Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Razia


__ADS_3

Istri Tuan Razid pun terkejut mendengar penjelasan dari suaminya.


"Benarkah? jadi, apa mungkin gadis yang bernama Neta itu yang tidak lain adalah bagian keluarga Langgada?"


"Bisa jadi, coba besok pagi akan Papa tanyakan asal dia, juga nama pamannya." Jawab Tuan Razid.


"Ya udah, sekarang sudah malam dan waktunya untuk istirahat. Besok pagi kita masih ada ada waktu untuk mempertanyakan semuanya kepada gadis itu." Ucap sang istri mengajaknya untuk istirahat.


Tuan Razid yang tidak ingin kesehatannya terganggu, memilih untuk istirahat. Begitu juga dengan istrinya, sama halnya tidak ingin kesehatannya terganggu, memilih untuk istirahat hingga pagi menyambutnya.


Benar saja, pagi pagi Tuan Razid bangun lebih awal bersama istrinya, yakni yang tengah gelisah karena memikirkan siapa perempuan yang ada di rumahnya itu. Mungkinkah benar dugaannya, atau bisa saja salah.


"Maling! ada maling di rumah ini." Teriak Leni yang tengah membuat kehebohan di dalam kamarnya.


Semua asisten rumah dibuatnya heboh dan langsung mencari sumber suara yang terdengar di dalam kamarnya Leni.


Bi Marini yang juga mendengar teriakan, pun langsung menuju ke sumber suara.


"Leni, apa-apaan sih, teriak teriak gitu, pakai teriak maling segala, bikin gaduh aja kamu ini."


"Lihat tuh isi lemari bajuku, langsung berantakan gitu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan maling. Uangku yang sepuluh juta saja hilang, padahal mau aku kirimkan ke ibuku." Ucap Leni sambil menunjuk pada lemari bajunya.


Teman satu kamarnya, pun dibuatnya terkejut saat melihat lemari baju miliknya Leni berantakan.


"Benarkah ada yang mencuri uang mu, Len?" tanya salah satu temannya.

__ADS_1


"Ya iya lah, masa kamu gak lihat itu lemari berantakan. Aku yakin, pelakunya ada di rumah ini, dan aku akan meminta kepada Tuan dan Nyonya untuk menggeledah isi tas ataupun lemari serta kamarnya." Jawab Leni dengan ekspresi penuh kesal.


Istri Tuan Razid yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya, pun dibuatnya penasaran dengan keramaian di ruang kamar para asisten rumahnya.


"Bi Marin, ada apa, kok ribut-ribut?" tanya istrinya Tuan Razid penasaran.


"Itu, Nyonya. Ada keributan di kamar asisten rumah, yakni Leni. Saya mendengar ada teriakan, dan katanya ada maling."


"Maling? maling apaan, Bi? perasaan di rumah ini aman."


"Bibi juga tidak tahu, Nyonya. Mari, agar Nyonya tidak penasaran." Jawab Bi Marini.


"Ada apa sih, Ma. Perasaan tadi ada yang teriak gitu, ada kegaduhan kah di rumah ini?"


"Selamat pagi, Bu, Pak. Maaf, saya kesiangan." Sapa Neta yang juga baru saja keluar dari kamar tamu.


"Pagi juga, tidak apa-apa. Kamu pasti kecapean."


Jawab ibunya Ardan, dan tiba-tiba teringat akan perkataan suaminya tentang sosok Neta yang sebenarnya.


'Tidak mungkin juga jika gadis ini seorang penjahat. Apa benar yang diucapkan suamiku? yakni bagian keluarga Langgada.' Batin ibunya Ardan.


"Oh ya, Bi, ayo kita lihat ke kamarnya Leni."


"Tunggu, memangnya ada apa ya, Bu?"

__ADS_1


Neta yang penasaran, pun langsung memberanikan diri untuk bertanya.


"Itu, katanya ada kegaduhan di kamarnya Leni. Ayo kita lihat." Jawabnya dan langsung menuju kamarnya Leni.


Neta yang penasaran, pun ikut melihatnya.


"Nyonya, Tuan, ada yang mencuri uang saya senilai sepuluh juta. Padahal saya akan mengirimkan ke ibu saya, tapi uangnya hilang." Ucap Leni yang langsung menunjuk pada lemari bajunya.


"Ada yang mencuri uang mu? memangnya lemari bajumu tidak kamu kunci? kok bisa hilang."


"Saya lupa menguncinya, Nyonya. Bolehkah saya meminta kepada Nyonya dan Tuan untuk menggeledah semua tas atau lemari di kamar pekerja di rumah Nyonya? maaf, tapi saya tidak terima jika uang saya hilang dengan cuma-cuma. Juga, seorang pencuri harus disingkirkan, Nyonya, Tuan."


"Ya, Nyonya, geledah saja semuanya. Saya yakin jika pelakunya ada di rumah ini, masa iya tuyul." Timpal asisten rumah yang satunya.


"Benar, Nyonya, Tuan. Saya rasa jika dilakukan penggeledahan akan lebih akurat, dan semoga saja pelakunya dapat ditemukan." Ucap salah satunya lagi.


Istri Tuan Razid langsung menoleh pada putranya. Ardan sendiri yang tidak punya pilihan lain, akhirnya mengiyakan.


"Baiklah, kumpulkan pekerja di rumah ini. Ambil tasnya di setiap pekerja, dan kumpulkan di ruang belakang. Saya akan menunggunya di sana. Pak Zuber yang akan memantau untuk mengambil tas kalian semua."


"Termasuk punya perempuan ini, Nyonya." Ucap Leni yang langsung menunjuk pada Neta.


"Ya, semuanya." Timpal Ardan.


Setelah itu, semua tengah diawasi oleh pak Zuber untuk mengumpulkan tasnya masing-masing, termasuk miliknya Neta.

__ADS_1


__ADS_2