Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Seperti ada yang cemburu


__ADS_3

Karena sudah ditunggu oleh anggota keluarga, Ragen dan Neta segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Saat sudah berada di ruang makan, Neta masih berdiri dengan malu-malu. Ragen yang tidak ingin mendapat komentar dari ayah dan ibunya, langsung menarik kursi untuk istrinya.


"Duduk lah," ucap Ragen.


Neta sendiri mengangguk.


"Terima kasih," jawab Neta dan segera duduk.


Kedua orang tuanya tersenyum senang saat melihat putranya tengah memberi perhatian kepada Neta. Sedangkan Ardan hanya diam, dan menoleh sekilas.


"Nah gitu dong sama istri, kasih perhatian. Ya udah, ayo kita makan." Ucap ibunya.


"Ya, Ma." Jawab Ragen dengan datar.


"Untuk Nak Neta, kamu tidak perlu malu, sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Akmaja. Kamu sudah sah menjadi menantu kami, juga sudah menjadi istrinya Ragen." Ucap Tuan Razid ikut menimpali.


"Ya, Pa, terima kasih sudah mau menerima saya menjadi bagian keluarga Akmaja." Jawab Neta sebaik mungkin, sedangkan Ragen tidak menggubrisnya.


"Ya udah, kita makan dulu. Ngobrolnya nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Tuan Razid mengajaknya untuk makan malam terlebih dahulu.


Setelah itu, semua tengah menikmati makan malam bersama.


Neta yang tengah mengunyah makanan, ia merasa sangat beruntung dipertemukan dengan keluarga yang begitu baik dan memperlakukannya bak anak sendiri. Meski mempunyai suami yang galak, dan terlihat kasar, Neta masih bisa memakluminya, lantaran pernikahan yang didasari awal dari perjodohan lewat sebuah wasiat.


Saat itu juga, Neta tersedak ketika makan, lantaran melamun sambil makan.


"Ini Kak, air minumnya." Ucap Ardan yang memanggilnya dengan sebutan kakak sambil menyodorkan air minum kepada kakak iparnya.


Ragen langsung menoleh, dan tatapannya tertuju pada adiknya, seolah memberi kode padanya. Dengan cepat, Ragen menyodorkan air minumnya kepada sang istri.


"Ini, diminum." Ucap Ragen.


Neta yang sudah tercekat karena tersedak, langsung menyambar air minum yang ada di hadapannya, tidak peduli entah punya siapanya.

__ADS_1


Ragen yang kesal saat istrinya menyambar gelas yang diberikan Ardan, langsung melepaskan gelasnya dan melanjutkan makan malamnya terlihat buru-buru.


Ardan yang melihat kakaknya seperti menyimpan rasa kesal, pun merasa tidak enak hati. Sedangkan Neta sendiri baru bisa bernapas lega karena sudah mendingan.


Kedua orang tuanya, pun justru tersenyum saat melihat Ragen seperti menyimpan rasa kesal dan seperti cemburu kepada adiknya sendiri.


Berbeda dengan Ragen, hanya sebentar saja, porsi makannya sudah habis dan tidak ada yang tersisa dalam piring.


Neta sendiri terkejut saat melihat suaminya sudah selesai makan.


"Kenapa melihatku begitu, ha? oh, mau pamer kalau kamu mendapat perhatian dari adikku, begitu kah? good, habiskan dulu tuh makanan mu."


Ragen langsung bangkit setelah menghabiskan air minumnya, dan bergegas pergi dari ruang makan sambil menahan rasa sakit pada bagian tangannya yang dipelintir istrinya.


Neta hanya bisa bengong saat mendengar ucapan aneh dari suaminya. Entah cemburu, kesal, geram, atau yang lainnya, Neta tidak bisa menebaknya.


Ardan yang tidak enak hati terhadap kakaknya, pun langsung bangkit dari posisinya dan mengejar sang kakak.


"Kak, Kak Ragen!" teriak Ardan sambil mengejar kakaknya.


Sedangkan ayahnya, pun menjadi panik saat kakak beradik harus bertengkar.


Neta sendiri bingung untuk menebaknya, hanya bisa bengong dan bengong.


Ardan yang sudah berhadapan dengan kakaknya, mencoba untuk tetap tenang dan tidak untuk salah tanggap.


"Kakak marah kah denganku? kalau sikapku tadi menyinggung Kak Ragen, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak berniat untuk membuat Kakak marah, tadi hanya reflek saja." Ucap Ardan meminta maaf karena memang merasa bersalah atas sikapnya terhadap kakak iparnya.


"Kenapa bukan kamu saja yang menikah dengannya, perempuan norak dan kampungan itu. Sepertinya kamu lebih tertarik dengannya daripada aku." Jawab Ragen masih menyimpan perasaan dongkol.


"Bukankah sudah tertulis di dalam surat wasiat itu, bahwa Kak Ragen lah yang disebutkan dalam surat wasiat, bukan namaku. Aku rasa kakak ipar orangnya baik, juga tidak beda jauh dengan perempuan di luaran sana, yang berpendidikan tinggi." Ucap Ardan.


Ragen yang malas menjawab, memilih untuk pergi dari hadapan adiknya.


"Kak, Kak Ragen!" teriak Ardan memanggil kakaknya.

__ADS_1


"Biarkan saja kakak mu marah, siapa tahu aja ada rasa cemburu denganmu." Ucap Tuan Razid saat menahan putra keduanya yang hendak mengejar.


Ardan langsung memutarbalikkan badannya, dan kini menghadap pada sang ayah.


"Tapi, Pa."


"Abaikan saja ucapan ucapan dari kakak kamu, biarkan saja dia marah. Kalau kakak kamu marah, tandanya berhasil membangunkan perasaannya. Ya udah, lanjutkan makannya, tidak perlu khawatir. Percayalah dengan Papa, semua akan baik-baik saja nantinya." Ucap Tuan Razid meyakinkan putra keduanya.


"Ya, Pa. Kalau gitu aku mau menghabiskan makananku dulu." Jawab Ardan dan kembali ke ruang makan.


Saat berada di ruang makan, rupanya Neta baru saja bangkit dari posisi duduknya.


"Loh, Kakak ipar udah selesai?" tanya Ardan saat mendapati kakak iparnya sudah berdiri.


"Sudah, aku duluan." Jawab Neta sedikit canggung.


"Ya, gak apa-apa." Ucap Ardan, Neta sendiri segera kembali ke kamar suaminya.


Sedangkan Ardan sendiri segera melanjutkan makannya karena sempat berhenti karena harus berbicara dengan kakaknya untuk memberi penjelasan.


"Gimana dengan kakak kamu, Ar?" tanya sang ibu.


"Masih jengkel kelihatannya, Ma. Kata Papa suruh mengabaikan, dan membiarkan Kak Ragen cemburu katanya. Tapi entahlah, Kak Ragen 'kan gitu orangnya, kadang bisa membuat kita kepedean, padahal tidak seperti yang kita kira." Jawab Ardan sambil melanjutkan makan malamnya.


"Tapi Mama rasa untuk kali ini memang berbeda. Bukankah Kakak kamu lagi gak punya pacar? mungkin saja kakak kamu lagi galau." Kata sang ibu sambil tersenyum lebar.


"Mama bisa saja menebaknya, aku mau habisin dulu makanannya, Ma."


"Ya udah habiskan dulu makananmu, Mama mau ke kamar." Ucap sang ibu.


"Ya, Ma, silakan." Jawab Ardan, kemudian ibunya segera bergegas ke kamarnya.


Ardan sendiri yang tidak ingin pikirannya bertambah penat memikirkan kakaknya, memilih untuk tetap tenang dan tidak untuk memikirkan hal yang tidak begitu penting, pikirnya.


Di lain sisi, Ragen sudah berada di dalam kamar sambil menyibukkan diri dengan laptopnya di tempat tidurnya.

__ADS_1


Neta yang baru saja masuk, pun melihat suaminya yang tengah sibuk dengan laptopnya. Tidak ingin mengganggu suaminya, Neta memilih untuk duduk di sofa sambil membaca buku yang ada di atas meja.


Ragen yang memang mengetahui jika istrinya masuk ke kamar, dirinya tetap fokus dengan bendanya dan sama sekali tidak peduli dengan sosok istrinya.


__ADS_2