
"Wow!! Wow! kenapa kau jadi begitu emosi jaksa Isabella? aku tahu kau sudah terkurung di dalam kamar ini untuk waktu yang lama, tapi bukan kah setiap orang harus bersabar? Seperti aku yang selalu bersabar setiap kali berkas yang aku berikan ke kejaksaan kau lempar dan kau tolak?" Ucap Sky dengan muka cuek saat mengatakan hal itu, seakan- akan dia ingin mengatakan pada Isabella kalau dia saja tidak marah dengan perbuatan Isabella, kenapa Isabella harus marah hanya karena terkurung terlalu lama di dalam kama rini.
"Capt Sky yang terhormat. Apa kau sedang mengerjai ku? Apa kau tahu, seharus nya aku sudah berada di dalam ruangan ku saat ini. Dan aku tertahan di sini padahal aku sendiri belum di tetapkan sebagai saksi. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada kamar sebelah! itu kasus pembunuhan, pemerkosaan atau penganiayaan! I do not know! So kau tidak berhak menahan ku lebih lama. Kecuali jika kau mengatakan pada ku apa yang terjadi di sebelah." Pancing Isabella yang ingin menggali lebih banyak informasi tentang apa yang terjadi di kamar sebelah.
Sky tersenyum. Dia sangat mengenal wanita yang ada dengan nya saat ini. Cuma satu kata yang selalu tertanam di dalam otak Sky bila sudah berhadapan dengan wanita ini. WASPADA!
Waspada karena memang Isabella sepintar itu. Pintar mencari celah untuk menjatuhkan nya.
"Maafkan aku, Jaksa Isabella, tapi kedua tanganku terikat erat. Aku tidak diperkenankan memberitahumu tentang hal ini. Ya paling tidak hingga semua dokumen ku masuk ke wilayah kerja mu. Aku yakin kau pasti akan sangat menunggu hal itu." senyuman di wajah Sky mencermin kan kebahagian Sky karena biasanya Isabella membuang berkasnya, kali ini Isabella akan menunggu- nunggu berkas nya.
"Maka nya baca buku yang lebih banyak capt Sky. Semua dokumen kasus ini tidak akan pernah sampai ke meja ku. Kau tau kenapa? Karena aku saksi dalam kasus ini. Dan saksi tidak mungkin sekaligus menjadi jaksa! Apa kini kau paham mengapa kita tidak pernah cocok? theory mu tentang hukum sangat kurang." Cemooh Isabella. Tidak lupa senyuman yang menyebalkan itu pun tetap stay tune di wajah nya.
"Dan kau sangat kurang dalam praktek di lapangan buk Jaksa. Kau tahu? Terkadang Theory- Theory dalam buku hukum mu itu berlaku saat kau chasing a thief !" Ujar Sky dengan satu alis mata terangkat melihat pada Isabella.
"Itu hanya dalih mu saja, karena kau memang less Theory!" Cemooh Isabella lagi.
"Buk Jaksa, seperti nya kau memang terlalu lama duduk di balik meja kantor mu yang di bayar oleh uang rakyat itu. Kepala mu terlalu penuh dengan theory- theory. Apa menurut mu semua theory yang kau pelajari dan hapal di luar dan dalam kepala itu dapat menjelaskan pada mu apa yang terjadi di kamar sebelah? Apa kau tahu kali ini kau melibatkan dirimu dalam situasi seperti apa?"
Mungkin karena kesabaran Sky mulai menipis, dia mulai serius menanggapi semua perkataan Isabella
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Karena kau?! aku tidak punya petunjuk dalam situasi apa aku terlibat." ketus Isabella.
"Hallo? Bisa kah kalian lebih serius Sky? Banyak hal yang harus kau lakukan setelah ini." Seorang polisi yang berpangkat sama dengan Sky muncul.
"Apa aku saja yang harus menanyai nona Sovie ini? Aku tidak keberatan. Hallo Sovie?" Roger tersenyum sangat manis pada Isabella sambil mengambil tangan Isabella dan mencium nya.
"Kau selalu saja manis, Roger! Aku jadi sulit membedakan mu dengan gula yang ada rumah ku." Balas Isabella dengan cara yang benar - benar sangat berbeda dengan cara nya bicara pada Sky.
"Tidak ! Terima kasih Roger! Ini kasus ku! Kau boleh meninggalkan tempat ini. Aku sedang bekerja." Usir Sky, yang tidak suka ada orang yang mengintervensi pekerjaan.
"Oke! I'll go tapi kau jangan terlalu lama berduaan dengan nona Sovie. Nanti kau bisa jatuh cinta Sky." Roger tertawa dari kamar Isabella setelah mendapatkan tatapan membunuh dari Sky.
"Apa yang terjadi dengan wanita dari kamar sebelah?" tanya Isabella kemudian, dia mulai serius.
"Dia meninggal." jawab Sky yang juga mulai serius.
"Sudah ku duga!" Gumam Isabella, mengangguk.
"Sebenarnya kehadiran para detektif di bawah mu tadi telah cukup memberitahukan hal itu. Tapi konfirmasi tentang kematian wanita itu tetap membuat ku terkejut." Ujar Isabella.
__ADS_1
"Aku ikut prihatin mendengarnya," tambah nya singkat
.
Sky menunjuk kursi di depan meja. "duduk lah dengan benar buk Jaksa." Ujar Sky karena kimono Isabella kembali tersingkap.
"Bukan kah sedari tadi aku duduk benar?" seru Isabella.
"Kau memang duduk dengan benar! Tapi kimono mu tidak." Balas Sky.
Sovie Isabella tertawa penuh makna. "Kenapa? Apa kau kembali tergoda?"
Sky tidak menjawab. Tapi dengan tatapan yang mengunci mata Isabella, dia terus maju mendekat ke arah Isabella.
"Apa yang akan kau lakukan?" Isabella jadi takut sendiri melihat Sky yang berjalan dengan terus menatap nya. Tangan Isabella pun reflek merapatkan belahan kimono di dada nya.
Sky langsung membenarkan posisi kain tipis dan menerawang yang tersingkap di kaki mulus nan jenjang itu. Dia merapatkan kedua kain itu hingga belahan paha Isabella tidak lagi terlihat.
Isabella menelan ludah dan langsung membuat catatan di dalam hati nya supaya ke depan nya dia haru berhati-hati saat mengejek seorang pria ini.
__ADS_1
"Apa bisa kita lanjutkan?" Ujar Sky dengan tampang dingin tanpa ekspresi.