
"Kalau kamu mau tidur saranku jangan di ruangan osis, karena disana bukan tempat tidur, kasian kami yang niat dan sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk menjadi pembina osis di tahun ini."
"Ahh ... kau pikir aku mau jadi Pembina, karena di pilih sama Ketua aja makanya aku jadi pembina!" kata Angga dengan nada yang sedikit tinggi.
"Beruntunglah kamu yang di pilih sama Ketua, kan nggak semua osis yang di pilih Ketua untuk jadi Pembina. Udah santai aja, kan kalau Viona udah datang kamu nggak jadi pembina kelas lagi, mohon kerjasamanya Ngga untuk hari ini"
"Siap bos ..." jawab Angga sembari memberikan tangan hormat kepada Syahmi.
"Aku tinggal dulu ya, aku mau nemuin Ketua dulu mau nanyain kejelasan tentang Viona, aku titip kelas ya ... ."
Dengan wajah ketus, Angga pun menjawab. "Ok, bos."
Setelah mendengar jawaban dari Angga, Syahmi pun izin kepada Mia dan Ira untuk menemui Ketua osis untuk mengetahui kabar yang jelas dari Viona.
"Mia, Ra aku mau nemuin Ketua dulu ya ada yang mau di tanyain ..." ucap Syahmi.
"Oh ok ..." balas Ira sambil mengangkat jempolnya.
"Ikut dong Mi ..." ucap Mia murung.
"Bentar aja, nggak lama kok ... ."
"Hmm, ya udah deh jangan lama ya."
"Lebay, kayak mau pergi perang aja!" potong Angga. Syahmi pun melirik sinis pada Angga, sembari berjalan meninggalkan ruangan kelas.
Di saat seluruh Siswa berkenalan aku dan Iyan pun kembali berbincang dan tak ikut serta untuk berkenalan kepada Siswa-Siswa yang lain. Karena, memang di dalam kelas sudah banyak juga Siswa yang telah kami kenal, yang juga satu SMP bahkan satu SD dengan kami. Jadi, akan kemungkinan kecil bagi kami untuk mendapatkan hukuman, karena di dalam kelas ini sudah banyak siswa yang telah kami kenal.
"Asli Yik, kak Ira wanita yang selama ini aku cari!" kata Iyan, yang tiba-tiba mengutarakan perasaannya padaku.
"Alhamdulillah, semoga dapat Yan, tapi orang yang kayak kak Ira ini menurutku bakalan susah Yan. Kau tau sendirikan rumahnya tadi dimana, AIC salah satu perumahan elit Yan!" kataku yang entah menyemangati Iyan atau justru mematahkan semangatnya, tapi kalimat itulah yang ada di pikiranku dan aku hanya ingin membuat Iyan yakin untuk mendapatkan hati kak Ira adalah hal yang sulit. Secara, dari alamatnya saja di AIC
dan AIC merupakan perumahan paling elit yang ada di desaku saat ini, di tambah kak Ira juga mengatakan kalau dirinya masih belum siap untuk pacaran, yang mungkin hanya sebuah alasannya. Yang mungkin sebenarnya sudah banyak cowok yang di tolaknya dikarenakan belum mendapatkan cowok yang setara dengan kehidupannya.
Dan pasti kriteria cowok yang di inginkan kak Ira, salah satunya adalah orang yang juga kaya seperti dirinya jadi tak akan mungkin kak Ira bakalan mudah hatinya di dapatkan oleh Iyan. Yang aku tahu masalah ekonomi mereka berdua sangatlah jauh berbeda.
__ADS_1
"Ayo, 3 menit lagi!" teriak kak Mia.
Sontak saja semua Siswapun tampak panik mendengar waktu yang semakin habis, tapi aku dan Iyan masih tidak memperdulikan waktu yang semakin habis. Kami tetap santai dan masih meneruskan bercerita.
"Nah, ini yang harus kau pelajari Yik, cinta itu nggak memandang harta, cinta ya cinta, harta ya harta, nggak bisa kau pandang sama ..." ucap Iyan dengan penuh kebijakan. Akupun tidak mengerti, apa maksud dari perkataannya. Menurutku seseorang wanita itu otomatis memandang harta Pria agar bisa hidup nyaman buat ke depannya. Dan menurutku harta adalah sebuah persembahan untuk mendapatkan hati seorang wanita, sebagai sesajen untuk menerima cinta kita.
"Coba kau jelaskan apa beda nya?" tanyaku.
"Harta itu, mudah di cari dan di dapatkan. Dimana pun masih bisa kita cari, bisa di dalam tanah, berupa harta karun. Tetapi kalau cinta bakalan sulit Yik, kau gali sampai 1000 meter pun nggak akan bisa kau dapatkan, apalagi mendapatkan sebuah cinta yang kau inginkan, mungkin mudah kalau hanya mengatakan cinta di mulut. Tapi untuk mengatakannya di dalam hati butuh perasaan yang benar-benar sebuah perasaan dan saat mencari sebuah cinta itu pun sulit Way. Akan tetapi jika kau sudah mendapatkannya bakalan akan kau kejar dan harus kau miliki, dan kau tau, itulah cinta yang aku rasakan saat ini ke pada kak Ira." kata Iyan mencoba menjelaskan tentang perasaan cintanya. Dan dari Iyan aku pun sedikit mengerti apa yang di katakan nya padaku saat ini. Cinta itu harus di perjuangkan dan sulit untuk di dapatkan, namun bila sudah dapat akan kita kejar dan tak akan henti di kejar sampai sebelum kita memilikinya.
"Ayo adek-adek, 2 menit lagi ..." tambah kak Ira.
Semua Siswa pun bertambah panik.
Tak lama, kak Angga pun berdiri
dan berteriak.
"10, 9, 8, 7, 1, stop, waktunya habis!" teriak kak Angga.
"Semua kembali ketempat duduk masing-masing!" gumam kak Angga memerintah para Siswa-Siswa.
Semua Siswa pun kembali ketempat duduk mereka masing-masing, sementara kak Mia dan kak Ira pun hanya terdiam mendengar perkataan dari kak Angga. Lalu kak Angga pun menatap aku dan Iyan dengan tatapan tajam sembari perlahan berjalan ke arah kami. ‘Dari tadi saya perhatikan si jengkol dan si bayam ini, asik ngegosip, cowok ngegosip"!
Aku dan Iyan pun hanya terdiam.
‘Kamu, bayam berdiri!"
Iyan pun dengan perlahan berdiri
dari kursinya.
‘Sekarang, saya akan memilih satu dari kalian, yang saya tunjuk tolong berdiri ..." kata kak Angga sembari melihat para Siswa.
"Kamu, yang di pojok, cewek rambut ekor kuda berdiri ..." kata kak Angga.
__ADS_1
Siswa yang di tunjuk itu pun berdiri.
"Kamu siapa nama nya?" tanya kak Angga Kepada Siswa yang di pojok itu.
"Kalau saya sebutin, nanti dia bakalan tau dong kak nama saya!" jawab Siswa wanita itu.
"Dek, kamu nggak punya telinga atau nggak dengar sih. Kalau di suruh nyebutin nama iya jawab, malah ngelawan!" bentak kak Angga, tampak Siswa itu pun hanya terdiam, mendengar bentakan dari kak Angga.
Aku pun langsung melihat ke arah wajah Iyan, ekspresinya sama seperti saat kami di hukum tadi oleh kak Angga. Dan aku pun menarik lengan baju Iyan dan mencoba memberikan instruksi untuk melihat kak Ira, agar emosi nya tetap tertahan, dan benar saja hal itu berhasil membuat Iyan tenang.
"Malah diam, jawab siapa nama kamu!"
"Wulan kak ..." jawab Wulan kaget.
"Ha, begini dong Wulan, makasih ya Wulan, silahkan duduk kembali Wulan ..." kata kak Angga dengan nada rendah.
Lalu kak Angga pun kembali
melihat kearah Iyan.
"Bayam, pertanyaannya, berapakah berat dan tinggi badan dari Wulan?" kak Angga memberikan pertanyaan.
Saat kak Angga memberikan pertanyaan kepada Iyan, tampak Iyan hanya terdiam dan melirik ke kanan dan kiri melihat sudut kelas dan tak memperdulikan omongan dari kak Angga. Melihat ulah dari Iyan sontak saja semua orang yang ada di kelas tertawa melihat kelakuan Iyan.
"Hahahaha ..." tawa para Siswa.
Namun hal berbeda yang di rasakan oleh kak Angga, melihat ulah Iyan kak Angga pun merasa di permainkan oleh nya, kak Angga pun menghampiri nya, dan saat kak Angga berada dihadapan Iyan tampak ia sedikit emosi karena ulah Iyan yang mencoba mempermainkannya.
"Bayam, kamu mau mencoba mempermainkan saya ya!" ucap kak Angga dengan nada ketus sembari tangannya yang diacungkan ke Iyan.
"Maaf, tadi saya nggak dengar apa yang kakak bilang, soalnya pendengaran saya sedikit terganggu ..." jawab Iyan sambil tersenyum.
Dan sebenarnya, gangguan pendengaran itu pun hanya lah alasan Iyan yang mencoba mempermainkan kak Angga, akupun hanya tersenyum mendengar ucapan Iyan.
"Sekarang kita dekat, kamu bakalan mendengar apa yang saya katakan, berapa berat dan tinggi badan dari Wulan?" kata kak Angga kembali memberikan pertanyaan kepada Iyan.
__ADS_1
"Maaf kak, Wulan siapa ya?" kata Iyan kembali bertanya. Sontak kami pun kembali tertawa mendengar jawaban Iyan.