
Tepat pukul tengah malam Yuito menjebak dua kakak beradik ke dalam ilusi nightmare. Azura dan Daisy berada di sebuah tempat asing, gelap serta mencengkam. Kala itu mereka masih terlelap.
Sementara itu vampir bersurai kuning tengah berburu vampire pemangsa manusia atau bisa dibilang pengikut raja vampir bersurai hitam.
SRING
SRING
SRING
SRING
SRING
Adu pedang serta kecepatan guna melumpuhkan lawan diperlukan fokus tingkat tinggi. Vampire berdarah hunter mulai bar bar lantaran emosinya tak terkendali. Saat seluruh pihak lawan berhasil di basmi, vampire bersurai ungu, bermata biru hampir membunuh dhampir tepat di depannya.
Guil menahan tubuh hunter, "Eve! Sadarlah! Ange bukan musuh kita!" seru Robin sembari menepis tangan kanan salah satu rekannya hingga senjata terlempar cukup jauh.
"Eve!" Guil menumbangkan tubuh lelaki dihadapannya secara paksa, "BRUK!"
"Agh!" lirihnya sontak membuatnya tersadar.
"M-maaf," sambungnya merasa bersalah.
"Ma ma..... lebih baik kita pulang," respon Ange yang sebenarnya masih sedikit shock melihat kebrutalan vampir bersurai ungu. Alhasil O☆Z kembali kemudian tertidur.
|08.00 a.m|
Ketika keempat anggota O☆Z terbangun, Dimitri dan Hyde berada di ruang tamu.
"Sejak kapan kalian disini!" shock Guil, Eve, Robin dan Ange serempak.
"Oho! Ohayou minnasan!" respon lelaki bersurai biru diakhiri senyuman penuh teka-teki.
"Karena rumah kami sedang di renovasi untuk sementara waktu aku dan Dimitri akan tinggal disini," sambung Hyde menjelaskan.
"Eeeeh!!! Naniiiii!!!!" teriak pemilik rumah serta ketiga rekannya membelalakan matanya lantaran terkejut dengan ucapan lelaki berambut kuning, bermata biru beberapa detik lalu.
"Kalian berdua masuk tanpa izin," ketus Guil sambil melipat kedua tangannya.
"Ahahaha, gomen ne," sahut duo ECLIPSE sembari cekikikan.
"Yosh! Selamat bergabung!" girang Robin lalu kembali memakan permen kapas ditangannya.
"Um...wah oishii!" sambungnya lagi.
Azura dan Daisy mulai bangun dan tiba-tiba, "Kyaaaaaaaaa!" teriak kakak beradik ketakutan.
"Kakak dimana?" meraba mencari sang kakak.
"Kakak disampingmu," sahutnya menggandeng tangan Daisy.
"Kakak aku takut hiks hiks...," rengeknya mulai menangis.
"Jangan takut, ada kakak disini," mencoba menenangkan sang adik walaupun sebenarnya dirinya juga takut kegelapan.
"Nak! Kalian dimana?" cemas perempuan dan lelaki paruh baya mengitari apartemen. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya sang suami menghubungi dimitri dan memberitahu kabar buruk yang tengah terjadi.
Drrrt drrrt drrrt
__ADS_1
Tanpa melihat dimitri langsung mengangkat telponnya.
~On call~
Moshi moshi. Ini siapa?
Ayahnya Azura dan Daisy
Eh, maaf om. Ada apa ya?
Gawat! Azura dan Daisy menghilang! Aku dan Rose sudah mencari di seluruh seluk beluk apartement tapi tidak ada!
WHAT-!!!
Tolong bantu cari mereka!"
Baik om! Thanks infonya. Nanti aku, Hyde dan rekanku akan mencari mereka .
Oke. Sankyuu.
~Call end~
"Tak bisa dimaafkan!" pekik Dimitri sembari menggebrak meja.
"Ada apa?" tanya Hyde singkat.
"Azura dan Daisy menghilang!" sahutnya dengan nada emosi.
"WHAT!" seru sisanya serempak.
"Kita hanya perlu mencari raja vampire biadab itu!" celetuk Eve lalu mengambil dua pedang kesayangannya disertai dengan tatapan bak elang mengamati mangsa.
Setibanya di castil milik Yuito, O☆Z dan ECLIPSE bergegas mencari raja vampire.
"Yuito dimana kau!" emosi Dimitri mulai meluap.
"Bebaskan Azura dan Daisy!" sambung Guil ikutan emosi lantaran Yuito merupakan rekan masa kecilnya.
"Tamu tak di undang berani datang ke sini lagi. Kalian sudah membunuh semua pengikutku. Jadi, nyawa harus di bayar dengan nyawa," ucapnya dengan nada penuh penekanan.
"Dan aku tidak akan membebaskan dua gadis kesayangan kalian dengan mudah," sambungnya lagi menantang vampire yang tengah mengikuti visual prison.
"Aku tantang kau 1 VS 1 denganku!" tantang Guil menunjuk Yuito.
"Siapa takut!" menerima tantangan dan seketika mata Guil dan Yuito menjadi merah. Mendengar kata 1 VS 1 dhampir berjaket orange itu memasang wajah cemas.
"Ange, jangan khawatir. Ini urusanku dengannya," mencoba menenangkan manusia vampir yang tengah berdiri di sampingnya.
"Guil!" tahan Eve lantaran mempunyai firasat buruk.
"Aku akan mengurusnya, percayalah padaku. Lebih baik sekarang kalian cari Azura dan Daisy," ungkap Guil tegas.
"Baiklah," respon mereka singkat. Apa boleh buat, vampire bersurai ungu dan keempat rekannya meninggalkan area duel dan mencari dua kakak beradik di dalam sampai luar castil.
Beralih ke ilusi nightmare. Dua kakak beradik berusaha mencari jalan keluar. Namun sayang mereka tidak bisa melihat apapun. Yang terlihar hanya pandangan gelap berumput. Sesudah mengitari tempat asing tersebut Azura dan Daisy memutuskan beristirahat.
"Kakak bawa HP tidak?" tanya sang adik.
"Tidak, HP kita ada dikamar" jawab Azura singkat.
__ADS_1
"Kak, sampai kapan bulan merah itu ada?" keluh Daisy merasa kesal.
"Mungkin setelah visual prison selesai," responnya lagi menjawab pertanyaan gadis di sampingnya.
Suasana mencengkam dimulai. Entah kenapa bulu kuduk kadua gadis asal London mulai berdiri. Mereka saling berpelukan dan memejamkan mata untuk mengurangi rasa takut. Tiba-tiba pemandangan kembali terang dan munculah kumpulan vampire siap menyerang kapan saja.
"Aaaaaaaaah vampire!" sontak terkejut melihat pasukan vampire menghampiri dua gadis tengah ketakutan.
"Lariiii!" teriak Azura, tanpa aba-aba ia menarik tangan sang adik untuk mencari tempat sembunyi.
"Kakak! Aku takut!" ucapnya terengah-engah.
"Lihat ke depan jangan lihat ke belakang!" tegas Azura menguatkan adik satu-satunya. Akhirnya Daisy pasrah dan menuruti perintang kakaknya.
"Kak Dimitri! Kak Hyde! Tolong kami!" batin mereka serempak dalam keadaan berlari.
HOSH
HOSH
HOSH
HOSH
HOSH
Berlari dan terus berlari sampai menemukan sebuah rumah. Mereka memutuskan bersembunyi selajur istirahat disana. "CEKLEK! BRAK!" membuka dan bergegas memutup pintu.
TAP
TAP
TAP
TAP
Terdengar suara langkah kaki mulai mendekat
Semakin dekat
Makin dekat
"BRAK!"
Pasukan vampire mendorak pintu secara paksa.
"Kalian tidak bisa kabur dari kami," celetuk salah satu vampire tampan mengenakan topi silver seraya menampakkan taringnya. Karena kehabisan akal kedua gadis cerdik melemparkan apapun yang berada di dekatnya.
"Manusia tidak bisa mengalahkan bangsa vampire karena bangsa manusia hanya bisa menghindar dan berakhir melarikan diri," sambung vampire sebelahnya menggunakan jubah hitam.
Ketika dua vampire lainnya ingin mendekati Daisy,
"Jangan sentuh adikku!" umpat gadis berjaket kuning memandang dengan tatapan tajam.
"Oho! Ternyata kau lumayan berani juga," ungkap pemimpin pasukan vampire. Mendengar pemimpinnya berbicara pasukan vampire membuka jalan disertai bertekuk lutut pertanda hormat mereka.
Ketua vampire melesat cepat ke belakang Azura dan Daisy lalu merangkul kedua gadis cantik nan mempesona. Sedangkan kedua kakak beradik hanya bisa bungkam seraya berpikir untuk menipu para vampire untuk mengulur waktu sampai datangnya bantuan dari saudara sepupunya beserta anggota O☆Z.
To be continue.
__ADS_1