
Tanpa berpikir terlebih dahulu, Ragen langsung membuka pintu kamar mandi.
"Aaaaaa!" teriak Neta yang langsung menyambar handuknya saat mendapati sang suami masuk ke kamar mandi.
Saat itu juga, Ragen menelan ludahnya susah payah. Seumur hidupnya baru kali ini melihat dengan mata telan_jang. Bahkan, dirinya sendiri langsung keluar dan menutup kembali pintunya dan bersandar di pintu, lalu membuang napasnya dengan kasar karena merasa sial yang entah ke berapa kalinya.
Neta yang masih merasakan detak jantungnya yang tidak karuan, pun mengatur pernapasannya yang mendadak seperti terkena serangan jantung. Kaget, takut, malu, telah menjadi satu yang tengah ia rasakan.
"Sial! kenapa juga aku ceroboh, gak kunci dulu pintunya. Mau di taruh dimana muka aku ini di hadapannya? mana dia udah lihat semuanya, lagi. Aih! benar-benar sangat memalukan." Gerutunya saat berkacak pinggang di depan cermin.
Karena tidak mungkin untuk terus berada di dalam kamar mandi, Neta segera bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya karena dirinya pun lupa untuk membawa baju gantinya.
Dengan handuk yang dililitkan, pelan-pelan si Neta membuka pintunya. Saat pintu terbuka dengan lebar, arah pandangannya mengitari isi dalam ruangan kamar.
Saat berada dalam titik putaran terakhir, arah pandangannya tertuju pada suaminya yang tengah duduk di sudut kamar, tepatnya di kursi kayu.
Seketika, Neta bagai mendapat sengatan listrik saat itu juga.
"Ngapain masih berdiri di situ, cepat kenakan bajumu, jangan memancingku." Ucap Ragen sambil menatap tajam pada istrinya.
Neta yang ketakutan, pun langsung menutup kembali pintu kamar mandi dan menuju lemari baju.
"Maaf, aku gak ada baju ganti di kamar ini, aku lupa mengambilnya di kamar tamu." Jawab Neta sambil menutupi bagian atas dadanya.
"Semua perlengkapan pakaianmu sudah ada di kamar ini, kamu tinggal ambil dan pakai. Lemari paling ujung itu milikmu, didalamnya semua milik kepunyaan mu. Jadi, kamu tidak perlu bertanya lagi padaku, ngerti." Ucap Ragen dengan suara yang kedengarannya ketus.
__ADS_1
"I-i-iya, makasih. Tat-tapi, em."
"Apa lagi?" tanya Ragen sambil berdiri dan berjalan mendekati istrinya, Neta semakin gugup dibuatnya.
"Tidak ada apa-apa, aku cuma malu untuk mengganti baju didalam kamar ini." Jawab Neta dan menggigit bibir bawahnya.
"Terus, yang tadi apa? kamu saja tidak malu saat pintu kamar mandi tidak dikunci. Oh, jangan-jangan tadi itu kamu memang sengaja, hem."
"Enggak, aku enggak sengaja. Tadi aku lupa untuk mengunci pintunya, soalnya tadi aku buru-buru dan tidak kepikiran, serius."
"Aku gak percaya, orang kampung dan norak sepertimu 'kan, suka mengambil untuk sama lelaki tajir dan tampan sepertiku. Tentu saja, kamu akan mengambil kesempatan." Tuduh Ragen dengan seringainya.
PLAK!
Saat itu juga, Neta langsung menampar suaminya karena tidak terima atas tuduhan dari suami sendiri.
Ragen yang mendapat tamparan dari istrinya, langsung mengusapnya dan menetap wajah istrinya dengan penuh geram.
"Berani sekali kamu menamparku. Di luaran sana tidak ada perempuan yang berani menamparku, tetapi kamu sungguh berani melakukannya. Bahkan, kamu tidak berpikir, siapa suami kamu ini?"
"Aku tidak peduli, sekalipun kamu itu orang terhormat. Aku tidak peduli dengan mu sedikitpun." Jawab Neta dengan berani, dan tidak peduli jika suaminya akan marah besar terhadap dirinya.
Ragen yang geram mendapat perlakuan dari istrinya, pun langsung mengangkat tangannya untuk menampar balik istrinya. Nahas, justru tangannya langsung disambar oleh istrinya dan memelintirkan tangannya kebelakang, dan tangan satunya ditariknya ke belakang juga.
Ragen yang kesakitan saat mendapati tenaga istrinya lebih kuat, dirinya meringis kesakitan. Bahkan, berkali-kali memberontak, Ragen tidak mampu untuk mengimbangi tenaga istrinya, lantaran kedua tangannya yang sudah terkunci.
__ADS_1
"Kau mau menamparku? aku tidak akan membiarkan kamu untuk melukaiku, tapi aku tidak akan membiarkan diriku untuk kamu lukai. Sekali saja membuatku terluka, maka aku bisa membalas mu lebih dari yang kamu lakukan, paham!"
Dengan berani, Neta melawan suaminya. Juga, dirinya begitu lihai meski dirinya hanya mengenakan handuk yang dililitkan.
"Lepaskan! aku bilang. Ya! aku menyerah dan tidak akan menyakitimu." Ucap Ragen yang akhirnya menyerah atas ancaman dari istrinya, dirinya pun menyadari jika istrinya bukan perempuan biasa.
Dengan tenaganya yang super ekstra, Neta langsung mendorong kuat tubuh suaminya hingga terjungkal dan jatuh ke lantai. Sungguh sangat memalukan ketika dirinya berada di tengah kerumunan banyak orang, untungnya hanya di dalam kamar, pikir Ragen.
"Gila! ini perempuan. Tenaganya saja sudah super begini, bisa remuk kalau aku melawannya. Pantas saja kalau orang kampung, tenaganya benar-benar arogan." Gerutu Ragen sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Neta sendiri segera mengambil baju ganti dan segera ia pakai sebelum suaminya keluar dari kamar mandi. Setelah selesai mengenakan baju, Neta menyisir rambutnya di depan cermin. Setelah itu, giliran Ragen yang mengenakan baju.
Neta yang tengah duduk di sofa, alih-alih membuka ponsel buntutnya dan melihat pesan masuk dari temannya yang berada di kampung.
Karena tidak ada pesan masuk sama sekali, Neta mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali di atas meja.
'Aku kira mau kehilangan ponselku ini, rupanya sudah ada di dalam kamar.' Batinnya yang merasa lega.
Ragen yang baru saja selesai menyisir rambutnya, menoleh ke arah istrinya yang baru saja meletakkan ponselnya.
Saat itu juga, rupanya terdengar suara dari telepon rumah, yakni memanggil untuk makan makan malam.
Ragen yang mendengarnya, pun langsung mengajak istrinya untuk turun dan makan malam bersama keluarganya.
"Mama meminta kita untuk segera turun, jangan banyak protes, cepetan turun dan makan malam." Ucap Ragen sambil menahan rasa sakit akibat ulah dari istrinya.
__ADS_1
Neta yang melihat suaminya menahan sakit, pun merasa kasihan. Tapi, semata-mata untuk memberinya pelajaran agar tidak mudah untuk meremehkan dirinya, pikir Neta.