Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning

Wanita Ranjang Sang Capt: The Beginning
#11 : Diam! kami baik- baik saja


__ADS_3

"Apa perlu aku tirukan ulang semua bunyi yang aku dengar dari kamar sebelah agar Sky bisa mengindetifikasi bunyi itu dengan otak nya sendiri?x batin Isabella.


“Nona Isabella? Kami menunggu jawaban mu.” Desak Sky.


"Aku yakin mereka sedang bercinta karena aku mendengar ada suara bokong di tepuk dan teriakan 'aku keluar!!." Jawab Isabella sambil menahan rasa malu yang sangat luar binasa. Bukan luar biasa lagi! Tapi sudah luar binasa.


Sky melangkah keluar dari pojok ruangan untuk mendekatinya. "Jadi, saat kau terbangun kedua kalinya, apakah karena kau mendengar suara bokong yang kembali di pukul?" tanya Sky.


Isabella menarik nafas dan menghela nya pelan. "Tidak." Mata Isabella mengerling kesal.


Dari ekspresinya, Sky bisa menyimpulkan bahwa Isabella tidak sadar jika diri nya sedang mengadakan pemeriksaan silang.


"Bagaimana dengan teriakan 'aku keluar? Apakah kau mendengarkan suara seperti itu lagi?" Tanya Sky yang membuat Isabella semakin gerah.


"Tidak! Aku mendengar jeritan." Jawab Isabella, merasa wajah nya panas karena pertanyaan Sky.


"Teriakan? Hmm – teriakan seperti apa? Apakah sebuah teriakan seseorang saat mencapai *******?" tanya Sky yang kontan membuat Isabella merasakan mata nya mau melompat keluar.


"wah!! Kau sungguh membuat hal ini sangat jelas, capt Sky! Harus kah aku tiru kan teriakan itu??." Desis Isabella.


Sky mendekat dan menunduk menatap Isabella. "Nona Sovie, aku tahu kau sedang lelah. Tapi bukan berarti kau bisa menjawab sembarangan. Kau seorang jaksa pasti sangat tahu hal ini. Dalam buku- buku yang kau baca pasti ada sedikit banyak menyenggol hal ini.”


Kedua mata Isabella dipenuhi amarah. Untuk beberapa saat dia terdiam.


“Baiklah.” Ucap nya karena apa yang Sky kata kan ada benarnya. Apa lagi Sky sudah menyenggol profesi nya. Dia tidak boleh memberi kesaksian seperti itu.

__ADS_1


Isabella menatap dinding kamar 16036 . "Saat aku terbangun untuk kedua kalinya, aku mendengar suara tempat tidur membentur dinding, lebih keras dari sebelumnya. Tapi hanya untuk beberapa kali. Lalu seperti yang telah kukatakan, aku mendengar suara jeritan."


"Suara seorang pria atau wanita?" tanya Sky.


"Seorang wanita. "


"Bisa kau ingat- ingat kembali seperti apa teriakan nya? Apakah dia teriak karena terlalu merasakan sebuah kenikmatan bercinta. Atau dia berteriak seperti ...hm bisa saja hal lain." Ujar Sky.


Isabella memikir kan ulang kata- kata Sky. Lalu di fokuskan nya pikiran nya pda satu hal.


Dengan mata terpejam Isabella berkata, "Suaranya tertahan, seolah wajahnya sedang ditutup selimut atau bantal." Isabella kembali menatap Sky dengan pandangan seolah ada sesuatu yang baru dia pahami.


"Astaga! Apakah korban mati lemas?" tanyanya pelan sambil menutup mulut nya saking terkejut dengan kesimpulan nya sendiri.


Sky sempat ragu dalam hati apakah ia harus menjawab pertanyaan itu, tapi ia tahu pada akhirnya nanti ia tetap harus memberi tahu wanita ini. "Ya." Jawab Sky setelah mempertimbangkan nya.


"Tentu saja kau tidak tahu," Diego meyakinkan Isabella agar Isabella tidak merasa bersalah.


Sky melemparkan tatapan kesal ke arah rekannya. Tatapan nya seolah berkata, “cukup dengan sikap seorang polisi yang baik. Isabella adalah seorang wanita dewasa, ia bisa mengatasinya.”


Diego pun pura- pura tidak paham dengan maksud sorot mata Sky dan perlahan menyandarkan punggung nya ke sandaran sofa.


"Kau memberi tahu Detektif Benjamin bahwa kau memanggil petugas keamanan saat kamar itu tidak terdengar apa- apa lagi?" Tanya Sky lagi.


"Ya benar. Lalu setelah itu aku mendengar pintu terbuka. Karena aku penasaran jadi aku berlari dan melihat dari lubang pengintip," kata Isabella.

__ADS_1


"Apa alasan mu melakukan itu? Apa hanya karena kau ingin tahu?" nada bicara Sky terdengar seperti mengejek Isabella. Maklum kan yang nama nya wanita pasti tingkat kepo nya tinggi.


Isabella mendengus kesal.


"Capt Sky!! Seharusnya kau bersyukur aku punya rasa ingin tahu yang tinggi saat itu," kata Isabella.


"Kalau tidak, kau tidak akan mendapatkan informasi apa pun tentang hal ini." Isabella tersenyum sangat manis, tapi tentu saja tetap menampak kan rasa kesal nya karena ucapan Sky sebelum nya.


"Lagi pula, jika aku tidak kepo, Capt Sky, aku dan kau tidak akan memilliki percakapan se menyenangkan ini. Semoga percakapan ini tidak berakhir dengan sebuah ciuman.” Ketus Isabella.


Diego terbatuk saat hendak menyesap kopinya. Dan sayup sayup Sky mendengar rekan nya itu tertawa.


Sebenarnya Sky pun merasa sarkasme Isabella terdengar sangat berani.


Dulu saat ia masih bergabung dengan Special Forces, sebelum ia bergabung dengan kepolisian Milan, Sky biasa menginterogasi mata-mata asing, para tersangka *******, dan bandar narkoba internasional, bermacam-macam pemberontak juga pernah.


Jika melihat pada background karir nya tersebut, seharus nya menangani seorang asisten jaksa MILAN seharus nya buka lah hal yang sulit untuk nya. Namun lihat lah apa yang terjadi sekarang!! Sky selalu saja di buat kehabisan kata-kata oleh Isabella.


"Aku senang kopi dapat menghilangkan kantuk mu," kata Sky sinis.


"Sekarang kenapa tidak kau ceritakan padaku apa yang kau lihat saat kau melakukan kewajibanmu sebagai seorang warga negara yang baik yang memiliki tingkat ke kepoan yang tinggi? Aku yakin kau pasti juga mengintip lewat lubang pengintip itu?" yang entah memang berniat bertanya atau berniat untuk adu mekanik dengan Isabella.


Diego mengangkat tangannya. "Em, kupikir mungkin aku harus mengambil alih kembali."


Isabella dan Sky menjawab serempak. "Kami baik- baik saja."

__ADS_1


“Glek!” Diego pun hanya bisa menelan saliva nya dengan bersusah payah.


“Baiklah, jika itu yang membuat kalian bahagia.” Ucap nya lalu kembali nyender di sofa.


__ADS_2