Vionalia

Vionalia
Bisik Bulan


__ADS_3

Dimalam harinya setelah selesai Sholat Isya, aku dan Iyan sedang menongkrong di warung Bang Dani yang tak jauh dari rumah kami. Bang Dani adalah pemiliki warung yang menjadi tempat tongkrongan aku dan Iyan sejak kami mulai masuk di kelas 2 SMP.


Sejak saat itu hingga kini hampir setiap malam kami selalu menyempatkan untuk menongkrong di sini.


Bang Dani adalah seorang pria yang berumur sekitar 27 tahun namun bersifat seperti ke wanita-wanitaan, orang-orang kampung pun menyapanya dengan panggilan Bang Dani orangnya sangat ramah, dan sering bercanda dengan para warga. Walaupun Bang Dani di kenal baik oleh warga dan sering bercanda. Tapi Ia selalu tidak hadir di saat mengikuti jadwal ronda malam, pada hal dulu ia pernah membantu menangkap maling saat ronda. cerita nya dulu, pernah sekali ia mengikuti ronda malam, pada saat meronda ada sebuah kejadian para penjaga ronda mendengar teriakan 'Maling ...' di salah satu rumah warga yang tak jauh dari tempat ronda, seketika para warga yang sedang berjaga pun bergegas menghampiri ke arah teriakan itu, pada saat itu Bang Dani sedang tertidur dan tidak pergi mengikuti warga yang lain. Tak lama, terdengar seorang warga mengetuk lonceng di pos ronda, beberapa warga pun berdatangan ke pos dan bertanya.


"Ada apa pak, ada apa?" tanya para warga.


"Ada maling pak disana!" kata warga yang mengetuk lonceng sembari menunjuk.


Seketika para warga pun bergegas ke arah tunjukan warga yang mengetuk lonceng.


Tak lama dari keributan di pos ronda, Bang Dani pun terBangun dan melihat kearah seorang yang mengetuk lonceng tadi, ia pun langsung bertanya apa yang sedang terjadi.


"Pak, ada apa pak?" tanya Bang Dani kaget.


Seorang warga itu pun juga kaget karena tidak mengetahui ada Bang Dani yang sedang tertidur di POS itu.


"Ada maling Bang, buruan pergi kesana!"


"Rumah siapa yang kemalingan pak?" tanya Bang Dani kembali memastikan, tampak orang itu pun hanya terdiam dan tidak mengetahui rumah siapa yang kemalingan.


"Eeee … rumah, pokoknya disana ke malingnya, kamu kesana aja saya mau ngebangunin warga yang lain!" ucap Orang itu terburu-buru mengambil tas yang ada di bawah POS ronda, saat itu Bang Dani sudah curiga dan seperti tak mengenal seorang warga yang membunyikan lonceng itu.


Dan benar saja pada saat seorang warga yang tidak di kenal itu ingin bergegas pergi, Bang Dani pun dengan sigap menarik tas orang yang tidak di kenal itu dan kembali mengetuk lonceng sembari berteriak.


"Malingnya ada di sini …" teriak Bang Dani.


Alhasil, berapa warga yang tak jauh dari POS tadi pun kembali kearah POS karena mendengar teriakan dari Bang Dani, sedangkan Bang Dani sedang tarik-menarik tas dengan seorang warga yang tak di kenali itu. Pada saat seorang warga yang tak di kenal itu ingin melepaskan tasnya dari genggaman Bang Dani, orang yang tak di kenal itu pun mengeluarkan pisau dari kantongnya dan langsung mensayat tangan Bang Dani, akhirnya Bang Dani pun melepaskan genggamannya dari tas itu. Dan orang yang tak di kenal itu pun langsung bergegas lari, namun baru beberapa langkah, orang tersebut pun berhasil di tangkap warga yang berbalik arah ke Bang Dani tadi.


Dan semenjak kejadian itu Bang Dani pun tidak pernah mengikuti jadwal ronda malam lagi di kampung kami.


Malam itu aku dan iyan sedang duduk di kursi warung Bang Dani sambil menunggu minuman kami yang sedang disajikan olehnya.


"Sepertinya bakalan ada kesempatan kau untuk mendapatkan Kak Ira Way!" kataku sambil melihat bulan yang sedang terang malam itu, yang cahayanya menyinari kami yang sedang duduk di bangku warung Bang Dani.


"Iyalah, kan sudah kubilang akan aku dapatkan hati Kak Ira itu Yik ..." kata Iyan yakin.


"Iya kuakui, kau memang jago dalam merayu Yan ... ."


"Mau aku ajarin ... ."


"Aku nggak yakin Yan, bakalan handal bisa seperti kau ..." ucap ku lirih.

__ADS_1


"Aduh cupu kali kau Way, merayu cewek kau nggak berani, gimana!" kata Iyan meledekku.


Aku pun hanya tersenyum karena setuju dengan perkataan Iyan. Saat kami berdua sedang asik berbicara datanglah Bang Dani mengantarkan minuman kopi sebagai teman tongkrongan kami berdua.


"‘Ngomongin apan sih, seru banget kayak nya ..." tanya Bang Dani sambil meletakan minuman kami.


"Biasa Bang, masa remaja kayak nggak pernah aja Bang ..." jawab Iyan


"Iiihhh ... lagi seru-serunya tu, tapi ingat jangan lupa diri ya!"


"Lupa diri, emang kenapa Bang ..." tanyaku heran


"Iya jangan dong, kalau lupa diri nanti bisa nyusul kayak Abng ..." kata Bang Dani sembari meninggal kan kami, lalu aku dan Iyan pun melanjutkan pembicaraan kembali.


"Hahaha ... ada-ada aja Bang Dani ..." tawa Iyan sambil mengangkat gelas minumannya.


"Hmmm, iya juga sih!" kataku lirih sembari memandang bulan.


"Astagfirullah ... kau mau nyusul Bang Dani!" kata Iyan kaget.


"Bukan itu, soal tadi aku cupu!"


"Ahh ... kupikir kau mau nyusul Bang Dani.


"Semoga Yan, sampai sekarang aja aku nggak tau kriteria cewek yang aku suka itu seperti apa?"


"Kau tau, yang ngebuat aku jadi ada tujuan untuk ngikutin MOS ini apa?"


"Tau, karena Kak Ira, kan!" jawab ku.


"Tepat, apa kau pikir aku itu masuk SMA itu buat nyari Kak Ira ... ."


"Nggak tau, mungkin ... ."


"Ya nggaklah bodoh, aku aja nggak kenal sama Kak Ira, baru di SMA ini ketemu!"


"Terus?" tanyaku


"Aku itu hanya suka pada Kak Ira tanpa menilai kriteria kesukaanku atau kehidupannya seperti apa, mau matanya minus, Dianya kaya, bahkan aku nggak peduli soal itu, yang aku pedulikan aku hanya cinta padanya, jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya, tanpa melihat kekurangan atau kelebihannya dan satu lagi kami itu seiman, itu yang penting!" kata Iyan menjelaskan sembari memandangku dengan memicingkan matanya.


"Jadi, menurut kau aku itu harusnya gimana? tanyaku kembali.


"Kau ubah pemikiran kau tentang kriteria wanita, cinta itu nggak perlu penilaian. Cukup kau rasakan saja, bila sudah kau rasakan kau harus dapatkan tanpa harus melihat kelebihan atau pun kekurangan seorang wanita itu, cinta itu bukan sebuah perusahaan yang harus menilai seseorang dahulu agar bisa bekerja, cinta ya cinta, tak butuh kriteria." kata Iyan memberikan ku nasehat.

__ADS_1


Aku pun masih sedikit bingung dengan nasehat Iyan, namun dari nasehatnya sedikit membuat aku tersadar, bagaimana kesalahanku selama ini yang mengharuskan aku mendapatkan wanita yang sesuai kriteria ku, tanpa kutahu tujuan dari kriteria itu apa. Dan mulai malam itu aku pun menghapus kata kriteria wanita dalam pemikiranku. Memulai mencari cintaku tanpa melihat kekurangan atau pun kelebihan dari seorang wanita.


"Saat ini Way, aku itu rasanya pengen cepat-cepat matahari itu terbit ... ."


"Emang kenapa?" kataku sembari menyeduh kopi.


"Hanya untuk bisa memastikan, bahwa besok aku masih bisa bertemu dengan bidadariku Yik, yaitu Kak Ira, salah satu bidadari tuhan yang tuhan ciptakan untukku ..." ucap Iyan sembari mengepalkan tangan dan menyeduh kopinya.


Aku tau Iyan bukan baru kali ini jatuh cinta kepada seorang wanita tapi untuk kali ini, aku ngerasa Ia sangat berlebihan jatuh cinta kepada Kak Ira, sampai-sampai berbagai macam kata puitis keluar dari mulutnya dan begitu banyak pujian yang tertuju untuk Kak Ira. Malam itu aku sampai susah membedakan apa dia hanya bercanda atau memang benar-benar sudah jadi gila karena jatuh cintanya kepada Kak Ira.


"Kalau mau ngeliat bidadari jangan nunggu besok, itu ada!" kataku sambil menunjuk Bang Dani, seketika Iyan pun terbatuk dan memuncratkan minuman kopi yang baru di minumnya karena ketawa, saat aku menunjuk Bang Dani.


"Hahaha ... kenapa kau Way ..." tanyaku sembari tertawa melihat Iyan terbatuk-batuk.


"Ufuk ... ufuk ... itu bukan bidadari, bidada itu, nggak ada bidadari berjenggot ..." balas Iyan sembari membersihkan mulutnya.


‘Hahaha ... bidada ..." aku tertawa.


"Oh iya, tadi kamu ingat nggak, pas Kak Ira ngomong?"


"Heh ... mulai lagi Kak Ira terus ..." kataku bosan.


"Serius, soal ada satu lagi pembina yang nggak datang namanya Kak Vi- Viona, ingat nggak?" tambah Iyan.


Aku pun berusaha mengingat perkataan Kak Ira saat kami di dalam kelas dan tetap saja aku tidak mengingat nama Viona yang Iyan ucapkan.


"Emang ada, nggak ingat aku Yan, lagian apa urusannya coba yang penting itu pembina nggak cerewet kayak si Mangga, cukup!"


"Ada, kau nggak penasaran, Viona dari namanya aja sepertinya orangnya cantik."


"Way, kau itu cukup satu ajalah jangan semuanya mau kau pikirkan, Kak Ira lah, Viona lagi, satu aja belum tentu kau bisa dapat. Ingat masih sedikit kesempatan kau untuk dapat, kan Kak Ira paham, bukan pasti!"


"Jika aku tidak bisa mendapatkan cinta Kak Ira, menjadi orang yang pernah di kenalnya saja aku sudah sangat bahagia Yik ..." Iyan kembali berpuitis.


"Lama-lama bosan aku dengar puitis kau Yan, jadi ngantuk aku di buat kau ... ."


"Kayaknya seperti kode tu, kau mau balik!"


"Iya, bisa jadi gila aku terlalu lama dengar kata-kata puitis kau!" balasku sembari berdiri dan meninggalkan Iyan di warung Bang Dani


"Yik, sini dulu cepat kali pulangnya minum kopi kok ngantuk, Bang Dani aja pulang subuh!" teriak Iyan.


"Iya, kau aja yang pulang subuh biar cepat nyusul Bang Dani, Assalamu'alaikum ..." balas ku mengakhiri pembicaraan kami.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju rumah, sedikit terlintas ucapan Iyan dalam pikiran ku yang mengatakan indah nya rasa cinta dan juga tentang jangan pernah menilai wanita. Aku pun hanya tersenyum sendiri di jalan mengingat perkataan itu. Malam itu jalan ku di terangi oleh cahaya bulan yang begitu indah, bulan seakan tersenyum melihat ku. Cahaya bulan yang turun seperti membisik kan sesuatu yang sempat Iyan ucap juga tadi 'Viona ...' itu bisikan bulan, tiba-tiba aku pun berhenti dari jalan ku, melihat ke arah bulan sembari mengucap kan nama Viona kembali , entah kenapa ada perasaan senang dalam hati saat mengucap nama itu. Aku pun tersenyum dan melanjutkan jalanku.


__ADS_2