
Sky melirik pada Isabella. Kalau dia dan Isabela terus bertengkar maka sampai kiamat pun mereka akan tetap di kamar ini.
Sky pun menelan semua rasa kesal nya pada jaksa yang menyebalkan ini.
"Menurut isi rekaman itu, Marcello Domenico semestinya menjadi tersangka utama," ujar Sky pada akhir nya.
"Malahan, polisi mungkin sudah menangkapnya jika bukan karena diri mu bersuara?" lanjut nya setelah Isabella menoleh ke arah nya.
Sky menjauhi dinding dan berjalan mendekat. Ia merebut foto dari tangan Isabella dan mengacungkan nya di depan wajah Isabella.
"Well, nona Isabella Sovie, kita lewatkan saja hal-hal yang tidak perlu. Sekarang jawab pertanyaan ku. Apakah pria yang kau lihat meninggalkan kamar lima menit sebelum para petugas keamanan hotel tiba dan menemukan wanita itu sudah meninggal, adalah pria di dalam foto ini??" Tanya Sky tiba- tiba.
Isabella terlihat berpikir. Dari ekspresi wajah nya terlihat jelas jika di sedang mengingat- ingat sesuatu lalu memikirkan dalam - dalam.
Sky melambaikan foto itu lebih dekat. "Ayolah, Isabella... apakah ada kemungkinan pria ini yang kau lihat adalah dia?"
Isabella merasakan pergolakan aneh di dalam perutnya, mendengar Sky memanggil nama depannya tanpa embel- embel buk jaksa atau nona Sovie.
Isabella kembali memfokuskan diri pada foto yang di lambaikan Sky di hadapannya.
"Aku rasa tidak! Marcello Domenico bukan hanya bertubuh lebih pendek, tapi juga lebih gendut. but.. permasalahan nya aku melihat nya dari lubang pengintip ini." Pikir Isabella berkali - kali dalam diam nya.
"Isabella? Apa masih lama kami harus menunggu jawaban mu? Kau cukup mengatakan ya atau tidak saja." Tegas Sky, tidak sabaran.
Isabella mengarahakn pandangan nya ke Sky. Dan dari pandangan itu kesan kesal dan gedek terasa sangat kental.
"Apa kau ingin aku menjawab nya asal tanpa mengingat ulang dan memikirkan apa yang aku lihat?" ketus Isabella.
"Aku bertanya hanya berdasarkan dari apa yang kau lihat! Bukan berdasarkan hasil analisa mu! Jadi kau tidak perlu membuang isi otak mu untuk menganalisa nya sebelum akhir nya memberikan jawaban itu pada ku. Just say it!" Balas Sky tidak kalah menusuk nya.
"Baik lah, itu bukan dia," jawab Isabella pendek.
__ADS_1
"Kau yakin?" tanya Sky.
Isabella tersenyum dan melipat tangan nya di dada. Mulut nya sudah gatal untuk menjawab pertanyaan Sky. "Dari apa yang di lihat oleh mata ku yang tidak tidur sepanjang malam melalui lubang pengintip yang kecil itu dimana aku tidak bisa memperhitungkan berat dan tinggi badan asli dari orang yang sekedar lewat di depan kamar ku, maka jawaban IYA!" Jawab Isabella dengan senyum yang sangat membuat darah turun naik saking kesal nya.
Sky pun menjauh darinya.
"Baiklah kalau begitu, jadi Marcello Domenico berhutang satu ucapan terima kasih padamu, nona Isabella Sovie. Karena hanya ucapanmu yang dapat membuatnya terhindar dari penangkapan atas tuduhan pembunuhan." Tegas Sky.
Kening Isabella langsung berkerut.
"Apakah ia tidak memiliki alibi sama sekali?" tanya Isabella penasaran.
Sky tetap membisu. Itu jelas masuk dalam kategori aku tidak akan menjawab pertanyaan usil, bagi Sky.
"Oghey!!! ku anggap jawabannya tidak," Isabella menjawab sendiri pertanyaan nya sambil mengerlingkan mata nya.
"Bagaimana jika aku bertanya pada mu saja Diego. Jadi, partner ranjang plus- plus nya Marcello Domenico, yang merupakan ."
"Apa? Aku tidak punya masalah dengannya seperti dirimu. Lagi pula, kudengar Razor mengatakan ... kita seharusnya berbagi, ingat?" seru nya untuk melindungi diri nya dari amarah Sky.
Sky kini lebih menajamkan lagi dengan wajah yang terlihat kesal. Diego yang sadar jika diri nya mendapatkan Lebih banyak tatapan marah lagi langsung mengunci rapat mulut nya. Dan kunci itu pun di telan sekalian.
"Aku paham sekarang. Jadi wanita ini sengaja merekam agar diri nya dapat mengendalikkan seorang pria yang sangat berkuasa dan memiliki tahta," Isabella menyimpulkan sendiri yang dia dengar sejak tadi..
" Marcello Domenico bertemu dengannya malam ini, mereka melakukan perbuatan itu berkali-kali. " Isabela menautkan alis nya.
"Ada apa?" Tanya Diego.
"Apa kalian pria memang kuat melakukan hal itu berkali- kali dalam satu waktu yang sama. I mean, benar- benar berkali- kali. Dan kalau pun memang ada jedah itu hanya lah beberapa saat lalu kembali dengan aktivitas yang sama." Tanya Isabella dengan wajah polos nya.
"Usia mu saat ini berapa nona Sovie?" tanya Sky dengan sorot mata sedingin es nya pada Isabella.
__ADS_1
"Usia ku? kenapa kau bertanya usia ku capt Sky?" balas Isabela ketus.
"Aku hanya penasaran, kau itu benar- benar perawan tua? atau wanita tua yang sudah tidak perawan." Sebut Sky dengan mudah nya.
Diego yang mendengar kata- kata tajam dari mulut partner nya itu hanya bisa menunduk sambil menutup wajah nya. Karena apa? Karena partner nya yang memang otak nya sering di dengkul kalau sudah berhadapan dengan Isabela, kali ini benar- benar telap menyalakan bom melotov untuk diri nya sendiri. Kecil memang, tapi bisa mematikan jika kau menaruh bom itu di dalam mulut lalu menyalakan nya. Dan itu lah yang Sky lakukan saat menanyakan hal sensitif seperti itu pada seorang wanita. Terlebih lagi wanita itu adalah Isabella.
"Menurut mu aku ini perawan tua yang masih perawan atau tidak, Capt Sky? Aku yakin kau pasti sudah sangat berpengalaman dalam menentukan hal ini. Why? Aku yakin wanita ranjang capt Sky ini pasti tidak terhitung lagi jumlah nya." Balas Isabella telak.
Perlahan mata Diego beralih ke Sky. Bola mata itu benar- benar memilihi mode transisi yang paaaaaling lambat. Dan saat bola mata Diego melihat ke arah bola mata Sky terlihat bola mata Sky naik turun seolah sedang memastikan sesuatu sebelum ujaran tajam lain nya keluar dari mulut nya.
"Nona Sovie, kau harus tahu sesuatu!" Diego segera mengalihkan cepat sebelum perang dunia ketiga pecah akibat mulut Sky yang beracun. ENTAH DARI SIAPA SKY MENDAPAT KAN MULUT SAMPAH SEPERTI ITU! MULUT DAN WAJAH NYA SUNGGUH BERTOLAK BELAKANG.
"Ya capt Diego?" sambung Isabela cepat.
"Dari tubuh wanita itu terlihat ada perlawanan sebelum si pelaku membunuh si wanita. Namun tidak di temukan tanda-tanda pria itu masuk dengan paksaan. Jadi aku berpikir si wanita mengenal sang pembunuh dan membiarkannya masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana menurut mu mengenai pendapatku sejauh ini?" tanya Diego setelah memaparkan kesimpulan nya.
"Aku sependapat dengan mu Capt Diego!" Seru Isabela, dengan wajah bersemangat karena ternyata tidak hanya diri nya sendiri yang berpikiran seperti itu.
"Well, nona Sovie," kata Sky padanya, "kau telah mengalami malam yang panjang, dan kami tidak ingin menyita waktumu lagi. Kami menghargai kerja samamu, Ms. Sovie. Kita akan saling berhubungan jika ada hal lebih lanjut yang kami butuhkan." Sky mengakhri percakapan panjang dan melelahkan itu disaat Isabella sedang bersemangat- semangat nya.
Isabella menatap saat pria itu berbalik dan menuju ke arah pintu, jelas dengan kesan yang salah bahwa tidak ada hal lain yang harus mereka bicarakan.
"Sebenarnya, aku punya pertanyaan lain, Capt Sky," kata Isabella.
Pria itu berbalik menatapnya. "Apakah itu?"
"Apakah akhirnya aku boleh meninggalkan kamar hotel ini?"
**********
Hai kakak- kakak semua?? Haha, aku ingin berceloteh panjang kali lebar di bawah setiap bab tapi aku gak bisa karena sudah ad kolom penulis, tapi jumlah kata nya di batasi.. huf! Padahalkan aku ingin rumpi bareng ya?? wkwkw..
__ADS_1
bantu naikin buku nya Sky kakak- kakak dengan tabur bunga cinta dan segalon kopi pahit.. heheh serta vote yang buaaanyak! Biar aku tetap semangat berada di NT. Muach. makasih.