Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Tidak mau ambil pusing


__ADS_3

Dengan terpaksa, akhirnya Ragen menggendong istrinya sampai di dalam kamarnya. Awalnya hendak masuk ke kamar tamu, namun dirinya baru menyadarinya, jika perempuan yang tengah di gendongnya tidak lain istrinya sendiri.


Seketika, Neta terbangun dari tidurnya saat suaminya menurunkannya dengan kasar.


"Aw!" pekik Neta dengan reflek, lantaran seperti dijatuhkan begitu saja oleh suaminya.


"Kalau mau tidur itu, di rumah, bukan didalam mobil, paham. Kau memang istriku, tapi jangan seenak ji_dat mu itu tidur di asal tempat." Ucap Ragen dengan dongkol.


"Maaf, aku tadi ketiduran." Jawab Neta yang langsung membenarkan posisi duduknya di tepi tempat tidur.


Sambil melepaskan jas dan juga dasinya, serta sepatu yang ia kenakan, Ragen duduk di dekat istrinya.


Kemudian, Ragen meraih dagu milik istrinya dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Jangan bermimpi hidupmu seperti di dalam khayalan yang mempunyai suami tampan dan menyayangimu, itu tidak akan pernah kamu dapatkan dariku. Karena aku akan memberimu kesedihan yang tidak berujung, paham. Jadi, siapkan dirimu untuk memulai hidup bersamaku." Ucap Ragen sambil menatap istrinya dengan penuh rasa kebencian.


Neta yang mendengar ucapan dari suaminya, mendadak tidak punya nyali ketika mendapat ancaman darinya.


Dengan tenaganya yang cukup kuat, Neta berusaha untuk melepaskan tangan milik suaminya.


"Aw!" pekik Ragen yang langsung melepaskan tangan miliknya karena mendapat gigitan dari sang istri.


Neta hanya menatapnya, juga merasa kesal dibuatnya.


Kemudian, Ragen melepaskan celana panjangnya dan menyisakan celana kolor dan mengenakan kaos oblong berwarna putih. Setelah itu, Ragen memilih ke ruang kerjanya daripada harus berada didalam kamarnya.


Pernikahan yang diharapkan kebahagiaan, justru yang ia dapatkan hanyalah kekesalan atas perjodohan dari orang tuanya. Bahkan, identitas istrinya yang sebenarnya, pun tidak ia pikirkan. Bagi Ragen, menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya itu, tidak lain hanyalah sebuah kesialan semata, pikirnya.

__ADS_1


Neta yang merasa sadar diri dengan statusnya yang hanya sebagai istri paksaan lewat perjodohan dari sebuah wasiat, tiba-tiba teringat kepergian pamannya.


'Paman, andai saja tidak ada kalimat wasiat, mungkin saja aku tidak akan mendapati masalah seperti ini. Aku tahu, keluarganya sangat baik, tetapi lelaki yang menjadi suamiku ini menerimaku dengan keterpaksaannya.' Batin Neta sambil melamun.


Tidak ingin mendapat masalah dari suaminya, Neta segera mengganti pakaiannya. Setelah itu, Neta memilih untuk beristirahat agar pikirannya sedikit tenang, dan tidak gelisah.


Di lain ruangan, Ragen tengah disibukkan dengan layar komputernya. Namun, tiba-tiba dikagetkan dengan suara dering ponselnya. Saat itu juga, Ragen langsung menyambar ponselnya dan melihat siapa yang tengah menghubungi dirinya.


"Ameyara, ada apa dia menghubungiku? sudah aku katakan putus dan jangan menghubungiku, tetap saja masih menggangguku." Ucapnya lirih dan langsung mematikan ponselnya, dan memilih untuk keluar dari ruang kerjanya.


Pikiran yang semakin kacau membuat Ragen semakin geram dan kesal, dirinya memilih untuk kembali ke kamar, yakni untuk istirahat agar pikirannya sedikit mereda.


Saat baru membuka pintu kamarnya, Ragen sama sekali tidak mendapati keberadaan istrinya, tentu saja membuatnya bertanya-tanya kemana istrinya.

__ADS_1


Ragen yang tidak ingin ambil pusing, memilih untuk membersihkan diri dan berendam, agar tidak semakin penat memikirkan dirinya sendiri.


__ADS_2