
"Aku memberikan informasi ini pada mu karena kau adalah orang kejaksaan.” Kilah Sky, padahal sedari awal bos nya memang memerintahkan hal tersebut.
"Sangat jelas, Capt Sky," respon Isabella.
"aku yakin kau sedikit banyak pasti sudah menyimpulkan sesuatu berdasarkan hasil kepo tingkat tinggi mu itu, jadi aku akan melewatkan pendahuluannya, dan masuk ke part yang tidak bisa kau tembus dengan mata dan telinga mu. " ucap Sky tetap saja tidak enak di dengar seperti biasanya. Tapi Isabella mencoba bertahan. Secara dia memang se penasaran itu.
"Kau memanggil petugas keamanan hotel. Dan setelah mereka masuk ke kamar 16038 mereka menemukan mayat seorang wanita di kamar itu. Sehingga mereka memanggil paramedis dan polisi. Polisi Milan tiba di tempat kejadian, melihat adanya tanda-tanda perlawanan, dan memulai penyelidikan mereka." Ujar Sky.
“Tanda-tanda perlawanan seperti apa?" tanya Isabella penasaran, dia memajukan tubuh nya tanda ketertarikan nya pada cerita Sky.
"Ingat Nona Sovie, ini masih hasil penyelidikan sementara. Dan kepolisian masih harus melakukan penyelidikan yang mendalam." Ujar Sky sebelum melanjutkan cerita nya.
"Iya! aku paham! kau kira aku ini siapa capt Sky! aku ini seorang jaksa!! tentu saja aku sangat paham akan hal itu!! " Tegas Isabella.
"Oke akan aku lanjutkan." ujar Sky.
"Langsung bagian yang tidak bisa di tembus oleh mata dan telinga ku!!" cicit Isabella dengan nada kesal.
Sky melirik ke arah Isabella dan menghela kecil nafas nya. "Ketika polisi melakukan penyisiran di dalam kamar itu, mereka menemukan sesuatu yang tersembunyi di belakang TV di seberang tempat tidur. Sebuah kamera video." Lanjut Sky.
"Apakah si pembunuh merekam perbuatan nya?” tanya Isabella tidak sabaran.
SKy menggeleng. "Kalau dia merekam perbuatan nya untuk apa kami menahan mu berjam- jam hingga pagi di sini. " ketus Sky.
"Ya siapa tahu kau rindu pada ku!" Timpal Isabella asal.
"Yang benar sajaa!" Desis Sky.
"Yollooooo mereka mulai lagi!!!" Seru Diego.
"Diam lah Diego!" ujar Sky dan Isabella serentak.
"Jadi apa yang terekam di dalam video itu? Apakah hanya adegan ranjang saja? " Isabella membayangkan **** dengan suara-suara serak yang didengarnya melalui dinding.
__ADS_1
"Hem- ya! Adegan ranjang yang sangat panas! " Cicit Diego terbayang isi video yang dia lihat tadi
"Benar," Sky setuju, tanpa sadar.
"What??" Seru Isabella membuat kedua pria itu kembali sadar.
"Ekhm!" Sky berdeham sebentar sebelum melanjutkan cerita nya.
"Seperti yang Diego katakan, adegan nya memang sangat panas! Tapi bukan itu fokus nya. Fokus nya adalah pria di dalam video panas itu adalah seorang seorang anggota badan legislatif MILAN. yang sudah menikah."
Boom!! perkataan Sky sungguh membuat Isabella terkejut.
“Apa???!!” Isabella terbelalak. Ia tidak menyangka hal itu yang akan dia dengar.
Dan pertanyaan berikut nya yang sangat template pun keluar dari mulut Isabella.. "yang mana satu?" tanya nya cepat, bak seorang reporter gosip.
Capt Diego mengeluarkan sebuah foto dari kantong dalam setelan jasnya dan menyerahkannya pada Isabella.
Isabella menatap foto itu, lalu kembali menatap Sky. "dia....?."
"Tentu saja," kata Isabella. "Marcello Domenico." sebut Isabella.
“Dia menjabat selama lebih dari 20 tahun. Dan akhir-akhir ini aku melihat wajah pria itu di acara-acara berita lebih sering dari biasanya. Seperti nya dia sedang dalam masa pencalonan atau apalah. Aku lupa.”
Isabella membayangkan kembali wanita berambut merah yang dilihatnya terbaring di ranjang dorong tim paramedis. "Wanita di kamar 16038 bukan istri nya kan?"
"Bukan," kata Sky.
"Siapa dia?"
"Kita sebut saja Marcello Domenico membayar untuk service plus - plus."
"tukang pijit plus-plus??"
__ADS_1
"Menurutku wanita-wanita setaraf dia biasanya lebih suka menyebut diri mereka 'pendamping'."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" kejar Isabella.
"Kami punya banyak catatan tentang pelayanan para pendamping ini. Pria itu sudah berhubungan dengan wanita ini secara rutin nyaris selama setahun."
Isabella bangkit dan berjalan dengan gaya seorang detektif.
"Jadi, apa maksud kamera itu? Jangan katakan padaku dia sengaja merekam nya untuk koleksi pribadi nya." Ia berhenti, berpikir cepat.
"Koleksi pribadi? kau sungguh berpikir dia sendiri yang merekam nya untuk koleksi pribadi nya! Oh Lord! Dari mana pikiran aneh itu muncul!! Hei Isabella listen to me! Pria ini adalah pria yang punya citra yang baik di mata masyarakat! Tidak mungkin dia berpikir dengan cara pikir mu yang cetek itu! Aku sungguh heran kenapa kau bisa jaksa! " Cemooh Sky.
"Oo!! jadi menurut mu aku tidak pantas jadi jaksa!! Lalu kau sendiri bagaimana capt Sky? apa kau pantas jadi polisi? Dengan cara kerja mu yang amburadul itu? yang tidak taat aturan! Kau lebih cocok jadi preman dari pada jadi polisi!!!" Balas Isabella yang langsung menegakkan tubuh nya menunjukkan kalau dia tidak Terima dengan apa yang Sky katakan.
"Ups! Ups!! tenang sodara- sodara!! ini masih pagi!!" Diego mencoba menengahi.
"Jangan ikut campur Diego!" Jawab Sky dan Isabella lagi- lagi serentak.
"Ogheey! tapi tolong turunkan dulu persenaling masing -masing. Jangan buru- buru untuk adu mekanik. " lanjut Diego.
" Isabella, kami menduga ini ada sebuah rencana untuk sebuah pemerasan terhadap tokoh terkenal ini. " Ucap Diego agar mereka tidak berlama- lama saling adu pandang dengan menggunakan tatapan full petir, kilat dan gledek itu.
"Tidak... tentu saja!! Tentu saja aku sedari awal menyadari ini adalah kasus Pemerasan yang berakhir dengan pembunuhan!! Itulah alasan mengapa banyak kapten di sini." kilah Isabella.
"Setelah memutar kembali kaset itu, tampak jelas Legislator Domenico tidak sadar kalau ia sedang direkam," tambah Diego yang sedikit agak tenang, pembicaraan ini kembali pada track yang tepat.
"Kau orang yang ditugasi memutar kembali rekaman itu? Beruntung sekali kau," sindir Isabella pada Diego.
"Tidak tepat seperti itu juga. Sebenarnya ini adalah tugas capt Sky! Tapi dia terlalu sibuk dengan mu. Jdi kupikir biar aku saja yang melihat nya untuk kepentingan semua orang."Diego menyeringai.
Isabella melirik ke arah Sky, yang sudah kembali ke tempatnya semula di sudut ruangan.
"Dasar pria es!!!! Tidak pernah senyum sekali pun!! " batin Isabella.
__ADS_1
Ia bertanya-tanya apakah Skyleden Hardata pernah tersenyum dengan lembut dan tulus. "Apa yang kau pikir kan Isabella? Sky tersenyum? tunggu saja Beruang pergi belanja ke pasar! itu akan lebih mungkin terjadi." cicit nya dalam hati.