Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning

Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning
#18: Penggalan kenangan Sky (1)


__ADS_3

#Flash Back On


Sebagai awalnya, Sky masih belum bisa melupakan cara wanita itu menolak untuk menatapnya di hari ia memberitahunya tentang kasus Ellard.


Suatu hari tiga tahun yang lalu, Isabella menelepon untuk memberi tahu bahwa ia akan datang ke kantornya untuk berbicara dengan diri nya.


Saat ia mendengar ketukan pintu dan melihat wanita itu berdiri di ambang pintunya, Sky tersenyum.


Sky dapat mengingatnya dengan sangat jelas, mungkin karena betapa jarangnya ia tersenyum di masa-masa itu tidak ada banyak hal yang dapat membuatnya gembira selama dua tahun ia bekerja pada Ellard.


Sky masih merasa dihantui saat-saat penyamarannya yang berlangsung begitu lama dan mengalami kesulitan untuk kembali menjalani kehidupan normal secara rutin. Ia juga tidak tidur di malam hari, dan itu jelas tidak membantu.


Tapi sejauh kesulitan yang dihadapinya untuk kembali melakukan pekerjaan kantoran, ada satu bagian dari hal itu yang tidak membuatnya keberatan yakni bekerja dengan Isabella Sovie.


SKy mulai merasa khawatir, entah mengapa jantung nya selalu berdebar tidak karuan saat bertemu dengan Isabella Sovie. Padahal mereka hanya membicarakan pekerjaan kasus Ellard, walaupun ada di beberapa moment i mereka hanya berduaan saja.


Dan di saat – saat seperti ini Sky diri nya memiliki rasa yang berbeda pada asisten jaksa ini.


Sky tidak tahu bagaimana menggambarkannya, entah! Mungkin karena terlalu lama dalam penyamaran membuat pikiran nya sedikit soak.


"Masuklah," kata Sky padanya.


Saat Isabella melangkah masuk ke dalam kantornya sore itu, untuk pertama kalinya wanita itu tidak membalas senyumnya.


"Apakah rekan mu tidak akan bergabung bersama kita?" tanya Isabella .


"Dia sedang dalam perjalanan. Kenapa kau tidak duduk sementara menunggu?" Sky menunjuk kursi di depan mejanya.


Isabella menggeleng. "No, thank you! Aku berdiri saja.”


Setelah bekerja bersama bulan lalu, Sky sudah mengenal Isabella dengan cukup baik untuk mengetahui bahwa wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


Sky merasa ada sesuatu yang salah saat ini. Hanya saja dia tidak bisa menduga hal apa!


Tidak seperti biasanya, Isabella gugup dan tidak ramah. Obrolan mereka pun cendrung kaku.


Sky benar- benar merasakan firasat buruk tentang hal ini. "Kau bilang ingin berbicara tentang Ellard. Apa ada masalah dengan kasus itu?" Sky menatap Isabella yang tampak bimbang.


“ Ya begitu lah..” Jawab Isabella singkat.


Kedua mata Isabella beralih ke arah pintu. "Mungkin sebaik nya kita tetap menunggu rekan mu." Isabella menggigit bibir bawahnya dengan gelisah dan Sky tidak dapat memastikan apa yang sebenarnya yang mengganggu nya saat ini.

__ADS_1


Semakin Isabella gelisah dan menggigit bibir nya, Sky semakin tidak bisa menjauhkan tatapannya dari bibir Isabella.


“Aku bisa gila!” Ujar Sky dalam hati. Sky berdiri dari tempat duduknya, berjalan memutar, dan menutup pintu kantornya.


Lalu dia berdiri di hadapan Isabella. "Ada sesuatu yang membuatmu gelisah, Isabella?."


"Capt Sky, kupikir...." Sky memotong ucapan wanita itu.


"Sky saja, oke? Bukan kah selama ini kita selalu memanggil nama saja? Aku tidak memanggil mu asisten jaksa kan?"


Isabella terlihat kembali gelisah. Dia sebentar sebentar menoleh ke luar. Dan saat Isabella kembali menoleh ke luar, Sky melakukan sesuatu yang mengejutkan mereka berdua, ia mengulurkan tangan nya dan menyentuh dagu wanita itu dengan lembut. Sky memalingkan wajah wanita itu agar menatapnya. "Katakan padaku, Isabella. Katakan padaku apa masalahnya."


Saat mata indah Isabella yang berwarna biru laut bertemu dengan matanya, Sky merasakan sesuatu yang sama dengan sentakan listrik yang diarahkan padanya oleh anak buah Ellard selama dua hari masa penahanannya. Hanya kali ini jelas lebih menyenangkan.


"Sky," bisik wanita itu. "Maafkan a....'


Ketukan di pintu mengejutkan mereka. Sky dan Isabella saling memisahkan diri saat pintu kantor itu terbuka. Felix melangkah masuk, terkejut mendapati mereka berdua sedang berdiri di sana.


"Oh, hei, maaf aku terlambat." la duduk di salah satu kursi di depan meja Sky.


Sky dan Felix memang telah lama menjadi rekan. Hal itu tentu saja membuat tidak merasa canggung di dalam kantor Sky.


Felix menyilangkan kakinya dan menengadah menatap Isabella. "Sky bilang kau ingin berbicara dengan kami tentang Ellard?"


Suara Felix terdengar kaku dan gelisah.


Dan anehnya Felix memusatkan perhatian nya hanya pada Felix. "Aku ingin memberi tahu kalian bahwa kami telah mengambil keputusan. Kami tidak akan mengajukan tuntutan melawan Boy Ellard. Atau pun orang lain dalam organisasinya, dalam hal itu."


Ada kebisuan di dalam ruangan itu. Sky memecahkannya. "Kau pasti tidak serius." Ujar Sky.


Isabella masih tidak berani menatap Sky.


"Aku tahu ini bukan hasil yang kalian berdua harapkan." Lanjut Isabella sambil meremmas jari jemari nya yang terasa dingin.


"Apa maksudmu, kalian tidak akan mengajukan tuntutan?" tanya Felix.


Felix adalah penghubungan antara Sky dan kepolisian selama dua tahun masa penyamaran Sky dan mengetahui semua hal kotor yang mereka gali dari pria yang mereka incar itu.


"Kantor kami memutuskan tidak ada cukup bukti untuk membawa kasus ini ke persidangan," kata Isabella.


Sky berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan amarahnya. "Omong kosong. Siapa yang membuat keputusan ini? Apakah DOnald?" tanya Sky pada Isabella.

__ADS_1


Felix berdiri dari kursinya dan berjalan mondar- mandir.


"Bajingan itu. Yang dipedulikannya hanyalah reputasinya sendiri," ujar dengan tatapan jijik.


"Aku ingin bicara dengannya," desak Sky.


Isabella akhirnya menoleh pada Sky."Tidak perlu melakukannya. Ini ... adalah kasusku. Dan ini adalah keputusanku." Ucap nya dengan tenggorokan yang terasa sangat sakit.


"Omong kosong. Aku tidak percaya padamu." Seru Sky.


"Sky, tenang lah!" Ujar Felix yang sangat tahu jika Sky mulai tidak senang.


Isabella berusaha untuk tetap tenang. "Aku sadar betapa membuat frustrasinya hal ini...." Isabella terhenti, sebab Sky melangkah mendekatinya. "Membuat frustrasi? Frustrasi tidak bisa menggambarkan apa yang kurasakan saat ini. Kau sudah membaca berkasnya, paling tidak aku berasumsi kau melakukannya sampai kira-kira semenit yang lalu, sekarang aku tidak yakin apa yang kau atau orang lain di kantor kejaksaan Milan itu lakukan. Kau tahu siapa Ellard dan semua hal yang dilakukannya. Apa yang kalian pikirkan, hah?" Bentak nya pada Isabella.


"Maafkan aku," kata Isabella kaku. "Aku tahu apa yang kau alami selama penyelidikan ini. Sayangnya, tidak ada lagi yang dapat kukatakan padamu." Jawab Isabella yang benar- benar sangat menyesal tdiak bisa membersamai Sky sampai akhir.


"Tentu saja ada. Kau bisa katakan padaku siapa orang di kantor kejaksaan Milan yang dibayar Ellard hingga dapat membuat mukjizat ini terjadi. Kalau bukan Donald bebek itu yang membuat keputusan ini, maka...." Sky terdiam untuk memberi Isabella pandangan menyelidik sekali lagi.


"Bagaimana menurutmu, Felix, haruskah kita melakukan sedikit pemeriksaan pada rekening Ms. Sovie? Kita l hat apakah ia mendapat deposit besar yang tidak lazim belakangan ini?"


Isabella berjalan mendekat dan menatap mata Sky dalam-dalam. "Kau sudah melewati batas dengan mengatakan itu, Capt Sky." Ujar Isabella .


Felix melangkah di antara mereka. "Baiklah, menurutku kita semua harus mundur selangkah untuk sesaatdan menenangkan diri." Felix mencoba menengahi.


Sky mengabaikannya. "Aku ingin sebuah penjelasan," desak nya pada Isabella.


Wanita itu berdiri kaku, menantang tatapan Sky dengan penuh amarah. "Baik. Ini semua terjadi karena kau membongkar kedokmu terlalu awal. Kuharap penjelasan itu dapat memuaskanmu, karena hanya itulah yang dapat kuberikan padamu."


Perkataan Isabella benar- benar melukai harga diri Sky. Karena memang itu adalah kesalahan nya Walau pun Sky tidak memiliki pilihan, ia masih menyalahkan dirinya sendiri setiap hari akan kenyataan bahwa penyamarannya terbongkar.


Seketika itu juga suara Sky berubah sedingin es. "Keluar dari kantorku." Usir nya pada Isabella.


"Aku baru saja akan pergi," balas Isabella.


"Tapi ada hal lain, kalau kau memiliki keraguan tentang di mana kesetiaanku berada atau tentang dedikasiku pada pekerjaanku, kau bisa langsung menanyakannya padaku, Capt Sky. Tapi jika kau mengintip rekening bank ku, lebih baik kau memiliki surat perintah pengadilan atau seorang jaksa pembela."


“Felix, aku pergi!” Isabella mengangguk pada Felix untuk mengisyaratkan selamat tinggal.


Felix menatapnya pergi. "Aku tahu kau marah, Sky, dan aku juga merasa sangat marah, tapi berhati-hatilah. Isabella Sovie mungkin masih baru di kantornya, tapi ia tetap seorang asisten jaksa Milan. Mungkin bukan ide yang baik menuduhnya korupsi."


“aku tidak peduli! Aku dan anak buah ku dua tahun dalam hidup untuk hal yang sia- sia.” Ujar Sky.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan bicara pada Halbert," katanya, menyebutkan nama bos mereka. "Akan kucoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi." Dia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Sky. "Sementara itu, kau harus menenangkan diri. Pulanglah, mabuklah, apa pun, hanya saja jauhi kantor ini sebelum kau mengucapkan hal lain yang akan kau sesali."


Sky pun mengangguk.


__ADS_2