Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning

Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning
#10 : Apa harus aku contohkan?


__ADS_3

Kedengarannya menyenangkan. Kopi?" Roger yang memang sudah hapal dengan pertikaian dua orang ini malah tidak menanggapi serius  kemarahan Isabella. Dia menyodorkan gelas-gelas Starbucks itu pada Isabella. "Hilangkan dulu kantuk mu dengan segelas kopi. Aku tahu kau belum tidur sejak semalam."


“Capt Roger kau di panggil. Biar aku saja disini yang menemani nona Sovie dan capt Sky.” Seorang pria lain nya datang dan seperti nya dia pun seorang kapten seperti Sky dan Roger.


“Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa terlalu banyak capt yang turun?” pikir Isabella yang terus menganalisa keadaan.


“Oke!” Capt Roger pun pergi setelah menyerahkan gelas- gelas kopi itu pada capt yang lebih muda ini.


“Nona Sovie perkenalkan aku, Diego Lugas.” Pria itu tersenyum manis pada Isabella.


“Apa teman ku ini menyebalkan? Kalau ia, mohon di maafkan saja.” Polisi ini terlihat sangat berbeda dari Sky.


Tapi perlu diingat bahwa Isabella adalah anak dari bos kedua pria ini ( Sky dan Diego) jadi dia sudah sangat hapal dengan skenario seperti ini.


Isabella melemparkan tatapan penuh arti ke balik bahunya. "Polisi baik, polisi jahat? Itukah hal terbaik yang sanggup kau lakukan, Sky?"


Sky berjalan menyeberangi ruangan dan berhenti di ambang pintu, tampak menjulang di hadapannya. "Kau tidak tahu apa yang sanggup kulakukan," jawab nya cuek.


Saat ia mengulurkan tangan dan meraih salah satu gelas kopi dari Diego, Isabella membuat catatan dalam hati untuk berhati-hati saat mengejek seorang pria yang membawa pistol, menyalahkan dirinya karena nyaris menghancurkan karier pria itu, yang lebih sekepala tingginya dari dirinya.


Diego memberi isyarat dengan gelas kopinya. "Apakah kalian sudah saling mengenal?"


"Aku dan Ms. Sovie nyaris bersenang-senang saat menangani sebuah kasus bersama-sama," kata Sky.


"Nyaris? Apa maksudnya?" Diego menoleh ke arah Isabella dengan tatapan mulai mengerti.


"Tunggu dulu... Isabella Sovie? Aku tahu nama itu terdengar tak asing. Tentu saja, dari kantor kejaksaan MILAN." Kedua matanya yang berwarna cokelat muda berkilat saat ia tertawa. "Kaulah orang yang Sky ............”


"Kukira kita semua mengingat dengan sangat baik apa yang Capt Sky lakukan," potong Isabella. Pengalaman itu sungguh terlalu memalukan bagi nya. Dan yang lebih menyakitkan adalah itu merupakan ciuman pertama kalinya.


Diego mengangguk. "Tentu, bukan masalah," Pria itu menatap di antara dirinya dan Sky.

__ADS_1


"Kau mau yang latte atau yang pahit?."ujar nya Untuk mengubah topik, Isabella menunjuk ke arah kopi.


"Yang latte saja. Malam ku sudah sama pahit nya dengan kopi itu.


"Ini. Kudengar kau mengalami malam yang panjang." Ujar Diego saat Isabella meraih satu gelas dari dari nya.


Isabella sudah terjaga selama dua puluh tiga jam dan adrenalin sudah tidak membantu lagi. Ia menyeruput kopinya, menghela napas penuh syukur. "Terima kasih."


Diego mengangguk lalu meneguk kopinya. "Lihat, di sinilah kita, hanya tiga manusia yang sedang menikmati kopi dan bercakap-cakap. Jadi bagaimana menurutmu, apakah kau mau tetap tinggal dan bercakap-cakap dengan kami tentang apa yang terjadi tadi malam?" Diego seperti nya lebih beretika dari pada Sky. Dia tahu bagaimana membawa alur masalah ini agar lebih cepat selesai.


Dan percaya lah, itu hampir berhasil membuat Isabella tersenyum. Diego, paling tidak, ternyata adalah seorang pria yang menyenangkan dan berpikiran sehat. Sayang sekali ia terpaksa bersama dengan rekannya dalam tugas ini.


"Tidak seburuk itu," kata Isabella pada pria itu.


Diego menyeringai. "Kopinya atau sikap polisi yang baik?" canda nya pada Isabella.


"Keduanya. Jika kau ingin memberiku beberapa pertanyaan, Capt Diego, aku dengan senang hati akan bekerja sama." Isabella menyerempet tubuh Sky saat ia berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar.


Sky dan Diego mengikutinya saat ia duduk di depan meja. la menyilangkan kedua kakinya dan menatap kedua kapten yang sebenarnya tampan itu.


Sky memainkan pena nya. Dia memutuskan untuk membiarkan Diego yang mengajukan pertanyaan pada Isabella tentang kejadian malam sebelumnya.


Bukan karena Isabella tidak mau bekerja sama dengan nya, namun karena ia sedikit kesal sebab Isabella memberikan respons lebih baik pada rekannya daripada pada dirinya.


Bukan kah mereka berdua seharusnya sama- sama bersikap profesional? Dan tidak akan membiarkan persoalan pribadi menghalangi mereka?


Tapi seperti nya Isabella masih berada bayang- bayang masa lalu antara dia dan Sky. Sehingga semua yang Sky tanyakan di jawab oleh Isabella asal.


Dari tempatnya di sudut ruangan, Sky mengamati Isabella itu. Wanita itu tampak kelelahan. Dan untuk beberapa alasan, wanita itu tampak lebih cantik dari pada yang selalu dia lihat.


“Apa karena di kantor dia memakai baju formal dan hiasan yang terlalu formal? Sedangkan saat ini dia tampil apa ada nya dengan balutan kimono yang super duper menggugah gairah..”

__ADS_1


Karena terlalu lama memperhatikan Isabella, dia akhir nya menyadari sebenar nya tidak ada yang berbeda dari wanita ini. Rambut cokelatnya yang panjang, kedua mata jernihnya yang biru kehijauan, bibir nya yang mungil namun menggoda.


“Astaga! Apa-apan ini! Kenapa otakku malah kesana?” seru Sky terkejut karena dia kembali mengingat momen dia mencium Isabella karena kesal.


"Jadi saat mereka membuatku terbangun untuk kedua kalinya," Isabella sedang berkata,


"saat itulah aku memutuskan untuk menelepon Guest Services."


"Aku ingin mundur beberapa saat." Interupsi Sky dari sudut ruangan membuat Isabella terkejut; itu pertama kalinya Sky berbicara sejak Diego mulai memberikan pernyataannya.


"Katakan padaku apa yang kau dengar tepat sebelum kau tertidur. Sebelum suara-suara di kamar sebelah mulai terdengar lagi," kata Sky.


"Aku mendengar pintu ditutup, seolah seseorang meninggalkan kamar itu," jawab Isabella.


"Apakah kau yakin suara pintu depan yang kau dengar?" tanya Sky, agar mendapat sebuah kepastian dari Isabella.


"Ya." Jawab Isabella tetap yakin dengan apa yang dia dengar.


"Apakah kau memeriksa sendiri dengan mata kepala mu, ada orang yang keluar dari kamar itu?" Sky kembali mengajukan pertanyaan.


Isabella menggeleng. "Tidak. Karena kamar itu menjadi sunyi untuk beberapa saat. Sekitar setengah jam atau lebih. Aku pikir semua sudah selesai dan aku bisa tidur dengan tenang." Terang Isabella.


"Ceritakan padaku tentang suara-suara yang membuatmu terbangun." Lanjut Sky.


"Apa yang ingin kau ketahui, Capt Sky?" tanya Isabella berpura- pura tidak paham dengan apa yang Sky tanya kan.


"Seperti yang kukatakan padamu. Aku ingin tahu apa yang kau dengar." Ulang Sky sekali lagi.


Isabella menghela nafas. "Yang ku dengar ya seperti yang aku katakan tadi. Bunyi nya nyaris sama seperti saat pertama kali mereka mulai berisik," jawab Isabella itu dengan nada menantang.


Sky memiringkan kepalanya. "Benarkah? Tadi kau mengatakan kalau bunyi yang pertama yang kau dengar dari kamar sebelah adalah bunyi orang yang sedang bercinta kan? Bagaimana cara mu mengindentifikasi hal itu? Maksud ku bagaimana kau tahu kalau itu adalah bunyi orang yang sedang bercinta?." Tanya Sky yang membuat Isabella bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


Apa perlu aku tirukan ulang semua bunyi yang dia dengar dari kamar sebelah agar Sky bisa mengindetifikasi bunyi itu dengan otak nya sendiri?


“Nona Isabella? Kami menunggu jawaban mu.” Desak Sky.


__ADS_2