
Setelah asisten rumah kembali melanjutkan pekerjaannya, kini tinggal Neta bersama Ardan juga ibunya yang tengah berada di ruang tamu.
"Silakan duduk, Nak." Ucap ibunya Ardan.
"I-i-iya, Bu." Jawab Neta dengan anggukan, dan segera duduk.
Kemudian, Ardan dan ibunya ikutan duduk saling berhadapan dengan Neta.
"Silakan diminum tehnya, jangan sungkan." Ucap ibunya Ardan.
"Iya, Bu." Jawab Neta, dan tersenyum ramah.
"Oh ya, untuk sementara ini kamu tinggal dulu disini. Besok akan aku tunjukan alamat yang kamu ingin datangi. Jadi, kamu bisa istirahat setelah makan malam. Kalau kamu ingin istirahat, nanti Bi Marini yang akan mengajakmu istirahat di kamarnya, kebetulan satu kamar bisa ditempati oleh dua orang." Ucap Ardan kepada Neta.
"Terima kasih, Pak. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya sudah banyak merepotkan Bapak dan Ibu, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih." Jawab Neta.
"Tidak perlu meminta maaf, justru yang seharusnya berterimakasih itu adalah aku dan ibuku, karena kamu sudah menyelamatkan ibuku. Sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih padamu." Ucap Ardan yang masih menyimpan rasa curiga dan juga rasa penasaran.
"Ya udah kalau gitu, kamu bisa ke belakang untuk istirahat, dan makan malam bersama asisten rumah disini, bareng Bi Marini." Ucap ibunya Ardan.
"Baik, Bu." Jawab Neta setengah menunduk.
Saat itu juga, ibunya Ardan kembali memanggil Bi Marini untuk menghadap padanya, dan meminta untuk mengajak Neta istirahat dan makan malam.
"Maaf, Nyonya. Ada apa Nyonya memanggil saya?"
"Tolong ya, Bi, ajak Nak Neta untuk istirahat. Namun sebelumnya untuk mengajaknya makan malam dulu, setelah itu suruh dia untuk istirahat." Perintah ibunya Ardan kepada asisten rumahnya.
Bi Marini yang sudah menjadi orang kepercayaan majikannya, pun selalu mematuhi perintahnya.
Setelah mendapatkan perintah dari majikannya, Bi Marini segera mengajak Neta untuk ikut ke belakang. Kemudian, Bi Marini memperkenalkan Neta kepada asisten lain di rumah majikannya.
__ADS_1
Sedangkan ibunya Ardan masih duduk di ruang tamu.
"Ma, yakin nih kalau perempuan tadi itu orang baik?" tanya Ardan masih sedikit tidak percaya dengan sosok Neta yang tiba-tiba hadir di rumahnya.
"Mama sih ada rasa curiga dengannya, secara itu anak benar-benar jago bela diri. Bahkan, sepertinya dia bukan perempuan sembarangan. Kalau dia hanya gadis polos, tidak mungkin bisa bela diri." Jawab ibunya yang asal menebak.
"Semoga saja tuduhan kita ini salah, Ma, dan dia memang gadis polos yang kita tahu dan kita kenal. Tapi, kenapa mencari rumah kita, Ma?"
"Makanya itu, Mama heran banget, kenapa itu anak mencari alamat rumah kita?"
Saat itu juga, Tuan Razid yang baru saja pulang dari kantor, pun merasa heran saat melihat anak dan istrinya duduk di ruang tamu yang tidak seperti biasanya.
"Loh, kalian ngapain duduk di ruang tamu, apakah ada tamu yang datang? atau Ragen dah pulang?"
"Tidak ada tamu yang datang, Pa. Cuma ada gadis yang mencari alamat rumah kita ini, siapa ya, Pa?"
Ibunya Ardan akhirnya berterus terang kepada suaminya.
"Gadis mencari alamat kita? maksudnya Mama itu apa?" tanya Tuan Razid yang mendadak menyimpan rasa penasaran.
"Ya udah ya, Ma, Pa, aku mau ke kamar juga." Ucap Ardan yang langsung pamitan.
"Ya, jangan lupa makan malamnya." Jawab ibunya Ardan.
Setelah itu, Ibu dan ayahnya Ardan kembali ke kamarnya. Tentu saja, ingin membicarakan kehadiran Neta di rumahnya yang menyimpan sejuta rasa penasaran, lantaran merasa sangat mencurigakan, pikirnya.
Sedangkan Neta sendiri yang tengah diperkenalkan dengan asisten rumah, pun memperkenalkan dirinya dengan ramah. Tetap saja, ada sosok yang tidak menyukai akan kehadirannya.
"Lihat tuh Wen, kamu bakal ada saingannya nanti." Ucap salah seorang asisten yang tengah mengompori, dan memanasi Weni agar terbakar rasa cemburu dengan hadirnya Neta di rumah milik majikannya.
"Hem. Lihat saja nanti, aku bakal menyingkirkan itu anak. Siapapun yang berani ingin menjadi sainganku, siap-siap saja hengkang dari rumah ini." Jawab Weni dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Neta yang memang belum mengenal satu persatu diantara para asisten rumah, dirinya hanya bisa mengikuti kemana perginya Bi Marini yang hanya dikenalinya.
Ketika selesai makan malam bersama dengan semua para asisten rumah, Neta segera membersihkan diri. Sedangkan yang lainya sudah lebih dulu istirahat, dan tidak untuk Neta, justru kesadarannya masih terjaga.
"Nak Neta, kamu gak istirahat? sudah malam ini loh, gak baik jika buat bergadang."
Neta yang mendengarnya, pun tersenyum pada Ibu Marini.
"Ibu juga, kenapa gak istirahat? dah malam ini loh, Bu, gak baik juga untuk kesehatan Ibu." Jawab Neta dengan alasannya.
"Ibu belum tidur karena sedang menunggu Tuan Ragen. Jadi, mendingan kamu tidur duluan saja, nanti Ibu nyusul kamu." Ucap Ibu Marini.
"Memangnya tugasnya Ibu belum selesai kah? dah hampir larut malam ini loh, Bu. Kenapa Ibu belum juga istirahat? apakah ada jadwal sif malam?"
Ibu Marini yang mendengar pertanyaan dari Neta, pun tersenyum.
"Sini duduk bareng Ibu. Nanti Ibu akan jelasin semuanya sama kamu." Ajak Ibu Marini sambil menepuk kursi yang ada disebelah Neta.
"Memangnya apa yang ingin Ibu jelasin kepada saya?" tanya balik kepada Ibu Marini.
"Tuan Ragen itu pulangnya selalu malam hari, Nak. Maka dari itu, Ibu harus menunggu kepulangan Tuan Ragen yang baru pulang dari kantor." Jawab Ibu Marini dengan jujur.
"Pulang dari kantornya selalu malam hari kah, Bu?" tanya Neta penasaran.
Ibu Marini mengangguk dan tersenyum saat menatap Neta begitu lekat.
"Ya, Nak, benar. Gara-gara diselingkuhin pacarnya, Tuan Ragen selalu pulang di malam hari. Sebenarnya sih, Tuan dan Nyonya selalu khawatir, tapi mereka tidak mempunyai pilihan lain selain memberi luang untuk putranya. Takut, jika hal buruk akan menimpanya." Jawab Ibu Marini atas penjelasannya.
"Oh, gitu ya, Bu, kirain ada masalah lainnya. Kasihan juga ya, Bu, anak majikannya Ibu." Ucap Neta yang tengah memikirkan sesuatu yang terlibat dari asisten rumah.
"Ya udah, sekarang kamu tidur aja, sudah malam dan waktunya untuk istirahat." Ucap Ibu Marini.
__ADS_1
"Gak lah Bu, saya mau temani Ibu menunggu majikan Ibu pulang dari kantor. Soalnya saya belum mengantuk, dan ingin temani Ibu." Jawab Neta yang sebenarnya tidak enak hati, dan terpaksa dirinya untuk menepis rasa kantuknya itu demi bisa menemani Ibu Marini, pikirnya.
Sedangkan Ibu Marini sendiri tidak memaksakan diri untuk menyuruh Neta yang tetap bersikukuh menemaninya.