
Episode sebelumnya
"Ini baru peringatan pertama. Jika kalian mengulanginya lagi, kalian semua akan menjadi buruanku!" lantangnya lalu membuat pusaran hitam menghilang bersama rekannya dan kembali ke kediaman Guil.
Episode saat ini
Baru saja sampai, sang ayah menelfon Azura, anak sulungnya karena merasa cemas.
"Halo nak, kamu dimana sayang?" tanyanya melalui telepon.
Karena kedua kakak beradik masih bungkam alhasil Dimitri menjawab telpon tersebut. "Halo om, ini saya Dimitri."
"Oh, Dimitri, anak-anakku ada dimana ya?" sambung sang ayah dengan nada panik.
"Azura dan Daisy ada di apartemenku om," ungkapnya memberi alasan.
"Syukurlah, kalo Azura dan Daisy aman," lega lelaki paruh baya.
"Om tenang saja, nanti aku dan Hyde antarkan pulang," balas Dimitri berusaha menenangkan hati omnya.
"Baik, terimakasih," timpalnya lalu mematikan teleponnya.
"Azura-san, Daisy-san," panggil Robin memulai percakapan. Kedua kakak beradik tidak merespon perkataan lawan bicara.
"Maaf, kalian seperti ini karena kami," sambung Robin lagi merasa bersalah.
"T-tidak, kami masih shock saja," ucap Azura akhirnya merespon perkataan lelaki berambut pink. "
Tetap saja...," celetuk Eve ikut merasa bersalah.
"Ma ma, aku dan Dimitri akan mengantar mereka pulang," ungkap Hyde menggandeng tangan Azura yang masih dingin dan Dimitri menggendong Daisy yang lemas tak bertenaga.
"Baiklah," pasrah sisanya tak tega melihat keadaan kedua kakak beradik tersebut.
Alhasil LOSTEDEN kembali pulang. Sebelum pulang Jack berkata, "Robin, setelah kupikir-pikir aku merasa tidak terlalu buruk saat berada di dekatmu," mendengar perkataan yang terlontar dari mulu sang kakak, ia terharu.
"Onii-san sankyu..." memeluk tubuh kecil sang kakak.
"Sepertinya ada yang baikan," ledek Eve.
Saat sudah pulang, Guil langsung masuk ke kamar tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Panya panya!" muncul menghampiri Eve. Ange penasaran kemudian memutuskan mengetuk pintu pemilik rumah, "Tok Tok Tok," mulai mengetuk pintu.
"Guil, apa yang mengganggu pikiranmu?" menanyakan langsung tanpa ragu. Pemilik kamar tidak menimpali.
Eve yang melihat seorang dhampir ingin berbicara dengan Guil menahannya dan berkata, "Beri dia waktu Ange."
"Hufth...baiklah," pasrahnya disertai menghela nafas kasar.
"Ange-san, mari kita makan. Kau membutuhkan makanan manis untuk memulihkan tenagamu. Am...aaa oishi!" celoteh Robin lalu makan pancake buatan Eve.
"Maaf, aku ingin sendiri. Oyasumi," timpalnya lalu melangkahkan kaki ke kamar.
__ADS_1
"Ange...," lirihnya menyita nafsu makannya.
Beralih keadaan kedua kakak beradik telah sampai apartemen. Azura dan Daisy bergegas ke kamar tanpa berbicara.
"Nak...," heran kedua orangtuanya akan tingkah anaknya disertai ekspresi cemas mulai menghiasi wajah mereka. Dimitri dan Hyde langsung menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Setelah mendengar cerita, sepasang suami istri terkejut lantaran peristiwa yang baru saja menimpa anaknya.
Setelah itu kedua anggota ECLIPSE kembali ke kediaman mereka serta berharap kedua sepupunya baik-baik saja.
|Kamar Azura x Daisy|
Sang kakak tak tega melihat kondisi adik satu-satunya berusaha menenangkan hati Daisy yang sedari tadi bungkam tidak mengatakan apapun setelah keluar dari kastil menyeramkan beberapa waktu lalu.
"Daisy, tenang ya. Kakak akan selalu disampingmu jadi, jangan takut lagi." Daisy hanya merespon dengan anggukan dan Azura memeluk hangat adik satu-satunya.
Ketika Daisy mulai terlelap Azura memandang bulan merah seraya bertanya-tanya, "Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nyawaku dan adikku hampir melayang dua kali. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?"
Keadaan Guil tengah menyembunyikan sesuatu mengenai vampir pemangsa manusia.
"Yuito...., kenapa harus kau. Apa yang membuatmu bertingkah kejauhan seperti ini..." lirihnya masih shock.
"Peristiwa masa lalu membuat tingkahmu berubah 360° " sambungnya mulai mengeluh.
"Sepertinya aku harus bicara dengannya empat mata," lanjutnya memutuskan sendiri tanpa di ketahui ketiga rekannya.
|Ange POV|
Dia vampir bersurai hitam, tinggi, putih, berjubah merah, apa yang membuatmu memangsa manusia? Tidak akan ku biarkan mereka menyakiti semua rekanku terlebih lagi Azura dan Daisy!
Saat tengah malam, Guil melesat menuju kastil Yuito. Setibanya disana ia langsung muncul di hadapan raja vampir berkulit lebih pucat. "Yuito! Kenapa kau menjadi seperti ini?" sentak vampir berambut kuning. "Guiltia Brion, apa kau cari mati?" tantang Yuito dengan wajah licik. "Jawab pertanyaanku!"
Tak menjawab pertanyaan sang raja mulai berjalan tiga langkah menuju jendela. Menatap bulan merah sembari melipat kedua tangannya. "Tentu saja karena masa lalu," ketusnya dengan wajah sendu.
"Kita bisa mulai dari awal!" sahutnya lagi meninggikan suaranya. "Ck! yang aku inginkan adalah balas dendam denganmu!" mulai menyerang Guil dengan pedang.
SRING
SRING
Karena Guil tidak memiliki pedang, ia hanya bisa menghindar dan melawan jika ada peluang. Tak disangka Eve melihat semua dibalik lorong. "Guil mengenal vampir itu. Ada yang tidak beres," mulai curiga.
Beralih ke Yuito dan Guil masih bertarung. Di tengah pertarungan Eve melasat dan membawa Guil kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Eve mengintograsi rekannya sendirian tepatnya di balkon. "Kau mengenal vampir itu? Apa rahasia yang kau sembunyikan dari kami?" menatap mata Guil dengan tatapan tajam. "Bukan urusanmu," responnya lalu masuk ke dalam kamar. "Huft dia itu...," keluhnya dan ikut masuk ke kamar.
Keesokan paginya mereka terbangun namun Guil meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan yang lain. "Guil tidak disini!" panik lelaki berambut pink. "Apa!?" shock Ange. "Dia pasti pergi ke kastil vampir pemangsa manusia," batin lelaki berambut ungu sembari meminum kopinya. "Ikut aku!" seru Eve membuat pusaran hitam serta tak lupa membawa Ange dan Robin bersamanya.
Beralih ke kediaman Azura. Kedua kakak beradik masih di kamar serta takut keluar dari apartemen lantaran kejadian tempo hari. Mereka memutuskan mengajukan cuti untuk sementara. Sang ayah dan bunda menyewa bodyguard untuk mengawal kedua putrinya setelah merasa tenang.
Sementara keadaan Guil berada di taman kota setelah menemui Yuito untuk kedua kalinya. "Masa lalu yang kelam bisa membuat sifat orang menjadi berbeda," batinmya sembari menghela nafas berat. "Kenapa aku harus melawanmu Yuito...," sambungnya lagi bergumam.
"Ternyata kau disini Guil," sapa Ange.
"Ange...," responnya singkat.
__ADS_1
"Ayo pulang, besok kita harus konser," sambung robin mengingatkan.
"Baiklah," balasnya singkat lalu bangkit dari duduk kemudian melangkahkan kaki. Ange dan Robin mengikuti langkah Guil.
"Guil, apa yang kau sembunyikan dariku?" batin Eve seraya menyusul ketiga rekannya.
Tepat pukul 12.00 siang, OZ melatih suaranya.
..."Eien" to "zankoku" no purizun de...
Hikari sura yurusarenu oozora ni
Mienai hoshi wo sagashiteita
Kitto "kibou" wa aru... to! Ah!
Aroon wo dakishimeru tabi
Iro naki sairento no naka de
Kurayami no abisu de sae
Batsu naraba... to ukeireta
"Da to shitemo rabu wo tsutaetai..."
Haato wa tsumetaku mo
Nukumoru hou e... yawara na hou e
Taimu no mizo de sura
Koerareru to shinjite
...Itsudemo soba ni isasete?
Kowareru hodo "You wo aishitai" to
Tamashii ga "You dake aishitai" to
Sakenderu tarinai piisu wo tsunaide
Sore wa... ongaku no you ni
Odorou ame no kyaroru no naka
Cry Cry Cry namida kakushi
Relight Relight Relight shangurira e
Usai latihan mereka istirahat di ruang tv serta makan bersama. Ange dan Robin lahap memakan makanannya sedangkan Eve dan Guil hanya bersantai meminum kopi.
To be continue
__ADS_1