
"Hei !!!." Teriak Kapten Albert sambil berlari mengejar pedagang tersebut. "Hahahaha... Dasar bodoh, dia pasti pemula yang beruntung memiliki koin Arthur Smith." Kata pedagang tersebut sambil berlari.
"Owh, ya." Kata Zack sambil keluar dari semak-semak yang terletak di lorong tersebut dan mengeluarkan pistolnya bersamaan dengan Rowan, Wilson, dan Zuma.
Pedagang tersebut pun telah terkepung dari 2 arah. "Jadi, tadi kalau tidak salah kau berbicara mengenai Arthur Smith ?." Tanya Kapten Albert sambil menodongkan pistolnya kepada pedagang tersebut.
"Tidak, kau pasti salah dengar." Jawab pedagang tersebut dengan nada yang tersentak-sentak.
"Jangan menyangkal, sobat." Kata Zuma sambil menodongkan pistolnya ke arah pedagang tersebut.
"Hehehehe.... Baiklah-baiklah. Kau kira aku takut. Kalian ini hanya menggertakku bukan. Lagipula, aku belum pernah melihat wajah kalian. Kalian ini pasti hanyalah orang yang baru lolos dari salah satu bajak laut di sini, bukan ?." Jawab pedagang tersebut.
"Apa boleh buat, Zack tembak kepalanya !." Perintah Kapten Albert. "Kapten, apakah kau serius ?." Tanya Zack.
"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda ?." Jawab Kapten Albert. "Tidak sih....." Kata Zack. "Lagipula ini sudah lebih dari cukup untuk mempelajari karakteristik orang-orang sini." Sambung Kapten Albert.
"Tapi Kapten, sebaiknya kita pikirkan dulu, pasti ada cara lain...." Kata Wilson. "Tidak, tidak ada cara lain. Lagipula aku sudah cukup muak dengan orang-orang seperti mereka. Zack tembak kepalanya sekarang juga !." Sambung Kapten Albert.
"Tapi tapi....." Jawab Zack dengan gemetaran. "Ah, berisik. Kalau kau tidak mau. Biarkan aku saja yang melakukannya." Kata Kapten Albert sambil mengambil pistolnya dari saku pinggangnya.
"Baiklah-baiklah !!!. Akan kuberitahu, ayo kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Jadi mohon jangan sakiti aku !!!." Kata pedagang tersebut sambil mencium-cium kaki Kapten Albert.
"Akhirnya. Sekarang cepat jelaskan apa maksud dari perkataanmu tadi mengenai Arthur Smith !." Perintah Kapten Albert sambil menurunkan senjatanya dari hadapan kepala pedagang tersebut.
"Baiklah, akan kujelaskan. Koin yang kau berikan kepadaku tadi bukanlah koin emas biasa. Koin emas itu adalah koin emas yang dibuat langsung oleh Joseph Arthur Smith dan bawahannya." Jawab pedagang tersebut.
"Dan bagaimana caramu membuktikannya ?." Tanya Kapten Albert. "Kau pasti sudah melihat bagian bawah koin itu bukan ?. Itu adalah tanda tangan asli dari Arthur Smith." Jawab pedagang tersebut.
"Zack, Wilson, Rowan, Zuma. Jaga sekeliling kita !. Kalian diizinkan untuk menembak siapapun yang menghalang-halangi pembicaraan kita dengan pedagang busuk ini." Perintah Kapten Albert.
__ADS_1
"Baik, Kapten !!!." Jawab Zack, Wilson, Rowan, dan Zuma dengan serentak. "Lalu, mengapa tempat ini tidak ada orang sama sekali, apakah kau menipuku ?." Tanya Kapten Albert kepada pedagang tersebut.
"Tidak, aku tidak membohongimu. Tempat ini memang merupakan Gedung Perkumpulan Foerix." Jawab pedagang tersebut.
"Lalu mengapa tidak ada orang sama sekali ?!?." Bentak Kapten Albert sambil menendang wajah pedagang tersebut.
"Itu karena gedung ini hanya dikhususkan untuk pertemuan antar Foerix. Tugas Foerix sebagai sumber informasi tidak hanya duduk memangku kaki tidak melakukan apa-apa sambil menunggu informasi datang secara ajaib. Mereka harus mencari informasi itu secara langsung dengan cara menyamar dan terjun langsung ke lokasi." Jawab pedagang tersebut.
"Apakah Foerix memiliki ciri khusus yang dapat membedakannya dengan orang biasa ?." Tanya Rowan sambil berjaga.
"Itu adalah informasi yang tidak bisa kuberitahu kepada kalian." Jawab pedagang tersebut.
"Baiklah, jika kau tidak mau bicara. Maka pistol inilah yang akan berbicara kepadamu." Kata Kapten Albert sambil menempelkan pistolnya di kepala pedagang tersebut.
"Lebih baik kau membunuhku daripada aku sampai memberikan informasi tersebut kepada kalian." Jawab pedagang tersebut sambil menutup matanya.
"Apa boleh buat. Selamat tinggal, sobat." Kata Kapten Albert yang hendak menarik pelatuk dari senapannya. Pedagang tersebut hanya dapat menutup matanya erat-erat sambil berharap keajaiban terjadi dan dia dapat keluar dari masalah itu hidup-hidup.
"Tidak ada waktu untuk berpikir, Zuma. Lagipula setelah ini kita harus menjarah dagangannya." Jawab Kapten Albert.
"Tapi bagaimana dengan keluarganya ?." Tanya Wilson. "Masa bodoh dengan itu. Lagipula memangnya orang seperti ini memiliki keluarga ?." Jawab Kapten Albert.
"Bagaimana jika memang ada, Kapten ?." Tanya Rowan. "Entahlah, mungkin aku akan melakukan hal yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Kapten Hugo, menyiksa lalu membunuh bagi laki-laki, sedangkan untuk perempuan aku akan memperkosa mereka lalu membunuh mereka." Jawab Kapten Albert.
Setelah mendengar perkataan Kapten Albert situasi di gang tersebut menjadi hening sejenak. Perkataan Kapten Albert membuat pikiran Zack, Rowan, Wilson, dan Zuma melayang-layang dan membuat mereka tidak berani untuk melihat wajah pedagang tersebut ataupun Kapten Albert lagi.
"Akan kuberi waktu kau 1 menit untuk bertobat, sobat. Semoga Tuhan dapat mengampuni segala dosamu." Kata Kapten Albert.
1 menit kemudian. "Baiklah waktu habis. Sampai jumpa, kawan." Kata Kapten Albert yang hendak menarik pelatuk dari pistolnya.
__ADS_1
Seketika mata pedagang tersebut terbuka. "Baiklah, tunggu tunggu..... Aku menyerah. Akan kuberitahu informasi yang kalian inginkan, jadi tolong jangan sakiti aku maupun keluargaku." Kata pedagang tersebut sambil memeluk kaki Kapten Albert dengan erat.
Pada waktu yang sama di Golden Shark. "Apakah ada yang tahu ke mana arah W.W. Ship pergi ?." Tanya Kapten Hugo kepada seluruh pasukannya.
"Aku tadi melihat mereka berlayar ke arah utara, kapten." Jawab Wilberto. "Baiklah, Danielo bawa kita menuju Pantai Utara Liberly Island !." Perintah Kapten Hugo.
"Kapten, apa kau yakin akan menyerang mereka dengan kondisi kita saat ini ?." Tanya Danielo.
"Tentu saja. Tidurku tidak akan nyenyak sebelum aku membunuh si ban*sat Albert dengan seluruh bawahannya, atau setidaknya memenangkan pertempuran melawan mereka." Jawab Kapten Hugo.
Danielo pun dengan cepat membawa Golden Shark menuju Pantai Utara Liberly Island untuk berhadapan kembali dengan W.W. Ship.
Setibanya Golden Shark di Laut Utara Liberly Island. "Kapten, W.W. Ship sudah terlihat." Kata Blankie sambil melihat keberadaan W.W. Ship menggunakan teropongnya.
"Hehehehe..... Saatnya telah tiba, bersiaplah untuk pembalasanku, Albert." Kata Kapten Hugo. "Tapi ada yang aneh, Kapten." Kata Blankie. "Apa itu ?." Tanya Kapten Hugo.
"Aku melihat seluruh penumpang W.W. Ship menggunakan jas dan sedang bersantai. Kalau dilihat-lihat lagi, sepertinya mereka sedang berpesta." Jawab Blankie.
"Hehehehehehe...... Dasar bodoh, mereka dengan bodohnya justru berpesta di sini. Semuanya ambil senjata kalian masing-masing. Kita akan menyerang mereka saat ini !." Perintah Kapten Hugo.
"Tunggu dulu, Kapten." Kata Danielo. "Ada apa, Danielo ?. Mereka dalam keadaan lengah, ini adalah saat yang sangat bagus untuk melancarkan serangan, bukan ?." Tanya Kapten Hugo.
"Itu benar, sih kalau dilihat sekilas mereka seperti sedang dalam keadaan lengah." Jawab Danielo.
"Lihat, kau sendiri juga telah mengakuinya, bukan ?. Jadi ayo kita serang mereka tanpa ragu-ragu dan memenangkan pertempuran ini." Kata Kapten Hugo.
"Tapi, apakah kau tidak melihat ada sesuatu yang janggal setelah melihat pertempuran kita sebelumnya, Kapten ?." Tanya Danielo.
"Tidak, jelaskan dulu saja apa yang membuatmu ragu !." Jawab Kapten Hugo.
__ADS_1
"Baiklah, Kapten. Setelah pertempuran kita yang terakhir melawan W.W. Ship kita tahu bahwa walaupun mereka merupakan orang-orang yang terlalu naif, namun mereka bukanlah orang yang bodoh melainkan sebaliknya. Mereka mampu membuat gerakan yang tidak kita sadari ataupun pikirkan sebelumnya. Jadi apakah kau pikir mereka akan sengaja lengah setelah mengetahui bahwa mereka berada di salah satu kawasan yang paling ditakuti dunia." Jawab Danielo.
"Benar juga. Mungkin mereka sudah membeli peralatan tempur terbaru menggunakan harta kita, sehingga mereka tidak ragu lagi untuk berpesta tanpa memikirkan ancaman luar." Kata Kapten Hugo.