... kak Viona Sugeng, kalau kau siapa?"
Sembari tersenyum Sugeng pun berkata. "Aku, Rahasia dong."
"Oh kak Rahasia ...’ kata ku tersenyum tipis.
"Hahaha …" tawa Iyan mengejek Sugeng.
Tanpa kami sangka Sugeng pun membenarkan ucapan ku. "Yap ... ."
Aku dan Iyan pun kaget, bahwa nama kak Rahasia memeng benar ada nya.
"Haa ... nama kak Rahasia emang ada ya?"
__ADS_1
"Ada ..." kata Sugeng singkat
"Pembina di kelas mana Geng?" tanya Iyan
"Dia nggk osis, tapi Dia kakak kelas juga ...’
Mendengar penjelasan dari Sugeng, Aku dan Iyan pun hanya terDiam dan tak ingin menanyakan lagi prihal tentang wanita idaman Sugeng, yang ia katakan bahwa wanita idaman nya itu juga merupakan kakak kelas kami. Bahkan Aku dan Iyan tidak tahu sosok seperti apa wanita bernama Rahasia itu yang bisa membuat Sugeng jatuh cinta.
"Pengen ku tumbuk lah, kepala Budak ini Yik" kata Iyan sembari tertawa kecil
"Hahaha…" Aku tertawa kecil
Di saat Aku dan Iyan sedang tertawa tiba-tiba Sugeng pun menanyakan ke pada ku, mengapa Aku seperti kebanyakan anak-anak baru di kelas nya yang suka sama kak Viona.
"Kau kenapa sih Yik, suka sama kak Viona, dan di kelas ku juga banyak yang suka pada kak Viona?" tanya Sugeng pada ku.
"Bingung Geng, susah untuk di jelaskan, terkadang Aku juga nggak ngerti, tapi inti nya Aku jatuh cinta ke pada nya, hanya itu!" jelas ku.
"Padahal, menurut ku Yik, Dia itu nggak cantik-cantik kali, tapi manis sih."
"Nah, kau yang nggak suka sama Dia aja masih ngelihat Dia itu manis kan, apalagi Aku, yang jatuh cinta sama Dia bisa kau bayangkan kalau Aku ngelihat Dia itu seperti apa ..." jelas ku kembali pada Sugeng.
Dengan heran aku pun berkata. "Kok Semut?"
"Kan semut kalau lihat yang manis-manis ngedekat!"
"Iya tapi analogi mu jangan Semu juga dong, Bidadari, itu yang Aku lihat Geng ... ."
"Eeeaaa ..." ucap Iyan spontan
"Tapi, apa kau yakin Yik bisa mendapatkan Dia?" tanya Sugeng.
"Hmm ... entah lah Way doakan saja."
Tiba-tiba, Ibu ku pun datang dengan membawakan kami es teh yang Ia suguh kan untuk Kami nikmati dan Ibu ku pun sedikit bertanya tentang kegiatan Kami, dan saat itu Aku pun tidak tahu apa Aku berbohong atau tidak, Aku mengatakan kami sedang mengerjakan tugas sekolah, bukan membuat surat cinta, tapi surat cinta itu menurutku juga merupakan tugas dari para pembina, yang artinya adalah tugas sekolah. entah lah, tapi jika saat itu Aku berbohong padamu Bu ampuni Aku Ibu.
"Nah ... ini minuman nya." kata Ibu ku sembari meletakan minuman di atas meja kecil di ruangan tamu Kami yang berada di sebelah kiri Ku.
"Terimakasih Cik (Panggilan Tante untuk di daerah Ku, desa Tanah Merah) ..." ucap Iyan dan Sugeng.
"Acik, perhatiin serius kali kalian, lagi buat apaan sih?" tanya Ibu ku penasaran.
__ADS_1
Aku pun menjawab. "Lagi ngerjain tugas Bu."
"Ha ... masa belum juga belajar udah dapat tugas sekolah?" tanya Ibuku yang semakin heran.
"Nggak tau juga Bu, mungkin di SMA emang seperti itu sistem nya." jelas ku.
"Wah ... jauh ya bedanya sama zaman Ibu, kalau zaman Ibu nggak ada tu tugas kayak gini, zaman sekarang aneh baru tiga hari masuk sekolah, sudah ada tugas, apalagi kalau nanti udah aktif belajar ya." jelas Ibu ku.
"Artinya bagus, kan zaman sekarang, di banding zaman Ibu." ucapku lirih
"Iya bagus, jadi kalian nggk bisa terlalu banyak main di SMA ini, fokus belajar."
Mendengar penjelasan dari Ibu ku, Iyan dan Sugeng tampak hanya tersenyum-senyum.
"Bu, zaman Ibu itu jauh lah ma sama zaman sekarang, zaman Ibu itu masih banyak orang berperang bu, beda zaman sekarang, jadi harus banyak tugas-tugas sekolah nya ... ."
"Tapi kalau di pikir-pikir, pasti bosan kalian sekolah kan kalau terlalu banyak tugas ... ."
"Yap ... betul sekali, Ayik boleh nggak sekolah Bu!"
"Heh ... iya boleh nggak sekolah, langsung sekalian keluar dari rumah ni ya!" ucap Ibu ku tegas.
Iyan dan Sugeng pun tertawa mendengar ucapan dari Ibuku.
Saat Aku dan Ibuku sedang berdebat tentang tugas sekolah, suara tangisan kecil dari Adik ku pun terdengar dan sekaligus menghentikan perdebatan antara Aku dan Ibu ku mengenai tugas sekolah. Untung lah tangisan Kecil itu datang tepat pada waktu nya, menyelamatkan Aku sebelum Aku di kutuk jadi batu oleh Ibu ku.
"Owek … owek ..." suara tangisan Adikku.
"Nah, lanjutin lah ya tugas kalian, nangis pula Adik Ayik .." kata Ibu ku sembari berjalan ke belakang ke arah ayunan Adik ku.
"Iya Cik, makasih ye Cik ..." kata Sugeng dan Iyan.
"Mantap ajaran Ibu kau Way, nggak sekolah, sekalian langsung keluar dari rumah." kata Iyan sembari tertawa kecil.
"Itu cara Ibu Aku sayang, kayak gitu Way ... ."
Dengan spontan Sugeng pun berkata. "berarti kalau Kau, kabur dari rumah Ibu mu pasti tambah sayang Yik."
Aku dan Iyan pun hanya melirik Sugeng dengan tatapan datar.
"Yok lanjut yok nulis nya, jangan hiraukan bisikan-bisikan Setan, yok lanjut yok ..." ucap Iyan. Kami bertiga pun melanjutkan surat cinta yang kami tulis tanpa menghirau, kan perkataan Sugeng.
__ADS_1