
Setelah pembacaan doa selesai kami para siswa dan para pembina diberikan instruksi untuk membuat lingkaran barisan, kami seluruh siswa baru dan para pembina osis yang berjumlah 20 orang disatukan didalam sebuah lingkaran. Tak lama setalah barisan lingkaran terbuat, lalu beberapa anggota osis pun memasuki lingkaran barisan. Tepat di tengah-tengah lingkaran telah tersusun sebuah pentas kecil dan telah tersedia mikrofon lengkap dengan alat musik gitar, Ternyata pertunjukan itu di peruntukan kepada kami para murid baru dan sebagai perpisahan bahwa sayanya kegiatan MOS telah usai, pertunjukan pertama diisi oleh para pembina osis wanita berjumlah enam orang, mereka mempertunjukan Dance dengan kurun waktu 7 menit lamanya, mereka menarikan sebuah pertunjukan Dance K-Pop yang tampak hampir dari semua wanita baik anak baru dan pembina dengan semangat mengikuti gerakan Dance, setelah penampilan Dance selesai, pertunjukan kedua diisi oleh Kak Andre dan Kak Ari mereka berdua menampilkan pertunjukan bernyanyi, dimana Kak Andre yang bernyanyi dan Kak Ari sebagai Gitaris, dan lagu yang mereka bawakan ialah sebuah lagu dari Lovarian yang berjudul Perpisahan Termanis tampak saat awal bait masuk lagu kami para siswa dan pembina osis bernyanyi bersama, dan momen ini adalah sebuah momen termanis yang pertama kali kurasakan di SMA ini, dan benar yang di katakan Kak Andre bahwa masa MOS inilah masa dimana kita mengenang kegiatan MOS ini nantinya, ada tawa, marah, bahkan haru semua tercampur dalam momen ini, dan saat kami bersama menyanyikan lagu perpisahan termanis ini, aku masih berusaha untuk melihat lagi Kak Viona yang saat ini tepat berada lingkaran di deretan tidak jauh dariku, jarak kami hanya dibatasi 15 siswa. Saat aku menyanyikan lagu ini degan sembari memandang wajahnya yang hanya sedikit dapat kulihat dari samping kiri wajahnya, timbul perasaan tenang, damai namun ada sedikit perasaan sedih muncul secara tiba-tiba, dimana aku telah sadar bahwa beberapa bulan lagi Ia akan pergi meninggalkan SMA ini, meninggalkan aku disini, bahkan tanpa aku tahu apakah aku bisa mendapatkan hatinya sebelum Ia pergi, atau apakah aku hanya akan menjadi sebuah kenangan manisnya saat Ia telah lulus nanti, dan tanpa sempat mengungkapkan padanya bahwa aku telah benar-benar ingin memiliki hatinya, ingin menjaganya dan kelak ingin menjadikannya seorang teman hidup di kala tua nantinya.
Tepat di jam 18.00 WIB, kami seluruh murid baru keluar dari pintu gerbang sekolah, semua wajah siswa sore itu tampak sangat bersemangat setelah mendengar cerita motivasi dari kepala sekolah, perpisahan yang termanis yang di berikan oleh para pembina osis, aku yakin saat ini para siswa hampir setengah dari kami murid baru ingin bercita-cita menjadi seorang Guru di SMA ini, sedikit gumaman cerita yang kudengar saat para siswa berjalan melintasiku dan Iyan,
"2023 aku bakalan jadi Guru" salah seorang siswa berkata pada temannya.
"Iya semngat ya, aku juga akan menjadi Guru di SMA ini" kata teman siswa yang lain.
Bahkan ada salah seorang siswa berteriak ingin menjadi Guru.
"Aku menjadi Guru pendidikan Agama!"
__ADS_1
Teriak seorang siswa.
Bahkan banyak siswa juga yang membicarakan tentang pertunjukan perpisahan yang di gelar oleh para pembina tadi, tampak semua siswa baru hari ini sangat gembira, aura positif yang keluar dari mereka sangat indah terasa, senyuman, tawa menjadi simbolis iringan perjalan kami para siswa menuju pulang kala itu. Para pembina telah berhasil menciptakan sebuah perpisahan yang pastinya akan kami kenang hingga nantinya saat mereka telah pergi meninggalkan SMA ini, 'Terimakasih' mungkin itu kalimat Simple yang inginku utarakan kepada para pembina osis untuk angkatan kami para siswa baru tahun ajaran 2013 SMA Negri 01 Tanah Merah.
Namun di perjalanan menuju pulang aku dan Iyan hanya tertawa kecil mendengar banyak dari para siswa yang ingin menjadi Guru.
"Kau tak ingin menjadi Guru juga?" Tanya Iyan sembari tertawa kecil
"Hahaha ... iya juga ya mungkin akan kupikirkan, tapi gimana kalau gini aja, kalau kau berhasil dapatkan hati Kak Viona, sebelum kelulusan Dia, aku janji bakalan ikut tes jadi Guru setelah selesai kuliah nanti!"
"Hahaha.., yakin emang kita bakalan masih ingat?" ucapku lirih.
__ADS_1
"Iya, kita coba tulis nanti gimna caranya supaya bisa ingat, kalau perlu nanti di kamarku, akan aku tulis besar-besar tentang taruhan ini, gimna setuju nggak!"
"Kayaknya jangan lah Yan, mungkin aku belum bisa kuat menyakinkan kau, tapi satu hal atas kejadian yang tadi di kelas terjadi kuyakin bahwa langkahku mendapatkan hati Kak Viona telah dekat kurasakan!"
"Benar juga ya, aku hampir lupa kalau kau tadi telah berhasil membacakan surat cinta kau, benar yik, kuyakin kau telah semakin dekat untuk mendapatkan hati Kak Viona ... ."
Bahasan demi bahasan kami cerita, kan sembari iringan perjalanan menuju pulang, Langkah demi langkah penuh dengan semangatku langkah, kan namun aku bukanlah bersemangat mendengar pidato dari kepala sekolah. Melainkan bersemangat karena berhasil membacakan suratku kepada Kak Viona, surat yang aku tulis, tidak menjadi sia-sia walaupun Kak Viona belum menerima cintaku, tapi aku sangat begitu yakin bahwa kesempatanku untuk mendapatkan hatinya sudah sangatlah dekat, bahkan saat saat aku di parkiran dan memandang sepeda motor nya otak ku dengan cepat berpikir bagaimana caranya agar aku bisa berduaan dengan Kak Viona, sempat terlintas di benakku untuk membocorkan ban motornya mungkin dengan begitu saat Kak Viona membutuhkan pertolongan, saat dia sadar ban motornya bocor dan aku dengan sigap datang lalu membantunya, dengan begitu Kak Viona langsung berterima kasih padaku, lalu memintaku untuk menjadi pacarnya dan akhirnya kami pun berpacaran. Entahlah mungkin itu suatu pemikiran yang aneh yang ada di pikiranku. Dan kenyataannya aku pun hanya melintas di motor tepat motor Kak Viona terparkir dan tanpa sama sekali menyentuh motornya, lalu pulang dengan rasa kepikiran yang masih terngiang di pikiranku, ada rasa kecewa karena tidak jadi melakukannya. Namun pasti akan menjadi rasa malu jika saat ingin membocorkan bannya, aku malah ketahuan olehnya, dan akan menjadi salah satu tombak untukku bahwa karena hal itu Kak Viona justru akan menjadi jauh dariku.
Tepat di malam harinya setelah aku menyelesaikan ibadah sholat Isya aku kembali pergi ke tempat tongkrongan kami biasa di warung Bang Dani.
Disana tampak sepi, hanya ada dua orang pria dewasa yang sedang tampak asik bermain catur, dan malam ini tanda-tanda kemunculan Iyan juga enggan terasa, padahal setiap malamnya Ia tidak pernah absen untuk nongkrong di warung Bang Dani ini, lalu aku pun duduk dan memesan kopi dingin sebagai teman dudukku. Tak lama aku merenung di kesendirianku, datanglah dua teman yang sangat akrab semasa kecilku yaitu Sugeng dan Randi atau yang sering kami sapa si Bedol. Bedol adalah sesosok teman yang satu Server dengan Sugeng, untuk menggambar, kan seorang Bedol cukup dengan bilang 'Kalau kalian kenal Sugeng, ini Sugeng versi sawo matang dengan wajah yang berbeda' mereka sangat mirip dari tingkah laku mereka, apa identik terbesar dari perbedaan mereka selain bentuk fisik, mungkin hanya itu, bahkan aku yang telah juga lama menjadi teman mereka dari SD, sampai saat ini masih bingung untuk mencari perbedaan dari mereka. kalimat-kalimat yang aneh mereka keluarkan terkadang bisa membuat suasana sunyi menjadi kian terasa ramai, sebuah kehadiran yang tak di undang tapi menjadi kebutuhan di kala suasana sepi di saat malam ini.
__ADS_1