
Dark Magic merubah sifat Azura dan Daisy menjadi dingin serta tak berperasaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kedua kakak beradik susah untuk diajak bicara. Terlepas dari itu, O☆Z, ECLIPSE dan LOSTEDEN penasaran akan misteri kaca di kamar apartement Azura dan Daisy.
Guil dan Saga bertindak tegas kepada Azura dan Daisy. Usai mereka berdua sudah berada di sofa tamu, Dimitri membacakan surat dari mysterious girl asal ilusi nightmare.
|Isi Surat|
...Ilusi Nightmare City...
...Hai Aiko, Sora, bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian baik-baik saja. Aku membutuhkan bantuan melawan vampire durjanah. Mereka tak layak memimpin kota yang telah kita bangun. Tapi, jangan libatkan orang yang kau cintai. ...
...Sekian surat dariku. Maaf aku menitipkan surat ini pada rekanmu Ryukenzo Sora. ...
...Tertanda : Mioko Akihara....
Setelah membaca surat tersebut mereka heran lantaran tidak mengenali Aiko dan Sora yang dimaksud oleh pemimpin vampir telah tewas beberapa menit lalu.
"Hmm....siapa Aiko dan Sora itu? Aku tidak pernah menganal mereka," heran Hyde akan kalimat rekan di dalam surat tersebut.
"Azura, Daisy, bagaimana pendapat kalian?" sambung Mist melontarkan pertanyaan.
"Aku tidak mengenal mereka," respon Daisy singkat.
"I don't know and i don't care!" ketus Azura.
"Wait...jangan-jangan Aiko dan Sora itu kedua orangtuanya Azura dan Daisy?" celetuk Eli menduga-duga.
"Maybe," sahut Robin singkat.
Tiba-tiba handphone Azura dan Daisy bergetar secara bersamaan, menandakan adanya message, "drrt drrt drrt"
|Notif|
2 pesan
Azura, Daisy segera kembali ke apartement
Ayah dan Bundamu sedang dalam bahaya!
Akibat pesan tersebut, mata Azura kembali normal begitu juga dengan Daisy. Kedua kakak beradik itu bergegas menggunakan kekuatan magic dan kembali ke apartement tanpa mengatakan apapun. Melihat kedua gadis itu menghilang O☆Z dan ECLIPSE menyusul. Sedangkan LOSTEDEN menetap untuk berjaga-jaga.
Tak disangka setibanya di apartement kondisi sepasang kekasih tengah sekarat. Gadis bersurai hitam dan cokelat itu mulai meneteskan air mata sebab tak kuasa dan bingung apa yang sudah terjadi. Disana hanya ada satu lelaki bersurai perak serta bermata ungu, hanya bisa mengekspresikan wajah sendu serta merasa bersalah.
"Ayah! Bunda! Bangun!"
Seru kedua anaknya menangisi keadaan orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Tak lama kemudian Guil, Ange, Robin, Eve, Dimitri dan Hyde muncul disertai dengan rasa tak percaya akan keadaan di depan mata.
"Om! Tante!"
Tangis Dimitri dan Hyde mulai pecah melihat lelaki dan wanita paruh baya dalam kondisi lemas serta tak sadarkan diri. Keempat anggota O☆Z berusaha menenangkan Azura, Daisy, Dimitri dan Hyde. Sesudah merasa lebih tenang Guil, Eve, Ange dan Robin berbicang-bincang dengan lelaki bersurai perak yang sedari tadi berdiri seraya menundukkan kepala.
"Kau siapa?" -Guil-
"Apa kau juga seorang dark magic?" -Eve-
"Apa hubunganmu dengan keluarga ini?" -Ange-
"Dan sebenarnya apa yang sudah terjadi?" -Robin-
Lelaki berbadan tegap nan tinggi mulai menjawab keempat pertanyaan satu demi satu.
"Namaku Kurosaki Yamada, biasa dipanggil Kuro. Ya! Aku seorang dark magic sama seperti Azura dan Daisy...,"
__ADS_1
Mendengar perkataan tersebut, Azura dan Daisy terkejut lantaran saat dark magic menguasai tubuh kedua kakak beradik, mereka tidak menyadarinya.
"Aku dan kak Azura hanya manusia biasa. Kami tidak memiliki kekuatan," celetuk Daisy sebelum Kuro menjawab pertanyaan selanjutnya.
"Ya! Itu benar!" sambung sang kakak membenarkan.
Tanpa pikir panjang lagi lelaki dark magic menjelaskan tentang siapa kedua orangtua kedua gadis tersebut.
"Jadi sebenarnya aku adalah orang kepercayaan tuan Sora. Di masa lalu saya ditugaskan untuk menjaga nona Aiko dan tuan Sora....tetapi, akibat pertarungan besar istri tuan Sora terpaksa melahirkan kedua anaknya di bumi lantaran..." mulai menjelaskan panjang lebar.
"N-NANIII-!" seru mereka semua setelah mendengarkan cerita.
"Apakah ini dinamakan takdir?"
Usai Kuro menjelaskan panjang lebar, kedua orangtua kakak beradik dibawa ke rumah sakit terdekat. Setibanya di sana Azura serta adiknya Daisy masih tidak mempercayai perkataan lelaki berambut perak. Kedua kakak beradik menganggap peristiwa ini hanya mimpi buruk belaka. Namun, saat ini mereka berdua berada di dunia nyata kebingungan serta misteri mulai muncul. Perasaan menjadi tidak nyaman dan merasa di hantui oleh perasaan sendiri. Begitu juga dengan dua anggota ECLIPSE, perasaan amarah, sedih, cemas, takut, was-was bercampur menjadi satu.
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa orang biasa berubah menjadi dark magic? Mustahil!" Daisy masih membantah pernyataan Kuro.
"Kalaupun ayah dan bunda memang seorang raja dan ratu, seharusnya mereka berada di istana usai peperangan, right?" sambung Azura menimpali perkataan sang adik. "Maaf nona tapi saya tidak berbohong," respon Kuro singkat.
"Robin! Katakan padaku kalau semua ini tidak benar!" dengan mata yang berkaca-kaca Daisy mengguncangkan tubuh lelaki bersurai pink penuh harap.
"Daisy-san...," lirihnya bingung harus mengatakan apa.
"Robin! Jawab! Ini semua tidak benarkan!" ucapnya lagi untuk kedua kalinya.
"Daisy-san...tenanglah, aku tau ini sulit tapi, kami akan membantumu memecahkan masalah ini okey?," jawab Robin memberi semangat. Mendengar perkataan lawan bicara, ia kembali bungkam dan menangis dalam diam.
Sedangkan sang kakak merasa kecewa dengan kedua orangtuanya. Azura menarik tangan sang adik untuk pergi dari ruang V.I.P. Lily 12.
"Azura! Daisy!" seru para vampire merasa tak tega.
"Aku dan Ange akan mengejar mereka," celetuk Robin lalu menarik tangan dhampir. "E-eh!"
"Kakak...hiks...apa ini nyata?" lirih gadis disebelahnya masih menangis.
"Entahlah, kakak berharap ini hanya tipuan belaka. Ini semua tidak masuk akal. Kalau memang hal buruk ini nyata, itu artinya kita berdua putri ilusi nightmare." sahut sang kakak seraya memandang pepohonan nan asri.
"Aku...aku tidak meminta hal menjengkelkan ini....apa takdir kita harus seperti ini? Aku tidak mau kak hiks...hiks..." protesnya lalu menundukkan kepala.
"Hey, Daisy Roseanne lihat kakak. Kita harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Jangan takut, kakak tidak akan meninggalkanmu," mencoba menenangkan sang adik kemudian memeluk tubuh Daisy dengan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba terdengar lantunan lagu mulai mendekat. Azura dan Daisy menengok sumber suara dan ternyata itu adalah "Ange...," Robin melangkahkan kaki menuju kedua gadis tengah bersedih.
Usai bernyanyi Ange dan Robin mengajak kedua kakak beradik berbicara.
"Daisy-san... aku ingin bicara denganmu," ujar lelaki murah senyum seraya menadahkan tangan berharap gadis bersurai cokelat mau menerima ajakannya. Daisy melirik ke kakaknya dan sang kakak memberi kode anggukan kecil. Alhasil Dasiy menggandeng tangan Robin dan membuat lelaki disampingnya tersenyum girang.
"Azura, bisakah kita bicara empat mata?" celetuk dhampir melontarkan ajakan. "Hmm..." sahutnya singkat.
Ange mengajak Azura ke taman bunga dekat Rumah Sakit sedangkan Robin membawa Daisy ke taman kupu-kupu.
|Ange x Azura|
"Ra, lihatlah bunga ini. Sangat indah bukan?"
"Hmm..."
"Azura..."
"Katakan saja apa maumu!"
__ADS_1
"Aku akan membantumu menerima kenyataan pahit ini."
"Tsk! Jangan sok peduli padaku!"
"Aku memang peduli denganmu!. Aku tidak ingin melihatmu bersedih seperti ini."
"Terserah kau saja! Sekarang tinggalkan aku sendiri!"
Ange menggenggam kedua tangan Azura.
"Ra, aku janji akan membuatmu ceria kembali seperti sedia kala dan aku berjanji akan melindungimu walau nyawaku sebagai taruhannya. Aku akan menjadi anginmu dan juga adikmu."
"A-a-ange..."
Azura mulai menatap mata Ange dengan tatapan penuh tanya.
|Robin x Daisy|
"Lihatlah itu! Kupu-kupu yang cantik."
"Un..."
"Daisy-san, apa kau tau sesuatu tentang red moon?"
"Entah. Setahuku red moon berhubungan dengan vampire."
"Ha'i, thats's right. Aku yakin red moon akan membantumu menyelesaikan masalah ini."
"Aku tidak yakin soal itu.... aku ingin pergi dari dunia fana ini."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi"
"Naze?"
"Karena kau berharga bagiku dan semua rekanku. Termasuk kedua sepupumu, Dimitri dan Hyde serta kedua orangtuamu."
"Aku tidak peduli lagi dengan itu..."
"Daisy-san..."
"Why? Jangan perdulikanku! Lebih baik kau pergi dari sini sekarang!"
"Aku tidak akan pergi selangkah pun!"
"R-robin...."
"Bersama-sama kita bisa mengarungi dunia. Jadi, izinkanku berjanji untuk berada disampingmu dan melindungimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi."
"Terserah kau saja..."
"E'm. Yokusoku?"
Robin menyodorkan jari kelingkingnya. Sedangkan Daisy menghela nafas kasar lalu menatap mata lelaki dihadapannya penuh harap seraya mengaitkan jari kelingkingnya menandakan janji tersebut sudah terikat.
"Yokusoku..."
Keteguhan hati kedua lelaki berhasil meluluhkan hati beku Azura dan Daisy. Suasana mulai mencair, perasaan pun sedikit lebih tenang. Awan mendung dalam hati kedua kakak beradik perlahan demi perlahan menghilang.
"Arigatou" -Azura & Daisy-
"Douitashimashite" -Ange & Robin-
__ADS_1
To be continue