
Saat di tengah jalan Eve berpapasan dengan Robin tengah memakan gulali atau sering di sebut dengan permen kapas. Lelaki berambut pink heran dengan raut wajah rekannya. "Eve-san"
"Robin..," lirihnya tanpa menatap lawan bicara.
"What happend with you Eve-san?" kepo Robin makin jadi setelah melihat ekspresi rekannya saat ini.
"Hayaku!" serunya menggandeng Robin lalu membuat pusaran hitam dan sampai di rumah Guil
Robin dan Eve kembali bersamaan.
"Tadaima!"
"Okaeri"
"Robin , kau darimana saja? Kenapa lama sekali" tanya Ange heran.
"Ehehe...aku mampir beli permen kapas, Tada~!" memperlihatkan permen kapas rainbow.
"Kau ini , kebiasaan memakan makanan manis," celetuk Guil yang baru saja muncul.
"Eve-san , ada apa?" tanya Robin sedari tadi penasaran
"Daisy dan Azura hampir terkena sandra manusia serigala" ujar Eve menjelaskan.
"Apa!?" shock ketiga rekannya.
"Robin! Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Guil mulai naik pitam.
"A-aku ti-ti-dak tau," responnya mulai gelagapan.
"Ya ampun!" sambung Ange dan Guil bersamaan.
"Maaf" lirihnya menyesal.
"Bagaimana ceritanya Eve?" tanya Ange mulai kepo.
"Waktu itu...,"
|Flashback on|
Saat di tengah pertatungan , manusia serigala itu menyadari keberadaan kedua gadis yang tengah bersembunyi di balik pohon besar. Ia menggunakan kekuatannya untuk melayangkan kedua mangsa tersebut ke atas langit.
"Kyaaaa! Tolooong!" teriak Azura dan Daisy sampai barang belanjaan yang mereka beli jatuh ke tanah.
Eve yang menyaksikan kenekatan manusia serigala mulai membulatkan matanya seraya berkata, "Lepaskan mereka berdua!"
"Tidak akan! Aku akan menyandra mereka berdua mwahahahah~!" serunya di sertai tawa jahat.
Eve langsung menyelamatkan kedua gadis itu. "Azura , Daisy...kalian harus selamat"
Saat melihat wajah Eve di balik pakaian dan tudung serba hitam kedua kakak beradik sangat shock. "E-eve!"
Azura dan Daisy akhirnya selamat.
|Flashback off|
"Intinya begitu," kata vampir berambut ungu lalu pergi ke kamarnya.
"Huft...Eve-san...," ucap Robin seraya menghela nafas penyesalan.
"Nasi sudah menjadi bubur," celetuk Guil lalu masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Wakatta," balasnya singkat.
Di kamar Eve memikirkan perkataan Azura mengenai pekerjaannya.
"Adikku ngasih kalian saran briliant kenapa di tolak mentah-mentah! Kalian takut sama hunter karena jika beraksi layaknya monster yang haus akan darah vampir?" umpat Azura tak terima sang adik diperlakukan seperti itu.
"Hunter adalah monster...,"
"Eve...," iba seorang dhampir mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka.
Keesokan harinya Azura dan Daisy berangkat ke kampus untuk mengikuti pelajaran.
|Kelas Daisy|
Kondisi kelas saat dosen belum datang.
"Daisy , kamu hari ini bisa tidak membeli sebagian bahan buat kerja kelompok," celetuk gadis di sebelahnya.
"Bisa. Setelah pulang kampus aku langsung beli bahannya," sahut Daisy menyanggupi.
"Oke. Terimakasih,"
"Sama-sama,"
|Kelas Azura|
"Azura , waktu tengah malam aku melihat vampir sekaligus hunter membunuh vampir," ucap teman akrabnya yang duduk di depan gadis berambut cokelat.
"Nani!? Dimana?" responnya penasaran.
"Di gang dekat swalayan," jawab temannya.
"Jangan-jangan itu Eve...," pikirnya dalam hati.
Sebelum ke rumah Guil Daisy tak lupa membeli bahan untuk kerja kelompok yang akan di laksanakan besok usai mata kuliah pertama.
Setibanya di kediaman OZ Azura mulai mengetuk pintiu.
TOK TOK TOK
CEKLEK
"Azura-san , Daisy-san! Ayo masuk" ujar Robin mempersilahkan.
"Ada apa kalian kesini?" tanya lelaki berbaju hitam dengan nada dingin.
"Aku ingin bertemu dengan Eve," sahut Azura menjawab pertanyaan Guil.
"Doushite?" celetuk Eve tiba-tiba datang.
"Mmm...ka-kami belum sempat berterimakasih sama kamu karena peristiwa semalam," ungkap Daisy menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi tugasku," timpalnya dengan nada datar.
"Eve...selain berterimakasih aku ingin meminta maaf atas perkataanku semalam," sambung Azura.
"Kau tidak salah. Perkataanmu benar, aku adalah monster yang haus akan darah. Lagi pula jika aku ingin , aku bisa menebas kalian saat ini juga," bantahnya merasa tertekan.
"Tapi kau sedang tidak inginkan?" tanya Daisy memastikan.
"D-daisy....," membulatkan matanya.
__ADS_1
"Aku tarik kata-kataku semalam , kau bukan hunter yang seperti itu," sambung sang kakak menjelaskan.
"Apa maksudmu? Semua hunter itu sama" tanyanya membelakangi Azura dan Daisy.
"Eve , kau hanya tidak bisa menahan nafsumu saat beraksi. Kami berdua akan mengajarimu untuk mengendalikan kekuatanmu. Asal kau tau , saat kau beraksi kami mulai mengagumi dirimu," ucap sang kakak yang di lanjut dengan sang adik.
"Azura , Daisy..., kalian tidak takut padaku?" tanya Eve sama seperti saat ia menanyakan hal itu kepada Ange.
"Tidak , bagiku kau adalah orang yang sangat baik," ungkap Daisy.
"Benar. Jika kau jahat itu artinya kau tidak akan menyelamatkan kami berdua," timpal Azura lagi meyakinkan.
"T-terimakasih," responnya singkat.
"Sebagai permintaan maaf , kami berdua akan membantu kalian untuk mengatasi vampir yang mengincar manusia itu," sambung Azura lagi tanpa membicarakan hal tersebut kepada sang adik.
"K-kakak! Kita belum membicarakan hal ini!" pekik sang adik tidak terima.
"Hey , ada kakak yang jagain kamu," bujuk Azura untuk sang adik satu-satunya.
"Tetap saja! Musuh mereka sesama vampir. Masih mending kalo musuhnya manusia," protes Daisy di depan anggota OZ.
"Dek , please! Percaya sama kakak hmm?" bujuknya lagi.
"Terserah kakak! Aku mau pulang!" bentaknya langsung pergi begitu saja..
"Dek! Tunggu! A-semuanya maaf. Aku harus membujuk adikku dulu. Besok kita bicarakan lagi saat petang. Bye!' pamitnya kemudian bergegas mengejar sang adik.
"Permasalahan keluarga," celetuk Robin sembaeri memakan permen cokelat yang ia beli kemarin.
"Sudah , jangan ikut campur!" pesan Guil dengan nada tegas.
"Baiklah," pasrah Robin kena omel.
"Eve , naze?" Ange melontarkan pertanyaan karena merasa khawatir.
"Dainoubu," responnya singkat.
Beralih ke Azura dan Daisy di kamar apartemen.
"Daisy," panggil Azura.
"Apa? Kakak mau bahayain nyawa keluarga kita? Di Jepang cuma ada mama , papa sama sepupu kita. Kalo mereka kenapa-kenapa bagaimana? Apa kakak tidak berpikir sampai kesitu?" umpat sang adik meluapkan emosinya.
"Bukan begitu. Minta maaf itu tidak cukup dek. Kita harus berbuat sesuatukan?" berusaha membujuk sang adik.
"Hufth...," keluhnya seraya memandang bulan merah.
"Sudah , sekarang kita tidur. Petang besok kita ke rumahnya lagi dan kamu minta maaf sama mereka atas perilaku mu yang tidak sopan tadi," tutur Azura kepada sang adik.
"Iya," jawabnya singkat lalu memejamkan matanya.
"Dek , sifatmu tidak pernah berubah dari kecil," keluh sang kakak.
|Azura POV|
Aku tidak mengerti , ini nyata atau tidak tapi , aku berharap keluargaku akan baik-baik saja dan bisa kembali ke London secepatnya.
Jika pertemuan ini memang takdir , kenapa harus mengurus hal yang sulit. Hah...semoga mimpi buruk ini cepat berakhir.
|POV end|
__ADS_1
Sesudah itu Azura mulai mematikan lampu dan mulai memejamkan matanya.
To be continue