Visual Prison : Night Sky With Red Moon

Visual Prison : Night Sky With Red Moon
Berimigrasi ke Harajuku, Jepang


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu. Azura dan adiknya bernama Daisy baru saja pulang dari olahraga rutin. Sang kakak beradik duduk santai di ruang TV sembari memakan cemilan.


1 jam kemudian kedua orangtua kedua kakak beradik sampai di rumah. Sang adik heran lalu berkata, "Mama , papa tumben pulang lebih awal" setelah mendengar perkataan salah satu anaknya sang ayah menjawab, "Iya nak, besok kita akan berimigrasi ke Harajuku , Jepang karena ayah ditugaskan di sana untuk sementara waktu."


Sontak Azura dan Daisy membulatkan matanya seakan tak percaya dengan perkataan lelaki separuh baya yang tengah duduk di sofa single sambil menaruh tas laptop miliknya. Perempuan separuh baya bergegas ke dapur , membuat minuman hangat untuk suami tercinta.


"Papa serius? Kenapa mendadak sekali?" celetuk sang anak pertama protes sembari menatap sang papa dengan tatapan penuh tanya.


"Kalau kita pindah bagaimana dengan kuliah kami berdua?" sambung sang adik ikut melontarkan pertanyaan.


Perempuan separuh baya sedang mengaduk teh menjawab, "Iya nak ,karena atasan mama sama papa menugaskan kami untuk dinas di jepang sayang," seraya melangkahkan kaki mengantarkan teh hangat yang baru saja di buat.


"Masalah pendidikan, kalian berdua terpaksa pindah ke sana," sambung sang papa menjawab pertanyaan anak bungsu lalu mulai menyeruput minuman.


Karena tidak setuju dua kakak beradik meninggalkan ruang TV tanpa mengucapkan satu patah kata kemudian memasuki kamarnya masing-masing. Reaksi sepasang suami istri hanya bisa menghela nafas sembari saling menatap.


"Kita harus memberikan mereka pemahaman," ucap sang istri seraya mengenggam tangan sang suami.


"Ya, mama bujuk crystal sedangkan papa akan bujuk Daisy," sahut sang suami membagi tugas membujuk kedua buah hatinya.


"E'm," jawab sang mama singkat disertai dengan anggukan.


|Kamar Azura|


"TOK TOK TOK"


"Nak ini mama , tolong buka pintunya. Ada yang ingin mama bicarakan"


"Kalo mama mau bicarain soal pindah negara aku tidak mau ikut! Aku sama Daisy disini aja!"


"Ayolah nak. Mama sama papa tidak mungkin meninggalkan kalian berdua apalagi beda negara sayang"


Setelah mendengar kata-kata dari mamanya tersayang , ia membuka pintu kamarnya.


"Nak , please jangan seperti ini. Papa sama mama tidak mungkin bisa menolak permintaan atasan. Kalo mama sama papa nolak nanti di pecat , terus nanti kita mau makan apa?" tutur sang mama mulai memberi pemahaman seraya memegang pundak anak sulung di hadapannya.


"Ma , apa pindahnya tidak bisa saat aku dan Daisy lulus saja?" sahutnya mulai menawar.


"Tidak bisa sayang," jawab perempuan separuh baya dengan tutur kata lembut.


"Huft....besok kan aku mau pergi jalan-jalan sama temen," protesnya sembari memanyunkan bibirnya.


"Maafin mama sama papa nak. Sekarang mama bantu kemasi barangmu," sambung perempuan separuh baya mulai melangkahkan kaki menuju lemari baju.


"Iya ma," pasrahnya tak mampu melawan perempuan yang telah melahirkannya kemudian membantu mengemasi barangnya.


|Kamar Daisy|

__ADS_1


"Nak , ini papa sayang.  Buka pintunya," pinta sang ayah seraya mengetuk pintu kamar anak bungsunya.


"Masuk," jawab sang anak singkat tengah tiduran menghadap ke samping.


"Sayang , bilang sama papa sini. Apa alasan kamu tidak mau ikut papa pindah?" tanya lelaki separuh baya penasaran.


Daisy pun bangun dari posisi tidur lalu menatap sang ayah dengan penuh harap seraya berkata,  "Aku tidak ingin pindah sebelum pendidikanku selesai. Lagipula nanggung pa tinggal 1 tahun lagi."


"Nak , tapi papa gak mungkin dong ninggalin kamu di sini selama satu tahun," bujuknya seraya memgang pundak sang anak.


"Huft...," hanya menghela nafas dengan berat hati.


"Maafin papa ya nak," sambung lelaki dengan rambut yang mulai memutih memohon maaf.


"Iya pa...," balas sang anak sedikit dingin.


"Kamu gak marah sama papakan?" lanjutnya lelaki yang sedang duduk disebalah sang anak memastikan.


Daisy hanya menggelengkan kepala lalu mengemasi barang yang harus ia bawa.


Saat sore hari , Azura dan Daisy mememui teman kampusnya untuk memberitahu kabar buruk yang tak terduga.


Untung saja teman-teman kedua kakak beradik sangat baik. Mereka mensupport Azura dan Daisy agar tidak sedih lagi.


"Tak dapat di pungkiri bahwa dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan"


"Ini adalah perpisahan sementara karena kita masih bisa saling memberi kabar"


"Orangtua pasti tau yang terbaik untuk anak-anaknya"


Begitulah ungkapan dari rekan kedua kakak beradik tersebut dan masih banyak lagi kata-kata penyemangat lainnya. 


Seusai selesai meet up untuk terakhir kalinya yang tak lupa dengan foto-foto serta merekam pertemuan terakhir mereka di London.


Keesokan harinya papa , mama serta kedua anaknya pergi ke bandara yang di antar oleh semua rekannya dan bos sang papa juga hadir di tengah-tengah mereka.


Setibanya di Harajuku , Jepang mereka bergegas ke apartemen milik pamannya atau bisa di bilang adik kandung papanya Azura dan Daisy.


"Semoga kalian betah disini," ucap paman penuh harap.


"Pasti! Terimakasih atas bantuannya," balasnya disertai dengan ucapan terimakasih.


Sesudah itu mereka memberesi barang-barangnya lalu memasukan ke lemari masing-masing.  Mereka bekerja bakti tanpa henti sampai malam hari tiba.


"Capeknya....," keluh Azura mulai meregangkan badannya.


"Aku juga capek kak," sambung sang adik.

__ADS_1


"Yasudah kalian berdua istirahat saja ya , biar papa sama mama yang ngelanjutin beres-beresnya," respon sang papa tidak tega melihat kedua anaknya tersayang kelelahan.


"Oke pa , ma. Good night," balas kedua anak bergantian tak lupa berpelukan sebelum tidur.


Saat sepasang kekasih sudah selesai membereskan apartemen , mereka berdua bergegas tidur karena besok pagi harus berangkat ke kantor.


Tengah malam tiba dan Azura terbangun dari tidurnya...


"Hoam....jam berapa ini?" ucapnya pada diri sendiri seraya memgucek kedua matanya dan melihat jam.  "Masih tengah malam rupanya," sambungnya lalu memandang arah jendela.


Cahaya merah tiba-tiba muncul sontak Azura yang penasaran melangkah ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi.


"Bu-bulan merah? Ke-kenapa bulannya ada dua?" herannya bertanya-tanya.


Tiba-tiba sang adik terbangun mengagetkan sang kakak.


"Kakak kenapa? " tanya sang adik heran dengan tingkah sang kakak.


"Sini deh , ada dua bulan yang muncul di langit," respon sang kakak memanggil adiknya.


Sang adik bergegas menghampiri kakaknya dan melihat apa yang Azura lihat. "Bulan merah? Kok serem kak"


"Semoga bulan merah ini tidak membahayakan," kata Azura penuh harap.


"Iya kak,  aku juga berharap begitu," celoteh Daisy.


"Bentar ya , kakak mau ke toilet dulu.  Kamu tidur lagi gih , besok kita harus bangun pagi dan usahakan kita tidak boleh telat," tutur sang kakak menasihati.


"Oke kak.  Kakak jangan lama-lama," balas Daisy lalu kembali tidur.


Setelah Azura keluar dari toilet ia melihat bayangan hitam. Gadis itu reflek mengatakan, "Siapa tuh?"


Sosok lelaki muda berbadan tegap , bermata merah , berambut kuning serta mengenakan jas serta celana berwarna hitam lengkap menggunakan sarung tangan berwarna merah dan tak lupa mengenakan topi di atas kepalanya muncul di hadapan Azura.


Saat melihat sosok tersebut , gadis yang hanya mengenakan baju tidur ingin berteriak tetapi dengan secepat kilat lelaki tersebut menutup mulut gadis itu dan berkata, "Ssstt...jangan teriak. Aku tidak memiliki niat jahat."


Azura hanya bisa menganggukkan kepala disertai rasa takut yang melanda.


"Datanglah ke taman bunga sakura esok hari dan bawa adikmu juga," sambungnya lalu menghilang.


"Si-siapa dia sebenarnya?" masih berdiri kaku karena rasa takutnya.


Ketika rasa takut itu sudah sedikit menghilang gadis tersebut bergegas ke kamar lalu menarik selimut sekaligus memeluk guling.


"Siapa lelaki misterius itu? Kenapa dia bisa masuk kesini? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kemunculan bulan merah? Huft....apapun yang terjadi aku harus melindungi adikku dan kedua orangtuaku!" kata Azura sebelum kembali memejamkan matanya.


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2