
Keesokan paginya Azura dan Daisy tengah bersiap-siap berangkat ke Nagoya University sebagai murid pindahan.
"Nak , jangan sampai telat ya. Negara Jepang sangat mementingkan kedisiplinan," tutur sang mama memperingati.
"Iya ma. Aku sama kak Azura sudah siap kok," sahut sang adik seraya membenarkan tali sepatu.
Saat sudah benar-benar siap , kedua kakak berarik berangkat serta tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya yang kala itu masih menunggu supir kantor.
Saat di tengah jalan Daisy heran dengan sang kakak. "Kak , seharusnya kita ke kanan bukan ke kiri."
"Iya kakak tau," respon sang kakak mendadak mengerem mendadak.
"Terus kita mau kemana? Jangan bilang kakak gak mau ke kampus ya?" tanyanya lagi layaknya mendesak sang kakak.
"Bukan begitu dek. Kakak harus bertemu sama seseorang," jawab Azura menjelaskan.
"Seseorang? Siapa? Setahu aku , kakak belum punya teman di Jepang," kata Daisy mulai penasaran.
"Kakak juga tidak kenal. Semalam dia menyuruhku untuk pergi ke taman sakura," jawab Azura mengingat peristiwa semalam.
"Ha? Aku tidak mengerti," bingung Daisy sedikit telmi.
"Jadi pas tengah malam...."
|Flashback on|
Setelah Azura keluar dari toilet ia melihat bayangan hitam. Gadis itu reflek mengatakan, "Siapa tuh?"
Sosok lelaki muda berbadan tegap , bermata merah , berambut kuning serta mengenakan jas serta celana berwarna hitam lengkap menggunakan sarung tangan berwarna merah dan tak lupa mengenakan topi di atas kepalanya muncul di hadapan Azura.
Saat melihat sosok tersebut , gadis yang hanya mengenakan baju tidur ingin berteriak tetapi dengan secepat kilat lelaki tersebut menutup mulut gadis itu dan berkata, "Ssstt...jangan teriak. Aku tidak memiliki niat jahat."
Azura hanya bisa menganggukkan kepala disertai rasa takut yang melanda.
"Datanglah ke taman bunga sakura esok hari dan bawa adikmu juga," sambungnya lalu menghilang.
|Flashback off|
"Jadi begitu ceritanya," sambung Azura seusai menceritakan kejadian tengah malam.
"Eh! Dari ciri-cirnya dia bukan manusia tapi vampir!" balas Daisy disertai raut wajah shock.
"Ya , kakak tau itu," sahut sang kakak singkat.
"Kakak mau cari mati?" omel sang adik yang tidak ingin menemui vampir yang sang kakak maksud.
"Huft....," menghela nafas secara kasar. "Lebih baik kita temui dia daripada nanti kena teror," sambungnya yang sebenarnya merasa serba salah.
"Terserah kakak deh," pasrahnya sedikit ngambek.
Azura bergegas tancap gas menemui human misterius.
Setibanya di taman sakura Azura serta adiknya Daisy turun dari mobil lalu melangkah bersamaan.
TAP
TAP
TAP
TAP
Ketika hampir sampai Daisy berhenti melangkah lalu bertanya. "Kak , kok ada empat orang? Bukannya kata kakak cuma satu orang?"
"Kakak juga tidak tau," balas sang kakak singkat. "Daisy , kakak minta sama kamu jangan jauh-jauh dari kakak. Okey?" sambungnya menegaskan sang adik.
"Okey," jawab sang adik seraya mengangguk.
Karena Guil melihat keberadaan Azura beserta adiknya , ia dan ketiga rekannya menghampiri kedua gadis kakak beradik tersebut.
__ADS_1
"Kalian beruda," panggil Guil.
"Apa maumu? Kenapa kau membawa temanmu?" tanya Azura dengan suara lantang seakan tak takut kepada siapapun.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu. Izinkan kami meperkenalkan diri terlebih dahulu," celetuk lelaki berjaket orange.
"Baiklah. Tapi aku dan adikku tidak punya banyak waktu karena harus berangkat ke kampus," ketus Azura mulai kesal.
"Okey. Namaku Ange Yuki , panggil saja Ange,"
"Aku Robin Leffite biasa di panggil Robin. Salam kenal!"
"Aku Guiltia Brion , panggil aku Guil"
"Dan aku Eve"
"Kami adalah OZ!" seru keemapat anggota OZ serempak.
"OZ?" ucap Azura dan Daisy heran.
"Ya," ucap Guil singkat.
"Sudahlah , katakan saja apa yang kalian inginkan," kata Daisy mulai emosi.
"Kami titip kotak ini dan tolong jaga baik-baik," ujar lelaki berambut ungu sembari memberikan kotak berwarna merah berpita hitam.
"Ha? Apa ini?" tanya Azura mulai curiga akan mereka memiliki niat jahat. "Kenapa harus kami?" sambung Daisy mulai mengintimidasi.
"Jangan banyak tanya. Nanti malam akan kami jelaskan di rumahku," respon lelaki berambut kuning seraya memberi alamat yang tertulis di secarik kertas kecil dan Azura bergegas menerimanya. "Minna ikou," sambungnya lagi lalu melangkah pergi yang diikuti oleh Ange dan Eve.
"Saa~ see you tonight," lanjut lelaki berambut pink seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
"E'm" respon kakak beradik singkat.
"Ha'i!" teriak Robin bergegas menyusul ketiga rekannya.
"Mereka aneh ya," ucap Azura menengok sang adik yang sedang fokus melihat HP. "Daisy! kamu denger kakak bicara gak?" umpat sang kakak mulai naik darah.
"Iya kak aku dengar. Ini lho kak , aku nyari informasi tentag OZ melalui internet. Ternyata mereka itu semacam anggota band," sahut sang adik menjelaskan.
"Ah begitu ya. Sekarang ayo kita ke kampus," ajak sang kakak layaknya tidak peduli dengan keempat orang aneh tadi.
"Ayo," ucap Daisy singkat.
Mereka berdua bergegas kembali ke mobil dan langsung menuju Nagoya University. Setibanya di tempat tujuan , Azura dan Daisy takjub melihat kampus baru yang sangat keren. "SAIKO DESU~!"
Tak lama kemudian seorang gadis menemui murid pindahan tersebut,
"Permisi , apa ada yang bisa saya bantu?" ujar gadis berambut panjang berkuncir dua berhiaskan pita berwarna pink menawarkan bantuan.
"Ah iya. Kami berdua pindahan dari London. Kami mau ke ruang wakil dekan," jawab Azura menjelaskan.
"Mari ikut saya," sahutnya mulai melangkah yang diikuti oleh kedua kakak beradik.
Sesampainya di ruang dekan.
"Kita sudah sampai," celetuknya singkat.
"Arigatou gozaimasu,"
"Douzo," balasnya singkat. "Hajimemashite , watashi wa Anzu desu. Yorushiku onegaishimasu," sambungnya memperkenalkan diri.
Azura dan Daisy ikut memperkenalkan diri dan mereka sudah resmi menjadi teman.
Sesudah itu , kedua kakak beradik memasuki ruangan tersebut dengan peasaan deg-degan.
Setelah menemui dekan serta wakil dekan , mereka berdua menuju ruangan masing-masing. Ruangan Daisy berada di atas ruangan sang kakak.
__ADS_1
Setelah selesai pembelajaran Azura dan Daisy kembali ke apartemen.
"Kak , kita pamit ngabarin mama sama papa gimana?" tanya sang adik mulai berpikir.
"Kakak juga bingung dek," sahut sang kakak seraya memadang kotak merah berpita hitam dengan rasa penasaran yang meronta-ronta.
Malam hari pun tiba dan bulan merah masih bersinar dengan bulan berwarna putih yang letaknya berdekatan.
"Kakak , kita bawa balik kotaknya gak?"
"Kita bawa saja untuk antisipasi. Kalo hilang kita yang repot. Ntar di marahin , lagipula kita juga tidak tau apa isinya," jelas Azura pajang lebar.
"Iya sih , kakak benar. Yaudah yuk kita berangkat. Sebelum mama sama papa pulang," pinta sang adik.
"Ya , ayo!" seru sang kakak.
Mereka berdua berjalan kaki karena rumah manusia vampir itu tidak jauh dari apartemennya.
Tak lama kemudian...
"Apa benar ini rumahnya?" ucap Daisy kebingungan sembari melihat tulisan secarik kertas.
"Kayaknya benar," sambung sang kakak lalu mulai mengetuk pintu. "TOK TOK TOK!"
"Sebentar!" seru salah satu dari anggota OZ bergegas mengecek siapa yang datang.
"CKLEK" suara pintu di buka.
"Selamat datang! mari masuk," kata Robin mempersilahkan.
"Ha-ha'i , arigatou," jawab kedua gadis mendadak gugup lalu masuk dengan mengutamakan etitude.
Saat sudah masuk dan duduk di meja tamu Guil mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi sebenarnya ada apa?" tanya Azura penasaran.
"Mmm begini , kami sedang melakukan ritual visual prison tetapi , tugas kami tidak hanya itu melainkan melindungi umat manusia seperti kalian berdua," kata Guil menerangkan.
"Visual prison?"
"Ya. Visual prison adalah ritual menyanyikan lagu yang tertuju untuk bulan merah," sambung Ange ikut menjelaskan.
"Sudah kuduga , ini ada hubungannya dengan bulan merah," komen Azura sudah menduga dari awal.
"Lalu apa isi kotak itu?" celetuk Daisy melontarkan pertanyaan.
"Darah suci berbentuk crystal," jawab Eve singkat. "Saat ini kondisi di Harajuku sedang tidak kondusif karena di duga ada vampir yang memangsa manusia. Maka dari itu kami meminta kalian untuk menjaga darah suci itu, " sambungnya lagi.
"Vampir pemangsa manusia? Lalu kalian berempat itu juga vampir kan?" heran Azura masih tidak mengerti sekaligus memastikan.
"Hmm...kami berempat memang vampir tetapi sebenarnya memakan manusia di haramkan karena umat manusia seharusnya di lindungi bukan di mangsa," lanjut Ange menjawab pertanyaan Azura.
"Apa ada vampir baik seperti kalian?" celetuk Daisy menahan rasa ketakutan.
"Un ada. Eclipse dan Lost eden. Mereka juga sedang mengikuti viusal prison tetapi kami bersepakat untuk melindungi umat manusia agar tidak binasa," sambung Eve.
"Begitu ya. Huft pantas saja perasaanku daritadi waswas," ungkap sang kakak menghela nafas secara kasar.
"Aku pun," sambung sang adik.
"Eve-san , sebaiknya kita mengantarkan mereka pulang," celetuk Robin di sertai ekspresi cemas.
"Ya , kau benar," menyetujui saran lelaki berwajah imut.
"Kalian jangan khawatir , kita akan mengalahkan vampir yang melanggar peraturan itu," celetuk Guil sebelum kedua gadis kembali ke apartemen.
"KI-KITA!?" shock kedua gadis sampai-sampai membelalakan matanya.
To be continue
__ADS_1