Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning

Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning
#9: First kiss


__ADS_3

"Berani sekali kau menyentuh ku capt Sky!!" Seru Isabella setelah hati nya dalam dia tenangkan.


Tapi Sky tampak cuek dan tidak menghiraukan amarah Isabella tadi.  "Apa bisa kita lanjutkan nona Isabella Sovie?" Ulang Sky bertanya karena Isabella.


"Aku ingin bicara dengan seorang pengacara," kata Isabella


"Kau adalah seorang jaksa," kata Sky. "Dan kau bukan seorang tersangka, jadi bagaimanapun, kau tidak mendapatkan hak itu,"


"Kalau begitu, apakah aku ini?" tanya Isabella ketus.


"Seseorang yang berkepentingan dalam kasus ini." jawab Sky yang seperti nya sudah tidak ingin bermain- main lagi.


"Omong kosong." Seru Isabella


"Jika benar aku adalah seseorang yang berkepentingan dalam kasus ini, kata kan pada ku apa yang sebenarnya terjadi. Aku lelah dan tidak sedang ingin bermain-main. Jadi jika kau tidak mulai memberitahuku apa yang sedang terjadi, aku akan pergi," tegas Isabella lalu berdiri.


Sky menatap kimono tipis Isabella, dia tidak yakin dengan ancaman yang Isabella berikan. "Kau tidak akan ke mana-mana." Ia menarik kursi dan memberi isyarat. "Duduklah."


"No, thanks! Aku tetap pada rencanaku untuk keluar." Sebelum Sky bisa mem- balas gertakannya, Isabella meraih tas tangannya dan menuju ke arah pintu.

__ADS_1


Persetan dengan barang bawaan nya yang lain. Isabella akan mengambilnya nanti.


"Senang bisa menghabiskan waktu lama dengan mu capt Sky! Kau tetap saja polisi yang suka berbuat sesuka mu."


Isabella teringat akan perjumpaan nya pertama kali dengan Sky tiga tahun lalu. Waktu itu Isabella belum pernah bekerja dengan Sky sebelumnya.


Dia  baru menjadi seorang asisten jaksa selama setahun. Dan Sky saat itu sedang  bekerja dalam penyamaran sejak waktu yang cukup lama. Jadi wajar jika mereka tidak pernah bertemu sebelum nya.


Saat itu Isabella mendapatkan tugas untuk melakukan penyelidikan kasus Arlendo. Satu dari kasus kelas tinggi di daerahnya. Arlendo Leos sangat terkenal . Tidak hanya di kepolisan, tapi juga di kantor jaksa Milan. Dia merupakan kepala salah satu sindikat kriminal terbesar di Milan.


Namun masalahnya adalah selalu tidak cukup bukti untuk menuntutnya.


Sebelum pertemuan mereka, Isabella tahu dari atasan nya bahwa Sky telah menyamar selama dua tahun untuk menyusup dalam organisasi Arlendo, sampai atasan Sky terpaksa menariknya keluar saat penyamarannya terbongkar.


Atasan Sky tidak banyak memberitahu kantor kejaksaan soal ini, mereka hanya mengatakan t bahwa Sky tersudut di sebuah gudang oleh sepuluh anak buah Arlendo.


Pihak kejaksaan sama sekali tidak tahu apakah Sky ini sendiri atau bersama anak buah nya yang lain. Dan pihak kejaksaan pun berpikir kalau Sky pasti sudah keluar dari penyamaran.


Tapi siapa sangka, Sky yang telah selamat sama sekali tidak berhenti menangani kasus itu. Hingga pada suatu hari terjadi baku tembak yang sangat brutal.

__ADS_1


Sky tidak bisa menangani nya dan kehilangan banyak anak buah nya.


Sky mendapat teguran keras, dan teguran itu berakar dari Isabella yang murka karena Sky tidak menaati instruksi yang di berikan oleh atasan Sky yang menyebabkan banyak anak buah Sky mati.


Memang pihak kejaksaan tidak punya banyak andil dalam hal ini. Namun ayah Isabella yang merupakan atasan nya Sky banyak sekali mendengar saran dari putri nya yang sok pintar itu. Sky pun terpaksa turun jabatan.


Sky yang marah bermaksud membalas Isabella.  Dia akan membalas Isabella dengan cara yang sama dengan yang Isabela lakukan pada nya yakni mempermalukan dia dalam satunya.


Suatu hari Sky datang tanpa pemberitahuan dan di depan gedung kejaksaan tiba- tiba Sky mencium Isabella dengan sangat panas. Foto mereka terpampang di hot magazine untuk satu bulan lama nya tanpa ada satu pun di antara mereka yang memberikan klarifikasi soal ciuman di depan kantor kejaksaan waktu itu.


***


Isabella membuka pintu dan nyaris bertabrakan dengan seorang pria yang berdiri di depan pintu. Dan pria itu adalah Roger.


Pria itu melemparkan senyuman maut pada Isabella sambil berusaha menyeimbangkan tiga gelas Starbucks di tangannya. "Terima kasih sudah membukakan pintunya nona Isabella.  Apa ada yang kulewatkan?"


"Aku akan keluar. Dan aku baru saja menyebut Capt Je*rk."


"Kedengarannya menyenangkan. Kopi?" Roger yang memang sudah hapal dengan pertikaan dua orang ini malah tidak menanggapi serius  kemarahan Isabella. Dia menyodorkan gelas-gelas Starbucks itu pada Isabella. "Hilangkan dulu kantuk mu dengan segelas kopi. Aku tahu kau belum tidur sejak semalam."

__ADS_1


__ADS_2