Vionalia

Vionalia
Aku Bantengnya


__ADS_3

Aku yang tadinya begitu sangat berharap di panggil oleh Kak Viona, entah kenapa tiba-tiba menjadi sangat gugup dan enggan berdiri untuk melangkah, kan kaki untuk maju ke depan. Para siswa di kelas saat itu langsung histeris berteriak 'Cieee' dan bertepuk tangan saat Kak Viona menyebut, kan namaku meskipun begitu hal itu justru tidak sedikitpun membantuku menumbuh, kan percaya diri untuk maju ke depan.


"Maju Yik, kenapa kau diam!" ucap Iyan, yang heran melihatku.


"Aku nggak tau Yan, tiba-tiba aku jadi nggak percaya diri."


"Nggak percaya diri, kau mau namamu di gantiin yang lain!"


Aku pun dengan lirih berkata. "Tentu, tidak Yan."


"Ya maju, waktunya dengan surat yang kau tulis itu, kau sentuh hati Kak Viona, dan buat hal ini menjadi sebuah kesan yang tidak pernah di lupakannya!" kata Iyan sembari menarik lenganku dan mendorong bahuku sehingga hal itu membuat aku menjadi berdiri. Setelah aku berdiri dan melihat kearah Kak Viona, dengan perlahan aku melangkah, kan kakiku berjalan menghampiri Kak Viona, semakin langkahku mendekatinya suara teriakan serta tepuk tangan para siswa di kelas semakin kerasku dengar. Mereka seperti tampak menonton pertunjukan Matador yang sedang di kejar banteng, yang tentu saja Kak Viona adalah Matadornya dan aku Bantengnya, namun hal itu justru belum juga membantuku untuk menumbuhkan keberanian, 'kepribadian kedua dimana kau' ucapku lirih di dalam hati, dengan Kaki yang bergetar serta hati yang cenat cenut tanpa kusangka aku pun berhasil menghampiri Kak Viona. Saat ini aku tepat berdiri di depan nya, dengan perlahan aku menggapai tangannya untuk mengambil surat yang ada di genggamannya, dan kembali Kak Viona tersenyum kecil melihat tingkahku saat itu. Namun walaupun aku telah melihat senyuman kecil dari wajah Kak Viona dari jarak sedekat ini, yang entah kenapa anehnya sifat liarku justru masih enggan untuk keluar pada saat ini, berbeda dengan kemarin saat aku telah melihat senyuman Kak Viona kepribadianku langsung keluar dengan tiba-tiba, lalu saat Kak Viona memberikan surat yang aku tulis itu padaku, tanpa sengaja jari kami saling bersentuhan, aku seperti merasakan Kak Viona memberikan Aku energi untuk percaya diri membacakan surat yang aku tulis. Aku pun mengambil surat itu dan menatap wajahnya, saat ini posisi wajah kami sangat dekat, hanya berjarak kurang dari setengah meter, matanya yang begitu indah dan lesung pipitnya yang menambah membuat aku kagum betapa cantiknya Dia, dan akhirnya sifat liarku muncul.


"Selamat siang Kak Viona, salam cinta dari Fans yang berada di dalam kelas bimbinganmu ini, jujur sungguh aku tidak mengerti apa yang dinamakan cinta, karena aku belum pernah merasakan hal itu dari aku mulai berakal baligh. Aku banyak tahu tentang kata-kata yang dimana orang-orang bilang kalau kita merasakan jatuh cinta dunia terasa hanya milik berdua dan manusia lainnya hanya lah pengunjung saja, dan percayalah aku merasakan itu saat aku melihat dirimu. Dan ada lagi yang bilang kalau kita jatuh cinta kepada seseorang, walaupun tidak melihat orang itu cukup melihat genteng rumah orang itu, kau kembali mengingat wajahnya yang membuat kau jatuh cinta kepadanya lagi, dan percayalah aku juga telah merasakan hal itu walaupun hanya melihat genteng rumahmu. Saat ini mungkin Kakak berfikir aku hanyalah seorang Adik kelas yang seperti kebanyakan adik-adik kelas yang pernah Kakak bimbing sebelumnya, tapi percayalah aku sangat jatuh cinta saat pertama kali melihatmu dan hingga kini cinta itu belum hilang justru terus bertumbuh. Hanya cukup melihat wajah Kakak, sudah cukup meyakin, kan diriku betapa jatuh cintanya aku padamu Kak. Senyuman Kakak yang selalu berhasil membuat aku berhalusinasi, sehingga aku candu untuk terus melihat senyumanmu. Dan namamu, ijin kan aku untuk mengartikan; Vionalia.


V, visiku mendapatkan dirimu

__ADS_1


I, indahnya bila selalu bersamamu


O, otakku selalu memikirkan dirimu


N, namamu akan selalu ada di hatiku


A, akan ada waktunya kau akan aku miliki, percayalah sementara kita belum bersama, tapi aku tetap mencintaimu. Aku akan berhenti mencintaimu sampai aku tidak bernafas lagi.


Aku Fansmu Ariansyah." isi suratku


Lalu aku pun melangkah, kan Kakiku menuju meja dudukku, saat aku berjalan aku pun tidak segan lagi untuk menoleh, kan wajahku ke arah Kak Viona. Dan ya, aku menolehkan wajahku menatap wajahnya, kami saling menatap satu sama lain sehingga membuat fokusku hilang, sampai-sampai aku menabrak meja karena terkesima memandang Kak Viona, Akibatnya seluruh siswa pun tertawa melihat tingkahku.


"Hahahaha …” tawa seluruh murid di kelas, aku pun segera bergegas kembali ketempat dudukku.


"Nggak nyangka aku Way, hebat juga kau buat surat!" ucap Iyan memujiku.

__ADS_1


"Ada beberapa kalimat, aku ambil dari dialog Film Yan ..."


"Walaupun begitu, kuyakin Kak Viona sudah mulai tersentuh hatinya sama kau ... ."


"Amin, semoga Yan aku sangat berharap karena hal ini aku bisa semakin dekat dengan Kak Viona."


"Aku turut senang akan apa yang kau harap, kan kawan, tapi aku hanya ingin mengingat, kan bahwa kau belum tahu siapa pacar Kak Viona, semoga ini hanya pikiranku, halangan kau kedepannya akan sedikit lebih berat way!"


"Jadi, apa yang harus aku lakukan ... ."


"Tetap tangguh, kan diri kau selama jalur kuning belum melengkung yang artinya Kak Viona masih milik siapa saja, dan kuyakin kau telah satu langkah lebih dekat darinya karena hal ini."


Aku pun hanya tersenyum setuju dengan perkataan Iyan. Di asiknya aku dan Iyan mengobrol, di kelas masih berlangsung kami para siswa bergilir untuk membacakan surat yang telah kami berikan ke pada pembina kami di kelas banyak dari siswa terlihat senang telah membacakan surat cinta mereka masing-masing kepada para pembina yang di tuju, kesenangan itu bukalah tanpa sebab, karena menulis surat cinta itu bukanlah hanya soal menulis, tapi penyampaian isi pesan tulisan sangatlah penuh kejujuran serta harapan karena menulis surat cinta di peruntukan kepada orang kita sukai dan berharap penerima dapat merasakan isi dari surat yang telah di tulis.


Tepat di jam 17:00 sore kami para siswa pun di perkenankan untuk berkumpul lagi di lapangan dan kali ini kami tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya, kebingungan kami bukan tanpa sebab karena tepat di aula lapangan telah berdiri beberapa orang tua yang tampak seperti Guru mengenakan pakaian-pakaian rapi.

__ADS_1


__ADS_2