
Sky mempertimbangkan hal itu. Pasti ada seseorang yang kaya, karena wanita itu pasti tidak akan sanggup membeli rumah semacam ini. Atau, ia belum jauh melewati batas saat mengucapkan ejekan itu tiga tahun yang lalu tentang wanita itu menerima bayaran dari Ellard.
Diego membaca pikirannya, "Jangan pernah berpikir kearah sana. Itulah omong kosong yang membuat mu terkena masalah besar dulu." ujar Diego.
Sky menunjuk pada Isabella, masih terlelap di kursi belakang. "Satu-satunya tempat yang kupikirkan adalah kembali ke kantor, segera setelah kita memberess kan situasi di sini." Ia meraih gagang pintu dan membukanya.
"Ayo, Ms. Sovie," katanya dengan nada memerintah.
" Seperti nya dia benar- benar kelelahan pantesn
Tak ada jawaban." Seru Sky dalam hati.
"Dia masih hidup, bukan?" tanya Diego, membalikkan nya tubuh untuk melihat.
Sky menjulurkan tubuhnya ke kursi belakang, la merendahkan wajahnya di depan wajah Isabella dan mendengarkan suara napasnya. "Dia masih hidup." la menyodok bahu wanita itu. "Ayolah. Bangun." Masih tak ada jawaban.
"Mungkin kau harus menciumnya." Ucap Diego asal dan secepat kilat pula menutup mulut nya karena tatapan marah Sky, Diego menyeringai licik. "Hei, itu berhasil pada seorang cowok." Ucap nya dengan mulut yang tertutup yang membuat ucapan nya tidak jelas.
Sky kembali menatap Isabella dan mempertimbangkan pilihannya. la bisa menyodok wanita itu beberapa kali.
“Pasti akan sangat menyenangkan jika saat ini aku menyiramnya dengan air sedingin es.” Gumam Sky dalam hati.
Tapi Sky sangat mengenal Isabella. Isabella akan menamparnya keras-keras dan ia akan kembali ke tempat pengasingan nya dulu saat matahari terbenam. Hal itu meninggalkan nya dengan satu pilihan.
Ia menjulurkan tangan melewati tubuh Isabella dan meraih tas tangannya dari atas kursi.
"Ide yang sangat briliant Sky!! Mari kita lihat apakah kau bisa menemukan kuncinya," Sorak Diego pada Sky.
“Kau lah yang mencari kunci nya! Cepat lah ! Sebelum dia berpikiran yang bukan- bukan pada kita!” teriak Sky pada Diego.
"Kau bercanda? Bagaimana kalau ia terbangun dan melihatku menggeledah barangnya? Kau tidak boleh menyentuh tas tangan itu. Tas tangan adalah benda keramat." Cicit Diego yang membuat Sky ingin menampol nya saat itu juga.
"Terserah pilihanmu. Cari kunci itu atau kemari dan gendong dia." Titah Sky yang sudah gondok setengah mati.
Diego menatap tas tangan itu untuk beberapa saat, lalu menjulurkan tangan ke dalamnya. "Cukup adil. Aku harus melihatmu mencoba ini. Sepuluh dolar! Katakan jika ia terbangun dan melumpuhkanmu sebelum aku menemukan kunci itu.”
Sky juga sudah memperkirakan hal itu dengan kemungkinan tujuh puluh berbanding tiga puluh. la menyuruh Diego membuka bagasi, lalu menyambar koper wanita itu dan membawanya lari ke pintu depan. Saat ia tiba kembali ke mobil, ia meraih tas tangan itu dan meletakkannya di pangkuan Isabella. Ia menerima kunci dari Diego dan menyelipkannya di sakunya sendiri. Tanpa membuat keributan lagi, ia mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya dan membawanya keluar dari mobil.
Isabella tampak nyaman dalam gendongan Sky, masih tertidur, dan kepalanya jatuh di bahu Sky. Sky membawanya ke depan rumah, berpikir bahwa dari se-mua kemungkinan skenario yang dibayangkannya jika ia bertemu lagi dengan Isabella Sovie, ini jelas tidak termasuk di dalamnya. Ia bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan para tetangga wanita ini jika mereka melihatnya menggendong wanita ini ke pintu depan di siang hari bolong tentu saja jika ada di antara mereka yang memiliki teropong pengintip untuk dapat melihat sesuatu dari seberang rumah besar ini.
Sky menunduk. Isabella tampak sangat tenang, dan untuk beberapa saat, Sky mendapati dirinya bersimpati atas malam panjang yang telah dilalui wanita ini. Wanita ini jelas menghadapinya dengan sangat baik, dari segala hal yang berhubungan.
__ADS_1
Dengan satu tangan, Sky membuka gerbang besi tempa dan menggendong wanita itu menaiki undakan menuju pintu depan. Karena ukuran rumah ini, Sky berpikir dugaan yang cukup aman adalah bahwa wanita ini tinggal dengan seseorang, dan ia bertanya-tanya apakah seseorang itu akan menghambur keluar, dengan penuh kecemasan, dan membawa wanita ini darinya. Itu tidak terjadi.
Sky menyelipkan tangan ke dalam sakunya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu depan. Masih be-lum ada teman/suami/kekasih yang setengah gila karena khawatir.
Ia menunduk menatap Isabella yang bergelung di dadanya. Bukannya ia peduli, tapi siapa pun pria itu, dia pasti bajingan karena tidak menyadari bahwa wanita ini sudah tidak bisa dihubungi selama sepuluh jam terakhir.
"Isabella, bangun." Anehnya suaranya terdengar lembut. Ia berdeham. "Kau sudah sampai di rumah."
Wanita itu bergerak kali ini, lalu Sky menurunkannya di serambi muka, cepat-cepat mengambil jarak di antara mereka. Isabella berdiri di sana selama beberapa saat, bingung dan tidak yakin, menengadah seolah sedang melihat Sky untuk pertama kalinya.
"Kau."
"Aku."
Isabella mengedipkan matanya, lalu melambai- lambaikan satu tangannya di udara, mengucapkan kata- kata mencemooh dengan lelah. "Pergi. Pergi!"
Saat ini Sky lebih dari gembira untuk segera pergi, tapi pertama-tama ia harus memastikan wanita ini aman. Bagaimanapun, Isabella adalah saksi kuncinya. Sky menyodorkan tas tangan pada wanita itu, yang nyaris tak tertangkap, dan meletakkan koper wanita itu di bagian dalam pintu depan.
"Kuncimu ada di lubangnya jangan lupa. Apakah kau sendirian di sini?" Sky melontarkan pertanyaan terakhir ini semata-mata demi tanggung jawab profesional.
"Kau mengalami malam yang aneh. Kau mungkin tidak ingin tinggal sendirian."
Sky melihat Isabella mencabut kuncinya dan me-masukkannya kembali, lalu mendorong pintu itu dan menatap bingung saat mendapati pintu itu sudah terbuka.
Walaupun sedang bingung, Isabella tidak mendapati kesulitan untuk melemparkan tatapan marah ke arah Sky.
"Aku akan menelepon Ivon," gumamnya. Lalu ia melangkah ke dalam rumah dan membanting pintu di depan wajah Sky.
“Jadi. Ada Ivon.” Gumam Sky dalam hati.
Sky melakukan pemeriksaan cepat untuk memastikan rumah itu tampak aman. Lalu ia kembali ke mobil dan masuk.
Diego mengangkat tangannya. "Jadi?"
"Kita sudah bisa pergi," kata Sky.
"Kau yakin kita bisa meninggalkannya di sini sendirian?"
"Dia akan menelepon Ivon." Jawab Sky.
"Oh, melegakan sekali. Siapakah Ivon?" tanya Diego baru sadar kalau dia tidak tahu siapa Ivon.
__ADS_1
Sky mengangkat bahu. "Tak ada petunjuk. Yang aku tahu adalah wanita itu adalah masalah Ivon sekaeang, bukan aku." Jawab Sky dengan mudah nya.
"Aw. Itu agak kasar." Celetuk Diego.
"Sebenarnya, aku ingin lebih kasar, tapi aku bisa keluar dari arena permainan," kata Sky.
"Malam yang panjang. Jangan lupa kopi dalam perjalanan kembali ke kantor." Lanjut Sky.
Diego menyeringai saat ia mulai menjalankan mobilnya. "Kau tahu, kupikir aku akan belajar banyak darimu, Sky."
Sky tidak benar-benar yakin dari mana datangnya kata-kata itu. Tapi tentu saja itu benar. "Terima kasih." Ucap Sky sekedar untuk menyenangkan hati Diego.
"Kau adalah seorang pria yang menyuarakan isi pikiranmu aku menghargai itu. Dan aku yakin kau menghargai hal yang sama dari orang lain." Lanjut Diego.
“Ah... sekarang ia tahu ke mana arah ucapan itu.” Ujar Sky, “Katakan saja jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, Diego." Tembak Sky to the point.
Diego menghentikan mobilnya di perempatan jalan. "Masalahmu dengan wanita itu adalah urusanmu. Aku ingin mendengar kau mengatakan kalau masalah itu tidak akan memengaruhi cara kita menangani kasus ini." Tiba- tiba Diego terdengar serius. Seolah ini bukan lah diri nya yang biasa nya.
"Tentu saja tidak." Dengan sangat yakin.
"Bagus. Dan untuk kebaikan diriku sendiri, apakah kau berencana bersikap marah-marah dan membisu setiap kali namanya muncul?" tanya Diego kemudian.
Sky memperhatikan rekannya diam-diam.
Diego tersenyum. "Aku keterlaluan dengan pertanyaan itu, bukan?"
“Untung kau segera menyadari nya! Kalau tidak aku akan memperingati mu lagi untuk tidak mencari masalah dengan sisi gelap ku.,." Canda Sky sambil memutar tubuhnya dan melihat keluar jendela, menikmati pemandangan yang sudah dikenalnya yang tidak pernah dilihatnya lagi sejak ia meninggalkan Milan tiga tahun yang lalu.
"Sky aku ingin bertanya sesuatu. " Ujar Diego.
"Ya.. tanya kan lah!" Ujar Skya.
"Apa kau semua amarah mu asli? Atau itu hanya bagian dari akting polisi jahat belaka??" Tanya Diego.
"menurut mu??" tanya Diego dengan satu alis terangkat.
"Astagaaa!!!, kau melakukan itu dengan sengaja?!!! Jangan bilang tebakan ku benar! " seru Diego.
"Yang pasti aku melatih keahlian pandangan marahku itu selama bertahun-tahun." Jawab Sky entah itu benar atau tidak.
Diego tertawa jengah...
__ADS_1
"Apakah itu lucu?"
"Tidak. Dan tetap tatap jalanan, Nak. Karena aku akan benar-benar marah jika kau menabrakkan mobil ini sebelum aku mendapatkan kopiku." ujar Diego yang sudah malas melanjutkan pembahasan tentang hal itu.