
Selesai makan malam, Ragen menoleh pada Neta yang duduk disebelahnya. Juga, tak lepas untuk memperhatikannya.
"Apakah kau orang baru di sini?" tanya Ragen sambil mengunyah buah.
Neta yang mendapat pertanyaan, langsung menoleh. Kemudian, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Ya, saya orang baru disini." Jawab Neta dengan jujur, dan kembali menghadap lurus ke depan.
"Oh, pantes." Ucap Ragen dan langsung bergegas berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa berucap lagi.
Heran dengan sikap Ragen, itu sudah pasti.
'Orang kaya yang sangat aneh.' Batin Neta yang merasa heran dengan sikapnya.
Karena tidak ingin menyita waktu, Neta segera membereskan meja makan karena tidak ingin mendapat marah. Meski sebenarnya menyadari jika dirinya datang ke rumah tersebut bukan lah asisten rumah, atau pembantu.
Sedang Bi Marini yang baru selesai menyiapkan air hangat untuk berendam majikan laki-lakinya, langsung keluar dan menemui Neta yang tengah sendirian membereskan dapur.
Neta sendiri tengah membereskannya meja dapur.
__ADS_1
"Loh kamu sedang ngapain, Bi Marini mana?" tanya Ardan saat hendak ke dapur dan mendapati Neta sendirian membereskan meja makan.
"Bi Marini sedang melakukan tugas yang lainnya, Pak. Katanya sih, mau menyiapkan apa tadi itu pak, buat berendam katanya. Entahlah, saya tidak mengerti, soalnya tadi samar-samar dengernya." Jawab Neta sambil mengelap meja makan.
Ardan yang mendengarnya, justru tersenyum saat mendapati kepolosan dari Neta.
"Oh, ya ya ya, aku tahu. Terus, apakah kamu sudah makan malam?"
"Sudah, Pak. Tadi sudah makan malam bareng yang lainnya. Maaf ya, Pak, saya mau lanjutin kerjanya." Jawab Neta malu-malu.
"Jangan dilanjutkan, ini pekerjaan asisten di rumah, bukan pekerjaan mu. Sedangkan kamu di sini hanya bermalaman saja, bukan untuk bekerja." Ucap Ardan.
"Tapi, Pak, tidak apa-apa kok. Saya sudah diizinkan untuk menginap saja sudah sangat bersyukur, Pak." Jawab Neta.
"Tidak apa-apa, Bi. Oh ya, tolong panggilkan Leni kesini ya, Bi, sekarang juga." Jawabnya sekaligus memberinya perintah.
"Baik, Tuan, permisi."
Bi Marini langsung bergegas pergi untuk memanggil Leni sesuai yang diperintahkan oleh majikannya.
__ADS_1
Sedangkan Leni sendiri tengah bersiap-siap untuk istirahat, lantaran dirinya selalu gagal ketika ingin melayani majikannya. Tidak untuk Ardan, maupun Ragen yang selalu di incarnya.
"Leni, Len," panggil Bi Marini saat baru saja membuka pintu kamar khusus asisten rumah.
"Ya, Bi, ada apa?" tanya Leni yang langsung bangkit saat baru saja berbaring.
"Kamu di panggil sama Tuan Ardan, cepetan, nanti keburu marah-marah sama kamu." Jawab Bi Marini.
"Tuan Ardan memanggilku, Bi?" tanya Leni seperti menang lotre, senyum-senyum tidak jelas.
"Cie ... akhirnya Tuan Ardan yang ganteng manggil kamu, Len. Asik nih dibutuhkan oleh Tuan Ardan. Tidak dapat pohonnya, dapat akarnya." Ledek salah satu temannya yang sama-sama menjadi asisten rumah.
"Ya dong, aku pasti dibutuhkan. Kalian kalian siap siap patah hati ya, kalau Tuan Ardan menjadi milikku." Jawab Leni dengan percaya dirinya..
Bi Marini hanya tersenyum tipis saat mendapati Leni yang seperti kegirangan.
Sedangkan Neta tengah membereskan meja makan, Ardan sendiri tengah duduk santai yang tidak jauh jaraknya dengan Neta, tepatnya masih di dalam ruang makan.
Leni yang tidak mengetahui keberadaan Ardan, langsung mendekati Neta yang terlihat sedang sibuk.
__ADS_1
"Ekhem!"
Ardan sengaja memberi kode kepada Leni agar menoleh.