
|Episode sebelumnya|
"Eve-san , sebaiknya kita mengantarkan mereka pulang," celetuk Robin di sertai ekspresi cemas.
"Ya , kau benar," menyetujui saran lelaki berwajah imut.
"Kalian jangan khawatir , kita akan mengalahkan vampir yang melanggar peraturan itu," celetuk Guil sebelum kedua gadis kembali ke apartemen.
"KI-KITA!?" shock kedua gadis sampai-sampai membelalakan matanya.
|Episode saat ini|
"Iya kita semua," celetuk Ange.
"A-apa kalian sudah tidak waras!?" protes Azura tidak terima. "Kalian mau membahayakan nyawa kita HAH!?" sambung Daisy ikutan protes.
"Keep calm," kata Robin menenangkan suasana.
"Azura , Daisy itu sudah menjadi takdir kalian berdua," kata Guil dengan nada sedikit dingin.
"Takdir? Apa maksudmu?" respon Azura masih tidak mengerti maksud pertemuan saat ini.
"Takdir menyelamatkan warga Harajuku bersama kami," lanjut Eve menjelaskan.
"Kalian jangan meminta bantuan kami. Cari saja hunter yang membasmi vampir," komen gadis berinisial D memberi saran.
"Dek , mereka kan juga vampir," balas gadis berambut cokelat mengingatkan sang adik.
"Iya aku tau kak. Saat pagi sampai sore mereka masih jadi manusia yang selayaknya nah , di malam hari saat bulan merah mulai menggantikan matahari baru bisa menjadi vampir. Maka dari itu , mereka bicara dengan hunter di pagi atau siang hari, begitu kak maksudku," ungkap sang adik panjang lebar.
"Ah iya iya , ide yang sangat briliant!" salut sang kakak kepada sang adik yang lebih tambah umur tambah pintar.
"Tidak , itu sangat beresiko," bantah Guil tidak menerima saran Daisy.
"Adikku ngasih kalian saran briliant kenapa di tolak mentah-mentah! Kalian takut sama hunter karena jika beraksi layaknya monster yang haus akan darah vampir?" umpat Azura tak terima sang adik diperlakukan seperti itu.
Eve yang sebenarnya seorang hunter mendadak shock mendengar perkataan gadis yang tengah duduk di hadapannya mengenai pekerjaannya. "Hunter itu adalah monster yang paling di takuti," batin lelaki berbaju berbaju hitam serta bertudung hitam mengekspresikan wajah sedih.
"Eve...," -Guil & Ange-
"Eve-san..," -Robin-
"A-aku harus pergi sebentar," kata lelaki berambut ungu lalu bergegas pergi.
"Eve , tunggu!" seru Daisy sontak membuat lelaki berpakaian serba hitam berhenti melangkah.
"Nani?" tanya singkat dalam keadaan masih membelakangi ketiga rekannya serta kedua kakak beradik.
"Apa kakakku salah bicara?" tanya gadis berpita ungu penasaran.
"Tidak," jawabnya singkat lalu membuat pusaran hitam dan menghilang.
"Antar kami pulang," celetuk gadis berbando pink singkat namun jelas.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi , tolong pikirkan permintaan kami," kata Ange sedikit menekan.
"Hmm...," balas sang kakak beradik dengan nada dingin.
Robin mengantarkan kedua tamu sampai luar gedung apartemen.
Saat tiba di tempat tujuan...
"Kita sudah sampai," tutur Azura.
"Robin terimakasih," kata Daisy seraya menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya.
"It's okay," respon lelaki berwajah imut disertai senyuman lebar miliknya. "See you latter Azura-san , Daisy-san," sambungnya lalu mulai melangkah pergi.
Saat Azura dan Daisy ingin melangkahkan kaki , mereka baru ingat akan pesanan sang mama. Mereka berdua bergegas ke mini market dan berharap kedua orangtuanya belum sampai apartemen.
Sang kakak beradik A 'n D membeli barang secepat kilat dan kebetulan mini market yang ia kunjungi tidak terlalu ramai. Sesudah itu mereka lekas kembali ke apartemen.
Tak disangka saat di tengah jalan mereka memergoki seseorang berjubah hitam mengejar laki-laki berbaju kuning. Tanpa pikir panjang Azura dan Daisy mengintip di balik pohon besar.
"Dia pasti hunter," celetuk Azura yakin dengan suara perlahan.
"Iya benar. Dia mau lawan siapa? dari raut wajah mereka sepertinya akan terjadi pertarungan serius," jawab sang adik disertai pertanyaan dan rasa sedikit cemas.
"Kau benar dek. Saat mereka bertarung lebih baik kita kembali ke apartemen," kata sang kakak memberitahu rencana penyelamatan diri.
"Okey kak. Tapi , kakak ambil gambar mereka siapa tahu OZ memerlukan jasa hunter," saran sang adik lumayan cakep.
|Hunter x Manusia Serigala|
"Kenapa kau selalu mencari mangsa yang lemah dan tidak bersalah"
"Karena manusia sangat lemah jadi , aku bisa membunuhnya kapan saja untuk mendapatkan kekuatan"
"Kau tidak pantas hidup di dunia. Aku akan memburumu malam ini manusia serigala"
"Coba saja kalau bisa"
Pertarungan di mulai. Rencana awal kedua kakak beradik adalah kembali ke apartemen saat pertarungan berlangsung tetapi mereka keasyikan melihat aksi kedua orang dari jauh.
SRING
SRING
SRING
Saat di tengah pertatungan , manusia serigala itu menyadari keberadaan kedua gadis yang tengah bersembunyi di balik pohon besar. Ia menggunakan kekuatannya untuk melayangkan kedua mangsa tersebut ke atas langit.
"Kyaaaa! Tolooong!" teriak Azura dan Daisy sampai barang belanjaan yang mereka beli jatuh ke tanah.
Eve yang menyaksikan kenekatan manusia serigala mulai membulatkan matanya seraya berkata, "Lepaskan mereka berdua!"
"Tidak akan! Aku akan menyandra mereka berdua mwahahahah~!" serunya di sertai tawa jahat.
__ADS_1
Eve langsung menyelamatkan kedua gadis itu. "Azura , Daisy...kalian harus selamat"
Saat melihat wajah Eve di balik pakaian dan tudung serba hitam kedua kakak beradik sangat shock. "E-eve!"
Azura dan Daisy akhirnya selamat.
"E-eve...," lirih mereka berdua merasa bersalah.
Manusia serigalapun tidak terima lalu menjadi bayangan serigala raksasa.
"Aaaauuuuuu!"
Karena suara yang sangatlah keras tanah mulai bergetar.
Sebelum hunter bertudung hitam beraksi ia berkata, "Kembalilah ke apartemen kalian"
Azura dan Daisy langsung menuruti perkataan hunter yang sangat tak disangka-sangka bahwa hunter yang mereka lihat adalah Eve Louise salah satu anggota OZ.
Sesampainya di apartemen.
"Fyuh , untung mama sama papa belum pulang," ucap Azura menghela nafas lega.
Daisy langsung menempatkan barang yang di beli ke kulkas kemudian kakak beradik membersihkan badan lalu menyiapkan makan malam.
Tak lama kemudian kedua orangtua mereka pulang.
"Tadaima"
"Okaerii"
"Ma , pa makan malam sudah siap," ungkap Azura sembari mencium tangan perempuan dan laki-laki separuh baya yang raut wajahnya terlihat kelelahan.
"Terimakasih nak," tutur sang mama dengan suara yang lembut.
"Anak mama sama papa hebat," puji sang ayah seraya tersenyum.
Mama dan Papa membersihkan diri lalu di lanjut dengan makan bersama. Seusai makan sepasang suami istri menuju ke kamar untuk tidur. Sedangkan Azura dan Daisy juga masuk ke kamar untuk sedikit berbincang-bincang sebelum memejamkan mata.
"Kakak , apa yang harus kita lakukan? Perkataan kakak tadi sudah menyakiti hati Eve"
"Huft...kakak juga lagi mikir dek"
Azura memandang bulan merah sembari bertanya-tanya, "Apa maksud mereka? dan apa benar kalau pertemuan ini adalah takdir ku dan Daisy..."
"Kak...kakak kenapa?"
"Gapapa dek. Kita pikirin besok lagi aja. Sekarang kita harus tidur karena besok mendapat kelas pagi"
"Oke kak"
Azura dan Daisy mulai memejakan matanya serta berharap kejadian yang mereka alami hari ini hanyalah mimpi buruk semata.
To be continue.
__ADS_1