WANITA BERCADAR

WANITA BERCADAR
KEKECEWAAN AFIZA


__ADS_3

Keesokan harinya, Afiza tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan apapun, Bahkan untuk berangkat ke sekolah saja dia merasa malas sampai membuat ibu dan ayahnya bertanda tanya besar dan saling menyelam pada pikiran mereka masing-masing hingga akhirnya, Ibunya mengambil kesimpulan untuk bertanya kepada Afiza.


" Afiza! kenapa kamu terlihat sedih? " Tanya ibu kepada Afiza.


" Tidak ada apa-apa bu! Hanya saja Fiza lelah dengan aktifitas Fiza dan kegiatan-kegiatan di sekolah Bu " Jawab Afiza mencoba menutupi masalahnya.


" Fiza. Ibu yang telah melahirkan dan juga membesarkan mu, Jadi ibu paham dan juga merasakan apa yang tengah kamu rasakan "


" Akhh ibu bisa saja! " Menjawab dengan rasa malu-malu


" Jadi bagaimana Fiza? apa yang sebenarnya terjadi dan masalahnya juga apa? " Ibunya kembali mencoba bertanya, dan berharap akan mendapat jawaban yang berbeda.


" Tidak ada masalah apa-apa ibu. Fiza hanya merasa sangat lelah tidak lebih dari itu. " Kembali mengelak seolah-olah tidak ada masalah yang harus di ceritakan.


" Yasudah lah Fiza kalau kamu belum mau cerita sama ibu. "


" Iya Bu, Fiza berangkat ya Bu kesekolah " Sambil melangkah pergi meninggalkan ibunya.


Setelah sampai di sekolah Afiza hanya diam saja dan tidak terlihat banyak cerita kepada orang-orang. Diapun belajar di kelas dengan rasa yang tidak semangat dan merasa malas untuk melakukan apapun di hari itu.


Sehabis pulang sekolah, Afiza langsung pulang kerumah dan tidak ingin pergi kemana-mana untuk ekskul saja dia tidak ingin pergi dan juga tidak seperti biasaya yang setelah pulang sekolah menemui nenek paruhbaya itu. Dia terdiam membisu di kamar sendirian seolah-olah ingin menyendiri dan tidak ingin di ganggu.


Afiza terfikir kembali kenapa bisa Setega nenek itu kepadanya, Padahal dia sudah rela selalu menemani dan menjaga nya selama dirumah sakit dan juga dimana pun dia bersikap selalu ada. dia merasa sangat tersakiti mendengar jawaban nenek paruhbaya itu yang tidak ingin tinggal bersama nya. Tapi di sisi lain dia juga merasa rindu dengan nenek itu. yang biasanya dia memiliki teman untuk bercerita namun sekarang tidak ada lagi temannya untuk bercerita dan bercanda tawa.


Nek, Andai saja nenek mengetahui perasaan Fiza yang sebenarnya. Fiza sangat ingin selalu dekat dengan nenek, Fiza ingin kita selalu bersama. Tapi nenek udah buat Fiza kecewa dengan cara menolak keinginan Fiza untuk nenek tinggal bersama kami dirumah.

__ADS_1


Tok.. Tok... Tok...


Afiza tercengang dan berkata dalam hati. " Sepertinya ada yang mengetuk pintu " Masih terdiam dan mendengarkan kembali.


Tok... Tok.. Tok..


Pintu kembali berbunyi dan Afiza berjalan mendekati pintu dan ingin membukanyaa.


Ternyata yang mengetuk pintu ialah Ibunya Afiza yang membuat Afiza terkejut! ada apa ibunya mengetuk pintu kamarnya siang hari seperti ini. Seperti ada yang ingin di bicarakan saja siang-siang bolong begini datang ke kamarku.


" Ibu, Ada apa ibu tiba-tiba mengetuk pintu kamar Fiza Bu? Apakah ada yang ingin ibu tanyakan? " Afiza bertanya dengan rasa penasaran.


Ibu: " Iya Fiza, Ibu ingin bertanya kepada kamu jadi tolong jawab dengan jujur apa yang akan ibu tanyakan "


Fiza: " Baik Bu, Fiza akan menjawab semua pertanyaan ibu dengan jujur "


Fiza: " ehm.."


Ibu: " Kenapa kamu diam saja Fiza? pasti ada yang sedang kamu pikirkan ya??"


" Ti dak Bu tidak, Afiza menjawab dengan terbata-bata "


Ibu: " Fiza, Kamu sudah berjanji ingin berkata jujur dan ibu juga tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong. jadi kamu ceritain semuanya ya ke ibu. Mana tau ibu bisa memberi mu saran maupun kritik "


Fiza: " Begini Bu, Kan Fiza kenal dengan nenek-nenek yang sudah tua dan nenek itu tidak memiliki rumah lagi buk karena tidak tau entah siapa yang membuat pamplet RUMAH INI DI JUAL jadi Fiza merasa kasian Bu melihat nenek itu "

__ADS_1


Ibu : " Lalu bagaimana jawaban nenek itu Fiza? "


Fiza : " Nenek itu gak mau Bu tinggal bersama kita " Sambil menunduk merasa sedih.


Ibu : " Apa alasannya Fiza? "


Fiza : " Nenek itu belum sempat memberi tahu Fiza Bu! Nenek masih berkata belum bisa memastikan ikut atau gak "


Ibu : " Lalu kenapa kamu tidak menanyakan penyebabnya Fiza ? "


Fiza : " Fiza terlanjur kecewa Bu mendengar penolakan nenek itu "


Ibu : " Fiza kamu tidak boleh seperti itu ya. Bagaimana pun nenek itu pasti punya alasan tersendiri dan kemungkinan rumahnya itu lah satu-satunya yang dia punya dan paling berharga atau itu jadi kenangan baginya kan kita tidak tau Fiza "


Fiza : " Iya bu. "


Ibu : " Kamu juga tidak boleh bersikap egois dan mementingkan apa yang kamu mau. Harus liat dulu bagaimana dengan orang itu "


Fiza : " Baik Bu. "


Ibu : " Yasudah Fiza, besok segera kamu temui nenek itu tanyakan yang pasti dulu apa alasannya lalu kami tidak boleh egois ya. ingat apapun penjelasan nenek itu kamu harus terima yaa "


" Iya Bu, Sambil memeluk ibunya dan meneteskan air mata.


Sedangkan nenek paruhbaya itu menunggu kedatangan Afiza yang seperti biasanya dan berharap bahwa Afiza akan kembali datang menemuinya. Dia hanya berfikir bahwa Afiza masih tidak terima untuk keputusannya yang tidak bisa tinggal bersama keluarga Afiza. Dan dia juga percaya kalau hanya sebentar saja dia merajuk dan akan kembali membaik seperti biasanya. Waktu pun terus berputar dan nenek paruhbaya itu masih terus menunggu kedatangan Afiza. Hingga sore hari pun nenek itu terus melihat dari arah jendela apakah dia datang atau hanya sekedar menunggu yang sia-sia.

__ADS_1


Next Episode selanjutnya 🤗🤗🤗


Selamat membaca dan semoga suka 🥰🥰


__ADS_2