
Suara langkah kaki terdengar samar, namun tiba-tiba suara itu dapat didengar oleh Ibu Marini maupun Neta yang tengah duduk di sebelahnya.
"Bu, sepertinya suara langkah kakinya majikannya Ibu deh." Ucap Neta yang tengah mendengar langkah kaki yang semakin dekat kedengarannya.
"Ya, benar. Kamu disini dulu, jangan kemana-mana." Jawab Ibu Marini yang begitu yakin bahwa majikannya sudah pulang, dan meminta kepada Neta untuk tetap duduk ditempat semula.
Namun tidak tahunya asisten rumah yang satunya ternyata tengah berjalan untuk melihat siapa yang pulang.
"Bi Marin, Leni aja ya, yang menyambut Tuan Ragen pulang dari kantor. Bibi temani asisten baru saja ya, Bi." Ucapnya.
"Tapi Len, nanti Bibi kena marah sama Nyonya. Mendingan kamu temani Neta ke kamar Bibi, kamu bisa mengajaknya mengobrol." Jawab Bi Marini.
"Gak lah Bi, Leni pingin melayani Tuan Ragen untuk makan malam." Ucap Leni yang tetap tidak mau mendapat perintah dari Bi Marini.
__ADS_1
Sedangkan Ragen yang tengah melihat Bi Marini dan Leni yang sedang bicara, pandangannya tertuju pada Neta yang tengah berdiri yang ragu untuk mendekati Bi Marini karena takut disalahkan, dan memilih diam sambil memperhatikan.
Leni yang tetap menolak dengan apa yang disuruh oleh Bi Marini, pun tetap pada kemauannya. Bahkan, tidak menyadari jika Ragen tengah berjalan mendekati Neta yang masih bengong dan tidak mengetahui jika ada yang berjalan mendekatinya.
"Nih! bawa ke ruang kerjaku. Letakkan di atas meja, dan cepat kamu siapkan makan malam untukku. Aku tidak mau tahu, kamu yang harus melayani ku. Juga, aku tidak peduli meski kamu orang baru di rumah ini." Perintah Ragen yang tiba-tiba mengagetkan Neta yang tengah bengong dan melamun.
Saat itu juga, Leni maupun Bi Marini sangat dikagetkan dengan suara majikannya yang ternyata sudah berada di hadapan Neta.
Sama halnya seperti Leni, pun sangat terkejut melihat majikannya sudah pulang. Lebih lagi mendekati Neta, seolah terbakar api cemburu, dan serasa ada pesaing untuk mendapatkan cinta dari bosnya.
Karena tidak ingin kehilangan kesempatan, Leni langsung mendekati dan mencoba untuk memberi perhatian kepada majikannya.
"Tuan, biar saya saja yang melayani Tuan Ragen. Juga, dia ini asisten baru di rumah ini. Saya merasa bahwa dirinya belum begitu mahir sedikitpun.
__ADS_1
"Aku gak butuh kamu, mendingan kamu kembali ke kamar mu, pergilah." Ucap Ragen yang tetap menolak.
"Tapi, Tuan. Saya takutnya nanti Tuan dan Nyonya harus menghadapi masalah." Jawabnya beralasan.
"Tidak ada tapi tapian, cepetan kamu kembali ke kamar mu." Ucap Ragen yang tetap memaksa diri untuk menyuruh Leni agar kembali ke kamarnya.
Bi Marini sendiri juga langsung mendekati Leni yang sangat ingin melayani majikannya.
"Tuan, maaf. Sebelumnya saya meminta kepada Tuan Ragen, yakni untuk tidak menyuruh tamu baru melayani Tuan. Saya takut jika akan ada kendala, soalnya dia ini orang baru di rumah ini." Ucap Bi Marini yang tengah mencoba untuk tidak memberi perintah kepada Neta.
Neta yang mendengarnya, pun hanya bisa diam. Lebih lagi dirinya orang baru yang mampir di tempat yang tidak dikenalinya. Tentu saja, perasaan was was pasti ada.
"Aku tidak mau ada penolakan berbagai macam alasan apapun, dan Bibi cukup memberinya arahan. Ini sudah malam, aku ingin ada yang menemani ku dan melayani ku untuk makan malam." Jawab Ragen yang tetap bersikukuh atas keputusannya.
__ADS_1
Bi Marini yang tidak bisa memberinya alasan, hanya bisa nurut kepada majikannya sendiri. Tetapi tidak untuk Leni, dirinya tetap menunggu dan tentu saja tidak ingin kesempatan Leni tidak hangus begitu saja.
Ragen yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, pun langsung memberikan tas kerjanya kepada asisten rumahnya, yakni kepada Neta yang baru pertama kalinya harus melayani majikannya.