Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Teringat sesuatu


__ADS_3

Ragen masih mencerna atas penjelasan dari ibunya. Percaya tidak percaya, tapi yang diucapkan oleh ibunya seperti benar adanya.


"Terus, kenapa dia tidak diselidiki?" tanya Ragen.


"Rencananya besok pagi akan kita bawa ke kantor polisi untuk melakukan penyelidikan, dan untuk sementara ini kita layani dia dengan baik." Jawab ibunya.


"Ya, Gen, yang dikatakan Mama itu benar. Biarkan gadis itu merencanakan sesuatu, tetapi besok pagi akan kita antar ke alamat kantor polisi. Jadi, lebih baik kamu tidak perlu pusing tujuh keliling." Timpal ayahnya ikut bicara.


"Yang diucapkan Mama ada benarnya kok, Kak. Jadi, besok kita akan antar gadis itu ke kantor polisi." Ucap Ardan ikut menimpali.


"Terserah Mama dan Papa, yang terpenting jangan biarkan dia lolos. Aku yakin jika kita memberi ancaman untuknya, pasti akan mengaku. Kelemahan dari seorang perempuan itu biasanya akan dipikirkan lagi. Jadi, kita harus bisa memberi ancaman untuknya." Kata Ragen ikut memberi saran.


"Papa akan terima masukan dari kamu, sekarang lebih baik kita istirahat, waktunya sudah hampir larut malam." Ucap sang ayah yang menyudahi obrolannya.


Setelah itu, semua kembali ke kamarnya masing-masing, dan istirahat. Sampainya di dalam kamar, bukannya tidur, justru masih bergadang.

__ADS_1


Ardan maupun Ragen sama-sama masih terjaga kesadarannya, keduanya masih sibuk dengan layar laptopnya masing-masing di ruang kerjanya.


"Apa ya, perempuan itu benar-benar orang yang dijadikan alat untuk menghancurkan keluarga Akmaja. Kalaupun iya, dengan landasan apa? sangat mustahil jika hanya ingin menguasai kekayaan Akmaja." Ucap Ardan yang terus berpikir untuk mencari titik temu.


Begitu juga dengan Ragen, sama halnya tengah memikirkan sesuatu yang menjadi permasalahannya.


"Sungguh benar-benar sangat sulit. Sebenarnya apa yang menjadi tujuan dari penjahat itu? benar-benar membuat tensiku menjadi naik. Kalaupun ingin menguasai kekayaan keluarga Akmaja, kenapa tidak dari dulu? selalu membawa teror, dan teror." Ucap Ragen yang hampir sama pemikirannya saat mencari titik temu dalam permasalahannya.


Malam yang semakin larut dan kedua mata yang sulit untuk dikendalikan, Ardan maupun Ragen sama-sama tengah sibuk memikirkan cara agar dapat menangkap siapa pelakunya.


Tuan Razid langsung terbangun dan ingat semuanya.


"Herdiantara! Zepiano!"


Tuan Razid langsung bangun dari posisi tidurnya dan menyebut nama Herdiantara.

__ADS_1


"Papa, ada apa Papa bangun sambil berteriak? Papa mimpi buruk kah?"


"Apa iya, pelakunya antara Herdiantara dan Zepiano?"


"Herdiantara, Zepiano? maksud Papa itu apa?"


"Papa yakin, ini pasti ada kaitannya dengan keluarga Langgada. Gadis itu! jangan-jangan, benar gadis itu."


"Papa gimana sih, gadis itu, gadis itu, gadis itu siapa, Pa?"


"Putri dari keluarga Langgada yang dititipkan di kampung, tepatnya di desa. Mungkinkah yang mencari alamat rumah kita ini putrinya Danar? yang dititipkan kepada adik dari istrinya Danar."


Seketika, istrinya Tuan Razid kaget tidak percaya atas ucapan dari suaminya.


"Tapi, Pa, seharusnya datang ke rumah kita pasti dengan pamannya, atau bibinya." Ucap sang istri.

__ADS_1


"Papa jadi penasaran, siapa gadis itu? soalnya Gowanda tidak pernah mengajaknya ke kota. Gowanda terakhir datang ke kota sudah sepuluh tahun yang lalu, itupun tetap saja tidak memberitahukan namanya, juga alamatnya dia sendiri. Hanya saja, dulu pernah berpesan akan ada tamu gadis cantik dari desa ke rumahmu, dan sambutlah dengan hangat, layaknya keluarga sendiri meski baru pertama kali bertemu." Jawab Tuan Razid menjelaskan.


__ADS_2